| Proposal Nikah |
| KADO BUAT YANG MAU DAN SIAP MENIKAH..BARAKALLAHU !! (By : 4121X13) |
| Latar Belakang Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : "Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu". Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na'udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : "Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor" (Qs. Al Israa' : 32). Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. "Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu," ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga��, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a'lam. Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di� majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah. Dasar Pemikiran Dari Al Qur��an dan Al Hadits :
Tujuan Pernikahan
Kesiapan Pribadi
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
Memperbaiki Niat : Innamal a'malu binniyat....... Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan. Niat Ketika Memilih Pendamping Rasulullah bersabda "Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya."(HR. Thabrani). "Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama". (HR. Ibnu Majah). Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits). Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ��Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama." (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya'. "Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan."(Qs. An Nisaa (4) : 4). Rasulullah SAW bersabda : "Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya" (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, "Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)" (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa'i)..Subhanallah.. Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. "Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing." (HR. Bukhari dan Muslim) Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah. Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo'akan pengantin dengan do'a : Barokallahu laka wa baroka 'alaikum wa jama'a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan ("Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama" - Qs. Al Ahzab (33), Meraih Pernikahan Ruhani Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah. Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS� PULA (Al Izzah 18 / Th. 2) Penutup "Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas." (Qs. Al Maidaah (5) : 87). Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ). Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan "Jazakumullah Khairan katsiira". "Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin" ==================================== Maraji / Referensi :
|
Pernahkan anda merasa kehilangan barang, uang, anggota keluarga, anggota tubuh, atau apapun yang merupakan milik anda. Apalagi jika sesuatu yang hilang itu adalah benda atau sesuatu yang anda cintai. Bagaimana perasaan anda. Anda tentu sedih bukan? Mungkin kesedihan anda atas kehilangan sesuatu yang anda cintai itu membuat anda jadi merasa sangat kehilangan. Atau malah kesedihan anda akan berhari-hari sehingga membuat anda masgul, bingung, kalut, pikiran kacau, kehilangan konsentrasi dalam bekerja, susah tidur, susah makan dan lain sebagainya. Banyak diantara kita jika kehilangan sesuatu maka kita akan merasa sedih bukan main. Apalagi barang yang hilang tersebut menyimpan sejarah atau memiliki arti penting buat kita. Atau bahkan anda selalu terbayang betapa anda sudah bersusah payah untuk mendapatkan barang tersebut. Sedih sekali bukan?
Allah Swt. menghendaki kesedihan pada kita dengan cara menghilangkan sesuatu atau barang yang ada pada diri kita, yang hakekatnya adalah ujian buat kita. Ini adalah sarana kita untuk berlatih untuk menghilangkan kecintaan-kecintaan yang ada pada diri kita terhadap sesuatu yang sebenarnya adalah titipan Allah Swt. Dengan kehilangan sesuatu atau barang juga merupakan teguran Allah Swt. agar senantiasa hati kita tidak cenderung kepada sesuatu atau barang tersebut. Karena maksud Allah ta’ala sesungguhnya menciptakan hati kita adalah bagaimana hati kita ada kecintaan kepada Allah. Karena hak utama yang harus dipenuhi oleh sebuah hati adalah agar begaimana hati ini sepenuhnya memilki kecintaan kepada Allah Swt.. Bagi seseorang yang memilki iman yang baik, maka dengan kehilangan benda-benda tersebut dia akan merasa bersyukur karena sesungguhnya Allah telah mengambil kembali titipanNya. Dengan diambilnya titipan tersebut sesungguhnya dia telah lepas dari tanggung jawab dalam menjaga dan mempergunakan titipanNya itu dengan sebaik-baiknya. Ironinya kita selalu merasa bahwa benda-benda yang kita miliki adalah seolah-olah benda tersebut milik kita sepenuhnya. Perasaan inilah yang sesungguhnya yang telah membuat hati susah dan menderita jika kita kehilangan sesuatu. Justru yang menjadi masalah adalah seberapa siap diri kita jika suatu saat sesuatu yang kita anggap milik kita tersebut diambil kembali oleh Yang Maha Pemberi. Sedangkan hakekat kehidupan dunia selalu Allah Swt. ciptakan dengan keadaan-keadaan datang dan pergi serta ada dan tiada. Ada awal dan akhir. Semua barang yang hebat-hebat yang ada disekitar kita sesungguhnya akan berakhir. Semua berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Lantas alasan apa yang menyebabkan kita bersedih jika benda-benda yang hakekatnya berasal dari tanah hilang dari diri kita.
Sebenarnya kecintaaan kita yang demikian besarlah yang membuat hati kita menjadi susah. Memang sangat susah sekali menata hati kita ini, agar hati kita tidak memilki rasa cinta yang besar terhadap sesuatu barang. Karena telah menjadi suatu kebiasaan dalam diri kita yang senantiasa selalu membangga-banggakan kebendaaan (keduniawian) tanpa adanya rasa syukur yang besar kepada Allah Swt. Sifat tamak yang ada dalam diri kitalah yang membuat kita seperti itu. Kelemahan iman kita menjadikan kita lemah dalam mensyukuri nikmat-nikmat Allah Swt.
Lalu bagaimana jika kita kehilangan amal-amal agama yang ada pada diri kita? Apakah kita juga akan merasa bersedih seperti jika kita kehilangan barang-barang yang kita sukai? Bagaimana perasaan kita jika melihat amalan agama yang mulia telah banyak berkurang baik dalam jumlah dan kualitas? Apakah kita juga akan merasa bersedih jika masjid-masjid di sekitar kita kosong dari amalan agama? Apakah kita akan merasa bersedih jika banyak saudara-saudara kita yang meninggalkan sholat dan puasa wajib? Apakah kita akan bersedih jika saudara wanita kita belum menutup aurat dengan sempurna? Bersedihkah kita jika kekhusuan dalam sholat dan baca quran sirna dari diri kita? Apakah kita akan merasa gundah gulana jika melihat ahklaq dan perilaku generasi muda kita sekarang yang cenderung meniru budaya barat dan kufur kepada Allah Swt.? Berapa banyak hari ini sudah sunnah-sunnah Rasulullah saw. telah hilang dan tidak menjadi pegangan dalam diri orang islam dan menjadi barang yang asing serta terlalu berat untuk kita amalkan. Apakah kita akan menangis melihat agama demikian cacat diamalkan dan nampak dengan jelas di depan hidung kita? Lalu apakah kita akan berpikir bahwa Rasulullah saw. akan tersenyum melihat keadaan ummat islam sekarang ini? Sementara kita saat ini masih tertawa dan sibuk untuk membuat angan-angan panjang tentang dunia dan kemajuan materi yang ada pada diri kita.
Kita akan merasa sangat kehilangan jika ada barang-barang milik kita hilang. Akan tetapi jika amal-amal agama ini hilang, maka kesedihan tidak ada pada diri kita. Atau jika kita sedihpun kadar kesedihan itu tidak sebesar jika kita kehilangan benda-benda kesukaan kita. Satu misal jika kita kehilangan amalan sholat malam, maka kita tidak akan merasa sedih seperti kita kehilangan sebuah jam tangan kesayangan kita. Jika kita kehilangan kesempatan untuk bersedekah kepada seseorang yang datang kepada kita maka kita tidak akan bersedih seperti kita kehilangan sebuah handphone terbaru yang baru kita beli dengan susah payah. Padahal kalau kita mau berpikir secara mendalam, nilai dari amal-amal agama yang bisa kita buat dengan mudah harganya jauh lebih tinggi dari benda-benda dunia. Apakah kita rela kehilangan sesuatu yang nilainya tinggi di sisi Allah Swt. daripada kehilangan benda-benda yang sifatnya fana dan merupakan titipan Allah.
Ini adalah indikator bahwa sebenarnya kita ini benar-benar belum merasa bahwa agama dan amalan-amalan yang terkandung di dalamnya adalah milik kita. Seseorang yang merasa memilki sesuatu barang maka dia akan berusaha menjaga barang tersebut dengan sebaik-baiknya. Begitu pula seseorang yang merasa memilki iman dan islam maka dia akan menjaga iman dan islam yang ada pada dirinya dengan sungguh-sungguh. Saya pernah lewat di sebuah rumah, dan melihat seseorang sedang mencuci sebuah mobil bagus dengan hati-hati sekali. Begitu telitinya dia membersihkan mobil itu sampai-sampai setiap sudut dari mobil itu dia bersihkan hingga mengkilat dan nampak seperti baru. Ketika ada sisi bagian mobil yang cacat karena tergores sedikit saja, maka dia panggil anaknya dan memarahinya kenapa mobil itu bisa sampai tergores. Dalam hati saya berkata apakah dia akan bersedih dan marah jika dirinya atau satu anggota keluarganya ada yang tergores dan cacat dalam hal iman dan amal shaleh.
Catatan:
Khalifah Abu Bakar Shidiq r.a. yang mulia mengatakan "Aku lebih rela istri-istri nabi diserang musuh dan bangkainya dicabik-cabik serigala daripada agama dan usaha agama terhenti"


