ikatlah ilmu dengan menuliskannya"sanitomichie"

Sunday, April 8, 2007

DiZalimi Mertua & Suami

Dizalimi Mertua dan Suami
Laporan: Drs. Ruswanto Syamsuddin, M.Ag

[Rumahku Surgaku]

Seorang wanita, sebut saja namanya Gina, ikut saudaranya di Jakarta dengan maksud mencari pekerjaan. Ia melamar ke berbagai perusahaan namun tak satu pun yang bersedia menerimanya. Sementara itu ia berkenalan dengan Anto, seorang pemuda yang lumayan tampan dan sudah bekerja di sebuah perusahaan besar.

Selain sering datang bertamu, ngobrol dan bercanda, Anto pun sering melepas rindu via telepon. Gina yang pada awalnya memperlakukan Anto sebagai teman baru, lama-lama jatuh hati, lalu menjalin hubungan asmara.

Akhirnya Anto mengajak Gina untuk menikah. Pada awalnya Gina menolak dengan alasan belum siap, tapi akhirnya setuju karena Anto terus membujuk dan merayunya. Orang tua Anto semula juga kurang berkenan, tapi mengingat kemauan Anto begitu keras, akhirnya merestui niat anaknya itu dan akhirnya mereka datang ke orang tua Gina di kampung untuk melamar Gina.

Seminggu setelah perkawinan di rumah orangtua Gina, kedua pengantin baru itu kembali ke Jakarta. Mereka tinggal di rumah yang telah dibeli Anto secara kredit beberapa tahun sebelumnya.

Musuh Dalam Selimut

Rumah tangga mereka berjalan cukup baik, dikaruniai seorang anak putri. Kehadiran si buah hati itu sangat berarti bagi mereka, mengingat orang tua Anto sejak awal kurang setuju bermenantukan Gina. Kehadiran sang cucu, diharapkan kebekuan hubungan dengan orang tua Anto akan mencair.

Harapan itu rupanya tinggal harapan. Orang tua Anto mempunyai niat lain. Diam-diam mereka berupaya memisahkan Anto dari Gina. Mereka ingin menjodohkan Anto dengan gadis pilihan mereka, anak salah satu teman lama mereka yang sudah bekerja, sebut saja namanya Lidia.

Tanpa sepengatuan Gina, Anto sering diajak berkunjung ke rumah orang tua Lidia dan dikenalkan dengan Lidia. Setelah berkenalan, orang tua Anto selalu mengatur waktu agar Anto sering bertemu dengan Lidia.

Ternyata Lidia naksir Anto, sementara Anto masih bersikap dingin mengingat dia sudah punya istri dan anak. Melihat situasi itu, orang tua Anto berusaha membujuk Anto mau dengan Lidia dan menceraikan Gina. Anto dengan tegas menampik maksud orang tuanya, Dia berat meninggalkan Gina.

Orang tuanya tidak kehilangan akal. Mereka meminta jasa 'orang pintar' (dukun) supaya Anto membenci Gina dan menyukai Lidia. Entah bagaimana, selang beberapa bulan tiba-tiba sikap dan pikiran Anto berubah. Dia mau menuruti kemauan orang tuanya. Dia juga tiba-tiba membenci istrinya dan menyukai Lidia, serta tidak lagi peduii dengan anaknya. Anto pergi meninggalkan rumah dan lebih banyak bertemu dengan Lidia.

Tentu saja Gina kaget dan linglung. Ditinggal Anto, Gina pulang kampung, meminta tolong kepada saudara-saudara kandungnya supaya mau menasihati suaminya yang kabur meninggalkan rumah. Sayangnya, saudara-saudaranya tidak merespon bahkan terkesan menyalahkan Gina.

Balik ke Jakarta, Gina berusaha menemui Anto di rumah mertuanya. E, malah mendapat cacian dari suami dan mertuanya tanpa sebab yang masuk akal. Dengan hati yang teriris-iris dan berurai air mata Gina pulang ke rumah.

Cerai Paksa

Beberapa hari kemudian Anto pulang ke rumah dan marah-marah dengan alasan yang dibikin-bikin. Ia memaksa Gina bercerai dan meminta surat nikah diserahkan kepadanya. Kebetulan kedua surat nikah mereka disimpan oleh Gina di kampung. dan Gina tidak mau menyerahkannya kepada Anto. Karena Gina tidak mau mengambil dan menyerahkannya kepada Anto, dia marah lagi dan memukul Gina, bahkan mengancam mau membunuh Gina kalau tidak mau menyerahkan surat nikah dan enggan dicerai.

Tidak kuat menahan sakit karena dipukul dan takut dibunuh, Gina terpaksa mau dicerai dan bersedia mengambil surat nikah di kampung dan menyerahkannya kepada Anto. Lalu Anto membuat surat pernyataan cerai yang ditandatangani oleh mereka berdua dan dua orang saksi teman Anto sendiri. Dalam surat pernyataan cerai tersebut, Anto menjatuhkan talak tiga sekaligus.

Gina bergegas pulang kampung, menggendong anaknya tanpa diantar Anto. Kedatangannya disambut biasa-biasa saja oleh saudara-saudara kandungnya. Untunglah ada saudara sepupunya yang bersimpati dan empati. Sarannya, Gina tidak usah menyerahkan surat nikah itu kepada Anto. "Kalau Anto berani, suruh dia datang kemari," kata saudara sepupunya tegas. Dan dia, katanya akan memperkarakan Anto ke Pengadilan jika ia datang. Sikap saudara sepupunya itu berpengaruh pada saudara-saudara kandung Gina, sehingga mereka berubah sikap, ikut membela Gina yang dizalimi suaminya itu.

Memalsukan Identitas

Setelah sebulan berlalu, Anto mulai gelisah. Surat nikah itu sangat penting bagi Anto untuk menghifangkan jejak, menghindari tuntutan dan memudahkan jalan untuk kawin lagi. Tadinya, dia akan memusnahkan surat nikah tersebut, lalu membuat KTP baru dengan status bujang untuk menikah lagi. Pikirnya, tanpa surat nikah, Gina tidak punya bukti untuk menuntut ke Pengadilan. Sementara itu orang tua Anto mendesak terus agar Anto segera menikah dengan Lidia seraya mengabaikan persoalan surat nikah yang ditahan oleh Gina. Yang terpenting bagi mereka Gina sudah mau dicerai dan sudah menandatangani surat pernyataan cerai.

Anto menuruti kemauan orang tuanya, melamar dan menikahi Lidia, dengan menunjukkan KTP bujang yang baru saja dibuat.

Tanggapan Pengasuh

Memperhatikan persoalan yang terjadi pada rumah tangga Anto-Gina, ada empat masalah yang perlu diungkap, yakni masalah campur tangan orang tua, perdukunan, kezaliman dan pelecehan hukum talak.

1. Campur tangan orang tua.
Tidak sepantasnya orang tua merusak rumah tangga anaknya, hanya karena tidak cocok dengan menantunya. Ikut campur tangan dalam urusan rumah tangga anaknya saja tidak boleh, apalagi merusak perkawinannya. Orang tua seperti ini bisa dikenai sanksi hukum jika hal ini diperkarakan ke Pengadilan.

Orang tua memang punya hak untuk melarang/tidak setuju terhadap pilihan anaknya soal jodoh. Apabila larangan itu dibenarkan oleh agama, Allah akan meridhai sikap orang tua tersebut, tapi jika larangan itu bertentangan dengan agama, Allah tidak akan meridhai sikap orang tua tersebut. Jika anak bersikeras menikah dengan wanita pilihannya, orang tua tidak bisa memaksa, apalagi punya rencana jahat terhadap rumah tangga anaknya. Si anak toh sudah dewasa dan pilihannya itu akan dipertanggungjawabkannya sendiri di hadapan Allah. Jika pilihannya itu tidak baik dalam pandangan Agama dan orang tua tidak ridha, maka resikonya menjadi tanggungan anak, termasuk soal ridha Allah, atau kesulitan-kesulitan lain.

2. Tentang perdukunan.

Salah besar jika orang tua membawa persoalan anaknya kepada dukun sehingga anaknya terkena permainan dukun tersebut. Jika orang tua Anto mengaku Muslim, berarti mereka telah melakukan perbuatan syirik. Sedangkan syirik adalah perbuatan dosa yang paling besar (QS. 31: 13) dan tidak akan diampuni oleh Allah (QS. 4: 48) kecuali bertobat sebelum mati. Di sisi lain, sebenarnyajika ketakwaan anak kokoh, ilmu dukun tidak akan berpengaruh padanya.

3. Tentang kezaliman.

Akibat perbuatan orang tua Anto yang zalim, Anto ikut terpengaruh lalu berbuat zalim kepada istrinya. Dia menceraikannya tanpa sebab, bahkan mengantayanya. Ini adalah bentuk kekerasan daiam rumah tangga yang bertentangan dengan agama dan UU No 23 tahun 2004.

Tindakan Gina menahan surat nikahnya, sudah tepat. Karena sudah jelas niat Anto tidak benar. Dia licik dan tidak bertanggung jawab. Lalu dia mau kawin lagi tanpa beban. Kalau surat itu diserahkan kepada Anto, bisa jadi akan dimusnahkan oleh Anto sehingga Gina yang sudah dizalimi tidak bisa menuntut apa-apa, Meskipun sebenarnya kantor KUA masih memiliki data tentang pernikahan mereka. Surat cerai yang ditandatangani oleh Anto, Gina dan dua orang saksi itu belum diakui oleh pemerintah, sehingga Gina masih bisa menuntut hak nafkah penuh sebagai istri kepada Anto. Juga dapat menuntut hak nafkah anaknya. Jika Anto ingin menceraikan Gina secara baik-baik lakukanlah di kampung tempat dia menikah, dan ajukan bersama-sama ke Pengadilan. Dengan demikian maka akan sah perceraiannya secara hukum dan akan ada kejelasan pembagian harta serta tanggung jawab nafkah anak.
4. Tentang pelecehan hukum talak.

Perbuatan Anto menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus, selain melecehkan hukum talak, secara tidak sadar membuat lubang untuk dirinya sendiri. Mengapa? Karena dia sebenarnya sedang dalam kondisi "tidak sadar" dan pada saat ia sadar, ia akan menyesal. Dia tidak bisa kembali lagi dengan Gina karena telah ditalak tiga.

Itu sebabnya Islam melarang suami menceraikan istrinya talak tiga sekaligus. Jika talak dilakukan secara bertahap, masih ada kesempatan untuk rujuk bila keduanya menyesal dan masih saling mencintai. Bukan mustahil, setelah rujuk, rumah tangga mereka makin baik dan bahagia.

Mahmud bin Lubaid menuturkan hadis Rasulullah yang menjelaskan kepada sahabat tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya talak tiga sekaligus. beliau berdiri dengan marah, lalu bersabda: "Apakah akan dipermainkan kitab Allah, padahal saya ada di tengah-tengah kamu?" Seorang sahabat lalu berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah! Bolehkah saya membunuh dia?" (maksudnya lelaki yang menceraikan istrinya dengan talak tiga itu) (HR Imam Nasai)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa talak tiga sekaligus dilarang. Demikian juga berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 229.

Sebaiknya Gina dan Anto mengajukan kasus mereka ke Pengadilan Agama, agar perceraian mereka sah dan adil, baik secara agama maupun secara hukum negara. Atau meminta bantuan kepada pengacara atau aktivis LBH, terutama LBH perempuan, tentu mereka akan membantu, Insya Allah.


Sumber : www.Amanah.or.id
Luqman al-Hakiim berkata, "Wahai anakku, barangsiapa suka berbohong, ia telah kehilangan air mukanya (malunya), dan siapa yang buruk akhlaknya akan banyak susahnya. Memindahkan batu yang besar lebih mudah daripada memberi pemahaman kepada orang yang bodoh."

Kalo Kamu Di Khitbah

�Sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qolbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa akan merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukkan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.� (AA Gym)


Kalo Kamu Dikhitbah�

Dikhitbah? Wow, suka dong. Yup, ini adalah artikel �sekuel�-nya tentang khitbah. Kalo minggu kemarin kita ngajak yang cowok untuk mengkhitbah, sekarang, biar adil, kita mencoba ngajak anak puteri untuk bersikap bijak seandainya ada anak cowok yang �nekat� mengkhitbah dirinya. Gimana, setuju kan?
Oke deh, yang baca edisi kemarin insya Allah bakalan klop kalo kita ajak ngomongin yang satu ini. Bagi yang ketinggalan baca edisi kemarin, mohon pinjem saja sama temennya. Pokoke, ini ceritanya khusus buat temen-temen yang emang udah siap segalanya. Jadi sekali lagi, bukan ditujukan buat kamu yang masih SMU, apalagi SMP. Bagi kamu-kamu yang masih ke sekolahnya pake seragam, jadikan aja sebagai wawasan untuk jaga-jaga. Siapa tahu nanti kamu membutuhkan bimbingan, tul nggak?

Nah, ngomongin soal khitbah berarti kita sedang bicara tentang cinta. Khususnya tentang sarana untuk menyalurkan rasa cinta ini dengan baik. Memang sih, kalo lihat temen-temen remaja yang lain, kalo di antara mereka saling jatuh cinta, biasanya langsung diwujudkan dengan pacaran. Dan ini kita pikir udah pada tahu semua gimana sih rasanya, or ngelihat orang yang sedang pacaran. Mesra dan� ah, nggak usah diterusin deh. Tapi inget lho, pacaran itu kan cara penyaluran rasa cinta yang diharamkan oleh Allah Swt.

Oya, seperti yang udah kita baca di edisi kemarin, khitbah adalah pernyataan seorang lelaki kepada wanita yang disukainya untuk serius menikahinya. Dan ini disampaikan kepada ortunya. Tentu setelah kita udah sama-sama janjian dong. Kalo nggak, bisa gaswat. Jadi khitbah boleh dibilang �nandain� calon kita. Pokoknya diiket dulu deh, sebelum akhirnya dinikahi.

Nah, kadangkala, anak puteri yang akhirnya kebingungan. Kalo kemarin kita bahas anak cowok yang bimbang dan kurang pede untuk mengkhitbah akhwat, kita kasih support supaya mantap dan berani, sekarang kita coba nemenin anak puteri untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi pinangan anak cowok.
Berdasarkan pengalaman neh, paling nggak ada beberapa masalah yang dihadapi anak puteri dalam urusan ini. Misalnya, ketika datang anak cowok yang berani menyatakan keseriusannya untuk menikah dengannya, adakalanya anak puteri suka keder menghadapai ini. Sebab, tak selamanya begitu mendapat pinangan langsung seneng. Kenapa? Bisa jadi kasusnya adalah begini; ada orang yang meminang dirinya, tapi ternyata nggak sesuai dengan kriteria pria idamannya. Kan itu bikin bingung. Maksud hati berharap yang datang tipe Arjuna, eh, yang berani dan nekat ngedatengin malah tipe Rahwana. Karuan aja bak serasa disamber petir. Waduh, gimana cara menolaknya? Apalagi ortu juga turut campur, makin berabe aja tuh.

Masalah lain yang biasanya terjadi adalah, begitu ada anak cowok yang berminat sama kita, eh, kitanya masih pada sekolah or kuliah. Wah, itu bikin masalah juga ya? Mungkin kalo yang udah kuliah nggak terlalu bermasalah, asal pandai ngasih keyakinan sama ortu, karena memang kalo udah kuliah boleh nikah. Itu bedanya dengan yang masih sekolah di SMU. Paling nggak itu berdasarkan aturan main di negeri ini. Karena dalam Islam nggak begitu kok. Boleh-boleh aja asal udah pada baligh.

Masalah lainnya apa? Kita udah sama-sama oke dengan pasangan kita, eh, ortu kita malah nggak setuju. Mending kalo alasannya bisa dipertanggung jawabkan secara ajaran Islam, kadangkala hanya persoalan nasab, harta, status sosial, dan seabrek masalah yang nggak perlu dijadikan sebagai paramater untuk membina sebuah rumah tangga. Tapi walau bagaimana pun juga itu adalah masalah yang kudu diselesaikan dengan tuntas.
Ngomong-ngomong, jadi gimane neh kalo kamu dikhitbah?

Jangan repot-repot; terima!
Wacksss? Sembarangan, main terima aja. He..he..he.. ini ceritanya kalo memang udah sreg gitu lho. Apalagi ortu kita setuju. Kita dan anak cowok itu juga sama-sama aktivis pengajian. Wah, itu sih jangan dilama-lamain, mending segera terima pinangan dan nikah. Duh, enak banget ya kalo itu terjadi sama kita-kita. Jelas aja, itu kan kondisi ideal.

Oya, kita ngasih saran begini bukan ngebelain anak cowok lho. Tapi kita mencoba memberikan gambaran buat kamu-kamu anak puteri. Seperti halnya anak cowok, yang puteri juga jangan pilih-pilih deh. Maksudnya, menggunakan pilihan yang nggak perlu. Seperti, menentukan bahwa calon suaminya kudu pandai bahasa Arabnya, kudu sekufu dalam hal status sosial (kalo kita sarjana, ya, calon suami kita juga kudu sarjana), terus minimal punya wajah yang nggak kalah ganteng dengan para personelnya Westlife, udah gitu harus keturunan ningrat, lagi. Wah, itu keberatan sama kriteria, bisa-bisa jadi keburu tue Non, karena kriterianya ideal banget.

Uppsss.. sori, kita nggak nuduh lho, tapi mengingatkan. Apalagi kamu udah tahu kalo yang berminat sama kamu itu orangnya berakhlak mulia dan pengetahuan agamanya oke. Cuma kurangnya, seperti yang tadi disebutkan. Jadi, sebetulnya nggak bijaksana dong kalo kamu menolak, dan kayaknya nggak pantes. Apalagi sih yang mau diharapkan? Iya nggak?

Lagipula, kriteria pemilihan yang berlaku buat kaum lelaki, juga berlaku buat anak puteri. Umar r.a. pernah berkata: �Janganlah kalian menikahkan puteri kalian dengan lelaki yang buruk perangainya, karena kriteria-kriteria yang berlaku pada laki-laki juga berlaku bagi perempuan.�
Dan buat para ayah serta walinya anak puteri, kudu waspada. Firman Allah Swt.: "Dan janganlah kamu nikahkan wanita-wanita mukminat dengan pria-pria musyrik sebelum mereka beriman.� (TQS al-Baqarah [2]: 221)

Tapi kita yakin kok, bahwa kamu yang puteri juga udah ngeh dan nggak salah pilih dalam menentukan kriteria. Kalo yang dateng itu orangnya sholeh dan berakhlak mulia, biasanya temen puteri juga langsung nyetel aja. Iya nggak? Tapi kalo memang nggak sreg. Namanya juga manusia ya? Ada aja keinginan lebih dari itu. Dan keinginan itu boleh-boleh aja kok. Sebab yang namanya perasaan itu susah sih. Kudu bener-bener ada �getaran� yang, gimanaaa gitu� Aduh, sulit menjelaskan dengan kata-kata atau tulisan.

Kalo kejadiannya kayak gitu, kamu boleh aja nolak. Tapi kudu baik-baik ya. Anak cowok juga sama punya perasaan. Jadi kalo kamu nolak pinangan, ya jangan dipublikasikan ke orang lain dong. Apalagi sampe bangga segala, dan menganggap pasaran kamu naik karena kamu jual mahal. Wah, itu nggak baik, Non.

Boleh nggak wanita �menawarkan� diri?
Wah, nekat amat? Nggak juga tuh. Memang sih umumnya wanita bersikap pasif. Artinya nungguin ada yang meminang dirinya. Tapi Islam membolehkan lho, wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dijadikan istri. Pada masa Rasulullah saw. ada perempuan yang pernah melakukannya seperti diriwayatkan dalam hadis berikut: �Dari sahl bin sa�ad, bahwa Rasulullah saw. pernah didatangi oleh seorang perempuan, lalu ia berkata: �Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menyerahkan diri kepada Tuan�. Ia berdiri lama sekali, kemudian tampil seorang laki-laki dan berkata: �Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan perempuan ini seandainya tuan tidak berhasrat kepadanya�� (HR Bukhari)

Nah, jadi silakan saja, kalo emang kamu berkenan untuk melakukan itu. Nggak dilarang kok. Memang sih, tradisi yang ada di sini, mengharuskan wanita bersikap pasif. Kalo ada yang �agresif�, malah mungkin dianggap kenapa-napa. Jadi dari segi hukum boleh-boleh aja. Mau? Silakan dicoba. He..he..he..

Kalo ortu yang bikin masalah?
Nah, ini juga jadi persoalan Non. Untuk urusan ini adakalanya gampang-gampang susah. Tapi jangan sedih. Tenang aja. Misalnya, kamu �dijodohin� sama ortu kamu. Padahal kamu nggak suka sama lelaki yang dipilihin sama ortumu. Sebenarnya kamu bisa aja nolak. Boleh kok.

Dari Ibnu Abbas bahwa seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu ia menceritakan kepada beliau tentang ayahnya yang mengawinkannya dengan laki-laki yang ia tidak sukai. Maka Rasulullah menyuruh dia untuk memilih (menerima atau menolak).� (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni)

Begitu Non. Tapi tentunya kamu menyampaikan kepada ortu dengan baik-baik pula. Nggak boleh sambil marah-marah. Jadi, mau nerima silakan, mau nolak juga nggak masalah. Semua diserahkan kepada kamu, kok. Dan cuma kamu yang berhak menentukan pilihan. Bukan orang lain.

Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, ia berkata: �Seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya: �Sesungguhnya ayahku mengawinkan aku dengan anak saudaranya, agar dengan begitu terangkat martabatnya. Kata Abdullah: �Lalu Rasullah saw. menyerahkan urusannya kepadanya. Dan katanya: �Saya mengizinkan tindakan ayahku kepadaku. Tetapi yang aku kehendaki yaitu memberitahu kepada kaum wanita bahwa bapak-bapak itu tidak mempunyai apa-apa dalam urusan ini (perkawinan).� (HR Ibnu Majah yang dikutip dalam kitab Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq)

Kalo udah jadian dikhitbah?
Wah, alhamdulillah atuh. Tapi inget, khitbah adalah semacam �pintu� menuju nikah. Jadi belum sah ngapa-ngapain. Memang sih, mentang-mentang anaknya udah ada yang meminang, suka ada ortu yang membiarkan anaknya bebas kemana-mana bareng tunangannya. Wah, kalo gitu apa bedanya dengan pacaran? Itu kan sama aja gaul bebas. Dan jelas berdosa dong. Haram lho.

Nah, kalo emang kamu udah �kebelet� mendingan nikah aja langsung. Nggak usah ditunda-tunda lagi. Lebih save. �Penyakit� orang yang udah punya tempat untuk berbagai cerita, biasanya pengennya ketemu melulu. Celakanya, kalo terus-terusan ketemu, nggak ada jaminan kalo iman kamu juga makin menipis. Jangan heran kalo kemudian malah berzina. Ih, naudzubillahi min dzalik.

Memang sih, kalo kamu udah jadian dikhitbah, berbicara or kirim-kirim surat dengan calonmu nggak dilarang. Sah-sah saja. Tapi inget, jangan keterusan. Bisa gaswat. Jangan-jangan nanti kamu sulit ngebedain antara rasa suka dengan nafsu bisikan iblis. Celaka!

Kita sih menyarankan kalo udah oke mending segera nikah aja. Meski memang waktu dari khitbah ke nikah itu nggak ditentukan dengan jelas, artinya mau 50 tahun lagi nikah juga boleh (ih, udah jadi nenek-nenek dong? Ya, salah sendiri he..he..). Tapi meski demikian, alangkah utamanya kalo kamu segera menikah saja.

Pesan buat yang masih sekolah
Memang asyik ya kalo bicara soal cinta dan pernikahan. Jujur saja, hampir semua orang seneng ngomongin ini. Tapi inget, karena kita yakin neh, mayoritas pembaca buletin ini adalah masih anak sekolah, jadi jangan keburu sregep dapat pembahasan seperti ini.

Pesan kita, jadikan saja ini sebagai tambahan wawasan buat kamu. Dan kita yakin kok, bahwa kamu udah bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda. Iya nggak? Sekarang fokus belajar, dan jangan nekat pacaran. Kita juga nggak abis pikir sama kondisi masyarakat dan negara sekarang ini; gaul bebas dimudahkan, tapi nikah malah dipermasalahkan. Kebalik-balik memang. Oke, jangan lupa, tetep semangat mengkaji Islam! :)

_______________________________________
Edisi 117/Tahun ke-3 (30 September 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke studia@dudung.net
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com

Rumahku Surgaku

Rumahku Surgaku ...
Publikasi 26/11/2002 07:42 WIB

eramuslim - Baiti Jannati, begitu Rasulullah mengilustrasikan kehidupan rmh tangga beliau yg penuh dg keharmonisan, kebahagiaan,ketenangan, sakinah, mawaddah, dan rahmah. Rumah tangga yang dibangun bkn atas pondasi syahwat terhadap kecantikan, harta, pangkat, jabatan serta pesona dunia lainnya. Tapi sebuah keluarga yang dibangun karena ketaatan kepada Allah. Sampai akhir zaman keluarga beliau merupakan rujukan utama bagi mereka yang mendambakan syurga dunia.

Syurga dunia itu hanya dapat diwujudkan oleh pasangan laki-laki sholeh dan wanita sholehah, yang memahami betul kewajiban masing-masing untuk saling berbagi, mengokohkan kelebihan, dan menutupi segala kekurangan masing-masing. Keikhlasan kita menerima pasangan apa adanya, baik itu fisik, intelektual, ekonomi, keturunan, dan sebagainya, karena kita bukanlah Muhammad yang sempurna, Yusuf yang tampan, Umar bin Khatab yang gagah perkasa, Mush'ab Bin Umair yang serba kecukupan, Salman Al-farisi yang ahli strategi, Abdurahman Bin 'Auf yang ahli ibadah.

Jangan juga bermimpi dan meninggikan diri, karena kita bukanlah Khadijah yang kaya raya, Aisyah yang cendikiawan, Fatimah yang tabah dan putri seorang pemimpin besar, Ratu Balqis yang cantik jelita, Asma binti Yazid yang kritis dan cerdas, Hafshah binti Umar yang ahli ibadah. Kita hanyalah manusia biasa, yang berusaha memadukan dua unsur menjadi sebuah kekuatan, yang dengannya kita mengharapkan keridhoan dari Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, sumber investasi abadi, serta meneguhkan langkah.

Pasangan kita adalah pakaian kita. Siapapun tidak ingin pakaiannya kumuh dan lusuh, ia pasti ingin pakaiannya nyaman, tidak kebesaran, tidak pula kekecilan. Kehati-hatian saat memilih dan membelinya merupakan indikator mendapatkan pakaian yang baik. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada
para pemuda agar lebih memprioritaskan memilih zatuddin (wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau mengatakan : Wanita dinikahi karena empat perkara: "Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engkau akan
bahagia". (HR. Muttafaqun Alaih)

Begitupun kepada wanita, hendaklah ia memilih laki-laki yang baik pemahaman agamanya, yang hatinya tertaut pada rumah Allah, yang dalam pikirannya terpeta semangat memajukan Islam, mempunyai visi dan misi yang jelas dalam membangun keluarga, memiliki wibawa dihadapan istri dan anak-anaknya, memiliki tanggung jawab memberi nafkah, tidak saja batin, tapi juga lahir,
termasuk di dalamnya mengajarkan ilmu.

Ketika rumah tangga itu telah berlayar, tetapi dalam perjalanannya kita menemukan badai besar yang menghantam, segeralah introspeksi diri atas proses membangun kapal besar rumah tangga kita. Rumah tangga manapun termasuk rumah tangga Rasulullah pernah memiliki masalah. Cuma bedanya,
masalah dalam rumah tangga Rasulullah merupakan keindahan yang memberkati.

Mungkin proses terbentuknya rumah tangga kita dulunya diselimuti debu dan syahwat dunia, yang menyebabkan ridho dan barakah dari Allah sirna. Sehingga setiap perbedaan sedikit saja dan masalah kecil menjadi prahara. Istri tidak ikhlas melayani suami, suamipun coba-coba berpaling, tidak ada
keterbukaan, tidak ada kejujuran, tidak saling menghargai, tidak saling menyayangi, cinta kasih yang hanya dirajut beberapa bulan berubah jadi dendam dan angkara murka. Inilah yang dinamakan neraka dunia.

Astaghfirullah, segeralah mohon ampun kepada Allah atas sisi-sisi hati yang berpaling dari petunjuk-Nya. Kekhilafan tidak melibatkan Allah dalam membuat keputusan panjang akan menyengsarakan tidak saja di dunia, tapi juga kelak diakhirat, satu sama lain akan menjadi musuh. Sebesar apapun
kekhilafan kita, lautan ampun dan Maghfirah Allah seluas langit dan bumi. Segeralah menghadap pada-Nya, memohon agar kita diberikan seseorang yang dapat menentramkan hati, menjaga kehormatan diri, meneguhkan langkah, saling mengingatkan dalam ibadah. Karena tidak ada satu pun yang kita lakukan di dunia ini melainkan hanya untuk ibadah kepada Allah.

Mudah-mudahan Allah memperkenankan kita mendapatkan suami yang sholeh, yang menggauli istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, yang mengajarkan istrinya ilmu dunia dan agama. Seorang suami yang memiliki takut dan harap hanya kepada Allah, khusyuk dalam ibadah, giat mencari nafkah, bertanggung
jawab terhadap keselamatan istri dan anak-anaknya baik di dunia maupun di akhirat.

Mudah-mudahan kita diberikan seorang istri yang taat beribadah, halus dan lembut, terhormat dengan hijab yang menjaga dirinya, yang dalam dirinya berkumpul kebaikan, terdidik dengan tarbiyah islamiyah, ridho melayani suaminya kapanpun, mendidik anak-anaknya secara islami, yang menjadikan
keluarga sebagai jembatan menggapai ridho Allah.

Rumahku Syurgaku merupakan keinginan setiap insan. Untuk mendapatkannya, jadikanlah keluarga Rasulullah sebagai rujukan utama. Keluarga tersebut telah membuktikan kepada dunia hingga akhir zaman, bahwa tidak ada kebahagiaan dan ketentraman yang melebihi keluarga sakinah, mawaddah,
warahmah, yang terdiri dari laki-laki yang sholeh dan wanita yang sholehah, yang menjadikan Islam sebagai sumber kekuatannya.
(Yesi Elsandra. Untuk wanita sholehah, kau adalah bunga terpelihara)
"Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya seseorang telah datang pada hari kiamat dengan amal-amal saleh yang bila diletakkan di atas gunung maka ia akan memberatinya. Lalu bangkitlah salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah, maka nikmat itu hampir saja menghabiskan semua amal saleh orang tadi, kalau saja Allah tidak mengaruniakan kepadanya rahmat-Nya."(HR. al-Mundziry)

Saturday, April 7, 2007

Ketika Umurku 29

"Seorang hamba do'anya akan senantiasa dikabulkan selama tidak berdo'a untuk perbuatan dosa, atau memutuskan silaturahim, serta selama tidak tergesa-gesa." Beliau ditanya, Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?" Rasulullah menjawab, "Aku telah berdo'a, aku telah berdo'a, tetapi aku belum melihat do'aku dikabulkan. Lantas ia merasa kecewa dengan hal itu, sehingga ia pun tidak mau lagi berdo'a". (HR Muslim)



Di Pagi Hari Ketika Umurku 29


Oleh : Maharani Arrahman

Baitijanati. Ya Allah Alhamdulillah, umurku beranjak ke angka dua puluh sembilan pagi ini. Tiap kali berulang tahun, renungan demi renungan aku lakukan. Tahun ini, aku terima semua yang terjadi dalam hidupku dengan lapang dada, tanpa perlu kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa keinginanku masih belum dipenuhi Allah. Ya Allah terima kasih, aku diberi kesempatan untuk memperbaiki diriku dan menangkap hikmah dari semua kejadian.

Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah dan betapa malunya aku yang kadang tidak menyadarinya hanya karena satu permintaanku sejak beberapa tahun lalu belum dipenuhiNya, yaitu mempunyai suami, pendamping terbaik di sisiku. Ketika akal sehat dikalahkan oleh rasa frustasi, aku bertanya dalam hati apa yang kurang dari diriku. Mungkin ke-takaburanku yang menyebabkan belum datang seorang “arjuna” untukku. Kadang terbersit pikiran, apakah akan ada yang mencintaiku sungguh-sungguh hingga ingin menikahiku. Kadang di tengah keputus-asaan aku mengadu kepada Allah, Ya Allah aku hanya ingin berumah tangga untuk menjalankan sunnah Rasul, untuk menjaga hati dari zina, untuk menyempurnakan ibadahku. Mengapa untuk hal yang begitu sakral dan mulia Rabb belum juga memberikan “arjunaku”?

Ketika semuanya menjadi buntu, Rabb memberikan hidayahNya, aku memberanikan diri menggunakan jilbab, hampir setahun yang lalu, ketika aku baru saja berpisah dengan lelaki yang sangat aku cintai. Keputusan yang berat harus aku ambil demi mujahadah menegakkan syariah Islam untuk tidak pacaran, karena lelaki itu belum siap untuk menikah. Aku begitu yakin Allah akan memberikan jalan keluar untukku mendapatkan “arjuna” yang akan meminang dan menikahiku. Aku mencoba untuk membuka hatiku untuk lelaki-lelaki lain. Kemudian beberapa orang kawan berbaik hati mengenalkanku dengan beberapa lelaki tetapi hingga detik ini Allah belum memberikan “arjuna” yang melamarku. Beberapa lelaki kenalan baruku itu ada yang mundur teratur ketika melihatku menggunakan jilbab. Ya Allah ternyata sampai detik ini aku masih dicoba dengan keinginanku ini. Aku dicoba untuk menjadi Muslimah yang sholehah yang teguh menggunakan jilbab di tengah-tengah pencarianku untuk mendapatkan “arjunaku”.

Walaupun begitu aku mencoba untuk menangkap hikmah dari semua ini, bahwa Rabb ingin aku memperbaiki diriku sebelum “arjuna”ku datang dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk hidupku. Ya Allah aku senang dan bangga Engkau menyayangiku, Engkau akan memberikan yang terbaik untukku. Untuk itu, aku berusaha untuk selalu berlapang dada, pasrah dan bertawakal, bahkan jika Engkau belum mengizinkan aku menikah dalam waktu dekat ini. (SW 31071974). (www.baitijannati.wordpress.com)

maha_rid@yahoo.com

Sumber : www.prayoga.net

Baju Baru Suamiku

"Pergunakan lima peluang sebelum datang yang lima: Masa muda sebelum tiba masa tua, masa sehat sebelum tiba masa sakit, masa lapang sebelum tiba masa sibuk, masa kaya sebelum tiba masa miskin, dan masa hidup sebelum tiba masa mati" (Al-hadits)

Baju Baru Suamiku

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada April 4th, 2007

Baitijannati. Masku ribut lagi ! Apa pasal? Beliau tidak punya baju yang bisa dipakai ke tempat kerja pagi ini. Baju kemarin sudah asam bau keringat, dan sudah ku taruh di keranjang cucian kotor. Baju yang kemarinnya lagi saat ini sedang kubilas. Sedang baju yang seharusnya sudah bisa dipakai masih bertengger di jemuran basah, karena memang sudah tiga hari ini hujan turun terus menerus. Kalau sudah begini, akulah yang tergopoh-gopoh. Ku ambil baju lembab tersebut dari jemuran, lalu kusetrika sampai asapnya mengepul-ngepul darinya.

“Sabar ya, Mas..Sebenntaaar lagi..”kataku menenangkan suamiku yang sedang bolak-balik bak setrikaan yang kupegang karena tak sabar menunggu baju mengering. Lima belas menit kemudian, bereslah.Mas sudah siap dengan baju yang masih “hangat”dan pantalonnya, dan dengan riang seperti biasanya melangkahkan kakinya ke tempat kerja.

Begitulah! Suamiku memang cuma punya 3 lembar kemeja dan 2 pantalon yang layak dipakai ke tempat kerja.Sisanya kaus oblong cap angsa,sarung, serta celana training. Bukannya aku tidak memperhatikan kesejahteraan suami. Aku sendiri ikut prihatin melihat inventarisasi pakaian mas. Kalau tak salah sudah 7 kali lebih aku sisakan anggaran khusus untuk membeli baju baru buat Mas. Yang pertama, Mas sendiri yang mengambilnya, karena beliau butuh untuk tambahan ongkos ke luar kota. Yang kedua, kala itu aku sudah bersiap keluar , ketika Lik Giman-tukang sayur langganan kami- datang dan bilang istrinya harus operasi cesar untuk melahirkan anak mereka. Hubungan Mas dengan orang-orang kecil seperti Lik Giman memang akrab ( sampai aku bingung sendiri, apa resepnya?), sehingga mereka tidak sungkan-sungkan minta pertolongan ke keluarga kami. Melihat urusan Lik Giman lebih urgen dari pada baju baru buat Mas, kami menunda beli baju baru itu. Malah patungan dengan beberapa kawan untuk bersama-sama membiayai ongkos operasi tersebut. Yang ketiga, keempat,dan selanjutnya saaku sudah tak ingat lagi karena saking seringnya acara tidak jadi membeli itu terjadi. Tapi yang terakhir adalah paling kuingat. Waktu itu aku sudah sampai di toko baju. Dan ketika aku hendak membayar di depan kasir, baru kusadari tasku dirobek copet.Hilanglah dompet dan segala isinya…

Alhamdulillah satu tulisan ku dimuat di majalah. Dan ini tambahan rizki buat keluarga kami. Setelah kuhitung-hitung anggaran bulan ini, ada sisa buat anggaran baju dan pantalon baru mas. Kusimpan dalam amplop, dan kuberi judul besar-besar agar mudah mengambilnya. Dan kuminta pada Mas untuk membelinya dalam minggu ini juga. Agar bisa cepat memperoleh baju dan pantalon baru, juga agar tidak “keduluan” keperluan yang lain.

Lalu jadilah, hari Ahad pagi, aku, Mas dan anak-anak kami Fitri dan Umar,berencana pergi berbelanja sekalian rekreasi. Tetapi, ketika aku sedang memakaikan Fitri jilbab kecilnya kudengar pintu diketuk orang. Mas yang membukakan. Lalu..
“Dek Asri ! Ada Tari dan kawan-kawan, nih..”

Aku yang mendengar itu berpikir sejenak. Rasa-rasanya aku tak ada janji dengan mereka. Kutemui Tari, Keke, dan Lia, adik-adik kelasku di kampus. Sementara Mas berlalu ke belakang bersama Umar dan Fitri. Ketika kulihat wajah-wajah mereka, kutahu ada persoalan yang cukup serius. Maka kutunda kepergianku bersama Mas dan anak-anak.

“Mas, Mas pergi sendiri saja, ya? Sama Fitri juga boleh. Atau kalau nggak kerepotan sama Umar juga nggak papa..,” kataku ketika menemui Mas di belakang sambil membuat minuman.
“Hem..Memang ada persoalan serius?”Mas bertanya padaku sambil mengajak Umar bercanda.
“Sepertinya…”
Aku mengangguk.
“Yah, sudah kalau begitu. Kita pergi bertiga aja, ya, Fitri. Malah enak nggak ada ibu….” Mas tidak melanjutkan ucapannya ketika melihatku merengut mendengar gurauannya.
“Nnng, nggak deng…Nggak enak nggak sama ibu ya, Fit? Sepi..” sambungnya. Aku tersenyum.
“Tapi ingat, ya, Mas. Ini uang buat baju dan pantalonnya. Insya Allah, sudah Dek Asri hitung dan cukup untuk membeli 2 kemeja dan 1 pantalon bermutu bagus. Jangan dibelikan yang murahan. Cepet rusak soalnya…,”pesanku wanti-wanti.

Mas cuma mengangguk-angguk. Walaupun aku sangsi, Mas mendengarkan dengan sungguh-sungguh atau tidak yang aku pesankan. Dan setelah berpesan pada Fitri agar menurut apa yang dikatakan ayahnya selama berbelanja, dan memakaikan Umar yang sedang digendong Mas topi, aku membawa minuman ke depan dan tak lama diikuti oleh Mas, Fitri, dan Umar.

Fitri mencium tanganku dan tangan adik-aduk kelasku. Dia memang “primadona” Semua yang datang pasti senang memanjakannya. “Fitri pergi dulu, ya tante-tante…Assalamu’alaikum…,” pamitnya kenes. Lalu dengan riang menyusul ayahnya yang sudah keluar lebih dahulu.

**************

Lepas Ashar, Mas, Fitri, dan Umar pulang. Kulihat Mas cukup kerepotan membawa belanjaan, menggendong Umar, dan menggandeng Fitri.
“Sudah pulang Tari cs..?”tanya Mas padaku.
Yang kuiyakan sambil mengambil Umar yang pulas tertidur dalam gendongan Mas.
“Kecapekan..”Mas berkata sambil memandangi wajah damai Umar.

Ku bergerak menidurkan Umar di kamar anak-anak. Kulihat Fitri pun nampak mengantuk, maka kusuruh dia untuk tidur juga. Fitri menurut, tapi tak mau melepaskan kardus besar yang sedari tadi dipeluknya.”Ada apa, Dek..? Katanya masalahnya cukup serius…”

“Oh, Tari cs? Itu Anis-mas mungkin belum kenal-baru masuk tahun ini. Katanya harus operasi usus buntu..Kasihan anak itu, kan baru saja masuk…Rumah orang tuanya di Surabaya lagi… Jadi Tari dkk itu bergantian untuk menjenguknya di rumah sakit. Insya Allah, dek Asri mau menjenguknya besok. Ingin tahu keadaannya.” Aku membukakan kaus kaki Umar dan melap keringat yang bertaburan di wajah montoknya.

“Fitri, bungkusannya ditaruh dulu, ya, Nak…”kataku melepaskan bungkusan itu dari pelukan Fitri. Entah karena mengantuk, Fitri tidak memberontak seperti biasanya. Dia diam saa ketika kardus itu kuambil. Hmm, balok susun. Aku membaca tulisan bahasa Inggris di kardus tersebut.Tiba-tiba aku jadi curiga pada Mas yang masih berdiri di pintu kamar di belakangku. Kumenoleh pada Mas.
“Baju dan pantalonnya mana, Mas?”
Mas hanya nyengir memandangku.
“Nnng, belum sempat membeli…,”katanya. “Sampai di tempat mainan, Fitri merengek minta dibelikan balok susun itu. Mas pikir sudah lama tidak membelikan Fitri mainan.Jadi..”
Aku memandangi Mas dengan memanyunkan bibir.
“Terus ke toko buku. Ada buku bagus yang ingin Mas baca. Juga buku bergambar buat Fitri dan Umar buat belajar.Jadi…”
Aku tambah memanyunkan bibir.
“Lalu Mas ingat, Dek Asri sendiri selama dua tahun ini juga belum pernah membeli baju dan jilbab baru. Jadi Mas ke tokonya Harits (seorang kawan Mas yang berwiraswasta berdagang busana muslim). Dan akhirnya baru sadar ketika uangnya tinggal lima ribu..”

Aku melongo. Tidak tahu, apakah harus kesal atau bagaimana terhadap Mas. Namun kurasakan ada rasa bahagia yang menyelusup, karena Mas benar-benar memikirkan kepentingan kami, lebih dari kepentingannya sendiri. Jazakallah ya, suamiku. Semoga Allah membalas kebaikan Mas. Doaku sambil memandangi Mas penuh terima kasih.
“Awas ya, kalau ribut-ribut baju lagi karena cuma punya baju tiga..,”k ataku berpura marah. Mas cuma tertawa. (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : prayoga.net

Thursday, April 5, 2007

Upaya menghidupkan qolbu

�Lelah, tersinggung, terhina, kekurangan, uang, tertimpa penyakit, dan masih begitu banyak lagi masalah yang akan membuat orang menjadi goyah, tapi kalau terkelola hatinya, subhanallaah, ia tetap akan punya nilai produktif. Banyak orang yang sangat sibuk memikirkan kecerdasannya, memikirkan kesehatan fisiknya, tapi sangat sedikit memikirkan kondisi hatinya. Kalaulah kita harus memilih, seharusnya kita banyak meluangkan waktu untuk memikirkan qolbu ini. Karena jika qolbu ini baik, yang lainnya pun menjadi baik, Insya Allah.� (AA Gym)

Upaya menghidupkan Qolbu

KH. AA Gym

Kalau ada satu keberuntungan bagi manusia dibanding dengan hewan, maka itu adalah bahwa manusia memiliki kesempatan untuk ma’rifat (kesanggupan mengenal Allah). Kesanggupan ini dikaruniakan Allah karena manusia memiliki akal dan yang terutama sekali hati nurani. Inilah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia.

Orang-orang yang hatinya benar-benar berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya akan berhasil pula mengenali Tuhannya. Tidak ada kekayaan termahal dalam hidup ini, kecuali keberhasilan mengenali diri dan Tuhannya. Karenanya, siapapun yang tidak bersungguh-sungguh menghidupkan hati nuraninya, dia akan jahil, akan bodoh, baik dalam mengenal dirinya sendiri, lebih-lebih lagi dalam mengenal Allah Azza wa Jalla, Zat yang telah menyempurnakan kejadiannya dan pula mengurus tubuhnya lebih daripada apa yang bisa ia lakukan terhadap dirinya sendiri.

Orang-orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik, tidak akan tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini, tidak akan tahu indahnya hidup. Demikian pun, karena tidak mengenal Tuhannya, maka hampir dapat dipastikan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja, dan itu pun sebagian kecil belaka. Akibatnya, semua kalkulasi perbuatannya, tidak bisa tidak, hanya diukur oleh aksesoris keduniaan belaka. Dia menghargai orang semata-mata karena orang tersebut tinggi pangkat, jabatan, dan kedudukannya, ataupun banyak hartanya. Demikian pula dirinya sendiri merasa berharga di mata orang, itu karena ia merasa memiliki kelebihan duniawi dibandingkan dengan orang lain. Adapun dalam perkara harta, gelar, pangkat, dan kedudukan itu sendiri, ia tidak akan mempedulikan dari mana datangnya dan kemana perginya karena yang penting baginya adalah ada dan tiadanya.

Sebagian besar orang ternyata tidak mempunyai cukup waktu dan kesungguhan untuk bisa mengenali hati nuraninya sendiri. Akibatnya, menjadi tidak sadar, apa yang harus dilakukan di dalam kehidupan dunia yang serba singkat ini. Sayang sekali, hati nurani itu - berbeda dengan dunia - tidak bisa dilihat dan diraba. Kendatipun demikian, kita hendaknya sadar bahwa hatilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini, Seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari-harinya dengan sabar, padahal jelas secara duniawi tidak menguntungkan apapun. Yang ada malah berat melangkah, sakit, lelah, mual. Walaupun demikian, semua itu toh tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.

Datang saatnya melahirkan, apa yang bisa dirasakan seorang ibu, selain rasa sakit yang tak terperikan. Tubuh terluka, darah bersimbah, bahkan tak jarang berjuang diujung maut. Ketika jabang bayi berhasil terlahir ke dunia, subhanallaah, sang ibu malah tersenyum bahagia. Sang bayi yang masih merah itu pun dimomong siang malam dengan sepenuh kasih sayang. Padahal tangisnya di tengah malam buta membuat sang ibu terkurangkan jatah istirahatnya. Siang malam dengan sabar ia mengganti popok yang sebentar-sebentar basah dan sebentar-sebentar belepotan kotoran bayi. Cucian pun tambah menggunung karena tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti karena terkena pipis si jantung hati. Akan tetapi, Masya Allah, semua beban derita itu toh tidak membuat ia berlaku kasar atau mencampakkan sang bayi.

Ketika tiba saatnya si buah hati belajar berjalan, ibu pun dengan seksama membimbing dan menjaganya. Hatinya selalu cemas jangan-jangan si mungil yang tampak kian hari semakin lucu itu terjatuh atau menginjak duri. Saatnya si anak harus masuk sekolah, tak kurang-kurangnya menjadi beban orang tua. Demikian pula ketika memasuki dunia remaja, mulai tampak kenakalannya, mulai sering membuat kesal orang tua. Sungguh menjadi beban batin yang tidak ringan.Pendek kata, sewaktu kecil menjadi beban, sudah besar pun tak kurang menyusahkan. Begitu panjang rentang waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban, namun begitu sedikit balas jasa anak. Bahkan tak jarang sang anak malah membuat durhaka, menelantarkan, dan mencampakkan kedua orang tuanya begitu saja manakala tiba saatnya mereka tua renta.

Mengapa orang tua bisa sedemikian tahan untuk terus menerus berkorban bagi anak-anaknya? Karena, keduanya mempunyai hati nurani, yang dari dalamnya terpancar kasih sayang yang tulus suci. Walaupun tidak ada imbalan langsung dari anak-anaknya, namun nurani yang memiliki kasih sayang inilah yang memuatnya tahan terhadap segala kesulitan dan penderitaan. Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak menjadi beban. Oleh karena itu, beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak, akan tetapi yang harus selalu kita jaga dan rawat sesungguhnya adalah kekayaan batin kita berupa hati nurani ini. Hati nurani yang penuh cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena selalu akan merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, waspadalah bila cahaya hati nurani menjadi redup. Karena, tidak bisa tidak, akan membuat pemiliknya selalu merasakan kesengsaraan lahir batin lantaran senantiasa merasa terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.

Allah Mahatahu akan segala lintasan hati. Dia menciptakan manusia beserta segala isinya ini dari unsur tanah; dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karena sama-sama terbuat dari tanah. Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan kita tidaklah cukup dengan berdzikir, tetapi harus dipenuhi dengan aneka perangkat dan makanan, yang ternyata sumbernya dari tanah pula.Bila perut terasa lapar, maka kita santap aneka makanan, yang sumbernya ternyata dari tanah. Bila tubuh kedinginan, kita pun mengenakan pakaian, yang bila ditelusuri, ternyata unsur-unsurnya terbuat dari tanah. Demikian pun bila suatu ketika tubuh kita menderita sakit, maka dicarilah obat-obatan, yang juga diolah dari komponen-komponen yang berasal dari tanah pula. Pendek kata, untuk segala keperluan tubuh, kita mencarikan jawabannya dari tanah.

Akan tetapi, qolbu ini ternyata tidak senyawa dengan unsur-unsur tanah, sehingga hanya akan terpuaskan laparnya, dahaganya, sakitnya, serta kebersihannya semata-mata dengan mengingat Allah. "Alaa bizikrillaahi tathmainul quluub." (QS. Ar Rad [13] : 28). Camkan, hatimu hanya akan menjadi tentram jikalau engkau selalu ingat kepada Allah!Kita akan banyak mempunyai banyak kebutuhan untuk fisik ita, tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk qolbu kita. Karenanya, marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi kebutuhan fisik dengan unsur duniawi, tetapi qolbu atau hati nurani kita tetap tertambat kepada Zat Pemilik dunia. Dengan kata lain, tubuh sibuk dengan urusan dunia, tetapi hati harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia. Inilah sebenarnya yang paling harus kita lakukan.

Sekali kta salah dalam mengelola hati – tubuh dan hati sama-sama sibuk dengan urusan dunia – kita pun akan stress jadinya. Hari-hari pun akan senantiasa diliputi kecemasan. Kita akan takut ada yang menghalangi, takut tidak kebagian, takut terjegal, dan seterusnya. Ini semua diakibatkan oleh sibuknya seluruh jasmani dan rohani kita dngan urusan dunia semata.Inilah sebenarnya yang sangat potensial membuat redupnya hati nurani. Kita sangat perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai mengalami musibah semacam ini.

Bagaimana caranya agar kita mampu senantiasa membuat hati nurani ini tetap bercahaya? Secara umum solusinya adalah sebagaimana yang diungkapkan di atas : kita harus senantiasa berjuang sekuat-kuatnya agar hati ini jangan sampai terlalaikan dari mengingat Allah. Mulailah dengan mengenali apa yang ada pada diri kita, lalu kenali apa arti hidup ini. Dan semua ini bergantung kecermatan kepada ilmu. Kemudian gigihlah untuk melatih diri mengamalkan sekecil apapun ilmu yang dimiliki dengan ikhlas. Jangan lupa untuk selalu memilih lingkungan orang yang baik, orang-orang yang shalih. Mudah-mudahan ikhtiar ini menjadi jalan bagi kita untuk dapat lebih mengenal Allah, Zat yang telah menciptakan dan mengurus kita. Dialah satu-satunya Zat Maha Pembolak-balik hati, yang sama sekali tidak sesulit bagi-Nya untuk membalikan hati yang redup dan kusam menjadi terang benderang dengan cahaya-Nya. Wallahu’alam.

(Sumber : Tabloid MQ EDISI 06/TH.1/OKTOBER 2000)

INDRA JAYA ( Eng Koh )

PT. INDOSAT Tbk

Jl. AP Pettarani No.49

Makassar

( 0856 760 7777 )

Gunung manglayang bandung

Gunung Agung

Gunung Agung



Etika pacaran dalam islam

Rasulullah saw. bersabda, "Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid-masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani." (HR Ibnu Hibban dan Abu Dawud)

Hanya dengan berpikir positif tentang diri kita dan kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita, kita dapat menjadi periang dan sehat.



BAGAIMANA PACARAN MENURUT ISLAM ? (1)
sumber : Ngaji Salaf 2000

Pada pembahasan sesion ini kita akan mengangkat masalah pacaran. Pacaran yang sudah merupakan fenomena mengejala dan bahkan sudah seperti jamur dimusim hujan menjadi sebuah ajang idola bagi remaja . Cinta memang sebuah anugerah, cinta hadir untuk memaniskan� hidup di dunia apalagi rasa cinta kepada lawan jenis, sang pujaan hati atau sang kekeasih hati menjadikan cinta itu begitu terasa manis bahkan kalo orang bilang bila orang udah cita maka empedu pun terasa seperti gula. Begitulah cinta, sungguh hal yang telah banyak menjerumuskan kaum muslimin ke dalam jurang kenistaan manakala tidak berada dalam jalur rel yang benar. Mereka sudah tidak tahu lagi mana cinta yang dibolehkan dan mana yang dilarang.

Kehidupan seorang muslim atau muslimah tanpa pacaran adalah hambar, begitulah kata mereka. Kalau dikatakan nggak usah kamu pacaran maka serentak ia akan mengatakan " Lha kalo nggak pacaran, gimana kita bisa ngenal calon pendamping kita ?". kalo dikatakan pacaran itu haram akan dikatakan, " pacaran yang gimana dulu.". Beginilah keadaan kaum muda sekarang, racun syubhat, dan racun membela hawa nafsu sudah menjadi sebuah hakim� akan hukum halal-haram, boleh dan tidak. Tragis memang kondisi kita ini, terutama yang muslimah. Mereka para muslimah kebanyakan berlomba-lomba untuk mendapatkan sang pacar atau sang kekasih, apa sebabnya, " Aku takut nggak dapat jodoh ". Muslimah banyak ketakutannya tentang calon pendamping, karena mereka tahu bahwa perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1 : 5. Tapi apakah jalan pacaran sebagai penyelesaian ? Jawabnya Tidak. Bagaimana bisa, kita ikuti selengkapnya pembahasan ini sebagai berikut, ( diambil dari buku Pacaran dalam Kacamata Islam karya Abdurrahman al-Mukaffi)

Dikatakan beliau bahwa� pacaran dikategorikan sebagai nafsu syahwat yang tidak dirahmati oleh Allah, karena ketiga rukun yang menumbuhkan rasa cinta menyatu di luar perkawinan. Hal ini dilakukan dengan dalih sebagai suatu penjajakan guna mencari partner yang ideal dan serasi bagi masing-masing pihak. Tapi dalam kenyataannya masa penjajakan ini tidak lebiih dimanfaatkan sebagai pengumbaran nafsu syahwat semata-mata, bukan bertujuan secepatnya untuk melaksanakan perkawinan

Hal ini tercermin dari anggapan mereka bahwa merasakan ideal dalam memilih partner jika ada sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Mereka merasa beruntung sekali jika selalu dapat berduaan, dan berpisah dalam waktu pendek saja tidak tahan rasanya. Dan keduanya merasa satu sama lain saling memerlukan.

  2. Mereka merasa cocok satu sama lainnya. Karena segala permasalahan yang sedang dihadapi dan dirasakan menjadi masalah yang perlu dicari pemecahannya bersama. Hal ini dimungkinkan karena mereka satu dengan lainnya merasa dapat mencapai saling pengertian dalam seluruh aspek kehidupannya.

  3. Mereka satu sama lain senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk menuruti kemauan sang kekasih. Hal ini dimungkinkan karena perasaan cinta yang telah tumbuh secra sempurna dengan pertautan yang kuat.

Tapi tanpa disadari, pacaran itu sendiri telah melambungkan perasaan cinta maki tinggi. Di sisi lain pacaran menjurus pada hubungan intim yang merusak cinta, melemahkan dan meruntuhkannya. Karena pada hakekatnya hubungan intim dalam pacaran adalah tujuan yang hendak dicapai dalam pacaran. Oleh karena itu orang yang pacaran selalu mendambakan kesyahduan. Dengan tercapainya tujuan tersebut kemungkinan tuntutannya pun mereda dan gejolak cintanya melemah. Hingga kebencian menghantui si bunga yang telah layu, karena si kumbang belang telah menghisap kehormatan secara haram.

Tak ubahnya seperti apa yang dinginkan oleh seorang pemuda untuk memadu cinta dengan dara jelita kembang desanya. dalam pandangannya sang dara tampak begitu sempurna. Higga kala itu pikiran pun hanyut, malam terkenang, siang terbayang, maka tak enak, tidur pun tak nyenyak, selalu terbayang si� dia yang tersayang. Hingga tunas kerinduan menjamur menggapai tangan, menggelitik sambil berbisik. Bisikan nan gemulai, tawa-tawa kecil kian membelai, canda-canda hingga terkulai, karena asyik, cinta pun telah menggulai. Menggulai awan yang mengawang, merobek cinta yang tinggi membintang, hingga luka mengubur cinta.....BERSAMBUNG

Sumber : Dudung Net

Hormatku semakin dalam....

Pengirim: Henny Herwina Hanif
Selasa, 30 Agustus 2005

Kubuka mukena yang setia bersamaku sepanjang malam ini. Kulipat tiga memanjang, lalu kulilitkan ke leher. Dengan begini aku berharap dapat melindungi kuduk dari hembusan angin malam. Angin yang menerobos masuk lewat jendela kamar yang sengaja kubiarkan terbuka.

Udara yang lembab dan menggerahkan telah muncul sejak awal Agustus ini, pertanda dimulainya musim panas di negeri sakura. Sebentar lagi tentu aku tak akan tenang di dalam rumahku sendiri tanpa kipas angin.

Tak akan ada AC di apartemenku yang sederhana dan bergaya tradisional ini. Tapi aku amat menyukai “rumahku”, terutama karena lokasinya yang tepat di bawah sebuah bukit kecil. Lalu dari jendela manapun aku menatap keluar, mataku akan bertumbukan dengan pepohonan dan herba. Kehijauan, pemandangan yang selalu membuatku tenang.

Kulirik hamparan futon (kasur tradisonal Jepang). Dua belahan jiwaku tengah terlelap diatasnya, bergaya bebas. Gadis kecilku telah merubah posisi tidurnya menjadi horizontal, kakinya melipat di pingir dipan yang membatasi. Ah, ia telah tumbuh semakin tinggi.

Bagian tengah yang seharusnya menjadi wilayah tidurku kosong. Sang papa, suamiku, tidur secara vertikal di bagian yang lain menghadap ke arah ruang keluarga, dimana aku tengah berada. Terdengar dengkuran halus dari bibirnya, pertanda kelelahan kata orang tua. Memang, setelah selesai bekerja kemaren sore seperti biasa ia langsung menjemput putri kami di hoikuen (sekolah setingkat taman-kanak-kanak), lalu menyuapinya makan dengan nato (sejenis makanan khas di Jepang, terbuat dari kedelai) kegemaran anakku. “Hanya setengah porsi”, katanya padaku kemudian, ketika kami harus makan di luar malam itu. Merayakan kelulusanku setelah melewati final defense, presentasi akhir mempertahankan penelitianku untuk mendapatkan gelar doktor. Setelah semua persiapan yang amat melelahkan bagiku, profesorku dan juga suamiku.

***

Suamiku adalah orang pertama yang ingin kukabari akan berita kelulusanku. Kuingat sore itu, ketika baru saja aku akan menulis email ke telepon genggamnya, suamiku sudah lebih dahulu menghubungiku lewat telepon seorang teman. Mengucapkan selamat. Hatiku bergetar ketika suaranya terdengar bahagia, lega. Perjuangan kami kini telah membuahkan salah satu hasilnya.

Ya, ini adalah perjuangan kami. Karena aku tak akan bisa menjalani semua ini tanpa dukungan, pengertian dan dorongannya. Padahal rasanya baru kemaren suara-suara itu terdengar olehku.

“Hen, kamu harus hati-hati, kamu kan mau S3, jangan nikah dulu deh…, gimana kalau suamimu nanti langsung pengen punya anak, sementara kamu harus pergi keluar negeri sendiri…?” kata seorang seniorku, ketika aku menjalani pendidikan S2 di Bandung dan tengah kebingunan dengan pilihan melanjutkan studi saja dulu, atau menikah sesuai permintaan Ibuku sambil tetap melanjutkan studi.

“Ibu sempat berdiskusi dengan teman-teman tentang rencanamu untuk menikah sebelum berangkat ke Jepang. Kamu kan masih muda, cantik dan pintar, nggak usah khawatirlah soal jodoh. Sekolah saja dulu, dan pria-pria akan berlomba ingin menyuntingmu…”, Ibu Tjadra, salah seorang dosen di laboratoriumku memberikan saran ketika kuminta pendapatnya. Dosenku yang satu ini amat lembut dan baik hati, jadi aku pun merasa dekat seperti berteman saja.

“Nggak usah nikah dulu atuh Hen…, calonmu dari IKIP? Belum mau melanjutkan lagi? Lihat deh nanti kalau kamu sudah doctor, beda gerak... Pasti deh kamu pengen sama doctor juga!” Ibu Ria, dosen biostatistikku yang campuran sunda-batak itu ikut pula menyumbangkan pendapat. Lengkap dengan gaya khasnya berbicara ketika kami berjalan bersama di koridor kampus suatu siang. Aku tersenyum melihat gaya beliau tapi belum yakin untuk setuju dengan pendapat seperti itu. Tidak kuberikan komentar apa-apa saat itu.

Belum lagi 'serangan' keluarga suamiku bagi dirinya. “Benar nih, mau menikah dengannya? Kamu nggak takut kalau pendidikannya diatasmu? Bagaimana kalau nanti dia ngelunjak dan jadi berkuasa? Apa enak jadi suami dikomandoi istri?” dan berbagai kecurigaan lainnya terhadap rencananya untuk menikahiku.

Untunglah aku tidak terpengaruh dengan berbagai pendapat yang muncul, karena telah kupasrahkan pada-Nya segala. Berdoa agar diberikan jalan terbaik jika memang ialah jodohku. Saat itu aku baru saja menyelesaikan sidang akhir program master. Sementara suamiku telah mempunyai penghasilan dari usaha kecilnya. Kami tak tinggal sekota, tapi berasal dari desa yang sama sehingga aku dan keluarganya telah saling kenal sejak lama.

Tuhan mendengar doaku dan membuatku dengan lapang dada menerima ketika ia mengurus semua keperluan untuk pernikahan bersama keluargaku di Padang. Sementara itu aku hanya menerima konfirmasi lewat telepon dan bisa terus mengurus persiapan wisuda dan dokumentasi untuk berangkat ke luar negeri.

Kini, ketika aku berhasil juga menyelesaikan studiku, perjalanan rumah tangga kami telah mencapai umur 7 tahun. Dengan menjaga prinsip saling terbuka, saling percaya, saling menghormati dan berpedoman pada tuntunan pernikahan dalam Islam, aku selalu berusaha memposisikan diri sebagai istri yang patuh pada suami dan sebagai ibu yang baik bagi anak kami semata wayang. Berkat pengorbanannya dan tolerasi suamiku atas berbagai keterbatasan yang kumiliki, Alhamdulillah tidak ada kendala berarti dalam hubungan kami.

***

Hari beranjak subuh. Kupuaskan diri menatap suamiku yang sekarang masih tertidur pulas, tapi dengkurannya sudah tak ada lagi. Wajah yang kukasihi, kuhormati dan yang selalu mengasihi keluarganya dengan tulus. Yang beberapa hari terakhir ini merelakanku untuk tak memasakkan makanan kesukaannya. Atau tak protes kalau kumasakkan sekaligus lebih banyak, lalu tinggal dipanaskan untuk beberapa kali makan. Selebihnya aku telah membeli makanan instan atau mengajaknya makan di kantin kampusku.

Terkadang ia malah sengaja menyuruhku ke kampus secepatnya, karena tahu profesorku sedang menunggu. Bahkan dua hari terahir ini, saatku bangun di pagi hari, suamiku telah menyediakan satu set makanan instan, bekal ke kampus untukku. Rupanya setelah selesai bekerja pagi itu, ia sempat pula membereskan hal-hal kecil lainnya di dapur. Padahal setelah itu ia harus berjuang sendiri mempersiapkan anak kami yang balita untuk pergi sekolahnya. Aku sendiri sudah harus di kampus sejak sangat pagi belakangan ini, untuk menemui profesorku yang datang lebih pagi lagi, khusus untuk persiapan ujian akhirku. Suamiku juga ikut-ikutan tegang sepertiku ketika jadwal ujian tinggal hitungan jam. Dan saat mengetahui kelulusanku, ialah yang paling senang dan bahagia.

Untuk semua ketulusan ini, apakah aku sebagai istri akan bersikap lancang padanya? Apakah lantas aku akan menganggapnya rendah karena tak ikut melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi akan tetapi memilih bekerja untuk menafkahi keluarga? Aku tak melihat adanya hubungan antara gelar yang akan kusandang dengan posisinya sebagai pemimpin keluarga. Apakah aku akan besar kepala atau merasa lebih tahu dan hebat? Jawabnya hanya TIDAK.

Untuk segala pengertiannya akan kuberikan seluruh pengertianku. Untuk semua kesabarannya akan kulatih terus sabarku. Untuk segala cintanya akan kuberikan seluruh cintaku. Ini sudah menjadi tekadku sejak dahulu, saat memutuskan bersedia menjadi pendaping hidupnya. Nyatanya, semakin hari semakin bertambah kekagumanku padanya. Semakin tinggi rasa hormatku baginya.

“Ya Robbi, jadikanlah aku wanita yang sabar, sholehah dan berbakti pada suamiku, mencapai ridha-Mu…”, doaku selalu, teringat akan sabda Rasul yang pernah kubaca:

Dari Ummu Salamah, “Sesungguhnya Nabi Saw. telah bersabda, “Barang siapa di antara perempuan yang mati dan ketika itu suaminya suka (rela) kepadanya, maka perempuan itu akan masuk syurga”. (Riwayat Ibnu Majah dan Tirmizii).

***

“Uda…, banguun…”, bisikku pelan, enggan membangunkannya karena ia tampak amat nyenyak tertidur. Namun perlahan lelaki pujaan itu bangun dari istirahatnya dan segera ke kamar mandi untuk berwudhu.

Setelah shalat subuh berjamaah, kucium tangannya, saling bermaafan. Saat-saat indah yang selalu kutunggu setiap hari, karena kesibukanku biasanya membuat kami hanya bisa berjamaah disaat subuh dan isya saja.

Hari masih gelap, tapi suamiku telah siap untuk berangkat bekerja setelah meminum kopi susu buatanku.

“Assalamualaikum…”, ucapnya saat membuka pintu dan melangkah keluar.

Setelah menjawab salamnya, aku masih mematung di depan pintu. Merenungi kepergian belahan hati untuk mengadu nasib bagi keluarga, seperti yang selama ini dengan tulus ia lakoni.

Ya Allah… lindungilah suamiku, dan semoga setiap helaan nafas kasihnya pada keluarga akan selalu menjadi ladang ibadah pula baginya disisi-Mu. Amin…

Dari Abu Hurairah. Ia berkata,“Rasulullah Saw. telah memberi pelajaran. Sabda beliau, “Mukmin yang sempurna imannya ialah yang paling baik pribadinya, dan sebaik-baiknya pribadi ialah orang yang paling baik terhadap istrinya”. (Riwayat Ahmad dan Tarmizi).

Kanazawa, Agustus 2005 ( Wrm-indonesia.org)

Vitamin C....

Vitamin C (Cinta)

images.jpgSuatu hari kami pernah dikagetkan dengan kedatangan ibu ke rumah. Padahal jalan yang harus ditempuh lumayan jauh, sekitar dua jam dengan empat kali ganti angkutan umum. Ditambah dengan kondisinya yang sering sakit-sakitan, kakinya yang kadang tidak bisa diajak kompromi setelah lebih sepuluh tahun digerogoti diabetes. “Kangen cucu,” alasan utama yang memberinya kekuatan luar biasa.

Di hari lain ketika kami berkunjung ke rumahnya, ibu ditawari untuk ikut jalan-jalan ke menginap di Villa salah satu keluarga kami di kawasan puncak, Bogor. Biasanya ibu tidak pernah menolak ajakan adiknya itu, karena jalan-jalan ke puncak adalah kesukaannya. Tetapi kali itu, ia menolak tegas ajakan menggiurkan itu dengan satu alasan, “ada cucu di rumah”. Menurutnya, tidak ada yang lebih membahagiakan selain menikmati hari-hari bersama cucu-cucunya.

Cerita lainnya diperlihatkan Ayah. Ia rela menelepon berlama-lama kalau berbicara dengan cucunya. Padahal, Ayah termasuk yang rewel urusan penggunaan telepon yang tidak penting. Alasannya, tagihan pulsa akan membengkak dan tidak ada uang untuk membayarnya. “Ada yang lebih penting dari berbicara dengan cucu?” kilah sang kakek diplomatis.

Si kakek ini kadang aneh juga. Hampir setiap hari keluhan yang terdengar dari mulutnya selalu mengenai kakinya yang sakit karena asam urat. Di hari lain, badannya yang tidak bisa digerakkan. Intinya setiap hari ada saja penyakitnya. Namun ketika para cucu berkunjung ke rumahnya, entah terbang kemana para penyakit sehari-harinya itu. Bayangkan, tiba-tiba saja ia berani menantang salah seorang cucunya lomba berlari. Atau ia tak keberatan saat cucunya meminta kesediaannya menjadi kuda. Satu cucu menunggang punggungnya, yang lain iri dan tak mau ketinggalan menunggangi punggung yang biasanya selalu dikeluhkan itu. Dan kakinya yang sering sakit itu, tak terasa apa pun saat diduduki beramai-ramai oleh cucu-cucunya.

Satu lagi, kami tak pernah mengizinkan anak-anak meminta sesuatu dari kakeknya. Jangankan meminta, tanpa diminta pun kakek nenek pasti akan memberikan apa yang diinginkan cucu-cucunya. Kadang kami tahu bahwa mereka sedikit memaksakan diri untuk bisa menyenangkan cucunya. Tapi, terang saja kami tak mampu melarangnya. Karena bagi mereka, itulah cinta. Apa pun akan berlaku untuk cinta, semahal apa pun akan terbayar demi cinta.

Banyak yang bilang, cinta kakek dan nenek kepada cucu jauh berlipat ganda dari cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Buat seorang kakek, mungkin dulu ia sering tidak punya waktu bersamaan dengan anak-anaknya lantaran kesibukan mencari nafkah. Ia merasa cintanya belum sepenuhnya dicurahkan, sehingga saat ini cucunya lah yang menjadi muara cintanya. Buat nenek, ada cinta yang takkan pernah habis di setiap aliran darahnya meski segunung cinta sudah ia berikan kepada anak-anaknya dulu. Kini, setiap tetes cinta itu terus mengalir kepada cucu-cucunya. Setiap detik, setiap masa berganti, takkan pernah lekang di makan waktu.

Jangan pernah pisahkan anak-anak kita dari mereka. sungguh, ada kekuatan luar biasa yang mengalir dari tubuh-tubuh mungil anak-anak sehingga menjadi energi positif bagi kakek dan neneknya. Ia seperti vitamin yang selalu dibutuhkan, melebihi ratusan jenis obat yang pernah diminumnya. Vitamin cinta yang seketika menimbulkan semangat kehidupan seolah garis finish tak terlihat di matanya. Berilah mereka vitamin “C” itu, cukup bagi mereka meski hanya mendengar suaranya dari seberang telepon.

Pernah suatu hari, ibu berjam-jam duduk di dekat telepon. “menunggu telepon dari cucu,” katanya. Ooh… (bayu gawtama/http://gawtama.multiply.com)

Rasulullah saw. bersabda, "Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid-masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani." (HR Ibnu Hibban dan Abu Dawud)

Hikmah para sahabat


Rasulullah saw. bersabda, "Aku tidak menyuruh kamu membangun masjid-masjid untuk kemewahan (keindahan) sebagaimana yang dilakukan kaum Yahudi dan Nasrani." (HR Ibnu Hibban dan Abu Dawud)

Nabi Yusuf Pernah Jadi Menteri
Oleh: Asa Mulchias

Partai politik itu haram? Bid'ah? Bertentangan dengan sunnah Rasul?

Menjelang pemilu, pengharaman partai dan politik itu sendiri makin santar terdengar. Tidak sekali dua kali. Sering. Apalagi bila menyebut dunia internet. Beragam email, situs, bahkan dialog maya alias chatting, ramai dengan pendapat-pendapat miring tentang status halal politik dalam Islam. Pelakunya? Ya, umat Islam. Umat Islam yang berpendapat bahwa partai bukanlah cara yang Rasulullah ajarkan. Tak cocok dengan sirah dan manhaj perjuangan Islam.

Fenomena ini -sebenarnya- cukup mengganggu. Dirasa begitu setidaknya bagi sebagian umat Islam yang sedang meniti lembar dakwah negeri ini lewat jalur siyasi (politik). Ragu-ragu jadi sembilu. Menggerogoti semangat dan langkah. Bagi mereka yang hampir tak memiliki tsaqofah (wawasan) mengenai politik, jadi goyah pendiriannya. Haruskah Islam ditegakkan lewat politik? Bagaimana bisa membangkitkan Islam lewat jalur yang haram? Bukankah masuk ke parlemen sekuler berarti secara tidak langsung 'mengakui' sistem kebathilan?

Saling Sikut Saling Baku

Di dalam perkembangan religiusitas Islam di Indonesia, ada dua kutub yang bertolak belakang dalam hal menyikapi perjuangan Islam lewat parlemen.

Pendapat pertama cenderung memilih mengharamkan parlemen sebab dengan menafsirkan masuk parlemen, duduk bersama dengan anggota lainnya serta membuat undang-undang yang terkadang tidak sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah adalah perbuatan yang meruntuhkan wala' dan bara'. Padahal -menurut mereka- Allah sudah mewajibkan kepada setiap muslim untuk berwala' kepada Allah, Rasul dan pimpinan muslim saja. Ada banyak ayat dan hadits yang memerintahkan hal itu. Karenanya, tak heran, menurut kelompok ini, umat Islam haram hukumnya masuk parlemen dan juga tidak perlu membuat partai Islam.

Sedangkan pada pendapat kedua, terdapat pendapat yang totally different. Pada pihak ini, mereka memandang bahwa bila hukum Islam itu tidak bisa diterapkan secara keseluruhan, maka bukan berarti berhenti memperjuangkannya. Bila sesuatu tidak bisa didapatkan secara menyeluruh, bukan berarti harus ditinggalkan keseluruhnya. Maa laa yudroku kulluhu laa yutroku kulluhu!

Masuk parlemen memang tidak bisa menjamin bisa diterapkannya hukum Islam. Namun -menurut mereka- paling tidak ada kisi dan ruang yang masing bisa diperjuangkan agar bisa diatur dengan hukum Islam. Mengingat bahwa umat Islam ini adalah mayoritas dan mereka berhak mendapatkan hukum formal yang sesuai dengan syariat Islam. Misalnya, kebutuhan umat akan produk halal, bank Islam, pendidikan Islam, pasar Islam dan lainnya. Semua itu mustahil bisa berjalan manakala tidak ada kekuatan hukum yang lahir dari tekanan kelompok Islam di dalam parlemen.

Pada gilirannya, 'coverage area' hukum Islam ini diharapkan bisa meluas hingga masalah pidana dan kriminalitas hingga masalah hudud dan qishash. Meskipun untuk itu perlu tarik ulur. Serta kemungkinan dibohongi dan diperdaya oleh lawan politik. Seperti yang pernah terjadi di Aljazair dengan FIS-nya atau di Turki dengan REFAH dan seterusnya. Namun, ada meski sedikit itu lebih baik dari pada diam saja.*

Di lapangan, kacaunya, dua kubu ini saling menyerang. Dalam pengertiannya, pada tingkat bawah, terjadi peperangan ideologi. Balau, karena keduanya tak jarang merasa paling benar. Mungkin para ulama kedua belah pihak sudah pernah duduk sama rata dan bertukar pikiran. Namun, still, tidak merubah apa-apa dalam wacana umum. Belum ada kesepakatan, membuahkan perpecahan ironis untuk cita-cita tegaknya Islam di nusantara. Orang-orang masih banyak berdebat. Masih banyak saling menjatuhkan.

Pernah, dalam sebuah conference room chatting sebuah situs.com, terjadi perdebatan tentang haramnya partai politik. Seperti yang diduga, ada pihak yang memilih menyerang kubu yang membela perjuangan lewat partai. M -sebutlah orang itu- menganggap apa-apa yang dilakukan umat Islam yang berpolitik sekarang sangatlah tidak sesuai dengan aturan dalam Islam. Bahkan lebih jauh mengarahkan diskusi agar sepakat bahwa masuk ke dalam pemerintahan adalah perbuatan yang buruk. Merasa diserang, pihak lawan balas berargumen. Bahwa berbuat lebih baik dari sekedar berkomentar. Bahwa sekeras apapun kita memaki kegelapan, tak akan pernah bisa meneranginya. Nyalakanlah setitik api pada lilin, itu lebih baik!

Sungguh, perang mulut seperti itu tak perlu terjadi andai saja semua pihak saling menghargai pendapat masing-masing. Dalam hal politik, ijtihad adalah salah satu cara yang ditempuh sebagian umat menyikapi realitas Indonesia. Bahwa negeri ini dikuasai oleh segelintir orang jahat yang membuat, mengatur, dan menyalahgunakan amanah yang rakyat berikan. Bahwa negeri ini telah banyak menderita dengan perilaku-perilaku menjijikan para elit politik yang tertawa di atas kepolosan anak bangsa. Lantang kita berteriak, tak akan punya arti bagi kebijakan kejam mereka, sebab: teriakan kita tak memiliki nilai legalitas apa-apa di mata Republik ini. Maka, berjuang merubah parlemen dengan masuk parlemen jadi hal yang sangat wajar.

Sebaliknya, mereka yang ada di luar parlemen bisa lebih bebas berdakwah karena tidak ada atribut-atribut yang menghalangi masuk ke kalangan mana saja dari tiap elemen umat. Dan ini cukup baik untuk dapat membantu mendapatkan lebih banyak lagi mad`u dan objek dakwah.Ijtihad Politik Partai Islam

Islam adalah agama yang menyeluruh. Alloh menurunkan dien ini tidak untuk jadi cemoohan orang-orang non muslim dalam hal social. Islam sanggup mengatur kehidupan social manusia, sebab Islam bukanlah agama yang ditujukan untuk para manula berjenggot putih, yang duduk seharian di dalam masjid, melafadzkan dzikir. Islam untuk dunia. Bukan melulu di dalam masjid. Politik pun begitu. Dan, dalam kondisi masyarakat kita sekarang ini, mustahil menegakkan Islam tanpa menguasai dunia politik.

Bahkan seorang Syaikh kenamaan, Syaikh Al-Utsaimin pernah melontarkan jawaban atas pertanyaan majalah Al-Furqan (Kuwait), pada edisi 42, Oktober 1993: hukum masuk ke dalam majelis niyabah (DPR) padahal negara tersebut tidak menerapkan syariat Islam. Beliau menjawab:

"Kami punya jawaban sebelumnya yaitu harus masuk dan bermusyarakah di dalam pemerintahan. Dan seseorang harus meniatkan masuknya itu untuk melakukan ishlah (perbaikan), bukan untuk menyetujui atas semua yang ditetapkan. Dalam hal ini bila dia mendapatkan hal yang bertentangan dengan syariah, harus ditolak. Meskipun penolakannya itu mungkin belum diikuti dan didukung oleh orang banyak pada pertama kali, kedua kali, bulan pertama, kedua, ketiga, tahun pertama atau tahun kedua, namun ke depan pasti akan memiliki pengaruh yang baik. Sedangkan membiarkan kesempatan itu dan meninggalkan kursi itu untuk orang-orang yang jauh dari tahkim syariah merupakan tafrit yang dahsyat. Tidak selayaknya bersikap seperti itu."

Pada bulan Mei 1996, kembali Syaikh Al-Utsaimin ditanya tentang hukum masuk ke dalam parlemen oleh majalah Al-Furqan. Dalam wawancara itu beliau menegaskan:

"Saya memandang bahwa masuk ke dalam majelis perwakilan (DPR) itu boleh. Bila seseorang bertujuan untuk mashlahat baik mencegah kejahatan atau memasukkan kebaikan. Sebab semakin banyak orang-orang shalih di dalam lembaga ini, maka akan menjadi lebih dekat kepada keselamatan dan semakin jauh dari bala'. Sedangkan masalah sumpah untuk menghormati undang-undang, maka hendaknya dia bersumpah unutk menghormati undang-undang selama tidak bertentangan dengan syariat. Dan semua amal itu tergantung pada niatnya dimana setiap orang akan mendapat sesuai yang diniatkannya.

Namun tindakan meninggalkan majelis ini buat orang-orang bodoh, fasik dan sekuler adalah perbuatan ghalat (rancu) yang tidak menyelesaikan masalah. Demi Allah, seandainya ada kebaikan untuk meninggalkan majelis ini, pastilah kami akan katakan wajib menjauhinya dan tidak memasukinya. Namun keadaannya adalah sebaliknya. Mungkin saja Allah SWT menjadikan kebaikan yang besar di hadapan seorang anggota parlemen. Dan dia barangkali memang benar-benar menguasai masalah, memahami kondisi masyarakat, hasil-hasil kerjanya, bahkan mungkin dia punya kemampuan yang baik dalam berargumentasi, berdiplomasi dan persuasi, hingga membuat anggota parlemen lainnya tidak berkutik. Dan menghasilkan kebaikan yang banyak. " (lihat majalah Al-Furqan - Kuwait hal. 18-19)*

Islam memang agama yang kaffah. Tidak selayaknya kita mempersempit ruang lingkupnya dengan dalih yang mengatasnamakan Islam itu sendiri. Jangan katakan Islam tak kenal politik dan mengharamkan berjuang di dalamnya. Sebab, bagaimanapun sejarah pernah mencatat Nabi Alloh, Yusuf as, pernah menjadi bendaharawan negara Mesir. Ini adalah realitas sejarah dimana Alloh pernah 'mengizinkan' nabinya menjadi bagian dari pemerintahan yang tidak islami, dan tiada pula menerapkan sistem Islam. Dan, Yusuf tak pernah menyesali hal ini. Pun Alloh tidak menegurnya dalam Al-Quran dengan sebutan: dosa.

Keterangan:
* = sumber www.syariahonline.com & (Dudung .net)


ilmu adalah investasi tiada henti