ikatlah ilmu dengan menuliskannya"sanitomichie"

Sunday, April 8, 2007

Teman Tapi Mesra

"Akar dari kesalahan itu ada tiga. Pertama, kesombongan. Itulah yang menyebabkan iblis mengalami apa yang ia alami. Kedua, keserakahan, dan itulah yang mengeluarkan Adam dari Surga. Ketiga, kedengkian, dan itulah yang menjadikan salah satu anak Adam membunuh saudaranya. Maka barangsiapa berlindung dari keburukan tiga akar kesalahan itu, sesungguhnya ia telah melindungi dirinya dengan sebenar-benarnya. Karena kekafiran itu bersumber dari kesombongan. Karena kemaksiatan itu sumbernya keserakahan. Sedang kezhaliman itu sumbernya kedengkian." (Ibnu Qoyyim)



Teman Tapi Mesra
STUDIA Edisi 268/Tahun ke-6 (21 Nopember 2005)

Kayaknya kamu sering dengerin deh lagunya Ratu yang berjudul Teman Tapi Mesra. Seperti ini sebagian liriknya: �Cukuplah saja berteman denganku/ janganlah kau meminta lebih/ ku tak mungkin mencintaimu/ kita berteman saja/ teman tapi mesra��

Ehm, punya teman tuh emang asyik. Selain ada orang yang bisa diajak ngobrol dan saling membantu di kala saling membutuhkan, teman juga bisa menjadi tempat muara emosi kita. Ngobrol biasa mungkin sering. Tapi ngobrol yang lebih dalam, rasanya agak jarang dilakukan dengan seseorang yang sekadar teman biasa. Kita agak canggung. Itu sebabnya, kehadiran seorang sahabat karib yang bisa menjadi tempat muara emosi kita, sangat diharapkan.

Teman sejenis pun, cowok dengan cowok maupun cewek dengan cewek, sebenarnya bisa juga sangat akrab. Itu kalo di antara kita udah terjalin sikap saling percaya, saling memahami, dan saling menghargai. Mungkin bisa saja yang seperti ini dibilang mesra. Karena dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata mesra adalah lekat dan sangat erat.

Sobat muda muslim, cuma masalahnya, gimana kalo teman tapi mesra itu adalah antar lawan jenis. Wow, ini dia yang kudu jadi perhatian dan bikin kita jaga-jaga biar nggak kebablasan. Gimana pun juga, hubungan pria dan wanita pasti nimbulin perasaan-perasaan yang �lain�. Perasaan suka, sayang, cinta, termasuk cemburu kalo sang teman tapi mesra itu deket ama yang lain. Karena apa? Karena masing-masing merasa ingin memiliki lebih dari sekadar teman. Tul nggak? Seperti syair di awal lagu dari duo Ratu ini: �Aku punya teman/ teman sepermainan/ kemana pun dia pergi selalu ada aku/ dia manis dan juga baik hati/ tapi aku bingung ketika dia bilang cinta��

Inilah unik dan menariknya hubungan antar manusia. Dan harus diakui bahwa manusia tuh makhluk sosial, sehingga ia merasa kesepian kalo nggak ada teman. Padahal manusia bukan hanya terdiri dari sejenis. Itu sebabnya, dalam beberapa kondisi, komunikasi dengan lawan jenis untuk berbagai keperluan dalam melakukan kegiatan sehari-hari nyaris nggak bisa dihindari. Mungkin kita biasa bergaul dalam komunitas sejenis, tapi dalam beberapa kondisi kadang kita harus merambah ke luar komunitas kita, maka kita akan berhubungan dengan banyak pihak, termasuk dalam hal ini dengan lawan jenis.

Sebagai teman akrab atau sebagai sahabat, berteman dengan lawan jenis besar kemungkinan akan menjadi ajang curhat dan saling berbagi cerita mesra. Apalagi teman tapi mesra ini sangat mungkin hubungannya akan ditingkatkan menjadi �kekasih�. Bila itu yang terjadi, maka ketika kita curhat dengannya, kita jadi nggak ngerasa sedang ngobrol dengan teman biasa. Tapi dengan seorang kekasih hati, meski baru anggapan sepihak saja dari kita.

Dengan kenyataan seperti ini, cerita dan curhat kita akan semakin terasa bermakna. Pandangan dan pendapatnya yang disampaikan kepada kita sering membuat kita bertenaga. Hidup rasanya dapat tambahan darah segar. Nafas baru dan semangat menggelora. Rasa-rasanya dunia adalah milik kita, yang sedang dimabuk cinta dan dibakar api asmara (meski baru kita sendiri yang merasakannya alias geer�entah dirinya. Mungkin malah sebel). Kita jadi ngedadak �lupa diri�, dan kita menjadikan orang yang kita cintai sebagai dewi or pangeran pujaan hati. Kita bersedia berkorban dan menjadi bagian dari hidupnya. Sehari saja tak jumpa dan komunikasi, rasanya hati kita jadi dingin dan beku. Tapi, ketika rindu itu terpuaskan, dinding es yang kokoh menyelimuti hati kita pun perlahan mencair (suit..suit.. swiiw!)

Dari temen jadi demen
Pernah nonton sinetron �Dari Temen Jadi Demen� di sebuah stasiun televisi swasta? Yup, sinetron ini bercerita tentang kisah-kasih sepasang anak manusia. Benar kata pepatah jawa: �Witing tresno jalaran soko kulino�, bahasa nasionalnya: �Munculnya cinta, karena seringnya bertemu�. Hati-hati buat kamu yang sering ketemu dengan lawan jenisnya. Kalo berteman kan sering bertemu lho. Dan, bisa-bisa �pepatah� ini ada benarnya. Singkat kata, kamu jadi demen sama temen kamu. Huhuy!

Sobat muda muslim, gambaran di sinetron yang dibintangi oleh Jonathan Frizzi dan Wulan Guritno ini bisa jadi muncul dalam kisah nyata. Ya, kisah-kasih di antara kita. Bahkan sangat boleh jadi lho kalo cerita itu justru terinspirasi dari kejadian nyata. Tul nggak?

Saya pernah punya kawan yang mengalami kejadian begini. Doi bilang bahwa berteman itu memang mengasyikan, apalagi dengan lawan jenis. Untuk ukuran sesama jenis aja, berteman efektif untuk menumbuhkan kebersamaan, memupuk kasih sayang, bahkan kita saling mencintai. Tengok aja orang yang udah lengket sohiban. Kamu pastinya ngiri deh ngelihat di sekolahmu ada dua orang teman yang lengket bak perangko. Kemana-mana nyaris bareng. Mirip kisah Ujang dan Aceng yang pernah muncul di televisi dulu. Sohiban Ujang dan Aceng ini kebawa sampe mereka dewasa. Bener lho. Asyik banget kan punya teman yang seide dan seperasaan. Itu sebabnya, banyak orang yang kepengen banget punya teman sehidup-semati. Bahkan, teman ibarat cermin buat kita.

Eh, tapi berteman pun bisa berpotensi bikin kita berabe. Kok bisa sih? Iya, kalo berteman sejenis dengan akrab, ati-ati aja jangan sampe kecemplung jadi homoseks. Terus kalo kita berteman dengan lawan jenis, juga kudu taat syariat Islam. Waspada ya.

Nah, khusus ketika berteman dengan lawan jenis, karena selain menumbuhkan rasa kebersamaan, juga efektif memunculkan rasa simpati, selanjutnya empati, berikutnya mulai tumbuh benih-benih cinta di hati. Akhirnya, jatuh hati. Huhuy! Itu namanya bukan lagi temenan, tapi malah demenan. Malah pas lagi sakit pun kita bisa lupa diri kalo ada kekasih di samping kita. Jadinya, kata Wong Cerbon (orang Cirebon) DBD deh, Demam Bari Demenan (baca: demam sambil pacaran)

Sobat muda muslim, seperti kata pepatah lama, �Banyak jalan menuju Roma�, maka sekarang kita �plesetkan� jadi �banyak jalan menuju cinta�. Berteman, salah satu jalannya. Yup, karena cinta itu ibarat jelangkung; datang nggak dijemput, pulang nggak dianter. Diusir pun susyeh! (backsound: ehm.. bener nih?)

Jaga jarak aman
Berteman, bisa juga lho jadi jembatan menuju cinta. Jangan heran, sebab frekuensi bertemu dan berhubungan jadi sering banget. Sekadar basa-basi ngobrolin pelajaran sekolah, sampe janjian untuk nomat alias nonton hemat di bioskop. Kalo udah gitu, jadi bias deh definisi teman kalo dengan lawan jenis. Berteman apa pacaran? Berteman apa demenan? Nah lho.

Sobat muda muslim, memang nggak kerasa sih kalo kita udah merasa deket banget dengan teman lawan jenis kita. Tahu-tahu� eh, lengket bak perangko. Pokoknya, kalo kita udah biasa main bareng, makan bareng, dan ke sekolah pun bareng dengan teman lawan jenis, itu artinya alarm tanda bahaya udah berbunyi. Beware! Kamu bisa berabe.
Why? Yup, karena sangat boleh jadi kondisi ini bikin kamu ketagihan untuk terus berduaan dan konek terus dengan si doi. Nggak heran kan kalo kamu akhirnya bisa tidur bareng dengan lawan jenis kamu. Upss.. Amit-amit, jangan sampe deh!

Mungkin, di antara kamu juga ada yang interupsi van protes kalo temenen nggak identik dengan pacaran, dan tentunya nggak gitu-gitu amat sampe kudu tidur bareng.

Oke, kalo kamu punya argumentasi begitu. Tapi, apa ada yang ngejamin kalo udah berduaan bakalan aman dari perbuatan ini dan itu yang lebih �syerem�? Apa kamu dan temanmu berani jamin bisa tahan godaan kalo udah berduaan begitu? Jangan-jangan, susyeh tuh ngebedain mana sayang, suka, simpati, empati dengan nafsu liar. Lagian, banyak juga kok faktanya yang �begituan� justru karena udah saling mengenal. Hati-hati menggunakannya, eh, melakukannya. Gejlig!
Yup, seperti pernyataan dalam Hukum Coloumb yang membahas gaya elektrostatis (tarik menarik), hubungan cowok-cewek berpotensi untuk saling tertarik satu sama lain yang dibumbui perasaan cinta. Soalnya cowok ama cewek berbeda �muatan�, pasti saling tertarik. Karena bunyi Hukum Coloumb sendiri bahwa gaya tarik menarik antara dua buah benda (F) yang berlainan muatan (q1 dan q2) sebanding dengan konstanta (k) dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak keduanya (r). Semakin besar muatan kedua benda serta semakin pendek jaraknya, semakin besar pula gaya tarik menarik yang ditimbulkannya. Nah lho, kudu ekstra ati-ati deh.

Ketertarikan pria terhadap wanita atau sebaliknya dipengaruhi oleh �muatannya� (q), yaitu akumulasi dari faktor pendorong (q1) dan penarik (q2). Faktor pendorong berasal dari diri sendiri seperti rasa kagum, rasa suka, kesengsem, keblinger, kesepian, atau mungkin nafsu yang mengebu-gebu. Sedangkan faktor penarik berasal dari lawan jenis seperti rupa, harta, sikap, keturunan, kecerdasan dan sebagainya. Jika kedua faktor tesebut nilainya sama-sama besar, maka sudah pasti saling ketertarikan antara pria dan wanita akan bertambah besar pula.

Dalam kondisi sadar dan berada di bawah naungan rambu-rambu agama, hubungan-hubungan ini dapat melahirkan pertautan dua hati yang mengarah ke pernikahan. Ini tentu akan lebih utama lagi bila faktor pendorong semata-mata karena lillahi ta�ala dan faktor penarik berupa akhlak yang mulia atau ketaatan beribadah. Namun celakanya, dan tampaknya ini yang semakin merajalela, bahwa di luar kendali fenomena tarik-menarik antara pria dan wanita ini bisa pula mendorong timbulnya perzinahan seperti terjadinya penyelewengan, perselingkuhan, perkosaan, pelacuran, pelecehan seksual, dan bahkan seks bebas. (O. Solihin, Asmara Aktivis Dakwah, hlm. 29-32, mengutip penjelasan di www.isnet.org)

Jadi teman biasa aja
Berteman itu mubah alias boleh-boleh saja. Toh memang itu adalah bagian dari dinamika kehidupan kita sehari-hari. Kita akan bertemu dan berhubngan dengan lawan jenis. Di sekitar rumah, di sekolah, di tempat pengajian, di tempat kuliah, juga di tempat kerja. Semua akan kita temui. Hanya saja, kita kudu membedakan jenis dari masing-masing hubungan tersebut.

Kalo kamu gabung dengan organisasi remaja masjid, itu artinya kamu berteman dengan semua kalangan; laki-perempuan di organisasi itu. Tentunya, itu adalah teman kamu dalam pengajian. Di tempat kuliah or sekolah dan di kantor juga silakan berteman dengan lawan jenis. Asal� jaga jarak aman, dan tentunya nggak �spesial�. Cukup teman biasa. Kita berhubungan dan bergaul sebatas keperluan di masing-masing kondisi tersebut.

Sangat ditekankan untuk tidak saling curhat masalah pribadi. Berbahaya euy! Memang, cinta akan tumbuh saat masing-masing dari pelakunya membuka diri (apalagi kalo sampe membuka aurat�itu sih cinta berbalut nafsu liar). Jangan ada hubungan spesial kalo kamu nggak berniat untuk menikah. Meski tujuannya untuk menikah sekalipun, tetep aja ada aturan mainnya. Nggak liar. Apalagi sekadar berteman.

Nah, karena Allah Ta�ala tahu betul dengan karakter manusia (jelas dong, karena Allah adalah al-Khalik), maka ada aturan mainnya tuh hubungan di antara kedua makhluk ini. Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita melalui firmanNya (yang artinya): �Katakanlah kepada wanita yang beriman: �Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, (QS an-N�r [24]: 31)

Dalam ayat lain Allah Swt. Berfirman (yang artinya): �Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: �Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat�. (QS an-N�r [24]: 30)

Dengan begitu, kita kudu mampu untuk menjaga dan mempertahankan aturan main itu sebagai tameng dalam berteman dengan lawan jenis. Sebab, banyak juga di antara teman remaja yang ngakunya berteman, eh, buktinya malah pacaran. Bilangnya temenan, eh, malah demenan. Ngakunya teman, eh teman tapi mesra. Kata Bang Napi: Waspadalah! [solihin: sholihin@gmx.net]


Cuplikan dari : Dudung.net

Masjid Dian Al-Mahri

Masjid Dian al Mahri



Masjid Berkubah Emas Dibangun di Depok

Depok, Selasa

Kirim Teman | Print Artikel



Sebuah masjid berkubah emas 18 karat dibangun di Kota Depok, Jawa Barat. Pemiliknya adalah seorang pengusaha minyak. Pembangunan Masjid Dian Al-Mahri, di Jalan Meruyung, Kelurahan Limo, Kecamatan Cinere, Depok, telah memasuki tahap akhir. Masjid megah dan besar yang dilapisi emas tersebut membuat suasana di sekitar masjid seperti di Timur Tengah.

"Pembangunan Masjid ini telah mencapai 90 persen, sebentar lagi masjid ini selesai dan bisa digunakan untuk umum," kata salah seorang petugas keamanan, Masjid Dian Al-Mahri, di Depok, Senin (22/5). Petugas yang tidak mau menyebutkan namanya tersebut mengatakan pembangunan masjid tersebut dimulai sekitar 1999.

Komplek masjid yang disebut-sebut termegah se-Asia Tenggara itu diperkirakan memakan biaya puluhan miliar dengan lahan seluas 50 hektar. "Di tempat tersebut nantinya akan juga dibangun Pesantren," kata petugas tersebut.

Beberapa pekerja masih sibuk dengan pengerjaan Mesjid Dian Al-Mahri. Selain masih mengerjakan bagian dalam masjid, para pekerja juga sedang memelihara taman beraneka ragam tumbuhan.

Gerbang utama yang menghubungkan Jalan Meruyung juga masih dalam pengerjaan. Jika gerbang ini sudah jadi, nantinya akan langsung menghubungkan areal masjid. Untuk sementara, jalan menuju masjid menggunakan jalur sebelah kanan. Kamera CCTV terpasang di beberapa tempat memantau pembangunan masjid.

Pembangunan masjid berkubah emas ini menarik perhatian warga. Tapi, mereka belum boleh masuk ke areal masjid kecuali memiliki kartu anggota atau atas izin pemiliknya. "Masyarakat umum saat ini belum bisa memasuki areal masjid, karena belum selesai dibangun," kata seorang petugas yang menjaga pintu masuk masjid tersebut.

Pemilik masjid megah ini adalah Hajjah (Hj) Dian Djurian Maimun Al-Rasyid. Hj Dian yang berasal dari Serang, Banten, dan pemilik Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri memang jarang berada di areal masjid tersebut.

Suaminya, Haji Maimun Al Rasyid berasal dari Padang, Sumatera Barat. Keduanya tinggal di kawasan Petukangan, Jakarta Selatan. Warga sekitar mengenal H Maimun sebagai pengusaha minyak di Arab Saudi.

Agung, seorang warga setempat, mengatakan, warga memang penasaran dengan masjid kubah emas itu dan sering datang untuk melihat. Namun tidak bisa masuk ke dalam karena masih dalam tahap pembangunan.

Panduan Mengembangkan Sifat Sabar

"Jika Allah menahan pemberian-Nya padamu, maka pahamilah bahwa itu adalah suatu (kemuliaan) untukmu selama kau pertahankan keislaman dan keimananmu, higga segenap apa yang dilakukan Allah kepada dirimu menjadi karunia pula kepadamu".(Ibnu Athaillah)

14 PANDUAN MENGEMBANGKAN SIFAT SABAR


  1. Jangan terlalu memikirkan mengenai masalah, sakit kepala dan kesakitan serta mengharapkan simpati dan perhatian daripada orang lain.
  2. Terimalah hakikat bahawa lebih banyak perhatian yang anda berikan kepada perkara-perkara ini lebih teruklah keadaan anda nanti. Semua perkara akan menjadi kelam kabut dan hati anda terluka dan berasa tidak sabar kerana orang lain tidak ambil peduli.
  3. Jangan fikir anda harus menunjuk kepada orang lain bahawa anda berada dalam keadaan yang betul dan dapat memenangi hati mereka dalam setiap perkara yang anda lakukan.
  4. Terimalah hakikat betapa sukarnya untuk menyenangkan hati setiap orang pada setiap masa. Pastikan bahawa anda bersikap adil dan wajar dan biarkan masa menentukannya.
  5. Jangan fikir anda mengetahui benar apa yang terbaik untuk orang lain.
  6. Terimalah hakikat sementara anda boleh terus cuba memujuk, tetapi akan menimbulkan kesusahan untuk mengharapkan mereka melakukan apa yang anda hendakkan. Ini tentunya mencetuskan ketidaksabaran ke atas kedua-dua pihak.
  7. Jangan memikirkan bahawa kerana terdapat mereka yang tidak bersetuju dengan anda, mereka bersifat tidak wajar terhadap anda.
  8. Terimalah hakikat bahawa manusia berhak kepada pandangan yang dikemukakan. Anda mengharapkan mereka membenarkan anda mendapat hak yang sama itu.
  9. Jangan fikirkan mengenai semua perkara buruk yang akan berlaku ke atas diri anda.
  10. Terimalah keadaan bahawa setiap orang mempunyai masa rehatnya. Cuba lihat di luar daripada diri anda.
  11. Bersimpati terhadap orang lain akan membantu anda bersifat lebih sabar.
  12. Jangan fikirkan bahawa sifat yang tidak menentu itu (moodiness) dalam diri seseorang adalah terlalu penting.
  13. Terimalah hakikat kadangkala diri kita yang baik inipun boleh mengalami sifat berubah-ubah atau tidak menentu itu. Hadapilah dengan tenang dan cubalah kawal sifat berubah-rubah diri anda itu.
  14. Jangan fikir bahawa cita-clta dan apa yang anda kehendaki adalah terlalu penting.
  15. Terimalah hakikat bahawa wujudnya kesulitan jika terlalu mengharapkan sesuatu perkara dalam hidup, terhadap diri anda dan orang lain. Jika anda terlalu berharap, kedukaan dan kekecewaan akan menjadikan anda sedih dan berkelakuan hilang sabar.

Sumber: The Psychologist Magazine

bintang qita

Untuk kegunaan lain dari Bintang, lihat Bintang (disambiguasi).



Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).

Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah:

Bintang
Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.
Bintang

Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang netron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya.

DiZalimi Mertua & Suami

Dizalimi Mertua dan Suami
Laporan: Drs. Ruswanto Syamsuddin, M.Ag

[Rumahku Surgaku]

Seorang wanita, sebut saja namanya Gina, ikut saudaranya di Jakarta dengan maksud mencari pekerjaan. Ia melamar ke berbagai perusahaan namun tak satu pun yang bersedia menerimanya. Sementara itu ia berkenalan dengan Anto, seorang pemuda yang lumayan tampan dan sudah bekerja di sebuah perusahaan besar.

Selain sering datang bertamu, ngobrol dan bercanda, Anto pun sering melepas rindu via telepon. Gina yang pada awalnya memperlakukan Anto sebagai teman baru, lama-lama jatuh hati, lalu menjalin hubungan asmara.

Akhirnya Anto mengajak Gina untuk menikah. Pada awalnya Gina menolak dengan alasan belum siap, tapi akhirnya setuju karena Anto terus membujuk dan merayunya. Orang tua Anto semula juga kurang berkenan, tapi mengingat kemauan Anto begitu keras, akhirnya merestui niat anaknya itu dan akhirnya mereka datang ke orang tua Gina di kampung untuk melamar Gina.

Seminggu setelah perkawinan di rumah orangtua Gina, kedua pengantin baru itu kembali ke Jakarta. Mereka tinggal di rumah yang telah dibeli Anto secara kredit beberapa tahun sebelumnya.

Musuh Dalam Selimut

Rumah tangga mereka berjalan cukup baik, dikaruniai seorang anak putri. Kehadiran si buah hati itu sangat berarti bagi mereka, mengingat orang tua Anto sejak awal kurang setuju bermenantukan Gina. Kehadiran sang cucu, diharapkan kebekuan hubungan dengan orang tua Anto akan mencair.

Harapan itu rupanya tinggal harapan. Orang tua Anto mempunyai niat lain. Diam-diam mereka berupaya memisahkan Anto dari Gina. Mereka ingin menjodohkan Anto dengan gadis pilihan mereka, anak salah satu teman lama mereka yang sudah bekerja, sebut saja namanya Lidia.

Tanpa sepengatuan Gina, Anto sering diajak berkunjung ke rumah orang tua Lidia dan dikenalkan dengan Lidia. Setelah berkenalan, orang tua Anto selalu mengatur waktu agar Anto sering bertemu dengan Lidia.

Ternyata Lidia naksir Anto, sementara Anto masih bersikap dingin mengingat dia sudah punya istri dan anak. Melihat situasi itu, orang tua Anto berusaha membujuk Anto mau dengan Lidia dan menceraikan Gina. Anto dengan tegas menampik maksud orang tuanya, Dia berat meninggalkan Gina.

Orang tuanya tidak kehilangan akal. Mereka meminta jasa 'orang pintar' (dukun) supaya Anto membenci Gina dan menyukai Lidia. Entah bagaimana, selang beberapa bulan tiba-tiba sikap dan pikiran Anto berubah. Dia mau menuruti kemauan orang tuanya. Dia juga tiba-tiba membenci istrinya dan menyukai Lidia, serta tidak lagi peduii dengan anaknya. Anto pergi meninggalkan rumah dan lebih banyak bertemu dengan Lidia.

Tentu saja Gina kaget dan linglung. Ditinggal Anto, Gina pulang kampung, meminta tolong kepada saudara-saudara kandungnya supaya mau menasihati suaminya yang kabur meninggalkan rumah. Sayangnya, saudara-saudaranya tidak merespon bahkan terkesan menyalahkan Gina.

Balik ke Jakarta, Gina berusaha menemui Anto di rumah mertuanya. E, malah mendapat cacian dari suami dan mertuanya tanpa sebab yang masuk akal. Dengan hati yang teriris-iris dan berurai air mata Gina pulang ke rumah.

Cerai Paksa

Beberapa hari kemudian Anto pulang ke rumah dan marah-marah dengan alasan yang dibikin-bikin. Ia memaksa Gina bercerai dan meminta surat nikah diserahkan kepadanya. Kebetulan kedua surat nikah mereka disimpan oleh Gina di kampung. dan Gina tidak mau menyerahkannya kepada Anto. Karena Gina tidak mau mengambil dan menyerahkannya kepada Anto, dia marah lagi dan memukul Gina, bahkan mengancam mau membunuh Gina kalau tidak mau menyerahkan surat nikah dan enggan dicerai.

Tidak kuat menahan sakit karena dipukul dan takut dibunuh, Gina terpaksa mau dicerai dan bersedia mengambil surat nikah di kampung dan menyerahkannya kepada Anto. Lalu Anto membuat surat pernyataan cerai yang ditandatangani oleh mereka berdua dan dua orang saksi teman Anto sendiri. Dalam surat pernyataan cerai tersebut, Anto menjatuhkan talak tiga sekaligus.

Gina bergegas pulang kampung, menggendong anaknya tanpa diantar Anto. Kedatangannya disambut biasa-biasa saja oleh saudara-saudara kandungnya. Untunglah ada saudara sepupunya yang bersimpati dan empati. Sarannya, Gina tidak usah menyerahkan surat nikah itu kepada Anto. "Kalau Anto berani, suruh dia datang kemari," kata saudara sepupunya tegas. Dan dia, katanya akan memperkarakan Anto ke Pengadilan jika ia datang. Sikap saudara sepupunya itu berpengaruh pada saudara-saudara kandung Gina, sehingga mereka berubah sikap, ikut membela Gina yang dizalimi suaminya itu.

Memalsukan Identitas

Setelah sebulan berlalu, Anto mulai gelisah. Surat nikah itu sangat penting bagi Anto untuk menghifangkan jejak, menghindari tuntutan dan memudahkan jalan untuk kawin lagi. Tadinya, dia akan memusnahkan surat nikah tersebut, lalu membuat KTP baru dengan status bujang untuk menikah lagi. Pikirnya, tanpa surat nikah, Gina tidak punya bukti untuk menuntut ke Pengadilan. Sementara itu orang tua Anto mendesak terus agar Anto segera menikah dengan Lidia seraya mengabaikan persoalan surat nikah yang ditahan oleh Gina. Yang terpenting bagi mereka Gina sudah mau dicerai dan sudah menandatangani surat pernyataan cerai.

Anto menuruti kemauan orang tuanya, melamar dan menikahi Lidia, dengan menunjukkan KTP bujang yang baru saja dibuat.

Tanggapan Pengasuh

Memperhatikan persoalan yang terjadi pada rumah tangga Anto-Gina, ada empat masalah yang perlu diungkap, yakni masalah campur tangan orang tua, perdukunan, kezaliman dan pelecehan hukum talak.

1. Campur tangan orang tua.
Tidak sepantasnya orang tua merusak rumah tangga anaknya, hanya karena tidak cocok dengan menantunya. Ikut campur tangan dalam urusan rumah tangga anaknya saja tidak boleh, apalagi merusak perkawinannya. Orang tua seperti ini bisa dikenai sanksi hukum jika hal ini diperkarakan ke Pengadilan.

Orang tua memang punya hak untuk melarang/tidak setuju terhadap pilihan anaknya soal jodoh. Apabila larangan itu dibenarkan oleh agama, Allah akan meridhai sikap orang tua tersebut, tapi jika larangan itu bertentangan dengan agama, Allah tidak akan meridhai sikap orang tua tersebut. Jika anak bersikeras menikah dengan wanita pilihannya, orang tua tidak bisa memaksa, apalagi punya rencana jahat terhadap rumah tangga anaknya. Si anak toh sudah dewasa dan pilihannya itu akan dipertanggungjawabkannya sendiri di hadapan Allah. Jika pilihannya itu tidak baik dalam pandangan Agama dan orang tua tidak ridha, maka resikonya menjadi tanggungan anak, termasuk soal ridha Allah, atau kesulitan-kesulitan lain.

2. Tentang perdukunan.

Salah besar jika orang tua membawa persoalan anaknya kepada dukun sehingga anaknya terkena permainan dukun tersebut. Jika orang tua Anto mengaku Muslim, berarti mereka telah melakukan perbuatan syirik. Sedangkan syirik adalah perbuatan dosa yang paling besar (QS. 31: 13) dan tidak akan diampuni oleh Allah (QS. 4: 48) kecuali bertobat sebelum mati. Di sisi lain, sebenarnyajika ketakwaan anak kokoh, ilmu dukun tidak akan berpengaruh padanya.

3. Tentang kezaliman.

Akibat perbuatan orang tua Anto yang zalim, Anto ikut terpengaruh lalu berbuat zalim kepada istrinya. Dia menceraikannya tanpa sebab, bahkan mengantayanya. Ini adalah bentuk kekerasan daiam rumah tangga yang bertentangan dengan agama dan UU No 23 tahun 2004.

Tindakan Gina menahan surat nikahnya, sudah tepat. Karena sudah jelas niat Anto tidak benar. Dia licik dan tidak bertanggung jawab. Lalu dia mau kawin lagi tanpa beban. Kalau surat itu diserahkan kepada Anto, bisa jadi akan dimusnahkan oleh Anto sehingga Gina yang sudah dizalimi tidak bisa menuntut apa-apa, Meskipun sebenarnya kantor KUA masih memiliki data tentang pernikahan mereka. Surat cerai yang ditandatangani oleh Anto, Gina dan dua orang saksi itu belum diakui oleh pemerintah, sehingga Gina masih bisa menuntut hak nafkah penuh sebagai istri kepada Anto. Juga dapat menuntut hak nafkah anaknya. Jika Anto ingin menceraikan Gina secara baik-baik lakukanlah di kampung tempat dia menikah, dan ajukan bersama-sama ke Pengadilan. Dengan demikian maka akan sah perceraiannya secara hukum dan akan ada kejelasan pembagian harta serta tanggung jawab nafkah anak.
4. Tentang pelecehan hukum talak.

Perbuatan Anto menceraikan istrinya dengan talak tiga sekaligus, selain melecehkan hukum talak, secara tidak sadar membuat lubang untuk dirinya sendiri. Mengapa? Karena dia sebenarnya sedang dalam kondisi "tidak sadar" dan pada saat ia sadar, ia akan menyesal. Dia tidak bisa kembali lagi dengan Gina karena telah ditalak tiga.

Itu sebabnya Islam melarang suami menceraikan istrinya talak tiga sekaligus. Jika talak dilakukan secara bertahap, masih ada kesempatan untuk rujuk bila keduanya menyesal dan masih saling mencintai. Bukan mustahil, setelah rujuk, rumah tangga mereka makin baik dan bahagia.

Mahmud bin Lubaid menuturkan hadis Rasulullah yang menjelaskan kepada sahabat tentang seorang laki-laki yang menceraikan istrinya talak tiga sekaligus. beliau berdiri dengan marah, lalu bersabda: "Apakah akan dipermainkan kitab Allah, padahal saya ada di tengah-tengah kamu?" Seorang sahabat lalu berdiri dan berkata: "Wahai Rasulullah! Bolehkah saya membunuh dia?" (maksudnya lelaki yang menceraikan istrinya dengan talak tiga itu) (HR Imam Nasai)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa talak tiga sekaligus dilarang. Demikian juga berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 229.

Sebaiknya Gina dan Anto mengajukan kasus mereka ke Pengadilan Agama, agar perceraian mereka sah dan adil, baik secara agama maupun secara hukum negara. Atau meminta bantuan kepada pengacara atau aktivis LBH, terutama LBH perempuan, tentu mereka akan membantu, Insya Allah.


Sumber : www.Amanah.or.id
Luqman al-Hakiim berkata, "Wahai anakku, barangsiapa suka berbohong, ia telah kehilangan air mukanya (malunya), dan siapa yang buruk akhlaknya akan banyak susahnya. Memindahkan batu yang besar lebih mudah daripada memberi pemahaman kepada orang yang bodoh."

Kalo Kamu Di Khitbah

�Sungguh beruntung bagi siapapun yang mampu menata qolbunya menjadi bening, jernih, bersih, dan selamat. Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya. Karena selain senantiasa akan merasakan kelapangan, ketenangan, ketenteraman, kesejukkan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap aktivitas yang dilakukan.� (AA Gym)


Kalo Kamu Dikhitbah�

Dikhitbah? Wow, suka dong. Yup, ini adalah artikel �sekuel�-nya tentang khitbah. Kalo minggu kemarin kita ngajak yang cowok untuk mengkhitbah, sekarang, biar adil, kita mencoba ngajak anak puteri untuk bersikap bijak seandainya ada anak cowok yang �nekat� mengkhitbah dirinya. Gimana, setuju kan?
Oke deh, yang baca edisi kemarin insya Allah bakalan klop kalo kita ajak ngomongin yang satu ini. Bagi yang ketinggalan baca edisi kemarin, mohon pinjem saja sama temennya. Pokoke, ini ceritanya khusus buat temen-temen yang emang udah siap segalanya. Jadi sekali lagi, bukan ditujukan buat kamu yang masih SMU, apalagi SMP. Bagi kamu-kamu yang masih ke sekolahnya pake seragam, jadikan aja sebagai wawasan untuk jaga-jaga. Siapa tahu nanti kamu membutuhkan bimbingan, tul nggak?

Nah, ngomongin soal khitbah berarti kita sedang bicara tentang cinta. Khususnya tentang sarana untuk menyalurkan rasa cinta ini dengan baik. Memang sih, kalo lihat temen-temen remaja yang lain, kalo di antara mereka saling jatuh cinta, biasanya langsung diwujudkan dengan pacaran. Dan ini kita pikir udah pada tahu semua gimana sih rasanya, or ngelihat orang yang sedang pacaran. Mesra dan� ah, nggak usah diterusin deh. Tapi inget lho, pacaran itu kan cara penyaluran rasa cinta yang diharamkan oleh Allah Swt.

Oya, seperti yang udah kita baca di edisi kemarin, khitbah adalah pernyataan seorang lelaki kepada wanita yang disukainya untuk serius menikahinya. Dan ini disampaikan kepada ortunya. Tentu setelah kita udah sama-sama janjian dong. Kalo nggak, bisa gaswat. Jadi khitbah boleh dibilang �nandain� calon kita. Pokoknya diiket dulu deh, sebelum akhirnya dinikahi.

Nah, kadangkala, anak puteri yang akhirnya kebingungan. Kalo kemarin kita bahas anak cowok yang bimbang dan kurang pede untuk mengkhitbah akhwat, kita kasih support supaya mantap dan berani, sekarang kita coba nemenin anak puteri untuk bersikap bijaksana dalam menghadapi pinangan anak cowok.
Berdasarkan pengalaman neh, paling nggak ada beberapa masalah yang dihadapi anak puteri dalam urusan ini. Misalnya, ketika datang anak cowok yang berani menyatakan keseriusannya untuk menikah dengannya, adakalanya anak puteri suka keder menghadapai ini. Sebab, tak selamanya begitu mendapat pinangan langsung seneng. Kenapa? Bisa jadi kasusnya adalah begini; ada orang yang meminang dirinya, tapi ternyata nggak sesuai dengan kriteria pria idamannya. Kan itu bikin bingung. Maksud hati berharap yang datang tipe Arjuna, eh, yang berani dan nekat ngedatengin malah tipe Rahwana. Karuan aja bak serasa disamber petir. Waduh, gimana cara menolaknya? Apalagi ortu juga turut campur, makin berabe aja tuh.

Masalah lain yang biasanya terjadi adalah, begitu ada anak cowok yang berminat sama kita, eh, kitanya masih pada sekolah or kuliah. Wah, itu bikin masalah juga ya? Mungkin kalo yang udah kuliah nggak terlalu bermasalah, asal pandai ngasih keyakinan sama ortu, karena memang kalo udah kuliah boleh nikah. Itu bedanya dengan yang masih sekolah di SMU. Paling nggak itu berdasarkan aturan main di negeri ini. Karena dalam Islam nggak begitu kok. Boleh-boleh aja asal udah pada baligh.

Masalah lainnya apa? Kita udah sama-sama oke dengan pasangan kita, eh, ortu kita malah nggak setuju. Mending kalo alasannya bisa dipertanggung jawabkan secara ajaran Islam, kadangkala hanya persoalan nasab, harta, status sosial, dan seabrek masalah yang nggak perlu dijadikan sebagai paramater untuk membina sebuah rumah tangga. Tapi walau bagaimana pun juga itu adalah masalah yang kudu diselesaikan dengan tuntas.
Ngomong-ngomong, jadi gimane neh kalo kamu dikhitbah?

Jangan repot-repot; terima!
Wacksss? Sembarangan, main terima aja. He..he..he.. ini ceritanya kalo memang udah sreg gitu lho. Apalagi ortu kita setuju. Kita dan anak cowok itu juga sama-sama aktivis pengajian. Wah, itu sih jangan dilama-lamain, mending segera terima pinangan dan nikah. Duh, enak banget ya kalo itu terjadi sama kita-kita. Jelas aja, itu kan kondisi ideal.

Oya, kita ngasih saran begini bukan ngebelain anak cowok lho. Tapi kita mencoba memberikan gambaran buat kamu-kamu anak puteri. Seperti halnya anak cowok, yang puteri juga jangan pilih-pilih deh. Maksudnya, menggunakan pilihan yang nggak perlu. Seperti, menentukan bahwa calon suaminya kudu pandai bahasa Arabnya, kudu sekufu dalam hal status sosial (kalo kita sarjana, ya, calon suami kita juga kudu sarjana), terus minimal punya wajah yang nggak kalah ganteng dengan para personelnya Westlife, udah gitu harus keturunan ningrat, lagi. Wah, itu keberatan sama kriteria, bisa-bisa jadi keburu tue Non, karena kriterianya ideal banget.

Uppsss.. sori, kita nggak nuduh lho, tapi mengingatkan. Apalagi kamu udah tahu kalo yang berminat sama kamu itu orangnya berakhlak mulia dan pengetahuan agamanya oke. Cuma kurangnya, seperti yang tadi disebutkan. Jadi, sebetulnya nggak bijaksana dong kalo kamu menolak, dan kayaknya nggak pantes. Apalagi sih yang mau diharapkan? Iya nggak?

Lagipula, kriteria pemilihan yang berlaku buat kaum lelaki, juga berlaku buat anak puteri. Umar r.a. pernah berkata: �Janganlah kalian menikahkan puteri kalian dengan lelaki yang buruk perangainya, karena kriteria-kriteria yang berlaku pada laki-laki juga berlaku bagi perempuan.�
Dan buat para ayah serta walinya anak puteri, kudu waspada. Firman Allah Swt.: "Dan janganlah kamu nikahkan wanita-wanita mukminat dengan pria-pria musyrik sebelum mereka beriman.� (TQS al-Baqarah [2]: 221)

Tapi kita yakin kok, bahwa kamu yang puteri juga udah ngeh dan nggak salah pilih dalam menentukan kriteria. Kalo yang dateng itu orangnya sholeh dan berakhlak mulia, biasanya temen puteri juga langsung nyetel aja. Iya nggak? Tapi kalo memang nggak sreg. Namanya juga manusia ya? Ada aja keinginan lebih dari itu. Dan keinginan itu boleh-boleh aja kok. Sebab yang namanya perasaan itu susah sih. Kudu bener-bener ada �getaran� yang, gimanaaa gitu� Aduh, sulit menjelaskan dengan kata-kata atau tulisan.

Kalo kejadiannya kayak gitu, kamu boleh aja nolak. Tapi kudu baik-baik ya. Anak cowok juga sama punya perasaan. Jadi kalo kamu nolak pinangan, ya jangan dipublikasikan ke orang lain dong. Apalagi sampe bangga segala, dan menganggap pasaran kamu naik karena kamu jual mahal. Wah, itu nggak baik, Non.

Boleh nggak wanita �menawarkan� diri?
Wah, nekat amat? Nggak juga tuh. Memang sih umumnya wanita bersikap pasif. Artinya nungguin ada yang meminang dirinya. Tapi Islam membolehkan lho, wanita menawarkan diri kepada seorang laki-laki untuk dijadikan istri. Pada masa Rasulullah saw. ada perempuan yang pernah melakukannya seperti diriwayatkan dalam hadis berikut: �Dari sahl bin sa�ad, bahwa Rasulullah saw. pernah didatangi oleh seorang perempuan, lalu ia berkata: �Ya Rasulullah, sesungguhnya saya menyerahkan diri kepada Tuan�. Ia berdiri lama sekali, kemudian tampil seorang laki-laki dan berkata: �Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengan perempuan ini seandainya tuan tidak berhasrat kepadanya�� (HR Bukhari)

Nah, jadi silakan saja, kalo emang kamu berkenan untuk melakukan itu. Nggak dilarang kok. Memang sih, tradisi yang ada di sini, mengharuskan wanita bersikap pasif. Kalo ada yang �agresif�, malah mungkin dianggap kenapa-napa. Jadi dari segi hukum boleh-boleh aja. Mau? Silakan dicoba. He..he..he..

Kalo ortu yang bikin masalah?
Nah, ini juga jadi persoalan Non. Untuk urusan ini adakalanya gampang-gampang susah. Tapi jangan sedih. Tenang aja. Misalnya, kamu �dijodohin� sama ortu kamu. Padahal kamu nggak suka sama lelaki yang dipilihin sama ortumu. Sebenarnya kamu bisa aja nolak. Boleh kok.

Dari Ibnu Abbas bahwa seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu ia menceritakan kepada beliau tentang ayahnya yang mengawinkannya dengan laki-laki yang ia tidak sukai. Maka Rasulullah menyuruh dia untuk memilih (menerima atau menolak).� (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Daruquthni)

Begitu Non. Tapi tentunya kamu menyampaikan kepada ortu dengan baik-baik pula. Nggak boleh sambil marah-marah. Jadi, mau nerima silakan, mau nolak juga nggak masalah. Semua diserahkan kepada kamu, kok. Dan cuma kamu yang berhak menentukan pilihan. Bukan orang lain.

Dari Abdullah bin Buraidah dari bapaknya, ia berkata: �Seorang gadis datang kepada Rasulullah saw. lalu katanya: �Sesungguhnya ayahku mengawinkan aku dengan anak saudaranya, agar dengan begitu terangkat martabatnya. Kata Abdullah: �Lalu Rasullah saw. menyerahkan urusannya kepadanya. Dan katanya: �Saya mengizinkan tindakan ayahku kepadaku. Tetapi yang aku kehendaki yaitu memberitahu kepada kaum wanita bahwa bapak-bapak itu tidak mempunyai apa-apa dalam urusan ini (perkawinan).� (HR Ibnu Majah yang dikutip dalam kitab Fikih Sunnah, Sayyid Sabiq)

Kalo udah jadian dikhitbah?
Wah, alhamdulillah atuh. Tapi inget, khitbah adalah semacam �pintu� menuju nikah. Jadi belum sah ngapa-ngapain. Memang sih, mentang-mentang anaknya udah ada yang meminang, suka ada ortu yang membiarkan anaknya bebas kemana-mana bareng tunangannya. Wah, kalo gitu apa bedanya dengan pacaran? Itu kan sama aja gaul bebas. Dan jelas berdosa dong. Haram lho.

Nah, kalo emang kamu udah �kebelet� mendingan nikah aja langsung. Nggak usah ditunda-tunda lagi. Lebih save. �Penyakit� orang yang udah punya tempat untuk berbagai cerita, biasanya pengennya ketemu melulu. Celakanya, kalo terus-terusan ketemu, nggak ada jaminan kalo iman kamu juga makin menipis. Jangan heran kalo kemudian malah berzina. Ih, naudzubillahi min dzalik.

Memang sih, kalo kamu udah jadian dikhitbah, berbicara or kirim-kirim surat dengan calonmu nggak dilarang. Sah-sah saja. Tapi inget, jangan keterusan. Bisa gaswat. Jangan-jangan nanti kamu sulit ngebedain antara rasa suka dengan nafsu bisikan iblis. Celaka!

Kita sih menyarankan kalo udah oke mending segera nikah aja. Meski memang waktu dari khitbah ke nikah itu nggak ditentukan dengan jelas, artinya mau 50 tahun lagi nikah juga boleh (ih, udah jadi nenek-nenek dong? Ya, salah sendiri he..he..). Tapi meski demikian, alangkah utamanya kalo kamu segera menikah saja.

Pesan buat yang masih sekolah
Memang asyik ya kalo bicara soal cinta dan pernikahan. Jujur saja, hampir semua orang seneng ngomongin ini. Tapi inget, karena kita yakin neh, mayoritas pembaca buletin ini adalah masih anak sekolah, jadi jangan keburu sregep dapat pembahasan seperti ini.

Pesan kita, jadikan saja ini sebagai tambahan wawasan buat kamu. Dan kita yakin kok, bahwa kamu udah bisa membedakan mana yang prioritas dan mana yang bisa ditunda. Iya nggak? Sekarang fokus belajar, dan jangan nekat pacaran. Kita juga nggak abis pikir sama kondisi masyarakat dan negara sekarang ini; gaul bebas dimudahkan, tapi nikah malah dipermasalahkan. Kebalik-balik memang. Oke, jangan lupa, tetep semangat mengkaji Islam! :)

_______________________________________
Edisi 117/Tahun ke-3 (30 September 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke studia@dudung.net
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com

Rumahku Surgaku

Rumahku Surgaku ...
Publikasi 26/11/2002 07:42 WIB

eramuslim - Baiti Jannati, begitu Rasulullah mengilustrasikan kehidupan rmh tangga beliau yg penuh dg keharmonisan, kebahagiaan,ketenangan, sakinah, mawaddah, dan rahmah. Rumah tangga yang dibangun bkn atas pondasi syahwat terhadap kecantikan, harta, pangkat, jabatan serta pesona dunia lainnya. Tapi sebuah keluarga yang dibangun karena ketaatan kepada Allah. Sampai akhir zaman keluarga beliau merupakan rujukan utama bagi mereka yang mendambakan syurga dunia.

Syurga dunia itu hanya dapat diwujudkan oleh pasangan laki-laki sholeh dan wanita sholehah, yang memahami betul kewajiban masing-masing untuk saling berbagi, mengokohkan kelebihan, dan menutupi segala kekurangan masing-masing. Keikhlasan kita menerima pasangan apa adanya, baik itu fisik, intelektual, ekonomi, keturunan, dan sebagainya, karena kita bukanlah Muhammad yang sempurna, Yusuf yang tampan, Umar bin Khatab yang gagah perkasa, Mush'ab Bin Umair yang serba kecukupan, Salman Al-farisi yang ahli strategi, Abdurahman Bin 'Auf yang ahli ibadah.

Jangan juga bermimpi dan meninggikan diri, karena kita bukanlah Khadijah yang kaya raya, Aisyah yang cendikiawan, Fatimah yang tabah dan putri seorang pemimpin besar, Ratu Balqis yang cantik jelita, Asma binti Yazid yang kritis dan cerdas, Hafshah binti Umar yang ahli ibadah. Kita hanyalah manusia biasa, yang berusaha memadukan dua unsur menjadi sebuah kekuatan, yang dengannya kita mengharapkan keridhoan dari Allah, mengikuti sunnah Rasulullah, sumber investasi abadi, serta meneguhkan langkah.

Pasangan kita adalah pakaian kita. Siapapun tidak ingin pakaiannya kumuh dan lusuh, ia pasti ingin pakaiannya nyaman, tidak kebesaran, tidak pula kekecilan. Kehati-hatian saat memilih dan membelinya merupakan indikator mendapatkan pakaian yang baik. Rasulullah SAW sangat menganjurkan kepada
para pemuda agar lebih memprioritaskan memilih zatuddin (wanita shalihah) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Beliau mengatakan : Wanita dinikahi karena empat perkara: "Karena hartanya, kecantikannya, nasabnya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama (shalehah) niscaya engkau akan
bahagia". (HR. Muttafaqun Alaih)

Begitupun kepada wanita, hendaklah ia memilih laki-laki yang baik pemahaman agamanya, yang hatinya tertaut pada rumah Allah, yang dalam pikirannya terpeta semangat memajukan Islam, mempunyai visi dan misi yang jelas dalam membangun keluarga, memiliki wibawa dihadapan istri dan anak-anaknya, memiliki tanggung jawab memberi nafkah, tidak saja batin, tapi juga lahir,
termasuk di dalamnya mengajarkan ilmu.

Ketika rumah tangga itu telah berlayar, tetapi dalam perjalanannya kita menemukan badai besar yang menghantam, segeralah introspeksi diri atas proses membangun kapal besar rumah tangga kita. Rumah tangga manapun termasuk rumah tangga Rasulullah pernah memiliki masalah. Cuma bedanya,
masalah dalam rumah tangga Rasulullah merupakan keindahan yang memberkati.

Mungkin proses terbentuknya rumah tangga kita dulunya diselimuti debu dan syahwat dunia, yang menyebabkan ridho dan barakah dari Allah sirna. Sehingga setiap perbedaan sedikit saja dan masalah kecil menjadi prahara. Istri tidak ikhlas melayani suami, suamipun coba-coba berpaling, tidak ada
keterbukaan, tidak ada kejujuran, tidak saling menghargai, tidak saling menyayangi, cinta kasih yang hanya dirajut beberapa bulan berubah jadi dendam dan angkara murka. Inilah yang dinamakan neraka dunia.

Astaghfirullah, segeralah mohon ampun kepada Allah atas sisi-sisi hati yang berpaling dari petunjuk-Nya. Kekhilafan tidak melibatkan Allah dalam membuat keputusan panjang akan menyengsarakan tidak saja di dunia, tapi juga kelak diakhirat, satu sama lain akan menjadi musuh. Sebesar apapun
kekhilafan kita, lautan ampun dan Maghfirah Allah seluas langit dan bumi. Segeralah menghadap pada-Nya, memohon agar kita diberikan seseorang yang dapat menentramkan hati, menjaga kehormatan diri, meneguhkan langkah, saling mengingatkan dalam ibadah. Karena tidak ada satu pun yang kita lakukan di dunia ini melainkan hanya untuk ibadah kepada Allah.

Mudah-mudahan Allah memperkenankan kita mendapatkan suami yang sholeh, yang menggauli istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, yang mengajarkan istrinya ilmu dunia dan agama. Seorang suami yang memiliki takut dan harap hanya kepada Allah, khusyuk dalam ibadah, giat mencari nafkah, bertanggung
jawab terhadap keselamatan istri dan anak-anaknya baik di dunia maupun di akhirat.

Mudah-mudahan kita diberikan seorang istri yang taat beribadah, halus dan lembut, terhormat dengan hijab yang menjaga dirinya, yang dalam dirinya berkumpul kebaikan, terdidik dengan tarbiyah islamiyah, ridho melayani suaminya kapanpun, mendidik anak-anaknya secara islami, yang menjadikan
keluarga sebagai jembatan menggapai ridho Allah.

Rumahku Syurgaku merupakan keinginan setiap insan. Untuk mendapatkannya, jadikanlah keluarga Rasulullah sebagai rujukan utama. Keluarga tersebut telah membuktikan kepada dunia hingga akhir zaman, bahwa tidak ada kebahagiaan dan ketentraman yang melebihi keluarga sakinah, mawaddah,
warahmah, yang terdiri dari laki-laki yang sholeh dan wanita yang sholehah, yang menjadikan Islam sebagai sumber kekuatannya.
(Yesi Elsandra. Untuk wanita sholehah, kau adalah bunga terpelihara)
"Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya seseorang telah datang pada hari kiamat dengan amal-amal saleh yang bila diletakkan di atas gunung maka ia akan memberatinya. Lalu bangkitlah salah satu nikmat dari nikmat-nikmat Allah, maka nikmat itu hampir saja menghabiskan semua amal saleh orang tadi, kalau saja Allah tidak mengaruniakan kepadanya rahmat-Nya."(HR. al-Mundziry)

Saturday, April 7, 2007

Ketika Umurku 29

"Seorang hamba do'anya akan senantiasa dikabulkan selama tidak berdo'a untuk perbuatan dosa, atau memutuskan silaturahim, serta selama tidak tergesa-gesa." Beliau ditanya, Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?" Rasulullah menjawab, "Aku telah berdo'a, aku telah berdo'a, tetapi aku belum melihat do'aku dikabulkan. Lantas ia merasa kecewa dengan hal itu, sehingga ia pun tidak mau lagi berdo'a". (HR Muslim)



Di Pagi Hari Ketika Umurku 29


Oleh : Maharani Arrahman

Baitijanati. Ya Allah Alhamdulillah, umurku beranjak ke angka dua puluh sembilan pagi ini. Tiap kali berulang tahun, renungan demi renungan aku lakukan. Tahun ini, aku terima semua yang terjadi dalam hidupku dengan lapang dada, tanpa perlu kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa keinginanku masih belum dipenuhi Allah. Ya Allah terima kasih, aku diberi kesempatan untuk memperbaiki diriku dan menangkap hikmah dari semua kejadian.

Betapa banyak nikmat yang diberikan Allah dan betapa malunya aku yang kadang tidak menyadarinya hanya karena satu permintaanku sejak beberapa tahun lalu belum dipenuhiNya, yaitu mempunyai suami, pendamping terbaik di sisiku. Ketika akal sehat dikalahkan oleh rasa frustasi, aku bertanya dalam hati apa yang kurang dari diriku. Mungkin ke-takaburanku yang menyebabkan belum datang seorang “arjuna” untukku. Kadang terbersit pikiran, apakah akan ada yang mencintaiku sungguh-sungguh hingga ingin menikahiku. Kadang di tengah keputus-asaan aku mengadu kepada Allah, Ya Allah aku hanya ingin berumah tangga untuk menjalankan sunnah Rasul, untuk menjaga hati dari zina, untuk menyempurnakan ibadahku. Mengapa untuk hal yang begitu sakral dan mulia Rabb belum juga memberikan “arjunaku”?

Ketika semuanya menjadi buntu, Rabb memberikan hidayahNya, aku memberanikan diri menggunakan jilbab, hampir setahun yang lalu, ketika aku baru saja berpisah dengan lelaki yang sangat aku cintai. Keputusan yang berat harus aku ambil demi mujahadah menegakkan syariah Islam untuk tidak pacaran, karena lelaki itu belum siap untuk menikah. Aku begitu yakin Allah akan memberikan jalan keluar untukku mendapatkan “arjuna” yang akan meminang dan menikahiku. Aku mencoba untuk membuka hatiku untuk lelaki-lelaki lain. Kemudian beberapa orang kawan berbaik hati mengenalkanku dengan beberapa lelaki tetapi hingga detik ini Allah belum memberikan “arjuna” yang melamarku. Beberapa lelaki kenalan baruku itu ada yang mundur teratur ketika melihatku menggunakan jilbab. Ya Allah ternyata sampai detik ini aku masih dicoba dengan keinginanku ini. Aku dicoba untuk menjadi Muslimah yang sholehah yang teguh menggunakan jilbab di tengah-tengah pencarianku untuk mendapatkan “arjunaku”.

Walaupun begitu aku mencoba untuk menangkap hikmah dari semua ini, bahwa Rabb ingin aku memperbaiki diriku sebelum “arjuna”ku datang dan Allah akan memberikan yang terbaik untuk hidupku. Ya Allah aku senang dan bangga Engkau menyayangiku, Engkau akan memberikan yang terbaik untukku. Untuk itu, aku berusaha untuk selalu berlapang dada, pasrah dan bertawakal, bahkan jika Engkau belum mengizinkan aku menikah dalam waktu dekat ini. (SW 31071974). (www.baitijannati.wordpress.com)

maha_rid@yahoo.com

Sumber : www.prayoga.net

Baju Baru Suamiku

"Pergunakan lima peluang sebelum datang yang lima: Masa muda sebelum tiba masa tua, masa sehat sebelum tiba masa sakit, masa lapang sebelum tiba masa sibuk, masa kaya sebelum tiba masa miskin, dan masa hidup sebelum tiba masa mati" (Al-hadits)

Baju Baru Suamiku

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada April 4th, 2007

Baitijannati. Masku ribut lagi ! Apa pasal? Beliau tidak punya baju yang bisa dipakai ke tempat kerja pagi ini. Baju kemarin sudah asam bau keringat, dan sudah ku taruh di keranjang cucian kotor. Baju yang kemarinnya lagi saat ini sedang kubilas. Sedang baju yang seharusnya sudah bisa dipakai masih bertengger di jemuran basah, karena memang sudah tiga hari ini hujan turun terus menerus. Kalau sudah begini, akulah yang tergopoh-gopoh. Ku ambil baju lembab tersebut dari jemuran, lalu kusetrika sampai asapnya mengepul-ngepul darinya.

“Sabar ya, Mas..Sebenntaaar lagi..”kataku menenangkan suamiku yang sedang bolak-balik bak setrikaan yang kupegang karena tak sabar menunggu baju mengering. Lima belas menit kemudian, bereslah.Mas sudah siap dengan baju yang masih “hangat”dan pantalonnya, dan dengan riang seperti biasanya melangkahkan kakinya ke tempat kerja.

Begitulah! Suamiku memang cuma punya 3 lembar kemeja dan 2 pantalon yang layak dipakai ke tempat kerja.Sisanya kaus oblong cap angsa,sarung, serta celana training. Bukannya aku tidak memperhatikan kesejahteraan suami. Aku sendiri ikut prihatin melihat inventarisasi pakaian mas. Kalau tak salah sudah 7 kali lebih aku sisakan anggaran khusus untuk membeli baju baru buat Mas. Yang pertama, Mas sendiri yang mengambilnya, karena beliau butuh untuk tambahan ongkos ke luar kota. Yang kedua, kala itu aku sudah bersiap keluar , ketika Lik Giman-tukang sayur langganan kami- datang dan bilang istrinya harus operasi cesar untuk melahirkan anak mereka. Hubungan Mas dengan orang-orang kecil seperti Lik Giman memang akrab ( sampai aku bingung sendiri, apa resepnya?), sehingga mereka tidak sungkan-sungkan minta pertolongan ke keluarga kami. Melihat urusan Lik Giman lebih urgen dari pada baju baru buat Mas, kami menunda beli baju baru itu. Malah patungan dengan beberapa kawan untuk bersama-sama membiayai ongkos operasi tersebut. Yang ketiga, keempat,dan selanjutnya saaku sudah tak ingat lagi karena saking seringnya acara tidak jadi membeli itu terjadi. Tapi yang terakhir adalah paling kuingat. Waktu itu aku sudah sampai di toko baju. Dan ketika aku hendak membayar di depan kasir, baru kusadari tasku dirobek copet.Hilanglah dompet dan segala isinya…

Alhamdulillah satu tulisan ku dimuat di majalah. Dan ini tambahan rizki buat keluarga kami. Setelah kuhitung-hitung anggaran bulan ini, ada sisa buat anggaran baju dan pantalon baru mas. Kusimpan dalam amplop, dan kuberi judul besar-besar agar mudah mengambilnya. Dan kuminta pada Mas untuk membelinya dalam minggu ini juga. Agar bisa cepat memperoleh baju dan pantalon baru, juga agar tidak “keduluan” keperluan yang lain.

Lalu jadilah, hari Ahad pagi, aku, Mas dan anak-anak kami Fitri dan Umar,berencana pergi berbelanja sekalian rekreasi. Tetapi, ketika aku sedang memakaikan Fitri jilbab kecilnya kudengar pintu diketuk orang. Mas yang membukakan. Lalu..
“Dek Asri ! Ada Tari dan kawan-kawan, nih..”

Aku yang mendengar itu berpikir sejenak. Rasa-rasanya aku tak ada janji dengan mereka. Kutemui Tari, Keke, dan Lia, adik-adik kelasku di kampus. Sementara Mas berlalu ke belakang bersama Umar dan Fitri. Ketika kulihat wajah-wajah mereka, kutahu ada persoalan yang cukup serius. Maka kutunda kepergianku bersama Mas dan anak-anak.

“Mas, Mas pergi sendiri saja, ya? Sama Fitri juga boleh. Atau kalau nggak kerepotan sama Umar juga nggak papa..,” kataku ketika menemui Mas di belakang sambil membuat minuman.
“Hem..Memang ada persoalan serius?”Mas bertanya padaku sambil mengajak Umar bercanda.
“Sepertinya…”
Aku mengangguk.
“Yah, sudah kalau begitu. Kita pergi bertiga aja, ya, Fitri. Malah enak nggak ada ibu….” Mas tidak melanjutkan ucapannya ketika melihatku merengut mendengar gurauannya.
“Nnng, nggak deng…Nggak enak nggak sama ibu ya, Fit? Sepi..” sambungnya. Aku tersenyum.
“Tapi ingat, ya, Mas. Ini uang buat baju dan pantalonnya. Insya Allah, sudah Dek Asri hitung dan cukup untuk membeli 2 kemeja dan 1 pantalon bermutu bagus. Jangan dibelikan yang murahan. Cepet rusak soalnya…,”pesanku wanti-wanti.

Mas cuma mengangguk-angguk. Walaupun aku sangsi, Mas mendengarkan dengan sungguh-sungguh atau tidak yang aku pesankan. Dan setelah berpesan pada Fitri agar menurut apa yang dikatakan ayahnya selama berbelanja, dan memakaikan Umar yang sedang digendong Mas topi, aku membawa minuman ke depan dan tak lama diikuti oleh Mas, Fitri, dan Umar.

Fitri mencium tanganku dan tangan adik-aduk kelasku. Dia memang “primadona” Semua yang datang pasti senang memanjakannya. “Fitri pergi dulu, ya tante-tante…Assalamu’alaikum…,” pamitnya kenes. Lalu dengan riang menyusul ayahnya yang sudah keluar lebih dahulu.

**************

Lepas Ashar, Mas, Fitri, dan Umar pulang. Kulihat Mas cukup kerepotan membawa belanjaan, menggendong Umar, dan menggandeng Fitri.
“Sudah pulang Tari cs..?”tanya Mas padaku.
Yang kuiyakan sambil mengambil Umar yang pulas tertidur dalam gendongan Mas.
“Kecapekan..”Mas berkata sambil memandangi wajah damai Umar.

Ku bergerak menidurkan Umar di kamar anak-anak. Kulihat Fitri pun nampak mengantuk, maka kusuruh dia untuk tidur juga. Fitri menurut, tapi tak mau melepaskan kardus besar yang sedari tadi dipeluknya.”Ada apa, Dek..? Katanya masalahnya cukup serius…”

“Oh, Tari cs? Itu Anis-mas mungkin belum kenal-baru masuk tahun ini. Katanya harus operasi usus buntu..Kasihan anak itu, kan baru saja masuk…Rumah orang tuanya di Surabaya lagi… Jadi Tari dkk itu bergantian untuk menjenguknya di rumah sakit. Insya Allah, dek Asri mau menjenguknya besok. Ingin tahu keadaannya.” Aku membukakan kaus kaki Umar dan melap keringat yang bertaburan di wajah montoknya.

“Fitri, bungkusannya ditaruh dulu, ya, Nak…”kataku melepaskan bungkusan itu dari pelukan Fitri. Entah karena mengantuk, Fitri tidak memberontak seperti biasanya. Dia diam saa ketika kardus itu kuambil. Hmm, balok susun. Aku membaca tulisan bahasa Inggris di kardus tersebut.Tiba-tiba aku jadi curiga pada Mas yang masih berdiri di pintu kamar di belakangku. Kumenoleh pada Mas.
“Baju dan pantalonnya mana, Mas?”
Mas hanya nyengir memandangku.
“Nnng, belum sempat membeli…,”katanya. “Sampai di tempat mainan, Fitri merengek minta dibelikan balok susun itu. Mas pikir sudah lama tidak membelikan Fitri mainan.Jadi..”
Aku memandangi Mas dengan memanyunkan bibir.
“Terus ke toko buku. Ada buku bagus yang ingin Mas baca. Juga buku bergambar buat Fitri dan Umar buat belajar.Jadi…”
Aku tambah memanyunkan bibir.
“Lalu Mas ingat, Dek Asri sendiri selama dua tahun ini juga belum pernah membeli baju dan jilbab baru. Jadi Mas ke tokonya Harits (seorang kawan Mas yang berwiraswasta berdagang busana muslim). Dan akhirnya baru sadar ketika uangnya tinggal lima ribu..”

Aku melongo. Tidak tahu, apakah harus kesal atau bagaimana terhadap Mas. Namun kurasakan ada rasa bahagia yang menyelusup, karena Mas benar-benar memikirkan kepentingan kami, lebih dari kepentingannya sendiri. Jazakallah ya, suamiku. Semoga Allah membalas kebaikan Mas. Doaku sambil memandangi Mas penuh terima kasih.
“Awas ya, kalau ribut-ribut baju lagi karena cuma punya baju tiga..,”k ataku berpura marah. Mas cuma tertawa. (www.baitijannati.wordpress.com)

Sumber : prayoga.net

ilmu adalah investasi tiada henti