ikatlah ilmu dengan menuliskannya"sanitomichie"

Wednesday, June 6, 2007

Cahaya Hati..........

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Cahaya Hati
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

SEMOGA Allah menganugerahkan kepada kita semua hati yang lapang dan sejuk. Apalah artinya rumah mewah dengan halaman yang luas jika hati kita sempit karena berbagai penyakit. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan kekuatan kepada kita untuk memelihara hati ini.

Banyaknya permasalahan di negeri ini bukan karena kurang lapangnya tanah dan kekayaan negara, melainkan kurang lapangnya hati para pemimpin dan rakyatnya. Jika hati kita sempit, perkara kecil bisa menjadi besar.

Hidup ini bergantung "salah satunya" pada suasana hati. Suasana hati yang sedih akan berimplikasi pada hal yang lainnya. Tidak mungkin kita tertawa terbahak-bahak kalau hati kita sedih. Jika pada kenyataannya ternyata demikian, pasti ada sesuatu yang salah.

Semoga Allah yang menggenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah di balik kejadian apa pun yang menimpa; semoga Allah juga membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apa pun dengan sikap terbaik.

Nurul yaqin atau cahaya keyakinan yang tersimpan di dalam hati hamba Allah yang arifin dan berkeyakinan teguh, ternyata datang dari khazanah kegaiban Allah Ta'ala. Alam semesta ini menjadi terang benderang karena cahaya benda-benda langit yang diciptakan Allah. Sedangkan cahaya yang menerangi hati manusia, adalah nur (cahaya) dari sifat-sifat Allah. Cahaya yang tampak adalah bekas cahaya yang diciptakan Allah, dan cahaya yang tidak tampak adalah cahaya dari sifat-sifat Allah SWT.

Syekh Athaillah dalam Kitab Al Hikam bertutur, "Nur yang tersimpan dalam hati, datang dari cahaya yang langsung dari khazanah-khazanah kegaiban. Nur yang memancar dari pancaindramu, adalah berasal dari ciptaan Allah, dan cahaya yang memancar dari hatimu adalah berasal dari sifat-sifat Allah."

Saudaraku, ada mata indra, ada pula mata hati. Mata indra bisa melihat apa yang diberikan cahaya oleh Allah, yaitu segala sesuatu yang bisa terlihat oleh mata. Sedangkan mata hati dapat melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh pandangan mata.

Allah SWT tidak bisa dilihat oleh mata, karena mata ini terlalu lemah. Melihat sesuatu yang sangat dekat saja tidak mampu. Begitu pula untuk melihat benda yang sangat jauh. Orang yang hatinya diberi cahaya oleh Allah ketika melihat sesuatu, hatinya pun ikut melihat keagungan Allah.

Kalau hati tertutup, dunia ini menakutkan. Melihat uang, akan takut tidak mendapatkan bagian. Sebaliknya, bagi orang-orang yang hatinya terbuka, insya Allah tidak ada kerisauan tentang rezeki. Mengapa? Rezeki kita sudah pasti. Allah-lah yang membagikan semuanya. Apa yang kita dapat, tidak akan pernah tertukar. Namun, begitulah, kalau manusia risau, itu karena hatinya belum yakin dan tidak beriman.

Lihatlah para koruptor yang mencuri uang rakyat. Kalau memang mempunyai iman, mengapa harus licik? Rezeki sudah ada sebelum kita dilahirkan. Akan tetapi, begitulah orang-orang yang takut, mereka memilih rezeki dengan cara yang tidak halal. Padahal, yang seharusnya ditakuti bukan takut tidak punya uang, tetapi takut tidak punya sikap jujur, takut tidak punya rasa syukur, dan takut tidak punya kesabaran yang tinggi.

Jika seseorang diberi ujian harus merasakan sakit, hikmahnya, tubuh merasakan sakit, kemudian hati mengenal dan mengingat dosa. Kita juga mengingat bahwa ada orang lain yang lebih menderita. Namun, ada juga yang terkena musibah sakit, tetapi ia tidak sampai pada kesadaran bahwa sakitnya adalah sebuah peringatan dari Allah SWT.

Oleh sebab itu, sejak saat ini marilah kita lebih memperbanyak zikir daripada banyak bicara yang tidak bermanfaat. Orang yang beruntung itu adalah orang yang selalu diingatkan di dunia ini. Justru, yang celaka adalah orang yang diberi kelancaran oleh Allah untuk berbuat maksiat.

Apa yang harus dilakukan untuk menjaga hati? Langkah-langkah untuk menjaga hati yaitu, pertama adalah dengan cara menghindari maksiat. Mengapa? Maksiat itu menutupi hati. Jika telanjur berbuat maksiat di masa lalu, bertobatlah dengan cara menyesalinya, memohon ampunan kepada Allah SWT, dan menjauhi apa yang menjadi jalan maksiat.

Kedua, perbanyaklah membaca Alquran karena akan menghidupkan hati.

Ketiga, perbanyaklah menuntut ilmu. Ilmu bisa membuat kita semakin tahu apa yang akan kita kerjakan. Ilmu juga akan memperkuat motivasi. Mengapa? Kalau kita tidak tahu ilmu untuk apa kita hidup, kita tidak akan mempunyai motivasi.

Terakhir, carilah lingkungan yang baik. Ibaratnya, bergaul dengan tukang minyak wangi akan terbawa harum; bergaul dengan pandai besi akan bau bakaran; bergaul dengan ahli mesum menjadi mesum; bergaul dengan ahli tahajud menjadi tahajud; bergaul dengan yang tidak merokok menjadi tidak merokok.

Marilah kita rasakan, apa pun yang kita raba dengan indra, membuat kita mengenal hikmah di balik setiap kejadian yang ada. Berhati-hatilah dalam menjaga diri. Bencana tidak akan pernah menimpa kita, kecuali karena hasil perbuatan sendiri. Wallahu'alam. ***

myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

Kesombongan Pernah Menghancurkan Negara-negara Arab

PERANG Enam Hari merupakan perang antara Arab melawan Israel, bulan Juni 1967. Disebut enam hari karena memang hanya berlangsung dari tanggal 3 sampai 8 Juni, ketika pesawat-pesawat tempur Israel menghancurkan seluruh skuadron udara Mesir langsung di landasannya sendiri. Diikuti gerakan pasukan infanteri menyerang Gurun Sinai, Dataran Tinggi Golan, dan Tepi Barat Sungai Yordan. Perbatasan konvensional Jerusalem, yang membelah kota tua itu menjadi barat (dikuasai Israel sejak perang pertama, Mei 1948), dan timur (dikuasai Yordania), jebol.

Para pengikut Zionis fanatik menganggap Perang Enam Hari (Milhemet Sheshet Ha-Yamim), sebagai kemenangan utama, karena berhasil mempersatukan kembali Jerusalem. Perluasan wilayah ke Sinai, Golan, dan Tepi Barat hanya sekadar dampak dari keharusan melindungi Jerusalem sebagai ibu kota abadi Eretz Yisrael (Israel Raya).

Tanggal 8 Juni, perang dianggap selesai. Negara-negara Arab peserta perang mengibarkan bendera putih. Sedangkan Israel mendongakkan kepala ke langit. Menunjukkan suatu bentuk keangkuhan untuk membuktikan diri sebagai Bangsa Terpilih di muka bumi.

Hanya enam hari! Sungguh sangat mengejutkan. Para pemimpin dan seluruh bangsa Arab termangu bingung. Bagi mereka, Harbul Ayyamus sitta, perang yang cuma berlangsung enam hari dengan kerugian berlipat ganda, mulai dari kehilangan wilayah seluas 400 km persegi di kawasan-kawasan strategis Mesir (Sinai), Suriah (Golan), dan Yordania (Tepi Barat), pasukan dan alat-alat tempur, serta yang terpenting harga diri.

Bertahan

Para pengamat Timur Tengah mempertanyakan, mengapa tahun 1948, untuk menggagalkan proklamasi Israel, pasukan Liga Arab mampu menyerang dan bertahan 6 bulan melawan Israel yang dibantu para veteran Perang Dunia II, tahun 1956 ketika menghadapi krisis Suez, mampu bertahan 6 pekan. Akan tetapi, pada perang Juni 1967, dengan persenjataan lengkap serta modern, hanya mampu bertahan 6 hari?

Ternyata, menurut para tokoh kritis, baik di Mesir maupun Arab Saudi, kekalahan itu bersumber dari ketidaksiapan mental bangsa Arab sendiri. Mereka yang terbiasa berperang menggunakan senjata-senjata tradisional, tidak dapat beradaptasi dengan peralatan modern serbacanggih dan serbaotomatis. Terjadilah gagap teknologi.

Militer Arab, mulai dari panglima hingga prajurit, sangat memercayai keampuhan senjata-senjata perang mutakhir buatan Uni Soviet. Sehingga mereka berkeyakinan, tanpa disentuh dan dikendalikan manusia, senjata-senjata itu akan beroperasi sendiri melawan musuh. "Maka jangan heran, jika satu jam sebelum serangan udara Israel, masih ada pilot pesawat tempur Mesir terlelap tidur. Ketika bangun, ia melihat pesawat yang dibangga-banggakannya telah hancur berkeping-keping," tulis Muhammad al Ghazali dalam bukunya Li Madza Filistiniya? (1974).

Muhammad al Gazhali, dan rekan-rekannya, seperti Muhammad Qutub, Yusuf al Qardhawi, adalah oposisi Mesir. Mereka ditangkapi oleh rezim Presiden Gamal Abdul Nasher, beberapa saat menjelang perang, karena dianggap mengganggu konsentrasi pemerintah. Padahal kritik-kritik mereka justru diharapkan menyadarkan rakyat dan pemerintah Mesir agar jangan terlalu percaya diri, serta terlalu percaya kepada para penasihat militer Uni Soviet.

Bagaimanapun, demikian ungkap al Ghazali dan kawan-kawan, orang-orang Uni Soviet itu secara ideologis lebih dekat kepada Zionis Israel daripada kepada bangsa Arab yang notabene Muslim. Buktinya, 450 pesawat tempur AU Mesir yang semuanya buatan Uni Soviet MIG 21 dan Tu-16 ditempatkan di kawasan terbuka, tanpa penyamaran dan tanpa perlindungan. Tidak heran, jika pesawat-pesawat tempur Israel, yang dibantu foto satelit pesawat mata-mata Amerika Serikat, sangat mudah menjadikannya sebagai sasaran tembak.

Kesombongan

Terlalu percaya diri yang membuahkan kesombongan itu, tampak dari siaran-siaran propaganda radio Timur Tengah. Muhammad Natsir, tokoh Islam Indonesia yang menjadi anggota Rabithah Alam Islami, dalam bukunya Masalah Palestina (1970) mengungkapkan, betapa orang Arab telah kehilangan nalar sehat. Mereka merasa jadi makhluk paling digdaya, dan menganggap Israel hanya seekor serangga. Natsir mengutip isi siaran propaganda Radio As Shautul Arab (Suara Arab), 2 Juni 1967: "Kita ini pasukan malaikat langit yang tidak mungkin dikalahkan pasukan mana pun di muka bumi. Jumlahnya banyak, persenjataannya lengkap. Bahkan malaikatulmaut pun tidak akan mampu mengganggu kita. Apalagi Zionis Israel yang tidak lebih dari sekumpulan nyamuk. Mereka akan musnah hanya sekali tepuk!"

Kekalahan Perang Enam Hari sempat sedikit terobati pada Oktober 1973. Perang Ramadan yang dikobarkan Presiden Mesir Anwar Sadat, berhasil merebut benteng Bar Lev di Gurun Sinai dan membuat Israel kocar-kacir dan frustrasi. Akan tetapi, Israel segera bangkit. Melakukan serangan balik mematikan. Gejala Perang Enam Hari mulai tampak setelah infanteri Israel merebut Kota Iskandariah (Alexandria) dan memotong jalur distribusi logistik ke Sinai. Juga merebut kembali beberapa posisi pertahanan di dataran tinggi Golan.

Di tengah keadaan amat gawat, Raja Saudi Arabia, Faizal bin Abdul Aziz mengambil tindakan tegas. Embargo minyak bumi untuk Amerika Serikat dan Eropa, yang terang-terangan membantu Israel.

Padahal, sesungguhnya Arab menderita kerugian besar. Pertama-tama, Raja Faisal yang heroik dan patriotik dibunuh oleh keponakannya sendiri yang diperalat Mossad (1975). Kedua, Mesir dikucilkan oleh negara-negara Arab yang tidak mau mengakui kedaulatan Israel. Bahkan kemudian, Anwar Sadat, pahlawan Perang Ramadan tewas ditembak oleh anggota pasukan kehormatan Republik Mesir, ketika sedang memperingati 10 tahun kemenangan perang itu.

Mengenang 40 tahun kekalahan Arab di medan Perang Enam Hari, sekelompok generasi muda Muslim dari berbagai negara, melakukan renungan singkat di pelataran Masjidilharam, Mekah, awal Juni kemarin. Semacam muhasabah (koreksi diri). (H. Usep Romli H.M., dari berbagai sumber)***

Myspace Online Now Icons
Myspace Online Now Icons
Myspace Codes
"Orang mukmin itu pemimpin atas dirinya. Sesungguhnya ringanlah hisab atas suatu kaum yang menghisab dirinya di dunia.Dan sesungguhnya sukarlah hisab pada hari kiamat atas suatu kaum yang mengambil persoalan ini tanpa hisab" (Hasan Al Bashri)

khenshin....samurai x

The image “http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/3/3b/Kenshin_Apothecary.JPG” cannot be displayed, because it contains errors.

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Puisi Cinta Suka Dan Duka

Di gelapnya malam
Kuciptakan satu bintang untukmu
Berharap dalam gelap
Kau lihat sinarku

Di sejuknya pagi
Kuteteskan embun di daunmu
Berharap terbangun
Kau rasakan tulusku

Dalam teriknya panas
Ku coba menjadi hitam bayanganmu
Berharap tersadar
Kau rasakan setiaku

Sebuah Pilihan Hati

Takkan pernah kusesali
Semua cinta yang kuberi
Untukmu, kasih suci
hanya memberi, mengerti

Meski kau takkan kembali
Hatiku takkan berhenti
Untukmu cinta abadi
Takkan kucoba menduakan diri

Ku tahu kau bukan dewi
Juga bukan seorang putri
Namun Ku tetap mencintai
Tetap kau paling berarti


Kenangan Itu

Kenangan itu
Adalah awal sebuah kita
Begitu indah
Namun kini berakhir sudah
Kenangan itu
Mencipta semua arti kita
Terasa indah
Dan kini tak berarti sudah
Kenangan itu
Selamanya ada di hidupku
Tak peduli kini kau m’lupakanku
Kau tetap terindah dihidup ini

Melangsungkan Harap

Kutuliskan semua kata yang terlintas
Dalam bait-bait puisi kerinduan
Meski seperti tanpa arti
Asa ini tak boleh mati…

Cinta di hati…kala sendiri
Baru kumengerti satu yang kuingini
Kuat kuyakini takkan terganti
Menanti…walau mungkin s’lamanya sepi

Cinta…bukan yang kupuja
Memang tak sempurna, tapi toh terasa
Takkan kulupakan semua
Setiap detiknya…ku kan bertahan


Menanti

Sebentuk cinta yang ada di hati
Teruntukmu pasangan jiwa
Sebentuk kasih tulus nan suci
Teruntukmu selamanya
Janji yang terucap
Bukan tuk sesaat kala teringat
Hati yang t’lah terpatri
Dapat terlepas namun berbekas
Kuhanya mencoba mengertimu
Menahan inginku, endapkan rindu
Setitik asa kutitipkan dalam egomu


The image “http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/9/98/Rurouni_Kenshin_manga.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Sunday, June 3, 2007

RENCANA ALLOH ITU INDAH

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.


RENCANA ALLOH ITU INDAH

Di waktu ku masih kecil ku teringat suatu hari Ibu ku sedang menyulam sehelai kain, aku sedang bermain dilantai.....aku pun bertanya "Ibu apa yang sedang kau lakukan? sambil tersenyum ibuku menjawab " wahai anakku ibu sedang menyulam" akupun bertanya"Ibu bolehkah aku melihatnya" ibu menjawab"Teruskanlah engkau bermain, nanti kalau ibu telah selesai akan ku dudukkan kau di pangkuannku" waktu pun terus berjalan ibuku pun memanggil aku "Anakku kemarilah ibu telah selesai. Aku pun menghampirinya dan ibu mendudukkanku dipangkuannya.
Setelah kududuk diatas pangkuannya aku pun terkejut betapa indahnya gambar pemandangan diatas kain tersebut. Akupun bertanya"Ibu mengapa tadi yang ku lihat dibawah hanyalah benang-benang kusut ,tapi yang kulihat sekarang pemandangan yang indah" dengan tersenyum ibuku menjawab"Ibu hanya mengikuti pola yang sudah tergambar dikain ini"
Seiring dengan usia ku dewasa aku pun bertanya " Ya ALLOH kenapa hidupku seperti ini.....susah.....sedih....kenapa hidupku tidak semuanya indah...hatiku sakit ya ALLOH"dengan kasih sayangNya ALLOH menjawab"Wahai Hambaku sabarlah engkau dengan semua itu, AKU sedang menyulam kehidupan mu, teruskanlah pekerjaan mu dibumi ini....kelak akan AKU panggil engkau dan engkau pun akan melihat rencana KU yang indah untukmu"

Sahabatku dari ilustrasi diatas semoga dapat menjadi bahan renungan untuk kita dalam menjalani kehidupan ini, bahwa kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan ALLOH untuk kehidupan kita kelak ketika kita kembali padaNya. ALLOH Maha sempurna telah menciptakan kita dengan sempurna oleh karena itu berhusnudzonlah padaNya..niscaya kau akan bahagia dunia dan akhirat.

By; ASMUL 2007

MEMAHAMI HIKMAH DARI UJIAN DALAM KEHIDUPAN

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

MEMAHAMI HIKMAH DARI UJIAN DALAM KEHIDUPAN
03/06/2007

Kehidupan manusia ini memang tidak pernah terlepas dari ujian. Tidak kira sama ada orang itu Islam atau bukan Islam, ada pegangan agama atau tidak, kecil atau besar, tua atau muda. Bagi orang bukan Islam, mereka menghadapinya dengan berbagai kaedah yang difikirkan logik mengikut akal mereka. Jika akal mereka sudah tidak mampu berfikir, maka mereka mengambil jalan singkat dengan makan ubat tidur, makan racun atau membunuh diri sendiri. Bagi orang Islam pula, mereka ada jalan penyelesaian yang telah Allah tunjukkan tetapi mereka perlu kepada ilmunya.

Setiap ujian yang Allah timpakan ada maksud tersirat dari Tuhan yang ramai manusia tidak tahu akan hikmah di sebalik ujian tersebut. Ujian; sama ada ujian sakit, ujian miskin, ujian isteri atau suami meragam, ujian anak-anak, kena fitnah, kena hina dan sebagainya semuanya dalam kuasa Tuhan. Hakikatnya Tuhanlah yang mendatangkan ujian itu.

Ujian yang datang ada tiga peringkat atau untuk tiga golongan manusia.

Peringkat pertama:

Untuk peningkatan darjat.
Allah berikan ujian adalah kerana hendak naikkan darjat seseorang di sisi-Nya di Akhirat kelak. Ketinggian darjat di sisi Tuhan ini adalah untuk orang-orang yang taat dengan Tuhan ketika di dunia lagi. Di dunia dia banyak berbuat amal soleh, amal kebajikan tapi masih lagi Allah beri ujian yang berat kepadanya. Ini tidak lain tidak bukan ialah untuk meninggikan darjatnya di Akhirat kerana ketabahannya dan kesabarannya menghadapi ujian. Ujian seperti ini adalah untuk para rasul, para nabi, para wali dan paling rendah ialah orang soleh. Ujian paling berat kita lihat dalam sejarah seperti yang ditanggung oleh para nabi dan rasul yang mana ia sangat bersesuaian sekali dengan tingginya darjat mereka.

Peringkat kedua:

Untuk penghapusan dosa dan didikan langsung dari Tuhan.
Ujian yang diberi untuk orang-orang Islam yang berdosa. Semua orang ada membuat dosa tidak kira dosa besar atau kecil. Ini adalah kerana manusia biasa bukannya maksum iaitu terpelihara dari dosa seperti para rasul. Jika kita merasakan diri kita tidak berdosa, itu juga merupakan satu dosa.

Jadi segala ujian ini Allah berikan tidak sia-sia dan ia ada dua tujuan:

1. Penghapusan dosa Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.
Sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya melebihi dari kasih sayang yang diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya. Walaupun hamba-hamba-Nya telah berbuat dosa tapi masih diberi peluang untuk membersihkan dosa sebelum pulang ke pangkuan-Nya dengan jalan diberikan ujian-ujian. Kesabaran dan redha dalam menerima ujian itu akan dinilai oleh Allah sebagai penghapusan dosa.

2. Untuk ‘post-moterm’ diri
Manusia lazimnya akan mudah sedar dari kesilapannya apabila ia diuji. Terutama apabila ujian itu benar-benar memberikan kesan yang mendalam dalam kehidupannya. Manusia yang telah Allah sedarkan ini akan mudah insaf dan akan sentiasa membaiki diri daripada kesalahan lalu dari masa ke semasa. Maha Suci Tuhan yang amat kasih akan hamba-Nya, walaupun telah banyak berbuat dosa tapi Allah masih beri jalan untuk menghapuskan dosa-dosa tersebut dengan cara diuji. Tetapi kita mesti faham benar akan maksud Tuhan itu. Supaya dengan itu kita dapat tabah dan redha dengan ujian Tuhan. Jika terasa berat ujian yang ditanggung, kita faham ujian itu memang sesuai dengan kita kerana telah banyak buat kesalahan dengan Tuhan atau sesama manusia. Oleh itu jika kita sedar maka kita akan berkata,
“Terima kasih Tuhan kerana sesungguhnya Engkau masih sayang lagi kepadaku. Semoga dengan ujian ini Engkau ampunkanlah segala dosa-dosaku yang lalu.”

Manusia apabila ditimpa musibah sebagai ujian hidupnya, dia akan mudah insaf akan kesalahan yang telah dilakukan. Jika tidak dia akan mudah lupa daratan, merasa diri hebat, tidak mahu terima pandangan orang lain. Ujian ini bagi orang yang faham ialah didikan terus dari Allah SWT. Tetapi jika seseorang itu tidak tahan dengan ujian yang didatangkan, ia akan hilang pertimbangan dan tidak boleh menilai tujuan baik Tuhan dalam memberi ujian itu. Orang yang tidak redha ini biasanya disebabkan tidak faham akan ilmunya. Jika ilmu mengenai ujian itu sendiri tidak ada, bagaimana pula hendak mengamalkannya?

Peringkat ketiga:

Bala atau hukuman dari Tuhan
Diperingkat ini ujian terbahagi pula kepada dua:

1. Untuk orang-orang kafir
Ujian diturunkan untuk semua peringkat manusia bukan untuk orang Islam sahaja bahkan termasuk juga orang-orang bukan Islam. Mereka juga menghadapi musibah kesusahan, kesedihan, mala petaka seperti gempa bumi, kebakaran, kematian dan sebagainya. Tetapi oleh kerana mereka itu orang-orang yang tidak beriman maka segala ujian yang ditimpakan ke atas mereka itu tidak boleh meningkatkan diri mereka itu menjadi baik. Malah mereka menjadi semakin jahat, semakin jauh dari Tuhan. Jika mereka boleh bersabar sekalipun dengan ujian tersebut, tiada pahala dan apa-apa kebaikan Akhirat untuk mereka.

2. Untuk orang Islam

Iaitu orang-orang Islam yang sudah terlalu jahat atau terlalu zalim dan sudah tidak boleh diinsafkan lagi. Tujuan didatangkan ujian di dunia ialah kerana Tuhan hendak hukum dia di dunia lagi sebelum di Akhirat. Jika ujian yang Allah berikan di dunia itu dapat menyedarkannya, maka selamatlah dia di Akhirat kelak. Itu pun jika dia faham akan hikmah yang tersirat dalam ujian itu. Kesimpulannya jika kita diuji oleh Allah, lebih baik kita anggap diri kita dalam golongan peringkat kedua kerana golongan dalam peringkat yang pertama hanya untuk orang yang luar biasa iaitu para nabi dan rasul.. Kita anggap diri kita golongan yang banyak berdosa kepada Tuhan dan layaklah kita dihukum. Manakala

3. Untuk orang yang jahat.

Kalau selepas diuji dia bertaubat, betulkan sembahyang, berpuasa, bermaaf-maafan, bertolong bantu, insya-Allah di samping Allah mengampunkan dosa kita, Tuhan juga akan selesaikan masalah kita.

Minda : ABUYA Ust Ashaari Muhammad At Tamimi

Rini,Teh Ninih & Aa Gym......

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Luqman al-Hakiim berkata, "Wahai anakku, barangsiapa suka berbohong, ia telah kehilangan air mukanya (malunya), dan siapa yang buruk akhlaknya akan banyak susahnya. Memindahkan batu yang besar lebih mudah daripada memberi pemahaman kepada orang yang bodoh."

440_garis_atas.gif (100 bytes)

Gereja Katolik Kini Dalam Masa Keterbukaan
Aktivis Kristen Bandung Kunjungi Daarut Tauhiid

BANDUNG, (PR).-
Rombongan tokoh dan aktivis Kristen Kota Bandung yang berasal dari Keusukupan Bandung, kemarin, mengunjungi kompleks Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (DT), di Jln. Gegerkalong Girang no. 38, Bandung.

Mereka yang datang bersama seorang pimpinan Keuskupan Bandung, Pastur Y.C.Abukusman, OSc (Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) itu, disambut para aktivis dan sukarela Gema Nusa (Gerakan Membangun Nurani Bangsa) Posko Pusat Bandung.

Sebelum berdialog dengan K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) di Taman Graha MQ, rombongan sempat menyaksikan berbagai kegiatan di kompleks DT dan berbincang-bincang dengan para aktivis DT.

Dalam dialog yang dipandu Ipong Witono (aktivis Keuskupan Bandung), Aa Gym mengemukakan, Pesantren DT selama ini dikunjungi bukan hanya oleh umat Islam dari berbagai daerah di dalam dan luar negeri, tetapi juga didatangi masyarakat non-Muslim dari dalam dan luar negeri.

Disebutkan Aa Gym, para pengurus dan aktivis Pesantren DT adalah orang-orang Muslim yang sedang belajar mengamalkan sedikit ajaran Islam. Karenanya, pengetahuan dan pengamalan ajaran Islam cenderung yang sifatnya praktis dan mudah, seperti kedisiplinan, kebersihan, kiat mengatur waktu, kepemimpinan diri dan keluarga, kebersamaan, ukhuwah Islamiyah, dan sejenisnya.

Terbuka

Sementara itu, Pastur Y.C. Abukasman mengatakan, para aktivis Gereja Katolik sebenarnya saat ini sudah berada dalam masa keterbukaan. "Kami sekarang berprinsip, di luar Gereja Katolik ada juga kebenaran dan ada spiritualitas lainnya. Dulu, sejarah Gereja Katolik tidaklah demikian."

Dikemukakannya, berdasarkan pengamatan selama ini dan hasil kunjungan ke Pesantren DT menunjukkan, nilai-nilai dan semangat yang dikembangkan Aa Gym bersama rekan-rekannya bersifat universal dan persaudaraan. Melalui pertemuan itu diharapkan ada keterbukaan dan pemahaman yang tepat di kalangan umat Katolik lainnya yang selama ini mungkin bersikap inklusif. (A-44)***





Rini Memeluk Teh Ninih di Depan Aa Gym

SENIN (4/12) pagi, Alfarini Eridani (37)--istri kedua K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)--berjumpa dengan "PR" di sebuah rumah di kompleks Pesantren Daarut Tauhiid (DT). Keponakan mantan Presiden RI, B.J. Habibie ini menyatakan terkejut mengetahui foto dirinya terpampang di halaman 1 "PR", Senin (4/12).

Untuk pertama kalinya, usai menjalani ”prosesi penerimaan" sebagai keluarga besar Pesantren Daarut Tauhiid (DT)-Manajemen Qalbu (MQ) di Masjid DT Bandung, Senin (4/12) sekira pukul 9.25 WIB, Alfarini Eridani bersama Teh Ninih diajak Aa Gym menuju ke rumahnya untuk beristirahat.*ACHMAD SETIYAJI/"PR"

Dia menanyakan asal usul foto tersebut, dan "PR" pun menjelaskan foto setengah badan berbusana hitam itu diterima "PR" dari pasangan Hj. Ninih Muthmainnah (Teh Ninih) dan Aa Gym tatkala makan bersama di sebuah kafe di Jln. Dago Bandung pada Minggu (3/12) malam. Mendengar hal itu, Rini--begitu panggilan Alfarini Eridani--tersenyum.

Senin (4/12), memang hari istimewa bagi Rini. Selain merupakan hari ulang tahun yang ke-37, Rini secara spontan juga menjalani prosesi "penerimaan" keluarga besar Pesantren DT dan Manajemen Qalbu (MQ). Pasalnya, dalam forum tausiyah rutin yang diisi ceramah oleh Aa Gym dan Teh Ninih, Rini didaulat untuk hadir dan berbicara di depan audiens.

Ceritanya, setelah sekira setengah jam Aa Gym menjelaskan secara runtut dan lengkap "lelakon"-nya hingga menikahi Rini, seorang santri DT, Yuliawati (penanggung jawab operasional yatim piatu anak-anak asuh Aa Gym) menanggapi materi ceramah Aa Gym, serta mengajak hadirin untuk memaklumi kenyataan yang dialami Aa Gym dan Teh Ninih. Yuliawati menyarankan untuk menghadirkan Rini.

Aa Gym pun menganjurkan Yuliawati untuk menjemput Rini dari rumahnya, yang tak jauh dari masjid DT. Suatu peristiwa menarik pun terjadi, Yuliawati bergegas naik motornya dan tancap gas. Seorang wartawan "mengejar" Yuliawati agar dapat mengabadikan momentum langka tersebut.

Sementara itu, para staf sekpim dan pengawal Aa Gym--yang biasanya peka dan tanggap terhadap keperluan Aa Gym dan Teh Ninih--tampak terperanjat dengan situasi tersebut. Barulah setelah ada yang mengingatkan tugasnya, seorang staf sekpim menyusul Yuliawati dengan kendaraan. Standar pengamanan kepada istri kedua Aa Gym itu, langsung diberlakukan.

**

DENGAN tersipu-sipu malu, Rini turun dari mobil, lalu masuk ke masjid DT. Ribuan orang tampak memerhatikannya. Roman muka hadirin beragam, terutama kaum perempuan. Di antara mereka ada yang terlihat tersenyum hangat, dan ada pula yang tersenyum agak terpaksa.

Saat itu, Aa Gym langsung meminta Rini berbicara. Kepada hadirin, Rini meminta maaf apabila yang dilakukannya--menikah dengan Aa Gym--menimbulkan suasana kurang nyaman di tengah keluarga besar DT-MQ. "Saya sadar, ini semua takdir dari Allah SWT, dan saya tidak menyangka prosesnya secepat ini," tutur Rini.

Teh Ninih yang duduk di samping Rini, diminta Aa Gym untuk berbicara. Seraya mengutip ayat suci Alquran, Teh Ninih--dengan penuh haru--menuturkan, "Allah menciptakan hamba-Nya untuk saling mengenal dan berkasih sayang. Firman Allah SWT adalah kebenaran, sehingga pengamalan ajaran Allah SWT seperti saling berkasih sayang tentunya mengandung banyak hikmah."

Usai Teh Ninih bicara, Aa Gym menegaskan bahwa dengan kehadiran Rini di tengah forum tausiyah itu, diharapkan keluarga besar DT-MQ dapat menerimanya dengan baik. "Mulai hari ini tentunya Mbak Rini adalah bagian dari keluarga besar DT dan MQ. Mudah-mudahan kita bisa sama-sama berdakwah," ujar Aa Gym.

Acara prosesi itu pun berakhir. Rini langsung mencium tangan Teh Ninih dan memeluknya. Para santri putri juga menyalami serta mencium Rini dan Teh Ninih. Banyaknya santri dan ibu-ibu yang menyalami serta mengucapkan selamat, menjadikan Rini dan Teh Ninih sulit bergerak dari tempatnya duduk.

Selanjutnya, Aa Gym turun keluar masjid. Teh Ninih bersama Rini menyusulnya. Di depan masjid DT, ratusan santri dan ibu-ibu menyalami Teh Ninih dan Rini.

Tak lama kemudian, dengan didampingi Teh Ninih dan Rini, Aa Gym menuju ke rumahnya yang jaraknya dari masjid sekira 200 meter. Jemaah dan warga setempat pun memanggil-manggil Aa Gym, Teh Ninih, dan Rini. Mereka tampak senang dengan "mencair"-nya suasana di lingkungan pesantren DT.

Untuk pertama kalinya setelah "bersembunyi", Rini memasuki rumah Aa Gym dengan didampingi Teh Ninih. Di dalam rumah itulah, Rini merasakan kembali kehangatan suasana rumah tangga yang diikhtiarkan oleh Aa Gym dan Teh Ninih sebagai "rumahku-surgaku".

**

SEBELUM Rini ”didaulat" hadir, Aa Gym menjelaskan, tujuan utama poligami ialah menghilangkan citra bahwa poligami suatu kekeliruan atau kejahatan, menyadarkan masyarakat untuk berhati-hati dan tidak menggampangkan berpoligami.

"Selain itu, bagi yang sudah telanjur berpoligami diharuskan menata keluarganya menjadi sakinah mawaddah wa rahmah. Sepanjang satu tahun saya sering salat istikarah, memohon petunjuk-Nya. Saya yakin ini perjuangan, sehingga risiko caci maki, dan hinaan saya terima. Tapi saya yakin, satu atau dua tahun mendatang akan terlihat hikmahnya," tuturnya.

Menurut Teh Ninih, pada awalnya merasa berat menerima Aa Gym berpoligami. Kenapa? Karena, sebagai perempuan, yang dipakai perasaan. Antara perasaan dan hawa nafsu sulit dibedakan. "Selama lima tahun saya dipersiapkan oleh Aa Gym untuk menerima konsep poligami. Kini saya sadar, poligami itu indah dan komplet sebagai bagian dari pembelajaran manajemen qalbu menuju bersih hati. Saya tidak mau menuhankan hawa nafsu dengan menolak ajaran Allah dalam hal berpoligami," tutur Teh Ninih.

Pernyataan senada diungkapkan pengamat keagamaan, H. Nanang Iskandar Ma'soem, S.E.,M.S., K.H. Shidiq Amien, dan Dr. K.H. Miftah Faridl. Menurut Nanang Iskandar, status kemusliman seseorang perlu ditinjau kembali bila menentang ajaran Allah ihwal poligami. (Achmad Setiyaji/"PR")***

Friday, June 1, 2007

Tuntutlah Ilmu............

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

The image “http://www.sk-sungaidua.edu.my/Grafik/nasyid2.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.
Tuntutlah Ilmu untuk kebahagiaan Dunia Akhirat.sanitomichie

MAWADDAH FOTO.....

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

MAWADDAH NASYID



Mawaddah

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Buah akal ialah ilmu pengetahuan, buah jiwa atau hati ialah iman, buah fizikal ialah kemajuan. Alangkah indahnya kalau ketiga-tiga anggota ini melahirkan buah di dalam kehidupan - Madah Abuya"Mawaddah"

Miskin harta tidak mengapa, tapi jangan miskin idea dan jiwa. Miskin idea buntu di dalam kehidupan. Miskin jiwa mudah kecewa dan derita akhirnya putus asa yang sangat berdosa. - Madah Abuya"Maddah Abuya"

Bersedihlah dengan dosa di dunia ini, agar di Akhirat bergembira. Menangislah di dunia ini agar di Akhirat kita ria dan ceria. Bersusah-susahlah kita dengan hak Allah di dunia ini, agar di Akhirat kelak kita dipermudah. - Madah Abuya

Bingung Memilih Pasangan ....

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Saat Bingung Memilih Pasangan

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya 'kufu' ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, "Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan"

Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya" (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, "Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak." Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

Juga apabila persoalan apakah diri kita jual mahal atau tidak tergantung pada niat dan representasinya, karena itu Rasulullah menegaskan, "Sesungguhnya segala pekerjaan membutuhkan niat dan pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh niat. Barang siapa yang niatnya kepada Allah maka dia (dalam representasinya) akan sesuai dengan Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang niatnya kepada dunia atau wanita maka (representasinya) akan sesuai apa yang diniatkan" (Muttafaq alaih).

Untuk menghindarkan tuduhan itu maka buktikan dalam representasi kita sehari-hari, sebagai contoh bahwa tuduhan itu akan benar jika memang salah satu kebiasaan kita adalah chatting dengan teman-teman baru yang notabenenya lebih banyak para laki-laki untuk seorang perempuan, dan sebaliknya, berbeda misalnya kalau teman yang kita ajak chatting adalah para wanita atau dalam bahasa yang digunakan bersifat umum, tidak ada yang rahasia sehingga tidak khawatir kalau harus dibaca orang. Ini hanya sekelumit contoh yang barangkali kurang tepat untuk yang bingung memilih pasangannya. Tapi ada hal yang cukup penting untuk diketahui bahwa UNTUK MENGENAL SESEORANG TENTU TIDAK CUKUP DENGAN BERKOMUNIKASI SESAAT.

Pernah suatu hari Sahabat Umar bin al-Khattab mendengar seseorang memuji orang lain hingga Umar agak merasa keheranan lalu Umar bertanya, "Apakah kamu pernah bepergian dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertransaksi dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertetangga dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah melihatnya dia melakukan shalat?" Jawab orang tersebut, "Ya, aku melihat dia rajin shalat, menunaikannya sesuai dengan waktunya." Lalu kata Umar, "Kalau begitu anda belum kenal dengan baik orang tersebut." Tetapi untuk mengenali tiga poin pertama dari empat poin tersebut bisa dilakukan dengan cara MENANYAKAN ORANG YANG PALING DEKAT DENGANNYA, DAN YANG DAPAT DIPERCAYA.

Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik baginya, meskipun PILIHAN TERBAIK BAGINYA TIDAK SELALU IDENTIK DENGAN PILIHAN YANG TERBAIK BAGI UMUM, KARENA SESEORANG TENTU MEMILIKI PERTIMBANGAN YANG SANGAT KHUSUS YANG TIDAK DIMILIKI ORANG LAIN.

Dari uraian diatas, kebingungan untuk memilih pasangan hidup dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini,

  1. pilihlah karena agamanya,
  2. kenali dengan cara menanyakan kepada orang yang paling dekat dengannya dan dapat kita percaya,
  3. letakkan niat pada tempat yang benar, karena segala perbuatan membutuhkan dan sangat dipengaruhi niat,
  4. sholat istikhorah untuk mohon petunjuk kepada Allah juga patut dilakukan,
  5. apabila semua ini telah dilakukan, maka pasrahkan diri kepada Allah SWT akan keputusan-Nya, jangan keluh kesah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah,
  6. dan terakhir, jangan bosan untuk berbekal ilmu pernikahan :), karena berbekal ilmu adalah lebih baik daripada tidak membekali diri pada saat masuk ke dunia yang baru.

Masalah jodoh hanya Allah yang tahu, siapa pasangan kita sebenarnya, itulah rahasia Allah. Kita hanya diminta untuk berusaha, dan Allah-lah penentunya, terkadang Dia menentukan pilihan-Nya itu diluar dugaan dan rasio kita sebagai seorang manusia, tapi itulah ketentuan Allah. Jika memang harus menerima kenyataan di luar kehendak kita, maka ingatlah untuk tidak sembarangan memberikan cinta kepada siapapun, karena kadar cinta kita kepada Allah harus lebih tinggi dari itu semua. Yang terbaik menurut Allah, itulah yang paling utama.

Selamat berjuang akhi, selamat berjuang ukhti..., mulailah dengan bismillah dan niat yang benar, insya Allah, ridho-Nya akan selalu menghampiri, dan semoga Allah selalu memudahkan urusan antum.

Wallahu alam bi showab,

=====
Author: Abu Aufa
Maraji': Konsultasi Ustadz Bukhori Yusuf, Lc, MA dan Ustadz M. Ihsan Tandjung, Lc

AbuBa_8Filemiles

AbuBa_8@yahoo.com

http://www.istanasurgaku.blogspot.com

Rangkuman AbuBa-

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Atau Kita Belum Sabar?

Ada yang perlu kita bedakan antara sabar dan keras kepala. Keduanya kadang tampak sangat berbedatapi adakalanya batas antara sabar dan keras kepala kelihatan begitu tipis. Yang pertama mengantarkan kita kepada kebaikan, kemuliaan dan pertolongan Allah, sehingga kita dapat meraih kemenangan meski tampak berdaya. Sementara yang kedua, mendekatkan diri kita pada keburukan, kehinaan dan keterpurukan, sehingga tak berdaya meski kita memiliki segala yang kita perlukan untuk meraih kejayaan.

Sabar, kata Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah merupakan suatu pekerti yang dapat dibentuk oleh seeorang. Ia menahan nafsu dan putus asa, sedih dan sentimentil. Ia menahan jiwa dari kemarahan, menahan lidah dari merintih kesakitan, dan anggota badan dari melakukan sesuatu yang tidak patut. Sabar merupakan ketegaran hati atas hukum takdir dan hukum-hukum syariat.

Sementara keras kepala atau keras hati, merupakan kekeringan hati yang menghalanginya untuk menerima masukan dari luar. Suatu kekerasan yang menolaknya untuk menerima pengaruh dari masukan tersebut. Ia tidak menerima kesan karena kekerasan dan kejumudannya. Bukan karena kebijakan dan kesabarannya.

Kesabaran melahirkan kelapangan dada untuk menerima kebenaran dan kekuatan hati untuk menetapi kebaikan, meski perasaan tidak menyukainya. Sementara sikap keras kepala, terkadang lahir dari keengganan kita menerima nasihat -yang paling tulus sekalipun- hanya karena tak sesuai dengan apa yang kita inginkan atau karena kita mementingkan siapa yang berbicara daripada apa yang dibicarakannya. Boleh jadi, sahabat kita yang memberi nasehat dengan bijak dan tepat -tapi karena kita merasa gusar- kita menolaknya. Kalau tak terkendali, kita bisa meninggikan diri, sehingga menepuk dada dengan bangga atau dengan nada marah "Kamu kenal saya nggak sih??..."

Sampai disini, kita yelah terjatuh pada sikap takabbur. Sombong. Dan, inilah titik awal kemuliaan kita selaku manusia. Kecerdasan tak punya lagi makna ketika kita keras kepala atau tinggi hati, karena keduanya menuntun kita pada putusan-putusan yang tidak benar (baca: bodoh). Kehebatan kita tak lagi punya arti karena cenderung lari dari mereka yang fazhzhan dan ghalizhal qalb. Tajam mulutnya dan keras hatinya.

Allah SWT berfirman "Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhi diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya" (QS. Ali 'Imron :159)

Jika kita bersikap keras dan melukai perasaan, terlebih kepada orang-orang yang menasehati kita dengan tulus, maka tak ada yang perlu dipersalahkan kecuali diri sendiri apabila hilang kecemerlangan kita. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menistakan manusia lainnya. hanya Allah yang memiliki kemuliaan, kekuatan dan kebesaran. Jika Ia mencabut kekuatan dan kemuliaan dari seseorang, maka tidak akan ada yang sanggup untuk menolaknya dan mengembalikannya meskipun penduduk seluruh negeri berkumpul untuk meraih derajatnya.

Sebaliknya, jika Allah memberikan pertolongan, maka tak ada yang sanggup mengalahkan kita. Maka gantungkanlah harapan kita sepenuhnya untuk Allah. Wallohu A'lam.

Ditengah kebisingan siang 13 Agustus 2005
Bang Ahmad, IMB Jogja
mujahidmuda1975@yahoo.com

CAHAYA PARA WANITA

Para suami dan isteri semakin tidak sanggup untuk saling menanggung pasangannya. Di masa lalu keadaannya tidak seperti ini. Cinta yang mereka miliki memberi mereka cahaya, dan wajah mereka semakin bersinar setiap hari. Karena ibadah mereka kepada Allah membuat para pria dan wanita tersebut dipakaikan pakaian cahaya, kecantikan dan cinta.

Saat ini orang-orang tidak tertarik untuk beribadah kepada Allah. Mereka melalaikan hal tersebut. Sebagai hukumannya, mereka saling merasa bahwa pasangannya tidak menarik (jelek). Mereka hanya mengandalkan kecantikan lahiriah (fisik) yang mirip dengan kecantikan boneka maneqin di etalase toko.

Menyerupai pria dan wanita, memakai pakaian, tapi tak memiliki rasa. Tapi bila seseorang dipakaikan dengan keindahan surgawi, sebagai berkah dari Allah swt, maka tak akan pernah kehilangan kecantikannya walaupun sudah mencapai usia 90 atau 100 tahun. Tidak akan pernah berubah, karena mereka selalu diberi pakaian surgawi !

Para Rasul dengan pengetahuan surgawinya berkata : "Jika seseorang ingin kelihatan cantik atau dipakaikan pakaian kecantikan pada mereka, mereka harus berusaha bangun tengah malam dan subuh �E Karena pada waktu-waktu tersebutlah cahaya terang spiritual muncul dan dipakaikan pada orang-orang.

Dan ibadah tengah malam dan subuh mereka akan tampak pada wajahnya. Allah menganugerahkan pada mereka cahaya yang terang dan cinta. Siapapun yang menginginkannya , dapat memohon pada Alah pada waktu-waktu tersebut. Allah swt akan mengirimkan malaikat-malaikat dengan cahaya dan pakaian surgawi. Ia akan memakaikan para hambanya yang beribadah padaNya di bumi, yang melakukan salat dan memuliakanNya Namun orang-orang sudah melupakan hal ini dan berusaha keras mempercantik wajah dan tubuhnya dengan kosmetik ( menghamburkan jutaan dolar dan Euros ). Membuat bibir mereka tampak seperti bibir keledai ! Mereka berusaha membuat diri mereka lebih muda.

Para remaja tidak berkata bahwa Allah yang memberikan mereka kecantikan, tapi mereka minta untuk memakai kosmetik agar tampak cantik, dan tak akan bisa! Selama para pria diizinkan memandang wanita, mereka akan mengambil kecantikan dari wajah dan tubuh wanita. Maka para wanita yang berjilbab dan berpakaian menutup aurat , wajah dan tubuhnya akan tetap segar dan cantik, tanpa kosmetik !

Mereka tidak mengerti sumber utama kecantikan itu berasal dari mana. Mereka bertanya kenapa wanita Muslim memakai jilbab. Itu gunanya untuk menjaga kecantikan mereka ! Tapi para wanita sekarang terlalu bodoh! Wanita yang cerdas tidak akan menyia-nyiakan kecantikannya. Zaman dahulu, para wanita menjaga wajah dan tubuh mereka agar tidak disentuh oleh seseorang yang tidak halal untuk mereka.

Orang-orang yang mengikuti setan dan ajarannya, akan jatuh dalam kesulitan yang merusak spiritual dan fisik manusia. Di masa lalu, spiritual terpelihara jika fisik dijaga. Sehingga semakin banyak kebahagiaan dan kecantikan dianugerahkan pada mereka.

Sekarang para wanita ingin membuka dan memamerkan kecantikan mereka. Tapi mereka tak akan berhasil, karena kecantikan mereka akan cepat memudar ! Terutama para wanita yang bekerja dengan pria. Pandangan para pria tersebut membawa efek buruk bagi mereka dan mereka cepat menjadi tua. Kecantikan para wanita yang bekerja dengan pria akan rusak. Keindahan dan kondisi tubuh mereka menurun dengan pesat.

Sekarang ini banyak sekali wanita yang mengeluh sakit. Misalnya mereka mengatakan terkena kanker. Dan saya bertanya berapa usianya, dan mereka mengatakan, 25 tahun ! Bagaimana bisa begitu ? Terutama para gadis yang masuk universitas dan selalu dekat dengan pasangannyanya. Saat mereka lulus, kondisi fisik mereka sudah turun. Mereka menunda pernikahan, dan menghabiskan waktu mereka di universitas, belajar untuk mendapat ijazah yang tidak ada manfaatnya ! Cara yang salah untuk manusia, karena mereka mengikuti ajaran setan ! Dan sekarang negara-negara membuat peraturan bahwa pria dan wanita adalah setara.

Jika kita setara, semua pria harus menjadi wanita ! Itu adalah setara. Allah menciptakan pria sebagai pria dan wanita sebagai wanita. Bagaimana orang bisa mengatakan bahwa pria dan wanita setara ? Kebodohan apa ini ?! Sampai saat ini mereka membuat kesulitan bagi berbagai bangsa. Tapi mereka tak akan berhasil.

-------------
Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani
Dari buku A Taste of Re


ality

CINTA LAKI-LAKI BIASA (True Story)

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

*** Ummi………………………….masih kah kau seperti dulu yang menyayangiku apa adanya,…………………………….

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!
Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

------------------
nandana@panama-group.com

AbuBa_8 Filemiles

http://www.istanasurgaku.blogspot.com

e-mail AbuBa_8@yahoo.com

Istriku, Maafkan Suamimu

Dikutip dari Artikel Buletin An-Nur (Al Sofwah)

Permintaan maaf adalah kata yang selayaknya sering diucapkan untuk melanggengkan hubungan suami isteri, sehingga bahtera rumah tangga berhasil mencapai tujuan.

"Duhai sayang, maafkan saya"... "Aku tiada bermaksud demikian"... "Aku telah salah dalam memberikan hakmu" ... adalah ungkapan-ungkapan yang sering kita gunakan tetapi memiliki satu makna, yaitu meminta maaf yang merupakan terminal yang pasti akan kita lalui dalam melanggengkan kehidupan suami istri dari keruntuhan dan kehancuran.

Sesungguhnya suami isteri secara bersama, masing-masing memiliki saham dalam keberhasilan dan kebahagiaan keluarganya, lalu kenapa salah seorang di antara mereka berdua memunculkan kalimat "kebencian" pada saat muncul masalah!!! Andai salah seorang dari mereka berdua berbuat salah, lalu ia meminta maaf kepada pasangannya, apakah hal ini akan menghinakan dirinya?

1. Jika seperti itu sikap suami isteri, tentulah kehidupan mereka akan mengalami satu dari dua hal:

2. mungkin akan langgeng rumah tangganya tetapi kurang harmonis dan banyak perselisihan,

3. dan mungkin juga akan berujung kepada hancurnya kehidupan suami isteri, cerai.

Kehidupan suami isteri itu ibarat sebuah kapal yang sedang berlayar, padanya ada nahkoda dan awak kapal. Semua yang ada di dalam kapal itu bahu-membahu berusaha menyelamat kan kapal yang mereka tumpangi pada saat saat kapal ditimpa badai agar semuanya selamat dan sampai ke "pulau idaman".

Demikian juga halnya suami, Allah menjadikannya sebagai pemimpin bahtera rumah tangga, pelindung, dan pengayom bagi keluarga, bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Kepemimpinan yang diembannya itu adalah tugas,bukan intimidasi atas kesewenang-wenangan.

Maka suami yang baik adalah orang yang memahami kebutuhan dan perasaan isterinya, dan menjadikan tampuk kepemimpinannya penuh dengan kasih sayang, kesejukan dan kedewasaan, tidak mudah emosi, namun tetap tegas pada saat harus bersikap tegas !!!

Akan tetapi, sebagian suami yang meremehkan tugas ini memahami, bahwa meminta maaf kepada istri akan menghinakan dirinya sebagai laki-laki, bahkan ia berpendirian bahwa kemuliaannya tidak membolehkan dirinya untuk mengucapkan kalimat "Istriku, maafkan aku, aku salah" kepada isteri-nya, bagaimanapun keadaannya. !!!

Maka, keegoannya terus ia pertahankan dan istri selalu diposisikan "bersalah", ia tidak pernah meminta maaf kepadanya, yang kemudian menyeretnya kepada kehancuran rumah tangga dan kalimat "cerai" pun tak terhindarkan, padahal sangat mungkin rumah tangga itu bisa dilanggengkan dengan ucapan "maafkan suamimu, sayang".

KETIKA "RASA GENGSI" IKUT CAMPUR

Seorang istri pernah menceritakan tentang pengalamannya:

Dahulu, kehidupanku bersama suamiku demikian bahagia. Akan tetapi itu semua berubah ketika terjadi beberapa percekcokan tentang urusan rumah. Waktu itu aku tinggal bersama di rumah mertuaku, maka aku memutuskan untuk pindah dan keluar dari rumah mertuaku, walaupun sendirian. Suamiku menolak rencanaku dan menjelaskan, bahwa ia suatu hari nanti akan bisa memiliki rumah sendiri.

Dan terkadang suamiku memberi alasan tidak bisa meninggalkan ibunya, dan lain-lain, sampai suatu hari, terjadilah perselisihan antara aku dengan suamiku. Aku memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah mertuaku dan kembali ke rumah orang tuaku, dan aku katakan, jangan menjenguk atau menjemputku sebelum engkau memiliki rumah sendiri. Maka, aku dan suamiku pun sama-sama bersikukuh dengan pendirian masing-masing.

Dan sungguh aku pun akhirnya menyesali perbuatanku. Akan tetapi aku ingin mengetahui sejauh mana kedudukanku di sisi suamiku. Ternyata, suamiku bersikukuh tidak mau memaafkanku dan tidak berusaha meredakan suasana.

Ia mengatakan, "Bertobatlah kepada Allah, dan kembalilah ke rumah ini, jika kamu tidak mau tobat, maka cukup bagiku untuk menceraikanmu."

Demikianlah kepribadian kebanyakan suami, dan sangat sedikit yang bersikap dewasa. Bahkan di antara mereka ada yang sampai tidak mau mengasihi dan menyayangi isterinya, walaupun hanya dengan satu kata yang dicintai isterinya apalagi sampai mau memaafkan isterinya tersebut.

Seorang istri lagi menuturkan:

Para suami kita, sangat disayangkan sekali, mereka sangat mudah mengungkapkan kata-katanya kepada kita, kecuali "ungkapan maaf", bagaimana pun keadaannya. Suamiku sangat temperamental, tabiatnya keras dalam mempergauliku. Ia selalu mengucapkan ungkapan-ungkapan kasar kepadaku, bahkan ia pun pernah memukulku. Dan aku tetap bersabar sekalipun aku dalam posisi yang benar. Tetapi suamiku tidak mau mengubah pendiriannya sampai akhirnya aku yang meminta maaf kepadanya, baik yang salah adalah aku ataupun sebaliknya.

Dengan berlalunya waktu sekian tahun, sikap suamiku kepadaku bertambah jelek, hingga memupus kesabaranku. Setelah terjadi perselisihan antara aku dan suamiku, aku memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuaku. Aku menunggu, semoga suamiku mau datang dan meminta maaf atas perilakunya selama ini atau barangkali ia mau menelponku. Akan tetapi ia tidak melakukan itu semua, sampai aku mendengar tentang dirinya, ia merasa selama ini bersalah, kini menyesal atas perbuatannya yang telah menzhalimi aku. Akan tetapi, ia tidak mau meminta maaf kepadaku, karena keegoisan dan kegengsiannya serta merasa menjadi hina dengan hal itu. Hingga terjadilah cerai atas permintaanku.

Adapun kisah Abu Khalid, ia mengatakan, "Habis sudah kehidupan ku bersama isteriku, padahal aku mencintainya, akan tetapi dengan sebab ketidakharmonisan, dan aku enggan meminta maaf kepadanya, hingga akhirnya aku menerlantarkan anak-anakku hidup tanpa ibu."

Masalahnya adalah, bahwa isteriku adalah karyawati. Maka, aku katakan padanya berkali-kali untuk meninggal kan pekerjaannya dan berkonsentrasi mengurus anak-anak. Akan tetapi isteriku menolak membicarakan masalah itu. Dan ketika aku larang dia berangkat ke kantor, terjadilah perselisihan antara aku dengan dia. Dan aku terpeleset salah dalam berkata, aku mengatainya agak lama, maka ia pun pergi pulang ke rumah orang tuanya.

Maka, ia pun mengingatkan agar aku meminta maaf dan mengetahui kesalahanku ketika mengatai dirinya. Akan tetapi aku menjadi sombong dan aku pun menceraikannya hanya untuk mempertahankan harga diriku sebagai laki-laki. Kini aku benar-benar menyesal dengan penuh penyesalan.

TERAPI JIWA ADALAH SOLUSINYA

Dr. Najwa Ibrahim, seorang Guru besar Psikologi menjelaskan, bahwa pendidikan dan latar belakang hidup seseorang bisa berdampak sangat penting dalam cepatnya dia meminta maaf atau tidak. Beliau berkata, di antara sebab-sebabnya adalah sebagai berikut:

* Metode pendidikan yang telah memberi pengaruh kepadanya sehingga dia begitu sulit meminta maaf atau mengungkapkan kata "maaf" .

* Diantara metode ini adalah metode yang ditanamkan kepada kita ketika kecil dalam meminta maaf, baik suka atau tidak. Meminta maaf dikaitkan dengan emosi dan dari pihak yang kalah.

* Pandangan atau keyakinan yang tidak rasional yang tertanam didalam fikiran kita dan begitu besar dampaknya adalah "bahwa laki-laki tidak boleh meminta maaf kepada perempuan";

* Anggapan, orang yang meminta maaf itu lemah kepribadiannya.

Maka, sudah semestinya seorang suami atau isteri merasa, bahwa ketika perilakunya menimbulkan kemarahan atau melukai perasaan pasangannya, ungkapan "maaf" lah yang bisa menghilangkan "ketersinggungan hati dan mencairkan ketegangan".

Meminta maaf pada saat yang tepat juga bisa menghilangkan banyak hal yang bisa merusak hubungan suami isteri, andai tidak segera dieliminir.

MEMINTA MAAF ADALAH SIFAT JANTAN

Dr. Muhammad Musthafa, Guru Besar psikologi dan sosiologi Univ. Malik Su'ud, mengatakan bahwa meminta maaf adalah merupakan wujud sifat jantan dari seorang suami atau siapapun yang berbuat salah. Meminta maaf bukan sifat yang dimiliki oleh orang yang lemah, sebagaimana persangkaan sebagian orang, di mana mereka mengatakan:

Semua orang pernah berbuat salah, namun sedikit orang yang jantan meminta maaf dari kesalahannya kepada orang lain. Apalagi jika yang dimintai maaf itu adalah isterinya. Sebab, setiap suami berbeda-beda cara dan tabiatnya. Sebagian meminta maaf dengan cara tidak langsung akan tetapi mencapai tujuan dan sebagian menghindar dari masalah yang ia alami karena demi masa depan dan kejiwaan anak-anaknya yang akan hancur bila mereka berpisah. Ada sebahagian suami yang berlebih-lebihan, ia menolak meminta maaf karena gengsi dan egois, padahal para pakar psikososial menyatakan bahwa meminta maaf bukanlah hal yang jelek.

Maka, meminta maaf adalah sesuatu yang mesti dilakukan, dan bagi orang yang bersalah lebih ditekankan lagi. Apabila seseorang berbuat salah, maka tidak ada yang layak baginya selain meminta maaf.

Orang yang bersikukuh menolak meminta maaf kepada pasangannya dengan alasan akan mengurangi kehormatannya, maka orang yang demikian terkena penyakit jiwa. Sebab, diantara sifat kemuliaan adalah meminta maaf ketika berbuat salah kepada orang lain.

ADA APA DENGAN SIFAT LAKI-LAKI

Sifat kejantanan mengarahkan seseorang untuk meminta maaf jika berbuat salah kepada isterinya atau kepada orang lain. Sebab jantan berarti jujur dan luhurnya budi pekerti. Di saat seorang suami meminta maaf, maka ia tidak jatuh di mata isterinya atau akan jatuh harga dirinya sebagaimana gambaran sebagian suami. Bahkan itu akan mengangkat kedudukannya di mata isterinya; sebab itu akan menjadi pelajaran dalam amanah dan keluhuran budi dan kehormatan itu sendiri.

Maka, meminta maaf bukan merupakan kelemahan, bahkan kelemahan itu sendiri adalah seseorang menyembunyikan kesalahannya dan berlindung dibalik kesombongan dan bersikukuh dengannya.

Dan banyak problem suami isteri diawali dengan adanya kesombongan sang suami dan enggan untuk meminta maaf kepada isterinya ketika ia mema-rahi sang isteri. Maka, sudah semestinya para suami ingat, bahwa dengan ia meminta maaf atas kesalahan kepada isterinya, akan bisa mengembalikan "air" ke dalam alirannya, mengembalikan perasaan romatis, merekahnya kecintaan di antara kalian berdua, walaupun sifat kelaki-lakianmu merasa enggan untuk itu.

Mintalah maaf kepada istrimu atas kesalahan dan kelalaianmu, wahai para suami! Walau tidak kau sampaikan secara langsung. Sebab dengan itu rumah tangga akan menjadi damai, sejahtera dan harmonis.

Semoga!

Sumber: Majalah ad Dakwah, dengan beberapa pengurangan sub bab dan kalimat. (Abu Muhammad)

Lelaki Pilihan

ehemm ... Lelaki Pilihan Siapa laki-laki pilihan para wanita muslimah untuk menjadi pendamping hidup? Seorang pejabat, hartawan, atau si wajah tampan? Bisa jadi itu semua bukan pilihan utama dan lebih menjatuhkan pilihannya pada laki-laki dengan syarat ketinggian taraf keimanan, ibadah serta aktifitas sosial dan dakwah yang lebih darinya. Ataukah cukup yang biasa-biasa saja dan setara bahkan lebih rendah dari dirinya dengan catatan selama ia masih beragama Islam. Pilihan-pilihan itu sering mengemuka seiring dengan rencana dan keinginan seorang wanita untuk menempuh jalinan rumah tangga. Sebab, konon saat ini semakin sulit mencari laki-laki ideal dan "jempolan". Tentu bukan karena timpangnya perbandingan jumlah laki-laki dan wanita. Namun lebih dimungkinkan karena semarak aktifitas keislaman lebih berkembang di kalangan wanita muslimah dibandingkan laki-laki, meski hal itu masih perlu dilakukan verifikasi dengan data statistik yang benar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah wajarkah seseorang wanita mensyaratkan kadar keimanan (agama) yang lebih tinggi atas calon suaminya? Nikah adalah ikatan paling kuat dan kekal antara dua jenis insan . Ia pun banyak membawa hal-hal yang lebih positif bagi seseorang daripada hidup membujang. Jiwa perlu diikat dengan pengikat yang kuat lagi kokoh. Pengikat ini adalah aqidah. Karena hanya aqidah yang dapat mengarahkan hidup seseorang, menyetir hati, pikiran dan perasaannya, serta menanamkan pengaruh yang paling berkesan, kemudian menentukan jalan kehidupan mereka.

Dalam kaitan inilah, para ulama bersepakat atas haramnya seorang wanita muslim mengawini laki-laki kafir, baik kafir musyrik ataupun kafir kitabi. Hal itu juga ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya, "... dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu'min lebih baik dari seorang musyrik walaupun ia menarik hatimu ..." (QS/ Al-Baqarah:221). Secara teoritis, tabiat wanita akan cenderung mengikuti suaminya. Sementara dalam sistem Islam, kepala keluarga adalah suami. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi calon suami yang lebih mapan dan tinggi keimanannya menjadi satu syarat yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, ada kecenderungan laki-laki muslim untuk (sengaja atau tidak) menunda pernikahan dengan beragam alasan. Studi, karir, masalah ekonomi, ingin lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan berbagai alasan lainnya. Kondisi tersebut sesungguhnya justru sangat kontradiktif dengan keadaan yang dialami para muslimah. Bagi para wanita muslimah yang memahami konsep Islam secara baik, yang menjadi ukuran utama adalah kadar ketaqwaan dan tingkat keimanan dari calon suami. Sementara harta, jabatan, penampilan fisik dan latar belakang menjadi tidak lebih diutamakan meski tidak pula menampik hasrat untuk mendapatkan yang 'lebih' dari semua persyaratan itu. Artinya, keinginan untuk mendapatkan suami dengan penampilan menarik, harta yang cukup ditopang jabatan yang menjanjikan menjadi tidak lebih penting bagi seorang wanita muslimah jika syarat utamanya, yakni kadar keimanan dan akhlaq yang baik tidak dimiliki oleh calon pendampingnya.

Banyak wanita muslimah saat ini yang berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk memperoleh pendamping hidup yang sholeh, tampan, cukup harta dan berpendidikan. Pendapat itu tidak salah, namun juga tidak menjadi benar jika itu menjadi alasan untuk menolak setiap laki-laki sholeh yang datang karena tidak memenuhi syarat lainnya.

Hal itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya, Dari Abi Hatim al Muzani, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, "Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu ridhai agamanya dan akhlaqnya, maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia. Jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar," Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, jika hal itu memang ada?" Beliau menjawab, "Apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaqnya, maka nikahkanlah anakmu dengan dia." (diucapkan tiga kali) (HR. Tirmidzi)

Imam Asy Syaukani mengatakan, "orang yang kamu ridhai karena agama dan akhlaqnya" dalam hadits diatas, menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq. Sedangkan Imam Malik menegaskan bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas'ud dan kalangan tabi'in seperti Muhammad Ibn Sirin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman: "Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa kepada-Nya."

Dari sudut pernikahan, kufu dalam arti agama memang menjadi suatu ketentuan yang mutlak. Namun, kufu dari sisi akhlaq merupakan pertimbangan yang lebih jauh. Ini menyangkut masa depan keutamaan sebuah keluarga muslim di tengah keluarga muslim lainnya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menyatakan bahwa apabila yang datang itu adalah seorang yang baik agama dan akhlaqnya, maka (jika anak perempuannya juga tidak keberatan) pinangannya harus diterima.

Agama dan akhlaq adalah ukuran yang ideal bagi suami yang baik. Dari sisi inilah wajar bila seorang wanita muslimah ingin mendapatkan nilai lebih dari diri calon suaminya, minimal dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi cukuplah bersyukur atas nikmat dan anugrah yang diberikan Allah SWT jika memang Allah menentukan pilihan bagi seorang muslimah yang ...ehm, Sholeh, tampan, berpendidikan dan cukup harta. Hendaknya ia tidak menjadi takabbur menganggap dirinya lebih mulia dari wanita muslimah lainnya, karena sesungguhnya atas segala nikmat yang Allah berikan, Allah titipkan pula ujian didalamnya untuk menguji apakah hamba-Nya bersyukur atau sebaliknya. (bay/beberapa sumber)

AbuBa_8Filemiles

http://www.istanasurgaku.blogspot.com

Mendeteksi Sehatnya Qalbu (Hati)

Qalbu yang sehat memiliki beberapa tanda, sebagaimana yang disebutkan oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah di dalam kitab �Ighatsatul Lahfan min Mashayid asy-Syaithan.�� Dan di antara tanda-tanda tersebut adalah mampu memilih segala sesuatu yang bermanfaat dan memberikan kesembuhan. Dia tidak memilih hal-hal yang berbahaya serta menjadikan sakitnya qalbu. Sedangkan tanda qalbu yang sakit adalah sebaliknya. Santapan qalbu yang paling bermanfaat adalah keimanan dan obat yang paling manjur adalah al-Qur��an. Selain itu, qalbu yang sehat memiliki karakteristik sebagai berikut:

1.Mengembara ke Akhirat

Qalbu yang sehat mengembara dari dunia menuju ke akhirat dan seakan-akan telah sampai di sana. Sehingga dia merasa seperti telah menjadi penghuni akhirat dan putra-putra akhirat. Dia datang dan berada di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, yang mengambil sekedar keperluannya, lalu akan segera kembali lagi ke negeri asalnya. Nabi shallallhu ��alaihi wasallam bersabda, "Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau (musafir) yang melewati suatu jalan." (HR. al-Bukhari)

Ketika qalbu seseorang sehat, maka dia akan mengembara menuju akhirat dan terus mendekat ke arahnya, sehingga seakan-akan dia telah menjadi penghuninya. Sedangkan bila qalbu tersebut sakit, maka dia terlena mementingkan dunia dan menganggapnya sebagai negeri abadi, sehingga jadilah dia ahli dan hambanya.

2.Mendorong Menuju Allah subhanahu wata��ala

Di antara tanda lain sehatnya qalbu adalah selalu mendorong si empunya untuk kembali kepada Allah subhanahu wata��ala dan tunduk kepada-Nya. Dia bergantung hanya kepada Allah, mencintai-Nya sebagaimana seseorang mencintai kekasihnya. Tidak ada kehidupan, kebahagiaan, kenikmatan, kesenangan kecuali hanya dengan ridha Allah, kedekatan dan rasa jinak terhadap-Nya. Merasa tenang dan tentram dengan Allah, berlindung kepada-Nya, bahagia bersama-Nya, bertawakkal hanya kepada-Nya, yakin, berharap dan takut kepada Allah semata.

Maka qalbu tersebut akan selalu mengajak dan mendorong pemiliknya untuk menemukan ketenangan dan ketentraman bersama Ilah sembahan nya. Sehingga tatkala itulah ruh benar-benar merasakan kehidupan, kenikmatan dan menjadikan hidup lain daripada yang lain, bukan kehidupan yang penuh kelalaian dan berpaling dari tujuan penciptaan manusia. Untuk tujuan menghamba kepada Allah subhanahu wata��ala inilah surga dan neraka diciptakan, para rasul diutus dan kitab-kitab diturunkan.

Abul Husain al-Warraq berkata, "Hidupnya qalbu adalah dengan mengingat Dzat Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, dan kehidupan yang nikmat adalah kehidupan bersama Allah, bukan selain-Nya."

Oleh karena itu terputusnya seseorang dari Allah subhanahu wata��ala�nlebih dahsyat bagi orang-orang arif yang mengenal Allah daripada kematian, karena terputus dari Allah adalah terputus dari al-Haq, sedang kematian adalah terputus dari sesama manusia.

3.Tidak Bosan Berdzikir

Di antara sebagian tanda sehatnya qalbu adalah tidak pernah bosan untuk berdzikir mengingat Allah subhanahu wata��ala. Tidak pernah merasa jemu untuk mengabdi kepada-Nya, tidak terlena dan asyik dengan selain-Nya, kecuali kepada orang yang menunjukkan ke jalan-Nya, orang yang mengingatkan dia kepada Allah subhanahu wata��ala atau saling mengingatkan dalam kerangka berdzikir kepada-Nya.

4. Menyesal jika Luput dari Berdzikir

Qalbu yang sehat di antara tandanya adalah, jika luput dan ketinggalan dari dzikir dan wirid, maka dia sangat menyesal, merasa sedih dan sakit melebihi sedihnya seorang bakhil yang kehilangan hartanya.

5. Rindu Beribadah

Qalbu yang sehat selalu rindu untuk menghamba dan mengabdi kepada Allah subhanahu wata��ala, sebagaimana rindunya seorang yang kelaparan terhadap makanan dan minuman.

6.Khusyu' dalam Shalat

Qalbu yang sehat adalah jika dia sedang melakukan shalat, maka dia tinggalkan segala keinginan dan sesuatu yang bersifat keduniaan. Sangat memperhatikan masalah shalat dan bersegera melakukannya, serta mendapati ketenangan dan kenikmatan di dalam shalat tersebut. Baginya shalat merupakan kebahagiaan dan penyejuk hati dan jiwa.

7.Kemauannya Hanya kepada Allah

Qalbu yang sehat hanya satu kemauannya, yaitu kepada segala sesuatu yang diridhai Allah subhanahu wata��ala.

8. Menjaga Waktu

Di antara tanda sehatnya qalbu adalah merasa kikir (sayang) jika waktunya hilang dengan percuma, melebihi kikirnya seorang yang pelit terhadap hartanya.

9. Introspeksi dan Memperbaiki Diri

Qalbu yang sehat senantiasa menaruh perhatian yang besar untuk terus memperbaiki amal, melebihi perhatian terhadap amal itu sendiri. Dia terus bersemangat untuk meningkat kan keikhlasan dalam beramal, mengharap nasihat, mutaba'ah (mengontrol) dan ihsan (seakan-akan melihat Allah subhanahu wata��ala dalam beribadah, atau selalu merasa dilihat Allah). Bersamaan dengan itu dia selalu memperhatikan pemberian dan nikmat dari Allah subhanahu wata��ala serta kekurangan dirinya di dalam memenuhi hak-hak-Nya.

Demikian di antara beberapa fenomena dan karakteristik yang mengindikasikan sehatnya qalbu seseorang.

Dapat disimpulkan bahwa qalbu yang sehat dan selamat adalah qalbu yang himmah (kemauannya) kepada sesuatu yang menuju Allah subhanahu wata��ala, mencintai-Nya dengan sepenuhnya, menjadikan-Nya sebagai tujuan. Jiwa raganya untuk Allah, amalan, tidur, bangun dan bicaranya hanyalah untuk-Nya. Dan ucapan tentang segala yang diridhai Allah lebih dia sukai daripada segenap pembicaran yang lain, pikirannya selalu tertuju kepada apa saja yang diridhai dan dicintai-Nya.

Berkhalwah (menyendiri) untuk mengingat Allah subhanahu wata��ala lebih dia sukai daripada bergaul dengan orang, kecuali dalam pergaulan yang dicintai dan diridhai-Nya. Kebahagiaan dan ketenangannya adalah bersama Allah, dan ketika dia mendapati dirinya berpaling kepada selain Allah, maka dia segera mengingat firman-Nya,
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. (QS. 89:27-28)

Dia selalu mengulang-ulang ayat tersebut, dengan harapan dia akan mendengarkannya nanti pada hari Kiamat dari Rabbnya. Maka akhirnya qalbu tersebut di hadapan Ilah dan Sesembahannya yang Haq akan terwarnai dengan sibghah (celupan) sifat kehambaan. Sehingga jadilah abdi sejati sebagai sifat dan karakternya, ibadah menjadi kenikmatannya bukan beban yang memberatkan. Dia melakukan ibadah dengan rasa suka, cinta dan kedekatan kepada Rabbnya.

Ketika disodorkan kepadanya perintah atau larangan dari Rabbnya, maka hatinya mengatakan, "Aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi dengan suka cita, sesungguhnya aku mendengarkan, taat dan akan melakukannya. Engkau berhak dan layak mendapatkan semua itu, dan segala puji kembali hanya kepada-Mu.��

Apabila ada takdir menimpanya maka dia mengatakan, " Ya Allah, aku adalah hamba-Mu, miskin dan membutuhkan-Mu, aku hamba-Mu yang fakir, lemah tak berdaya. Engkau adalah Rabbku yang Maha Mulia dan Maha Penyayang. Aku tak mampu untuk bersabar jika Engkau tidak menolongku untuk bersabar, tidak ada kekuatan bagiku jika Engkau tidak menanggungku dan memberiku kekuatan. Tidak ada tempat bersandar bagiku kecuali hanya kepada-Mu, tidak ada yang dapat memberikan pertolongan kepadaku kecuali hanya Engkau. Tidak ada tempat berpaling bagiku dari pintu-Mu, dan tidak ada tempat untuk berlari dari-Mu.��

Dia mempersembahkan segalanya hanya untuk Allah subhanahu wata��ala, dan dia hanya bersandar kepada-Nya. Apabila menimpanya sesuatu yang tidak dia sukai maka dia berkata, "Rahmat telah dihadiahkan untukku, obat yang sangat bermanfaat dari Dzat Pemberi Kesembuhan yang mengasihiku." Jika dia kehilangan sesuatu yang dia sukai, maka dia berkata, "Telah disingkirkan keburukan dari sisiku."

Semoga Allah subhanahu wata��ala memperbaiki qalbu kita semua, dan menjaganya dari penyakit-penyakit yang merusak dan membinasakan, Amin.

Sumber: Mawaridul Aman al Muntaqa min Ighatsatil Lahfan fi Mashayid asy-Syaithan, penyusun Syaikh Ali bin Hasan bin Ali al-Halabi.

--------------
Menyampaikan Kebenaran adalah kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah dengan menyampaikan buletin ini kepada saudara-saudara kita yang belum mengetahuinya.
Semoga Allah Ta'ala Membalas 'Amal Ibadah Kita. Aamiin

-----------
sumber : alsofwah.or.id

Saat Bingung Memilih Pasangan

Dalam memilih pasangan hidup, baik bagi laki-laki maupun perempuan keduanya memiliki hak untuk memilih yang paling tepat sebagai pasangannya. Hal itu dikenal dalam Islam yang namanya 'kufu' ( layak dan serasi ), dan seorang wali nikah berhak memilihkan jodoh untuk putrinya seseorang yang sekufu, meski makna kufu paling umum dikalangan para ulama adalah seagama.

Namun makna-makna yang lain seperti kecocokan, juga merupakan makna yang tidak bisa dinafikan, dengan demikian PROSES MEMILIH ITU TERJADI PADA PIHAK LAKI-LAKI MAUPUN PEREMPUAN. Disisi lain bahwa memilih pasangan hidup dengan mempertimbangkan berbagai sisinya, asalkan pada pertimbangan-pertimbangan yang wajar serta Islami, merupakan keniscayaan hidup dan representasi kebebasan dari Allah yang Dia karuniakan kepada setiap manusia, termasuk dalam memilih suami atau istri. Aisyah Ra berkata, "Pernikahan hakikatnya adalah penghambaan, maka hendaknya dia melihat dimanakah kehormatannya akan diletakkan"

Rasulullah pun bersabda, "Barang siapa yang menjodohkan kehormatannya dengan orang yang fasik maka dia telah memutus rahimnya" (HR Ibnu Hibban). Nabi juga pernah memberikan pertimbangan kepada seorang sahabiyah yang datang kepadanya seraya minta pertimbangan atas dua orang yang akan melamarnya, lalu Nabi menjawab, "Adapun Muawiyah bin Abi sufyan dia sangat ringan tangan (alias gampang memukul), adapun yang lainnya adalah orang yang fakir tidak memiliki harta yang banyak." Lalu Nabi menikahkannya dengan Zaid bin Haritsah.

Dan untuk memantapkan pilihan, terutama dari berbagai alternatif sebaiknya melakukan shalat istikhorah baik di tengah malam maupun di awalnya, dan lakukan secara berkali-kali. Jika telah dilakukan berkali-kali maka KEMANTAPAN YANG ADA ITULAH YANG INSYA ALLAH MERUPAKAN PETUNJUK-NYA, DAN ITULAH YANG LEBIH DIIKUTI. Tetapi perlu diingat, bahwa informasi yang dominan pada diri seseorang sering yang lebih berpengaruh terhadap istikhorah, oleh karena itu perlu dilakukan berkali-kali. Dan untuk membedakan apakah itu keputusan yang dominan adalah selera semata atau dominasi istikharah agak sulit, kecuali dengan berkali-kali, sekalipun salah satu tanda bahwa itu adalah petunjuk dari Allah adalah dimudahkannya urusan tersebut, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya alamat yang mutlak.

Juga apabila persoalan apakah diri kita jual mahal atau tidak tergantung pada niat dan representasinya, karena itu Rasulullah menegaskan, "Sesungguhnya segala pekerjaan membutuhkan niat dan pekerjaan seseorang sangat dipengaruhi oleh niat. Barang siapa yang niatnya kepada Allah maka dia (dalam representasinya) akan sesuai dengan Allah dan Rasulnya, dan barang siapa yang niatnya kepada dunia atau wanita maka (representasinya) akan sesuai apa yang diniatkan" (Muttafaq alaih).

Untuk menghindarkan tuduhan itu maka buktikan dalam representasi kita sehari-hari, sebagai contoh bahwa tuduhan itu akan benar jika memang salah satu kebiasaan kita adalah chatting dengan teman-teman baru yang notabenenya lebih banyak para laki-laki untuk seorang perempuan, dan sebaliknya, berbeda misalnya kalau teman yang kita ajak chatting adalah para wanita atau dalam bahasa yang digunakan bersifat umum, tidak ada yang rahasia sehingga tidak khawatir kalau harus dibaca orang. Ini hanya sekelumit contoh yang barangkali kurang tepat untuk yang bingung memilih pasangannya. Tapi ada hal yang cukup penting untuk diketahui bahwa UNTUK MENGENAL SESEORANG TENTU TIDAK CUKUP DENGAN BERKOMUNIKASI SESAAT.

Pernah suatu hari Sahabat Umar bin al-Khattab mendengar seseorang memuji orang lain hingga Umar agak merasa keheranan lalu Umar bertanya, "Apakah kamu pernah bepergian dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertransaksi dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah bertetangga dengannya?" Jawab orang tadi, "Belum." "Apakah kamu pernah melihatnya dia melakukan shalat?" Jawab orang tersebut, "Ya, aku melihat dia rajin shalat, menunaikannya sesuai dengan waktunya." Lalu kata Umar, "Kalau begitu anda belum kenal dengan baik orang tersebut." Tetapi untuk mengenali tiga poin pertama dari empat poin tersebut bisa dilakukan dengan cara MENANYAKAN ORANG YANG PALING DEKAT DENGANNYA, DAN YANG DAPAT DIPERCAYA.

Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik baginya, meskipun PILIHAN TERBAIK BAGINYA TIDAK SELALU IDENTIK DENGAN PILIHAN YANG TERBAIK BAGI UMUM, KARENA SESEORANG TENTU MEMILIKI PERTIMBANGAN YANG SANGAT KHUSUS YANG TIDAK DIMILIKI ORANG LAIN.

Dari uraian diatas, kebingungan untuk memilih pasangan hidup dapat diatasi dengan beberapa tips berikut ini,

  1. pilihlah karena agamanya,
  2. kenali dengan cara menanyakan kepada orang yang paling dekat dengannya dan dapat kita percaya,
  3. letakkan niat pada tempat yang benar, karena segala perbuatan membutuhkan dan sangat dipengaruhi niat,
  4. sholat istikhorah untuk mohon petunjuk kepada Allah juga patut dilakukan,
  5. apabila semua ini telah dilakukan, maka pasrahkan diri kepada Allah SWT akan keputusan-Nya, jangan keluh kesah, karena itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah,
  6. dan terakhir, jangan bosan untuk berbekal ilmu pernikahan :), karena berbekal ilmu adalah lebih baik daripada tidak membekali diri pada saat masuk ke dunia yang baru.

Masalah jodoh hanya Allah yang tahu, siapa pasangan kita sebenarnya, itulah rahasia Allah. Kita hanya diminta untuk berusaha, dan Allah-lah penentunya, terkadang Dia menentukan pilihan-Nya itu diluar dugaan dan rasio kita sebagai seorang manusia, tapi itulah ketentuan Allah. Jika memang harus menerima kenyataan di luar kehendak kita, maka ingatlah untuk tidak sembarangan memberikan cinta kepada siapapun, karena kadar cinta kita kepada Allah harus lebih tinggi dari itu semua. Yang terbaik menurut Allah, itulah yang paling utama.

Selamat berjuang akhi, selamat berjuang ukhti..., mulailah dengan bismillah dan niat yang benar, insya Allah, ridho-Nya akan selalu menghampiri, dan semoga Allah selalu memudahkan urusan antum.

Wallahu alam bi showab,

=====
Author: Abu Aufa
Maraji': Konsultasi Ustadz Bukhori Yusuf, Lc, MA dan Ustadz M. Ihsan Tandjung, Lc

AbuBa_8Filemiles

AbuBa_8@yahoo.com

http://www.istanasurgaku.blogspot.com

SUARA YANG DIDENGAR MAYAT

Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga: Keluarga, Hartanya, Dan Amalnya.

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu Tinggal Bersamanya; Keluarga Dan Hartanya Akan Kembali Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Ketika Roh Meninggalkan Jasad...
Terdengar Suara Dari Langit Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia,
Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan,
Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia,
Atau Dunia Yang Telah Menguburmu."

Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat
Mengapa Kini Terkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih
Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar
Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia
Mengapa Kini Raib Tak Bersuara

Ketika Mayat Siap Dikafan...
Suara Dari Langit Terdengar Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha Allah
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan
Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu
Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

Ketika Mayat Diusung....
Terdengar Dari Langit Suara Memekik,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Ketika Mayat Siap Dishalatkan.... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan.. Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Ketika Mayat Dibaringkan Di Liang Lahat....
Terdengar Suara Memekik Dari Langit,
"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia
Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini
Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Dahulu Kau Tertawa Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya Sendirian....
Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku..... Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintahku Hari Ini,.... Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya. Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang Kembalilah Kepada Tuhanmu Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku

Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal.

ilmu adalah investasi tiada henti