ikatlah ilmu dengan menuliskannya"sanitomichie"

Thursday, July 19, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Karakter Baik dan Kuat
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

MASALAH karakter adalah masalah inti yang menyebabkan umat Islam banyak tertinggal dalam menjalankan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi.
Karakter yang lemah, seperti sikap minder, kurang percaya diri, tidak mandiri, dan malas, biasanya menyebabkan potensi yang ada tidak tergali dan tidak berkembang. Padahal, itu semua merupakan suatu kekuatan nyata yang akan mengharumkan umat Islam. Begitupun karakter yang buruk, seperti sikap egois, serakah, licik, dan materialistis, akan membuat kekuatan dan kemampuan yang telah ada tidak membawa dampak dan manfaat yang luas bagi kepentingan maupun kemajuan umat.
Sekali lagi, inti dalam persoalan karakter adalah qalbu atau hati nurani. Oleh karena itu, kita perlu manajemen qalbu karena dengan upaya mengelola hati terbukti efektif dapat memenuhi dahaga kesejukan dan ketenteraman hati yang sangat langka dan mahal, menyehatkan dan membersihkan hati-hati yang kotor dan berpenyakit, menerangi hati yang gelap dan bersamaan dengan itu membakar semangat dan menggelorakan hati yang lemah dan lesu. Pada akhirnya perubahan suasana qalbu ini akan sangat berdampak pada perubahan perilaku seseorang.
Karakter itu terdiri dari empat hal. Pertama, ada karakter lemah; misalnya penakut, tidak berani mengambil risiko, pemalas, cepat kalah, belum apa-apa sudah menyerah, dan sebagainya. Kedua, karakter kuat; contohnya tangguh, ulet, mempunyai daya juang yang tinggi, atau pantang menyerah. Ketiga, karakter jelek; misalnya licik, egois, serakah, sombong, pamer, dan sebagainya. Keempat, karakter baik; seperti jujur, terpercaya, rendah hati, dan sebagainya.
Hari ini, yang kita rindukan adalah --meskipun secara lambat laun-- negeri ini akan bangkit kembali. Ini bisa terjadi bila dua karakter, yaitu karakter yang kuat dan baik bersinergi. Misalkan dia tangguh, ulet, tapi tetap rendah hati dan merupakan pekerja keras yang sangat gigih. Dia berprestasi gemilang tapi ikhlas. Inilah yang diharapkan dari setiap pertemuan kita. Yakni, mewujudkan manusia-manusia tangguh, berani, gigih, ulet, jujur, rendah hati, dapat dipercaya, dan sebagainya. Allahu Akbar!
Satu hal yang patut kita sayangkan kemudian adalah, karakter manusia Indonesia khususnya kaum Muslim, tidak terlalu sesuai dengan karakter yang diinginkan di atas. Ternyata, banyak manusia di Indonesia yang mempunyai kebiasaan korupsi, dari yang raksasa sampai yang kecil-kecilan. Hal ini disebabkan kita mempunyai jiwa miskin.
Pernah suatu ketika di Mekah, tepatnya di Masjid Al Haram, di saat buka saum ada beberapa orang pengemis membawa kain yang tampaknya penuh dan isinya terlihat berat. Mereka meminta-minta sampai kain bawaannya semakin banyak. Ternyata, dia melakukan itu karena merasa bahwa belum tentu besok hari akan mendapatkan kesempatan yang sama.
Orang yang miskin jiwa seperti itu terus tumbuh. Orang-orang yang licik, koruptor, yang mengambil harta orang lain tanpa hak, sebetulnya mereka adalah orang-orang miskin. Walaupun jabatannya tinggi, kedudukan, dan hartanya berlimpah, tetapi jiwanya tetap miskin. Dia akan terus mengambil apa saja yang ada di hadapannya meski itu bukan miliknya.
Saat pembagian beras untuk orang miskin (raskin), mereka menjadi orang pertama yang mengambil beras itu. Sebelum sampai kepada yang berhak sudah dimakan lebih dulu oleh oknum-oknum yang miskin jiwa tersebut. Atau kalau tidak, beras itu mereka timbun untuk kemudian dijual.
Orang yang miskin jiwa, bila naik jabatan akan sibuk mencari rampasan. Akibatnya, kewajibannya menjadi terbengkalai. Miskin jiwa, meski kaya harta; dia akan merusak. Oleh karena itu, jangan mencari pasangan yang kaya secara lahiriah. Carilah manusia yang kaya batin dengan penuh kemuliaan.
Kekayaan lahir itu hanyalah topeng. Orang yang hanya mempertontonkan topeng adalah kekanak-kanakan. Harta yang didapat dengan tidak halal tidak akan membuat bahagia. Bahkan akan jadi racun untuk keluarga. Di sinilah kiranya kita perlu melakukan pemetaan karakter agar kita dapat mengetahui tentang aspek positif dan negatif dari karakter-karakter yang cenderung ada dalam diri manusia. Dari kuadran karakter tersebut ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan.
a. Karakter buruk bertemu dengan karakter lemah, ini tidak berbahaya. Karena orang yang berniat jahat, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.
b. Karakter baik bertemu dengan karakter lemah, ini yang banyak ada pada diri kita. Kebanyakan dari kita mempunyai sifat-sifat yang baik, tetapi tidak mempunyai etos yang tinggi untuk mengembangkan diri.
c. Karakter buruk bertemu dengan karakter kuat. Karakter ini yang sangat berbahaya karena dia mempunyai sifat yang buruk dan gigih serta ulet di dalam melakukan kejahatannya.
d. Karakter baik bertemu dengan karakter kuat, ini yang diharapkan akan mengubah negeri kita. Karena karakter ini yang mempunyai sifat baik dan etos yang tinggi untuk berkembang dan mengubah ke arah yang lebih baik.
Sebenarnya membangun karakter pribadi seorang Muslim ini dimulai sejak dini. Dalam hal ini pembangunan karakter pribadi Muslim membutuhkan dukungan berbagai pihak, berbagai aspek. Di atas semua itu adalah apa yang disebut oleh buku ini "sistem yang kondusif". Ini bisa saja bermula dari keluarga, entah itu dari orang tua sendiri, bapak dan ibu, paman dan bibi, dan kakak-kakak atau adik-adik; semuanya secara tidak langsung memberikan kontribusi tersendiri yang berpengaruh terhadap pertumbuhan karakter. Di lingkungan lainnya, yaitu lingkungan luar keluarga, seperti pergaulan teman sebaya, hubungan antartetangga, bahkan organisasi sekalipun pada dasarnya turut menumbuhkembangkan karakter pribadi seorang Muslim.
Oleh karena itu, tepat kiranya riwayat yang mengatakan, "Bergaul dengan tukang minyak wangi akan terciprat bau harumnya. Sementara bergaul dengan tukang pandai besi akan tersengat hawa panasnya." Riwayat ini jelas memperlihatkan kepada kita sejumlah pengaruh yang bisa muncul apabila kita ingin menumbuhkan karakter pribadi kita. Kalau kita ingin karakter pribadi kita tumbuh makin baik, makin sempurna, minimal kita perlu memilih pergaulan yang akan membuat kita terjaga, tentu saja terjaga dari pergaulan yang justru menumbuhkan kepribadian negatif.
Kita berdoa semoga generasi umat ini senantiasa tumbuh menjadi karakter pribadi Muslim yang positif. Positif tidak saja memahami makna-makna ajaran Islam, tetapi juga positif dalam memperlihatkan bagaimana ajaran Islam itu sebenarnya rahmatan lil 'alamin melalui diri kita tentu saja. Wallahualam.***

Tuesday, July 17, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Keunikan Orang Sunda
Oleh IIP D. YAHYA

ORANG Sunda itu unik. Mereka menerima pluralitas dan sangat terbuka. Orang Sunda termasuk masyarakat yang selalu siap menerima perubahan konstruktif. Jika demi kemajuan, tanpa ragu mereka akan melaksanakannya dengan disiplin. Ketika pemerintah Hindia Belanda pada pertengahan abad XIX menetapkan aksara Walanda (Latin) sebagai pengganti huruf Arab, masyarakat menerimanya tanpa protes yang berarti (Mikihiro Moriyama, 2005).

Dengan aksara itulah orang Sunda sekarang mengekspresikan olah pikirnya. Di luar itu komunitas pesantren sampai kini tetap mempertahankan huruf Arab dalam tradisi ngalogat-nya. Sementara upaya menghidupkan kembali aksara kaganga yang dianggap sebagai asli Sunda, melalui perangkat Perda Pemda Jabar, hingga kini justru belum menampakkan hasil memuaskan.

Di masa revolusi, ketika orang Sunda bersepakat untuk mendukung kemerdekaan, mereka paling depan membela nasionalisme Indonesia. Di bawah panji Siliwangi, mereka membakar Kota Bandung dan hijrah ke Yogyakarta, demi mempertahankan harga diri dan eksistensi negara baru Indonesia. Mereka lalu menghentikan upaya kudeta Muso di Madiun dan menaklukkan kegigihan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Ketika Kartosuwiryo mengobarkan perlawanan kepada NKRI, tanpa mendatangkan pasukan bantuan dari luar territorialnya, dengan pagar betis masyarakat, perlawanan DI/TII dapat dipatahkan. Tahun 1955, ketika kondisi masih sangat memprihatinkan, warga Bandung sukses menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika. Itulah sebagian bukti kemampuan untuk berdisiplinan, kegigihan berjuang, dan kepercayaan diri yang sangat kuat dari masyarakat Sunda.

Pada era Orde Lama, orang Sunda banyak yang mendukung PNI. Ketika Orde Baru mereka banyak yang mendukung Golkar bahkan hingga sekarang. Saat reformasi bergulir, wacana partai lokal yang digagas akan dan bisa lebih nyunda, ternyata tinggal sekadar wacana. Jika dilihat dari fenomena partai politik itu, orang Sunda jelas-jelas selalu menolak hal-hal yang bersifat eksklusif.

Satu hal yang menarik dicatat, masyarakat Sunda ternyata tidak begitu memasalahkan dari mana asal pemimpinnya. Mereka menerima Dewawarman yang datang dari India sebagai raja pertama Salakanagara hingga Soekarno sebagai Presiden Indonesia pertama yang kelahiran Blora. Pituin atau bukan pituin Sunda. Asli atau pendatang.

Siapa pun, asal mengerti isi hati dan harapan massa Sunda, ia akan diterima. Nasution atau Kawilarang bisa memimpin Divisi Siliwangi. Soekarno bisa diterima massa 'marhaen'. Kartosuwiryo dapat memukau massa 'Islam'. Begitu pula Daeng Kanduruan Ardiwinata bisa menjadi Hoofd Bestuur Paguyuban Pasundan yang pertama. Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, masing-masing punya massa fanatiknya di kalangan orang Sunda.

Jadi bukanlah sesuatu yang aneh jika anggota DPRD Jawa Barat berasal dari berbagai etnik, sebab mereka pada realitasnya dianggap lebih mewakili isi hati dan harapan orang Sunda. Lalu mengapa yang terpilih bukan orang Sunda 'asli'? Kalau mau jujur melihat hasil Pemilu, tentu karena yang "asli" itu dianggap tidak atau kurang mewakili isi hati dan harapan orang Sunda sendiri. Siapapun, asal setia pada kepentingan massa Sunda, mereka akan berdisiplin mendukung kepemimpinannya.

Dalam dunia intelektual dan akademik juga berlaku hal seperti itu. Rektor perguruan tinggi di Bandung bisa datang dari etnik mana saja asal mumpuni dan diterima civitas academic-nya. Orang seperti almarhum Doddy Tisna Amidjaja saat menjadi Rektor ITB, pertama-tama karena ia mumpuni. Bahwa ia tokoh Sunda, hal itu menjadi nilai lebihnya. Buktinya, sebagai tanda cintanya kepada Sunda, ia mewakafkan warisan intelektualnya sebagai perpustakaan, salah satu di antara sedikit perpustakaan mengenai kesundaan di Bandung.

Sekarang setelah dunia ilmu sejarah Sunda kehilangan pakar sekelas Edi S. Ekadjati, banyak yang berpaling kepada Mikihiro Moriyama, intelektual dari Jepang. Sampai saat ini, sudah ada dua jurnal ilmiah dari dua perguruan tinggi ternama di Bandung, meminta Moriyama untuk menggantikan posisi almarhum Ekadjati sebagai redaktur ahli. Dan permintaan yang sejenis masih mengantre menunggu persetujuan. Bagi yang mengenal Moriyama, tak syak lagi akan menyebutnya sebagai orang yang sangat nyunda.

Maka kecintaan kepada Sunda itu bisa datang dari mana saja dan tidak mungkin dibendung. Begitu pula kemampuan untuk membuktikan kecintaan itu tak mungkin dihasilkan dari suatu kebohongan dan ketidakjujuran. Dan cinta selalu dibuktikan dengan pengorbanan. Demikianlah kita bisa memahami mengapa masyarakat Sunda begitu memimpikan munculnya kembali sosok Oto Iskandar di Nata (Otista), martir revolusi yang gugur di Mauk itu.

Ketika tampil di panggung volksraad, Otista bukanlah anggota yang ditunjuk Tuan Gubernur Jenderal. Ia anggota yang dipilih oleh dewan-dewan kota untuk mewakili Pasundan. Otista dinilai sebagai tokoh yang mengerti isi hati dan harapan urang Sunda dan kebetulan ia pituin Sunda kelahiran Bojongsoang. Karena itu ia bisa duduk di volksraad selama 10 tahun. Pada zaman pendudukan Jepang ia memimpin koran Tjahaja, satu-satunya koran di Bandung. Pada era kemerdekaan ia menjadi anggota PPKI dan BPUPKI, lalu menteri negara bidang pertahanan. Maka tak salah kalau kecintaan orang Sunda tamplok kepadanya. Ia telah berjuang dan berkorban.

Salah satu pendapat Otista yang sangat menarik ditelaah, diungkapkan oleh Barli Sasmitawinata dalam Nina H. Lubis (2003), "Saya ingin menyarankan (agar orang Sunda) menjadi bangsa yang jembar, luas pandangannya dan besar jasanya. Jangan dibatasi oleh (sekedar) totopong, tetapi (bagian dari) bangsa Indonesia yang bersedia bekerja sama dengan suku bangsa Indonesia lainnya untuk membangun Indonesia damai sejahtera."

Menurut alur pemikiran Otista, benda seperti totopong dan atribut sejenisnya, itu bukan jiwa Sunda melainkan ciri luar saja. Sunda bukanlah klaim atau cap yang sifatnya verbal dan artifisial belaka, melainkan kerja konkret yang dibangun dari wawasan yang luas dan selalu menjaga konsensus nasionalisme Indonesia. Gawe rahayu atau kerja nyata itu tidak berpijak pada atribut luar tetapi pada niat yang kuat dan bersih dari dalam hati.

Maka, kini pertanyaan penting dikembalikan kepada para pemimpin atau yang ingin jadi pemimpin Sunda, juga kepada tokoh atau yang merasa menjadi tokoh Sunda, sudahkah mereka memahami isi hati dan harapan orang Sunda itu? Banyak contoh dari tokoh-tokoh yang menjadi panineungan orang Sunda sepanjang sejarahnya. Dan bukan sesuatu yang nista jika kita bertanya kepada "orang lain", bagaimana sebenarnya cara memahami isi hati dan harapan serta keunikan masyarakat Sunda itu. Mari kita lihat buktinya.***

Penulis, penulis buku Ajengan Cipasung (2006), tinggal di Bandung.

Kujang kas jawa barat/ e-mail-AbuBa_8@yahoo.co.co.id

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Menguak Belenggu Waktu
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

WAKTU seakan berlari dengan tempo yang tinggi. Tak terasa, tahun 2006 berlalu dan kini kita melangkahkan kaki di tahun 2007. Semoga di tahun 2007 kita menjadi lebih baik dan lebih mendekat kepada Allah dari tahun-tahun sebelumnya.

Waktu bagaikan "gudang terbatas" yang hanya menyediakan kita 86.400 detik per hari untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apabila kita gagal dalam menggunakannya, waktu yang telah berlalu itu tidak akan pernah kembali. Ia akan hangus, tanpa sempat termaknai apalagi untuk diinvestasi. Ada baiknya kita meluangkan waktu di tengah ketersempitan itu untuk sekadar sabbatical (isi baterai) sejenak. Mari kita renungkan perjalanan kita sebelumnya. Ke garis orbit manakah selama ini kita melangkah? Akankah kita kuat erat menggenggam orbit spiritual kita nantinya? Atau malah sebaliknya, akankah kita terlempar dan luluh lantak karenanya? Seperti kaum Tsamud yang terempas dari orbit karena menolak aturan ketetapan hukum konvergen milik-Nya.

Samakah kita dengan mereka (kaum Tsamud) yang begitu congkak menolak Grand Unified milik Sang Mahasempurna? Sahabatku, kejarlah cita-cita setinggi-tingginya! Yakinlah, karena Sifat Allah Yang Mahatinggi itu sedikitnya telah ada dalam "God spot" kita. Jangan pernah takut menghadapi kegagalan karena kita telah mengarahkan laras senapan kita ke matahari dengan mission statement berupa syahadat.

Walau tak terjangkau sang matahari, paling tidak peluru kita akan terbang jauh, lebih tinggi dibanding mengarahkan larasnya sejajar dengan bahu kita. Yakinlah, kita bisa melampauinya karena kita adalah pribadi yang transendental dan visioner. Pribadi visioner kita yang menembus dan mengatasi, sedangkan pribadi transendental yang senantiasa mencari dan selalu mendekati Zat Allah. Baik suka maupun tidak suka, sadar maupun tidak, menyadari akan entitas Allah yang sebenarnya ada dalam diri kita.

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari." (Q.S. Ar Ra'du: 15)

Manusia akan selalu mencari nur Allah. Ketika ia mencari rumah nan megah dan taman indah yang luas, sesungguhnya ia lupa bahwa ia tengah mencari sifat Allah Yang Mahaluas. Kala ia begitu haus akan kedudukan yang terhormat, sesungguhnya yang ia inginkan adalah sifat Allah Yang Mahatinggi dan Mahamulia.

Demikian pula saat ia begitu silau dengan berlian dan permata nan gemerlap, sesungguhnya ia terlena akan fatamorgana dunia. Bahwa sifat Allah Yang Maha Bercahaya yang hakiki itulah yang sedang didambakannya.

Sahabatku, di lembar waktu kekinian 2007 ini, alam semesta makro dan mikrokosmos kembali mengajak kita untuk bertawaf. Kita akan memulai sebuah langkah baru, sebuah perjalanan baru. Bertawaf bersama bumi, rembulan, matahari serta triliunan bintang.

Di tengah kegelapan angkasa raya nan mahaluas, kita akan bersama-sama, bergandengan tangan dengan erat agar tak terempas, berjalan menembus ruang dan waktu, menempuh sebuah perjalanan yang panjang. Perjalanan mulia, menjalankan misi Ilahi. Selamat jalan menempuh ruang dan waktu, selamat bertawaf! ***

Monday, July 16, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Hikmah di Balik Musibah
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

AKHIR-AKHIR ini di tengah kegembiraan musim liburan sekolah, bencana kecelakaan terus melanda. Korbannya pun tidak hanya satu atau dua orang melainkan puluhan orang. Seperti jatuhnya bus pariwisata ke jurang di Cikundul Cianjur, meninggalnya pelajar akibat menghirup gas beracun, dan terakhir kecelakaan di Nagreg Kab. Bandung.

Situasi dilematis kerap dihadapi manusia. Jurang antara harapan dan kenyataan sering tak bisa dihindari. Manusia bersukacita hanya apabila yang terjadi sesuai dengan keinginan di dalam hati. Sebaliknya, hatinya menjadi marah dan berontak jika menerima ketentuan yang tidak diinginkan.

Kehidupan sesungguhnya menyimpan rahasia dan misteri ketetapan Ilahi yang kita tidak mampu memahaminya. Hal ini sebagaimana yang pernah dialami Ayahanda Azwar Anas. Menurut rencana, pada 10 November 1971 ia berangkat ke Padang. Namun, sesampainya di Bandara Kemayoran, Jakarta (Kini dipindah Ke Cengkareng), ternyata tempat duduknya di pesawat sudah diambil orang lain, padahal tiket sudah ada di tangan.

Rencana kepergiannya pun batal. Meskipun pada awalnya agak kecewa, ia pasrah. Selang beberapa waktu kemudian, Pak Azwar mendapat kabar pesawat yang seharusnya ditumpanginya itu ternyata jatuh di perairan Padang, Sumatra Barat.

Mungkin kita juga pernah mengalami peristiwa serupa. Kita merasa kecewa karena apa yang kita harapkan tidak terlaksana. Kita menyangka Allah tidak mengabulkan doa. Namun, setelah sekian lama, baru kita menyadari bahwa Allah mempunyai rencana yang lebih baik untuk kita.

Oleh karena itu, manusia harus senantiasa mensyukuri setiap ketentuan Allah SWT. Bukan saja karena pandangan manusia yang terbatas dalam menilai mana keputusan yang terbaik bagi dirinya, namun juga karena itu merupakan bukti tauhid atau kecintaan kepada Allah. Manusia diuji untuk senantiasa menerima apa pun kehendak Allah, suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.

Teladan yang diberikan oleh peristiwa Idul Adha, di antaranya adalah bagaimana menerima setiap keputusan dari Allah Robbul Alamin, sepahit apa pun. Perayaan Idul Adha sesungguhnya menghidupkan kembali keteladanan insan-insan yang telah diuji oleh sebuah keputusan yang teramat berat untuk ditanggung oleh manusia di mana pun, sepanjang sejarah.

Tugas yang amat berat harus diterima oleh Nabi Ibrahim a.s. yang diperintahkan untuk menyembelih putranya sendiri, Ismail a.s., yang amat dicintainya. Siti Hajar, sang ibu yang telah berjuang keras menyelamatkan si buah hati dari keganasan gurun pasir, diuji keikhlasannya untuk melepas buah hatinya. Demikian juga Ismail dicoba dengan perintah untuk menyerahkan nyawanya.

Keputusan Allah sesungguhnya juga adalah ujian bagi manusia. Akankah kita menyerahkan diri, hidup dan mati kita untuk Allah, serta menerima setiap ketentuan-Nya? Orang yang senantiasa ikhlas menerima kepastian-Nya adalah manusia yang akan terbebas dari derita dunia. Merekalah yang akan merasakan kebahagiaan dunia dan akhirat selama-lamanya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Q.S. Al Baqarah, 216). Wallahu-a'lam. ***dikutip dari PR 16 Juli 2007/e-mail-AbuBa_8@yahoo.co.id

Sunday, July 15, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Surat Cinta dari Manusia-Manusia yang Malamnya Penuh Cinta
Kami tujukan kepada : Insan yang tersia-sia malamnya


Wahai orang-orang yang terpejam matanya, Perkenankanlah kami, manusia-manusia malam menuliskan sebuah surat cinta kepadamu. Seperti halnya cinta kami pada waktu malam-malam yang kami rajut di sepertiga terakhir. Atau seperti cinta kami pada keagungan dan rahasianya yang penuh pesona. Kami tahu dirimu bersusah payah lepas tengah hari berharap intan dan mutiara dunia. Namun kami tak perlu bersusah payah, sebab malam-malam kami berhiaskan intan dan mutiara dari surga.

Wahai orang-orang yang terlelap, Sungguh nikmat malam-malammu. Gelapnya yang pekat membuat matamu tak mampu melihat energi cahaya yang tersembunyi di baliknya. Sunyi senyapnya membuat dirimu hanyut tak menghiraukan seruan cinta. Dinginnya yang merasuk semakin membuat dirimu terlena,menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya. Aduhai kau sangat menikmatinya.

Wahai orang-orang yang terlena, Ketahuilah, kami tidak seperti dirimu !! Yang setiap malam terpejam matanya, yang terlelap pulas tak terkira. Atau yang terlena oleh suasananya yang begitu menggoda. Kami tidak seperti dirimu !! Kami adalah para perindu kamar di surga. Tak pernahkah kau dengar Sang Insan Kamil, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya di surga itu ada kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Disediakan untuk mereka yang memberi makan orang-orang yang memerlukannya, menyebarkan salam serta mendirikan sholat pada saat manusia terlelap dalam tidur malam." Sudahkah kau dengar tadi ? Ya, sebuah kamar yang menakjubkan untuk kami dan orang-orang yang mendirikan sholat pada saat manusia-manusia yang lain tertutup mata dan hatinya.

Wahai orang-orang yang keluarganya hampa cinta, Kau pasti pernah mendengar namaku disebut. Aku Abu Hurairah, Periwayat Hadist. Kerinduanku akan sepertiga malam adalah hal yang tak terperi. Penghujung malam adalah kenikmatanku terbesar. Tapi tahukah kau ? Kenikmatan itu tidak serta merta kukecap sendiri. Kubagi malam-malamku yang penuh syahdu itu menjadi tiga. Satu untukku, satu untuk istriku tercinta dan satu lagi untuk pelayan yang aku kasihi. Jika salah satu dari kami selesai mendirikan sholat, maka kami bersegera membangunkan yang lain untuk menikmati bagiannya. Subhanallah, tak tergerakkah dirimu ? Pedulikah kau pada keluargamu ? Adakah kebaikan yang kau inginkan dari mereka ? Sekedar untuk membangunkan orang-orang yang paling dekat denganmu, keluargamu ?

Lain lagi dengan aku, Nuruddin Mahmud Zanki. Sejarah mencatatku sebagai Sang Penakluk kesombongan pasukan salib. Suatu kali seorang ulama tersohor Ibnu Katsir mengomentari diriku, katanya, " Nuruddin itu kecanduan sholat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar." Kemenangan demi kemenangan aku raih bersama pasukanku. Bahkan pasukan musuh itu terlibat dalam sebuah perbincangan seru. Kata mereka, " Nuruddin Mahmud Zanki menang bukan karena pasukannya yang banyak. Tetapi lebih karena dia mempunyai rahasia bersama Tuhan". Aku tersenyum, mereka memang benar. Kemenangan yang kuraih adalah karena do'a dan sholat-sholat malamku yang penuh kekhusyu'an. Tahukah kau dengan orang yang selalu setia mendampingiku ? Dialah Istriku tercinta, Khotun binti Atabik. Dia adalah istri shalehah di mataku, terlebih di mata Alloh. Malam-malam kami adalah malam penuh kemesraan dalam bingkai Tuhan.

Gemerisik dedaunan dan desahan angin seakan menjadi pernak-pernik kami saat mendung di mata kami jatuh berderai dalam sujud kami yang panjang. Kuceritakan padamu suatu hari ada kejadian yang membuat belahan jiwaku itu tampak murung. Kutanyakan padanya apa gerangan yang membuatnya resah. Ya Alloh, ternyata dia tertidur, tidak bangun pada malam itu, sehingga kehilangan kesempatan untuk beribadah. Astaghfirulloh, aku menyesal telah membuat dia kecewa. Segera setelah peristiwa itu kubayar saja penyesalanku dengan mengangkat seorang pegawai khusus untuknya. Pegawai itu kuperintahkan untuk menabuh genderang agar kami terbangun di sepertiga malamnya.

Wahai orang-orang yang terbuai, Kau pasti mengenalku dalam kisah pembebasan Al Aqso, rumah Allah yang diberkati. Akulah pengukir tinta emas itu, seorang Panglima Perang, Sholahuddin Al-Ayyubi. Orang-orang yang hidup di zamanku mengenalku tak lebih dari seorang Panglima yang selalu menjaga sholat berjama'ah. Kesenanganku adalah mendengarkan bacaan Alqur'an yang indah dan syahdu. Malam-malamku adalah saat yang paling kutunggu. Saat-saat dimana aku bercengkerama dengan Tuhanku. Sedangkan siang hariku adalah perjuangan-perjuangan nyata, pengejawantahan cintaku pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terlena, Pernahkah kau mendengar kisah penaklukan Konstantinopel ? Akulah orang dibalik penaklukan itu, Sultan Muhammad Al Fatih. Aku sangat lihai dalam memimpin bala tentaraku. Namun tahukah kau bahwa sehari sebelum penaklukan itu, aku telah memerintahkan kepada pasukanku untuk berpuasa pada siang harinya. Dan saat malam tiba, kami laksanakan sholat malam dan munajat penuh harap akan pertolongan-Nya. Jika Alloh memberikan kematian kepada kami pada siang hari disaat kami berjuang, maka kesyahidan itulah harapan kami terbesar. Biarlah siang hari kami berada di ujung kematian, namun sebelum itu, di ujung malamnya Alloh temukan kami berada dalam kehidupan. Kehidupan dengan menghidupi malam kami.

Wahai orang-orang yang gelap mata dan hatinya, Pernahkah kau dengar kisah Penduduk Basrah yang kekeringan ? Mereka sangat merindukan air yang keluar dari celah-celah awan. Sebab terik matahari terasa sangat menyengat, padang pasir pun semakin kering dan tandus. Suatu hari mereka sepakat untuk mengadakan Sholat Istisqo yang langsung dipimpin oleh seorang ulama di masa itu. Ada wajah-wajah besar yang turut serta di sana, Malik bin Dinar, Atho' As-Sulami, Tsabit Al-Bunani. Sholat dimulai, dua rakaat pun usai. Harapan terbesar mereka adalah hujan-hujan yang penuh berkah. Namun waktu terus beranjak siang, matahari kian meninggi, tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Mendung tak datang, langit membisu, tetap cerah dan biru. Dalam hati mereka bertanya-tanya, adakah dosa-dosa yang kami lakukan sehingga air hujan itu tertahan di langit ? Padahal kami semua adalah orang-orang terbaik di negeri ini ? Sholat demi sholat Istisqo didirikan, namun hujan tak kunjung datang.

Hingga suatu malam, Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani terjaga di sebuah masjid. Saat malam itulah, aku, Maimun, seorang pelayan, berwajah kuyu, berkulit hitam dan berpakaian usang, datang ke masjid itu. Langkahku menuju mihrab, kuniatkan untuk sholat Istisqo sendirian, dua orang terpandang itu mengamati gerak gerikku. Setelah sholat, dengan penuh kekhusyu'an kutengadahkan tanganku ke langit, seraya berdo'a : "Tuhanku, betapa banyak hamba-hamba-Mu yang berkali-kali datang kepada-Mu memohon sesuatu yang sebenarnya tidak mengurangi sedikitpun kekuasaan-Mu. Apakah ini karena apa yang ada pada-Mu sudah habis ? Ataukah perbendaharaan kekuasaan-Mu telah hilang ? Tuhanku, aku bersumpah atas nama-Mu dengan kecintaan-Mu kepadaku agar Engkau berkenan memberi kami hujan secepatnya." Lalu apa gerangan yang terjadi ? Angin langsung datang bergemuruh dengan cepat, mendung tebal di atas langit. Langit seakan runtuh mendengar do'a seorang pelayan ini. Do'aku dikabulkan oleh Tuhan, hujan turun dengan derasnya, membasahi bumi yang tandus yang sudah lama merindukannya.

Malik bin Dinar dan Tsabit Al Bunani pun terheran-heran dan kau pasti juga heran bukan ? Aku, seorang budak miskin harta, yang hitam pekat, mungkin lebih pekat dari malam-malam yang kulalui. Hanya manusia biasa, tapi aku menjadi sangat luar biasa karena doaku yang makbul dan malam-malam yang kupenuhi dengan tangisan dan taqarrub pada-Nya.

Wahai orang-orang yang masih saja terpejam, Penghujung malam adalah detik-detik termahal bagiku, Imam Nawawi. Suatu hari muridku menanyakan kepadaku, bagaimana aku bisa menciptakan berbagai karya yang banyak ? Kapan aku beristirahat, bagaimana aku mengatur tidurku ? Lalu kujelaskan padanya, "Jika aku mengantuk, maka aku hentikan sholatku dan aku bersandar pada buku-bukuku sejenak. Selang beberapa waktu jika telah segar kembali, aku lanjutkan ibadahku." Aku tahu kau pasti berpikir bahwa hal ini sangat sulit dijangkau oleh akal sehatmu. Tapi lihatlah, aku telah melakukannya, dan sekarang kau bisa menikmati karya-karyaku.

Wahai orang-orang yang tergoda, Begitu kuatkah syetan mengikat tengkuk lehermu saat kau tertidur pulas ? Ya, sangat kuat, tiga ikatan di tengkuk lehermu !! Dia lalu menepuk setiap ikatan itu sambil berkata, "Hai manusia, Engkau masih punya malam panjang, karena itu tidurlah !!". Hei, Sadarlah, sadarlah, jangan kau dengarkan dia, itu tipu muslihatnya ! Syetan itu berbohong kepadamu. Maka bangunlah, bangkitlah, kerahkan kekuatanmu untuk menangkal godaannya. Sebutlah nama Alloh, maka akan lepas ikatan yang pertama. Kemudian, berwudhulah, maka akan lepas ikatan yang kedua. Dan yang terakhir, sholatlah, sholat seperti kami, maka akan lepaslah semua ikatan-ikatan itu.

Wahai orang-orang yang masih terlelap, Masihkah kau menikmati malam-malammu dengan kepulasan ? Masihkah ? Adakah tergerak hatimu untuk bangkit, bersegera, mendekat kepada-Nya, bercengkerama dengan-Nya, memohon keampunan-Nya, meski hanya 2 rakaat ? Tidakkah kau tahu, bahwa Alloh turun ke langit bumi pada 1/3 malam yang pertama telah berlalu. Tidakkah kau tahu, bahwa Dia berkata, "Akulah Raja, Akulah Raja, siapa yang memohon kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberi, dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku akan Ku ampuni. Dia terus berkata demikian, hingga fajar merekah.

Wahai orang-orang yang terbujuk rayu dunia, Bagi kami, manusia-manusia malam, dunia ini sungguh tak ada artinya. Malamlah yang memberi kami kehidupan sesungguhnya. Sebab malam bagi kami adalah malam-malam yang penuh cinta, sarat makna. Masihkah kau terlelap ? Apakah kau menginginkan kehidupan sesungguhnya ? Maka ikutilah jejak kami, manusia-manusia malam. Kelak kau akan temukan cahaya di sana, di waktu sepertiga malam. Namun jika kau masih ingin terlelap, menikmati tidurmu di atas pembaringan yang empuk, bermesraan dengan bantal dan gulingmu, bergeliat manja di balik selimutmu yang demikian hangatnya, maka surat cinta kami ini sungguh tak berarti apa-apa bagimu. Semoga Alloh mempertemukan kita di sana, di surga-Nya, mendapati dirimu dan diri kami dalam kamar-kamar yang sisi luarnya terlihat dari dalam dan sisi dalamnya terlihat dari luar. Semoga...

Wassalamu'alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,
(Manusia-Manusia Malam)

tary_a2n hasanah"
tary_a2nhasanah@yahoo.com / Dudung.net

Saturday, July 14, 2007


Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Memilih Pergaulan

Tidakkah kamu perhatikan orang orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman...? Orang orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan( pula ) dari golongan mereka.Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan,sedang mereka mengetahui.Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang keras.Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan ( QS al-Mujaadilah[58]:14-15)

Allah Azza Wa Jalla telah tegas tegas melarang hamba hamba-Nya berteman denagn syetan.karena " Barang siapa yang mengambil syetan menjadai temannya,maka syetan itu adalah teman yang seburuk buruknya" ( QS an-nisaa'[4]:38). Seseorang bisa tergelincir bergaul atau berteman dengan syetan dalam arti sesungguhnya.Ia dengan sadar menjadikan syetan sebagai pelindung dan penolongnya serta menjadikannya sebagai pendamping dan pemberi kekuatan saat menolong orang lain yang datang membutuhkan pertolongan.

Selain itu,berteman dengan syetan bisa juga dalam wujud lain,yakni bergaul dengan mereka yang tenggelam memperturutkan hawa nafsunya,gemar berbuat maksiat,dan selama hidupnya hanya sibuk dengan urusan dunia semata.Mereka tidak tahu arti hidup dan ,tentu saja termasuk orang-orang yang paling merugi baik didunia maupun akhirat,Mereka sangata jauh dari karunia pertolongan Allah dan sangat dekat dengan murka-Nya.

Tidakkah kamu perhatikan orang orang yang menjadikan sutu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman..? Orang orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan ( pula) dari golongan mereka.Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan,sedang mereka mengetahui,Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang keras.Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka telah kerjakan"( QS al- Mujaadilah[58]:14-15).

Dengan demikian ketidak hati hatian dalam memilih teman ,tidak bisa tidak,akan menimbulkan hal yang tidak sepele,betapa tidak~! seseorang itu ,demikian sabda Rasulallah saw,akan mengikuti pendirian( perilaku)sahabat karibnya,oleh karena itu hendaknya seseorvang memperhatikan siapakah yang harus dipergaulinya.Teman yang tidak baik adalah:Virus keempat" setelah kelalaian menjaga pandangan .lisan dan perut yang bisa metusakan hati,bahkan merusakan segalanya.

Barang siapa yang slingkungan pergaulannya orang orang yang tidak mengenal Allah ,maka hampir dapat dipastikan cita citanya,pembicaraanya,gerak geriknya,dan hobinya pasti tidak akan jauh berkisar dari hanya urusan duniawi saja dan urusan memuaskan hawa nafsu belaka.Ia akan senantiasa diliputi oleh ketamakan dan kedengkian terhadap apa yang dimiliki orang lain.kitapun memahami betul bahwa ahli dunia itu selalu dekat dengan segala sesuatu yang dapat membuat kerusakan.naik itu kerusakan akhlak,maupun-tentu semuanya ini intinya adalah-kerusakan hati.

Pembicaraan mereka hanya akan berkisar pada ujian,penghargaan,pangkat ataupun kedudukan,semua itu pasti akan membuat letih karena pembicaraan seperti itu tidak akan pernah terpuaskan,kecuali haus dan semakin haus. Lain halnya jika kita bertema dengan orang orang yang mengenal Allah denngan baik.Pembicaraan mengenai urusan duniawi sama sekali tidak akan mengotori hatinya,betapa tidak,Dunia bagi hamba Allah ini,terlamapau kecil dibandingkan dengan segala kebesaran dan keagungan Allah Azza Wa Jalla.walhasil apapun yang ada di dunia ini sekali kali tdak akan pernah membuat kotor hati,tamak ,dan rakus,karena orang orang yang mengenal Allah sangat yakij bahwa Dia yang Maha Kaya tidak akan pernah lalai mencukupi dan menjamin hamba-hamba-Nya.

Justru kalau berbicara tentang urusan dunia,mereka akan memperbincangkannya dengan lebih dalam lagi,yakni tentang seluk beluk hakikat dunia itu sendiri,Bagaimana agar dunia ini bisa menjadi ladang amal saleh dan ladang ilmu.Bagaimana agar dunia ini bisa menjadi alat untuk mengangkat kedudukan disisi Allah,disamping itu bagaimana pula agar dunia ini bisa dipakai berbekal sebanyak banyaknya untuk bertemu dengan-Nya.

Klaupun diberi aneka asesoris dunia oleh Allah,maka mereka justru akan sibuk membicarakan bagaimana mempertanggungjawabkannya dihadapan Allah,Bagaimana hisabnya diakhirat nanti.Tentu saja perkara duniawi itu tidak akan menjadi buah kekotoran hati,tetapi justru sebaliknya akan menambah kebersihan hati.Ternyata kunci dari semua iyu adalah bahwa orang orang yang membicarakannya merupakan orang orang yang mengenal Allah dan mengenal rahasia dunia.

Bergaul dengan orang orang yang mengenal Allah ,akan senantgiasa Tawashau bil haqqi wa tawashau bishshabr,Mereka akan senantiasa saling tolong menolong serta berkeinginan agar teman temannya menjadi baik da semakin baik. Mereka tidak saling memposisikan diri menjadi beban satu sama lain,tetapi justru ingin saling meringankan.Mereka akan selalu berusaha agar sahabatnya semakin mulia da semakin selamat disisi Allah .Berlainan halnya dengan para ahli dunia yang selalu ingin memanfaatkan dan menjadi beban bagi teman temannya.

Kesulitan demi kesulitan akan menjadi jalan penambaha keakraban dan dinikmati karea semua itu,tidak bisa tidak akan membuahkan pahala sabar,Hasil dari pergaulan yang benar benar diselimuti dengan kecintaan kepada allah dan ketaatan terhadap al-Islam akan tampak sangat indah dan sinergis,saling menguatkan dalam amal,ketaatan,dan juga kesucian dirinya masing masing.

Oleh karena itu berhati hatilah terhadap lingkungan pergaulan,Jika saaat ini telah berada dalam lingkungan pergaulan yang sangat kotor dan buruk,maka kita harus mempunyai keberanian untuk segera hijrah,bukan untuk meninggalkan segala galanya,melainkan karena kita harus mempunyai lingkungan yang terus menerus dapat membuahkan tenaga dan energi baru untuk menghadapi hidup ini denga baik,walhasil,bila kita bertemu dengan orang orang yang lalai,bukannya diri kita yang terbawa lalai,melainkan kitalah yang akan mengingatkan dan membantu mereka menjadi jalan keselamatan bagi dunia dan akhirat.

Berhati hatilah dalam memilih pergaulan,barang siapa bergaul dengan pandai besi maka niscaya akan ikut bau bakaran,bahkan bukan tidak mungkin ikut terbakar sekalian.Akan tetapi ,barang siapa bergaul dengan penjual minyak wangi,maka tidak bisa tidak ia akan terciprat oleh bau bauah yang harum,salah memilih pergaulan berarti kita siap menyiksa dan membinasakan diri .Adapun keuntungan bergaul dengan orang orang taat ,saleh berakhlak mulia dan jernih hatinya mau tidak mau akan membuat kita terbawa menjadi orang yang bersih hati,taat dan mulia dunia akhirat.

Semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa meitipkan sahabat sahabat dan lingkungan yang akan memelihara iman dan amal amal kita.***


myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com


By Ikhsan sanitomichie
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Rasul Panutan Umat
Salam sejahtera kepada penghulu segenap makhluk yang paling mulia, rakhmat bagi semesta alam, manusia paling sempurna, paling suci, dan penyempurna revolusi zaman, dialah Muhammad SAW. Dialah nabi paling pemurah, paling peramah, penuh kharisma dan kewibawaan, kesantunan, serta bergelar khatamul anbiya. Dialah jalan terang bagi gelapnya kehidupan dengan kesemarakan akhlaknya yang mulia, itulah puncak dari kebesaran dan kesempurnaannya sehingga beroleh gelar Al Amin (yang dipercaya).

Berkaitan dengan keagungan nabi ini, Sayyid Hussein Nasr seorang cendekiawan muslim terkemuka menulis, "Makhluk yang paling mulai ini (Muhammad SAW) juga dinamakan Ahmad, Musthafa, Abdullah, Abul-Qasim, dan juga bergelar Al Amin—yang terpercaya. Setiap nama dan gelar yang dimilikinya mengungkapkan suatu aspek wujud yang penuh berkah. Ia adalah, sebagaimana makna etimologis yang dikandung dalam kata Muhammad dan Ahmad, yang diagungkan dan dipuji; ia adalah musthafa (yang terpilih), abdullah (hamba ALLOH yang sempurna) dan terakhir, sebagai ayah Qasim. Ia bukan hanya Nabi dan utusan (rasul) ALLOH, tetapi juga kekasih ALLOH dan rahmat yang dikirimkan ke muka bumi, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran, "Dan tidaklah kami utus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi sekalian alam." (Q.S. Al Anbia [21]:107).

Ungkapan keagungan ini tidaklah berlebihan karena ALLOH Azza wa Jalla pun memuji beliau, bahkan senantiasa bershalawat kepadanya, firman-Nya, "Sesungguhnya ALLOH dan para malaikat-Nya melimpahkan shalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, sampaikanlah shalawat dan salam kepadanya." (Q.S. Al Ahzab [33]:56). Demikianlah ALLOH dan para malaikat bershalawat kepadanya, seharusnya apatah lagi kita sebagai makhluk kecil yang tiada berdaya ini.

Disamping bershalawat ternyata penghormatan kepada Rasulullah SAW memiliki etika tersendiri. Tidak cukup hanya bershalawat saja, karena yang terpenting adalah kita harus yakin benar bahwa Rasulullah adalah suri tauladan sepanjang zaman. Jikalau kita ikut dalam tuntunan beliau insya ALLOH akan selamat dunia dan akhirat.

ALLOH SWT menjelaskan dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya Rasul ALLOH itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui ALLOH di hari kemudian dan yang mengingati ALLOH sebanyak-banyaknya." (Q.S. Al Ahzab [33]: 21). Seakan ayat ini menyatakan bahwa tidak usah kita melakukan apapun kecuali ada contohnya dari Rasulullah.

Ketika misalnya, rumah tangga keluarga kita berantakan, maka solusi terbaiknya adalah dengan mencontoh Rasul dalam mengemudikan bahtera rumah tangganya. Subhanallah, siapapun yang mampunyai referensi Rasulullah dalam perilaku sehari-harinya, maka hidupnya seperti seorang yang punya katalog yang sangat mudah di akses, segalanya serba tertuntun.

Begitu pentingnya tauladan ini. Itulah sebabnya mengapa P4 gagal di Indonesia? Padahal dimana-mana dilakukan penataran, berbagai metode dan pola digunakan, biaya pun keluar miliaran rupiah, tapi mengapa tidak berhasil merubah pola pikir masyarakat? Jawabannya mudah saja, menurut yang saya pahami dari Dr. Ruslan Abdul Ghani yang menyatakan bahwa salah satu penyebab utamanya adalah karena tidak ada contohnya. Siapa sekarang orang Indonesia yang paling Pancasilais sehingga layak ditauladani perilakunya? Belum ada!

Karenanya berbahagialah umat Islam yang mempunyai tauladan Rasulullah SAW, dalam dirinya semua aspek kehidupan telah ada reperensinya. Mau duduk, bertemu dengan kawan, bertemu dengan orang kaya, bercakap dengan orang papa, berhubungan dengan pejabat, semua telah ada contohnya, termasuk bagaimana teknik menghadapi penjahat. Semuanya sudah jelas, bahkan sampai hal yang paling sederhana seperti di kamar kecil yang paling tersembunyi sekalipun, semua ada tuntunannya.

Sayangnya kita jarang menyempatkan diri untuk mempelajari bagaimana perilaku Rasulullah SAW yang sebenarnya. Karenanya jikalau Pesantren Daarut Tauhiid saat ini dianggap sedang "naik daun", maka sama sekali bukan karena ide cemerlang seseorang, hakikatnya karena pertolongan ALLOH Azza wa Jalla dengan syariat mengamalkan sebagian dari tuntunan Rasulullah SAW yang diaktualisasikan dan dikemas sedemikian rupa. Jadi, apatah lagi bagi orang-orang yang mampu mengaplikasikan semua yang telah Rasul tuntunkan, hasilnya tentu akan jauh lebih luar biasa lagi.

Oleh karena itu, bagi sahabat yang dikaruniai kesempatan menjadi guru dan mengharapkan dicintai dan dihormati muridnya, tidak membosankan murid ketika mengajar dikelas, proses belajar-mengajar menjadi efektif, serta para muridnya menjadi cerdas dan berpikiran maju, maka contohlah Rasul dalam mengajar. Bagaimana cara Rasul mengajar? Ternyata Rasulullah mengajar dengan penuh kelembutan, kasih-sayang, dan sangat ingin para sahabatnya menjadi maju.

Jikalau anda seorang manager perusahaan atau pejabat di sebuah instansi pemerintahan, maka yang harus dipikirkan adalah bagaimana agar bisa sukses dengan tetap mengikuti tuntunan Rasulullah? Ternyata Rasulullah SAW dalam berorganisasi itu rendah hati, lembut perangainya, senang bertukar pikiran, selalu meminta ide, saran, dan koreksi dalam bermusyawarah.

Adapun bagi pemuda yang ingin dicintai, disukai, penuh pesona, melimpah kharismanya, maka pelajari bagaimana pribadi Rasul. Para sahabat seperti halnya Imam Ali ternyata juga meneladani Rasulullah SAW. Nampaknya jikalau kita berat menghadapi hidup ini, maka pertanyaannya adalah sampai sejauh mana kita mampu meluangkan waktu untuk mempelajari pribadi Rasulullah SAW?

Demikian penting arti sebuah tauladan atau penuntun bagi kehidupan seseorang. Karenanya siapapun akan sengsara atau bahkan tersesat jikalau tidak pernah meluangkan waktu untuk mempelajari pribadi Rasulullah SAW. Dialah penuntun kita dari kesesatan dan gelapnya kehidupan.

Seperti halnya sebuah kejadian yang semoga dengan diungkapkannya di forum ini ada hikmah yang bisa diambil. Kejadiannya adalah dari penuturan seorang mubaligh asal Bandung. Ketika itu ia diundang bertabligh di suatu tempat di Tasikmalaya. Berangkatlah ia naik mobil bersama penjemputnya. Penjemput sebagai penunjuk arah di depan satu mobil dan sang mubaligh mengikuti di belakang dengan mobil lain.

Beberapa jam perjalanan lancar-lancar saja, sayangnya setelah beberapa saat sampai di wilayah Tasik, penunjuk arah memacu kendaraannya lebih cepat sehingga mobil sang mubaligh tertinggal jauh di belakang. Cerita selanjutnya mudah ditebak, sang mubaligh pun tersesat. Belok kiri tidak ketemu, belok kanan masuk pasar, waktu pun berlalu sia-sia, hatinya bahkan sudah mulai gelisah tidak menentu.

Nampaklah betapa sengsaranya orang yang tersesat, waktu dan tenaganya terbuang percuma, tujuan tidak menentu, perasaan pun tidak enak, bahkan sebentar-sebentar harus tanya sana-tanya sini, sungguh merepotkan. Demikianlah kegelisahan akan makin akrab dengan orang-orang yang kehilangan penuntun dalam hidupnya.

Bayangkan saja andaikata kita tidak punya penuntun, tidak punya penunjuk arah, lalu kita berjalan menuju suatu tempat yang belum diketahui sebelumnya, pastilah tidak akan menentramkan perjalanan tersebut. Tapi jikalau penuntun, arah, dan tujuannnya jelas, maka langkah kita akan mantap dan hati pun senantiasa disaputi ketentraman. Dan Rasulullah SAW adalah penuntun dan panutan kita sepanjang zaman.***
"Aa Gym"

myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com


By Ikhsan sanitomichie

Friday, July 13, 2007


Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Memelihara Perut
HAi orangorang yang beriman,makanlah diantara rezeki yang baik baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benara benar ahanya kepada-Nya kamu menyembah. ( QS al-Baqarah [2]:172)

Aktifitas makan aternyata bisa menjadi jalan seseorang untuk mengenal dan lebih akrab dengna Allah Azza Wa Jalla,namun bisa juga menjadi jalan baginya dekat pada hawa nafsu,BAgi amba Allah yang telah memahami hakikat makan ,tatkala makana telahmasuk kedalam perutnya ,ia akan memperleh dua keintungan yakniterpenuhinya hak tubuhnya sekaligus dapat melunakan hawa nafsunya. Dengan demikian maka baginya telah menjadi ladang amal shaleh.

Sebaliknya bagi siapa saja yang tidak mengerti arti hidup ini ,maka baginya makan tak lebih dari sekedar memuaskan hawa nafsu belaka dengan demikian,makan ,tidak bisa tidak telah menjadi virus yang tanpa disadari akan menggerogotinya sehingga menjada hancur sehancur hancurnya.Jelas bagi orang semacam ini aktifitas makan hanya akan semakin menjauhkan dirinya dari karunia Allah.

Barang siapa yang ingin memiliki hati yang sehat dan senantiasa memelihara kebeningannya,hendaknya senantiasa menjaga kehati-hatiannya ketika menghadapi suatu hidangan ,ia tahu persisi makna suatu perintah Allah Azza Wa Jalla"Hai orag orang yang beriman,makanlah diantara rizki yang baik baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar benar hanya kepada-Nya kamu menyembah-Nya"( QS al-Baqarah[2]:172) Karenanya ia hanya mau makan bila hal itu bisa menjadi alat taqarrub kepada Allah .


Betapa ia menyadari ,bhawa aktifitas makan itu ternyata bukanlah sekedar untuk mengenyangkan perut ,lalu berdampak pulihnya kembali tenaga didalam tubuh .Makan pun bukan sekedar mengucap kenikmatan karena nikmatnya makan itu hanya "sepanjang telunjuk"

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirainya ( bukan memberi manfaat ),kecuali kata kata berupa amar ,a'ruf nahyi munkar (memerintahkan kebaikan,melarang kemungkaran ) dan dzikrullaah Azza Wa Jalla ( mengungat Allah Azza Wa Jalla )
" HR,Tirmidzi"

Mengapakah saat saat beribadah kepada Allah kita sering tidak merasakan kekhusyukan apalagi sampai dapat menitikan air mata,sehingga hampir tidak pernah terasakan lagi lezatnya dan nikmtanya menghadap Allah..? ternyata semua itu berpangkal dari hati yang kotor. Didalam hati yang demikian memang tak akan pernah akan bersemayam nuur ( cahaya ) iman yang sesungguhnya.

Akibat lain dari memiliki hati yang busuk,kusammkesat da kotor adalah tidak akan pernah mampunya kita melahirkan kalimat kalimat lisan yang bernas dan bermutu.tiap tiap kalimat yang keluar dari lisan,kata Syeikh Ubnu Atha'Illah pastilah membawa corak bentuk hati yang meangeluarkannya,betapa tidak ...?hati itu bisa didibaratkan dengan teko ,teko hanya mengeluarkan isinya bila ia berisi air kopi maka yang keluarpun pastilah air kopi begitupun bila yang keluarnya air bening maka yang keluarnyapun pastilah air bening.

Terjadinya lisan seseorang menghamburkan kata kata kasar menyakitkan jorok da sia sia,semua itu ,tidak bisa tidak bersumber dari hati yang tidak beres. Seseorang yang hatinya tidak selamat akan sangat sulit mengendalikan lisannya,apa saja yang terihat didepan matanya niscaya akan membuat lidahnya gatal untuk segera berkomentar,terlepas dari komentarnya itu bermut atau tidak ,bermanfaat bagi dirinya atau tidak ada yang mendeangarkan dirinya atau tidak.jelas tak akan pernah disadari bahwa perkataanya mungin bisa sia sia.

Bahkan tidak jarang pada akhirnya sang lisan jadi tergelincir kedalam perbuatan ghibah karena hanya gemar menyelisik kekurangan dan aib orang lain.Bilapun perkataanya didengar oleh orang yang dinilainya,maka jadilah ia perkataan yang menganiaya dan menyakit perasaanya..bahkam tidak jarang pula ia lebih meningkat lagi daripada itu,yakni fitnah...! padahal.sungguh pandangan manusia itu amat terbatas untuk menilai kebaikan atau keburukan seseorang.

Perkataan yang kurang bermutu dan hampa makna bisa juga keluar dari lisan seseorang yang ddasari oleh hati yang tidak ikhlas,ini bisa terjadi pada siapa saja,adakah ia seorang sahabat,guru,atasan bahkan mubaligh sekalipun,mengapa ada seseorang yang habis habisan yang dinasehati oleh orang tua atau gurunya,tetapi tetap saja berkelakuan buruk ..? jawabnya ,mungkin mereka tidak menasehatinya dengan ikhlas dengan hati yang benar benar tulus semata mata ingn membimbing sang anak kejalan yang benar,mungkin nasehat itu kaluar dari lisannya seraya hatinya penuh diselimuti nafsu amarah.

Mengapa pula seseoarang mubaligh telah habis habisan berceramah menyampaikan kebenaran ,tetapi toh tak membekas sama sekali dihati para jemaahnya...? Kemungkinan yang demukian itu dari engkau sendiri" kata Muhammad Bin Wasi seorang ulama ahli ma'rifat,sebab,kata Wasi.. bila nasehat itu berkata dari hati yang ikhlas,pastilah masuk kedalam hati,sebaliknya,nasehat yang hanya berupa gubahan lidah dan rekan rekaan belaka,ia akan masuk dari telinga kana dan keluar dari telinga kiri,Sebagus apapun kata kata yang terucap,bila keluar dari hati yang riya.sum'ah ( sekedar mencari popularitas ) ujub,atau takabur,maka ia tak akan pernah mampu menghujam kedalam libuk hati pendengarnya.

Lidah memang tak bertulang,mengeluarkan kata kata yang bagaimanapun dari llisan sungguh teramat mudahnya,akan tetapi apa dampaknya,,,? dan bagaimana dampaknya dan bagaimana akibatnya itulah yang sering tidak terpikirkan.Sepatah kata yang terucap sama sekali tidak akan membuat tubuh seseoarang terluka,namun siapa yang tah kalau justru hatinya yang tersayat sayat atau sebaliknya sepatah kata yang terucap ,justru malah menjadai penyebab si pengucapnya mendapat celaka ataupun selamat,baik ketika didunia ataupun di akhirat kelak,Rasulallah bersabda,"Setiap ucapan Bani Adam itu membahayakan dirinya ( bukan mewmberi manfaat ) kecualai kat akata berupa amar ma'ruf nahyi munkar dan dzikrullah'Azza Wa Jalla!' ( HR.Tirmidzi)

Karenanya,jangan heran kalau hanya disebabkan sepatah dua patah kata saja yang terlontar dari mulut bisa terjadi perkelahian,dua orang saudara bisa bermusuhan,bahkan membuat seseorang mendekam dibalik terali besi,atau sebaliknya tidak perlu heran pula bila berkat satu dua patah kata seseorang bisa selamat dari malap[etaka yang akan meanimpanya.

Apalagi balasan yang akan menimpa kita diakhirat kelak sebagai akibat terpelihara atau tidaknya lisan"Barang siapa yang memellihara apa yang ada diantara janggutnya ( yakni lisannya) dan apa yang ada diantara kedua pahanya ( yakni farjinya ) karena aku " sabda Rasulallah" maka akan kujamin dia masuk surga " ( HR. Bukhari).Sesungguhnyalah yang paling banyak memasukan manusia kedalam neraka adalah dua lubang yaitu mulut dan farji" HR tirmidzi.

Dengan demikian hendaknya kita selalu berhati hati dengan lisan .Setiap kata yang hendak diucapkan hendaknya terlebih dahulu dipikirkan masak masak.sekiranya kata kata yang akan terucap itu tidak ada manfaatnya sebaiknya kita memilih diam Rasulallah saw bersabda" Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir ,hendaklah in mengucapkan kata kata yang baik atau diam" HR Bukhari-Muslim.

Lidah ,tanpa tenaga dan tanpa biaya bisa kita gerfakan setiap[ saat,barang siapa diantara kita terlampau banyak bicara,akan sangat cepat mengeraskan hati.Orang yang paling beruntung didunia ini adalah" Fal yaqul khairan atau liyasmut"Orang yang sangat bisa memperhitungkan setiap kat katanya,barang siapa yang berpikirnya lebih banyak daripada bicaranya,insyaAllah ,kata katanya akan membersihkan hati.

Hati yang selamat,subhanallah siapapun pasti merindukannya,Hati yang selamat tidak hanya akan menyelamatkannya didunia,tetapi juga di yaumil hisab nanti , yakni Yauma laa yanfa'u maalun walaa banuun,illa man atallaaha bi qalbin salim" ( QS asy Syu'ara[26]:88-89 ) Pada hari keatika harta dan anak anak tidak lagi bermanfaat,kecuali hati yang selamat.***

myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

By ikhsan sanitomichie

Thursday, July 12, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Undangan Allah
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

IBADAH haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkarinya, maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam (QS. Ali Imran: 97).
Setiap orang yang berusaha taat menjalankan perintah Allah, pasti menginginkan bisa menunaikan ibadah haji ke Baitullah.
Siapapun dia, kaya atau miskin. Tetapi, tak jarang pula orang yang telah dicukupkan hartanya dan diberi nikmat sehat, sering menunda-nunda kewajiban tersebut dengan berbagai alasan. Sementara, sebagian orang belum mampu berangkat haji karena masalah uang. Sahabat, perkara haji sama sekali bukan perkara ada atau tidaknya uang.
Betapa banyak orang yang dititipi harta melimpah, tapi tetap saja ia tidak bisa berangkat haji. Tak sedikit di antara mereka pulang-pergi ke luar negeri, namun toh tetap tidak pernah sampai ke tanah suci. Mengapa demikian?
Seseorang bisa menunaikan ibadah haji apabila telah di "diundang" oleh Allah Yang Mahakaya. Allah mengundang hamba-Nya disebabkan dua hal. Ada yang diundang karena niatnya baik, dan ada pula yang diundang karena niatnya jelek. Ada yang membedakan antara dua kelompok orang ini yaitu setelah kepulangannya dari tanah suci. Yang pertama, akan menyandang gelar haji mabrur dan yang kedua menyandang gelar haji mardud. Apa yang menyebabkan haji seseorang itu mabrur atau mardud? Penyebab utamanya adalah faktor niat.
Bila seseorang pergi haji karena ingin mendapatkan titel haji agar terlihat lebih bonafide, misalnya, maka niat seperti ini hanya akan menjerumuskan diri pada kesia-siaan. Ibadah haji adalah panggilan hati dan kewajiban setiap Muslim. Bahkan, dapat dianggap hutang bila belum ditunaikan. Alangkah indahnya andai sebelum mati, kita bisa menyempurnakan keislaman kita, hingga Allah pun berkenan menyempurnakan karunia nikmatnya pada kita.
Motivasi kedua adalah ingin menghapus segala dosa. Sebesar apa pun dosa seseorang, insya Allah akan terhapuskan bila hajinya diterima. Bila kita sudah memiliki keyakinan seperti ini, sebesar apa pun biaya yang harus dikeluarkan untuk ibadah haji, maka akan terasa kecil nilainya dibandingkan dengan hikmah dan manfaat yang diperoleh.
Bukankah uang yang kita keluarkan itu hakikatnya milik Allah juga? Ketiga adalah jaminan dari Allah dan Rasul-Nya bahwa tiada balasan yang lebih pantas bagi haji mabrur, kecuali surga. Barangsiapa yakin dengan janji ini, niscaya nilai harta yang dikeluarkan terlalu murah bila dibandingkan dengan pahala yang akan didapat. Betapa tidak, sudah dosa diampuni, mendapat jaminan surga, semua biaya yang telah dikeluarkan pun akan diganti dengan berlipat ganda ketika di dunia ini juga.
Tidak ada orang yang pulang dari tanah suci dan diterima hajinya, lantas jatuh miskin. Sebaliknya, Allah SWT akan memudahkan ia dalam mendapatkan rezeki. Jadi, tidak ada yang paling merugi di dunia ini, kecuali orang yang tidak mau berhaji padahal ia mampu. Bagaimana caranya agar Allah SWT berkenan mengundang kita ke rumah-Nya?
Seseorang yang mencintai sahabatnya, pasti mau berbuat apa saja bagi sahabatnya tersebut. Jadilah orang yang dicintai-Nya. Bila kita sudah dicintai Allah, maka Allah-lah yang akan memudahkan kita agar dapat menghadap-Nya. Kuncinya, amalkan semua perbuatan yang disukai Allah. Ternyata amalan pertama yang paling disukai Allah adalah salat tepat waktu, salat tahajud, birul walidain, memuliakan orang tua dan mendidik anak-anak, serta sedekah.
Sebanyak apapun harta yang kita belanjakan di jalan Allah, pasti Ia akan mengganti harta yang kita belanjakan tersebut dengan yang lebih banyak dan berkah. Karena itu tak heran bila Rasulullah SAW selalu melepas orang yang berhaji dengan sebuah doa, "Semoga Allah menerima hajimu, mengampuni dosamu, dan mengganti biaya-biayamu" (HR. Ad-Dainuri). Jadi, apalagi yang kita cemaskan dari janji-janji Allah tersebut? Wallahu 'alam.***
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Jagalah Perilaku,Hati pun Bening

Mengapa seorang anak yang telah habis habisan dinasehati oleh orang tua atau gurunya,namun tetap saja berkelakuan buruk...? Mengapa pula seorang mubaligh yantg talah habis habisan bercereamah menyampaikan kebenaran,tetapi tidak membekasa sama sekali dihati jemaahnya...?

"Kemungkinan yang demikian itu berpangkal dari engkau sendiri,..."Kata Muhammad Bin Wasi".Seorang ulama ahli ma'rifat."sebab,lanjut Wasi."bila nasehat itu keluar dari hati yang iklas pastilah masuk kedalam hati..."

Aneka perilaku yang kurang terjaga ternyata membuat hati kita kesat,kusam,dan kotor.Hati yang bening niscaya akan datang dari perilaku yang terjaga.

Menahan Pandangan

Dan janganlah kamu kamu mengikat apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,Sesungguhnya pendengaran ,pendengaran dan hati semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.( QS al-Israa'[17]:36 )

Satu hal yang hendakmya dicamkan benar benar oleh setiap hamba Allah adalah bahwa Allah Azza wa Jalla itu Ghafuururrahiim.Dia adalah satu satunya Dzat yang mempunyai samudra ampunan dan kasih sayang yang sangta luas. Tak ada dosa sebesar apapun yang tak tenggelam dalam samudra ampunan dan rahmat kasih sayang-Nya sejauh tak menyekutukannya.

Pantaslah Syeikh Ibnu Atha'illah didalam kitabnya yang terkenal.Al Hikam,menasihatkan,"Jika terlanjur berbuat dosa,maka janganlah hal itu sampai menyebabkan patah hatimuuntu mendapatkan Istiqomah kepada Tuhanmu. Kemungkinan yang demikian itu sebagai dosa terakhir yang telah ditgakdirkan olehmu."

Hati yang sakit,atau bahka mati,disebabkan oleh noktah noktah dosa yang bertambah dari waktu ke waktu kareana amal perbuatan yang kurang terpelihara,sehingga menjadikannya hitam legam dan berkarat.Akan tetapi bagaimanapun kondisi hati kita saat ini,tak tertutup peluang untuk sembuh,sehingga menjadi hati yang sehat sekiranya kita berjuang sekuat tenaga untuk mengobatinya.

Ada empat virus perusak hati yang harus kita waspadai agar hati yang sakit atau mati dapat disembuhkan sementara hati yang sudah sehat dapat terawat dan terpelihara kebeningannya Mudah mudahan dengan mewaspadai keempat virus tersebut Allah Azza Wa Jalla menolong kita.

Salah satunya yag meambuat hati ini semakin membusuk, kotor dan kerasa membatu adalah tidak pandainya kita menahan pandangan.Barang siapa yang semasa didunia ini tidak mahir menahan pandangan,gemar melihat hal hal yang diharamkan oleh Allah ,maka jangan terlalu berharap dapat memiliki hati yang bersih.Umar Bi Khaththb pernah berkata"lebih baik aku berjalan dibelakang singa dari pada berjalan dibelakang wanita"Orang orang yang sengaja mengobral pandangannya terhadap hal hal yang tidak hak bagi dirinya,tidak usah heran kalau hatinya lambat laun akan semakin keras membatu dan nikmat imanpu akan semakin hilang manisnya.

Sebenarnya bukan hanya mengumbar pandangan terhadap lawan jenis,melainkan pula orang yang matanya selalu melihat aneka asesoris duniawi ini. Melihat sesuatau yang tidak ia miliki rumah orang lain yang lebih mewah,mobil orang lain yang lebih bagus,atau uang orang lain yang lebih banyak, Hatinya lebih bergejolak memikirkan hal hal yang tidakm dimilikinya dari pada menikmati apa apa yang dimilikinya.

Oleh sebab itu ,kunci bagi orang yang ingin memiliki hati yang bening adalah tundukan pandangan, karena tiada lain berawalnya maksiat itu tiada lain dari pandangan.

Kalau perakara duniawi,jangan lah sekali kali melihat keatas,Akan capek kita jadinya karena Rizki yang telah menjadi hak kita itu tidak akan kemana mana,Mati-matian kita menginginka sesuatu,kalu Allah tidak memberi ,maka tidak akan kita dapatkan. Lebih baik lihatlah kebawah Tengoklah orang yang lebih fakir dan lebih menderita dari pada kita. Lihatlah orang yang lebih sederhana hidupnya,semakin sering melihat kebawah,Subhanallah,hati ini akan semakin dipenuhi oleh rasa syukur dibanding orang yang suka menengadah keatas.

Kalaupunkita akan melihat keatas ,tancapkan pandangan kita ke yang maha atas sekaligs,yakni kepada Dzat Penguasa Alam semesta.Allahu Akbar...lihatlah kemaha kuasaan-Nya.Allah Maha kaya dan tak akan berkurang kekayaan-Nya walaupun selalu kita minta sampai akhir hayat.

Orang yang hanya melihat keatas dalam urusan duniawi,hatinya akan cepat kotor dan hancur,Sebaliknya kalau tunduk dalam melihat kemahaagngan serta kemahabesaran Allah,maka tidak bisa tidak,kita akan menjadi orang yang memiliki hati bersih dan selamat.

Buya Hamka ( alm) pernah berkata,mengapa manusia bersikap bodoh..? tidakah engkau tatap langit yang biru dengan awan berarak seputih kapas..? atau engkau turuni lembah,sehingga akan kaudapatkan air yang bening .atau engkau bangun dimalam hari,kau saksika bintang gemintang bertaburan dilangit biru dan rembulan yang tidak pernah bosan orang menatapnya,Atau engkau dengarkan suara jengkerik dean katak saling bersahutan,sekirany seseorang amat gemar memandang keindahan ,amat senang mendengar keindahan,niscaya hatinmya akan terbebas dari perbuatan keji,sesungguhnya keji itu buruk,sedangkan yang buruk itu tidak bersatu dengan keindahan."

Berbahagialah orang orang yang senang melihat kebaikan orang lain. Tat kala mendapati seseorang tidak baik kelakuannya,ia segera mafhum bahwa manusia itu bukanlah malaikat. Dibalik segala kekurangannya yang dimilikinya pasti ada kebaikannya,Perhatikanlah kebaikannya itu sehngga akan tumbuh rasa kasih sayang di hati. Mendengar seseorang selalu berbicara buruk dan menyakitkan,segera mafhum,Siapa tahu ia sekarang berbicara buruk namu besok lusa berubah menjadi berucap baik,Karenanya dengan mendengarkan kata kata yang baik baiknya saja niscaya akan tumbuh rasa kasih sayang dihati. Maulana jalaluddin Rumi pernah berkata,orang yang begitu senang dan nikmat melihat dan menyebut nyebut kebaikan orang lain bagaikan hidup disebuah taman yang indah.Kesini Angrek,kesana melati pokoknya kemana saja mata memandang ,yang tampak hanyalah bebungaan yang indah mekar dan harum mewangi.Dimana mana yang terlihat hanayalah keindahan.

Sebaliknya orang yang gemar melihat aib dan kejelekan orang,pikirannya hanya diselimuti, denga aneka keburuka sementara. hatinya hanya dikepung dengan prasangka,prasangka buruk,Karenanya kemanapun matanya melihat,yang tampak adalah ular,kalajengkina diri dan sebagainaya. Dimana saja ia bearada senantiasa tidak akan pernah dapat ternikmati indahnya hidup ini."

Sungguh berbahagialah orang yan pandai memelihara pansangan karena ia akan dapat merasakan nikmatnya bening hati.Allah AzzaWa Jalla adalah Dzat maha pembolak balik hati hamba hamb-Nya sama sekali tidak sulit baginya untuk menolong siapapun yang merinduan hati ayang bersih dan bening sekiranya ia berikhtiar yang bersungguh sungguh.Wallahu a'lam bishshawwab.***

Tuesday, July 10, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Hati Yang Selamat ( Qolbun Saliim)

Pada hari ketika harta dan anak anak tidak bermanfaat,kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.( QS. asy-Syu'raa[26]:88-89)

Maha suci Allah Azza wa Jalla yang tealah menganugerahkan berbagai kelebihan pada diri manusia yang tidak dimiliki oleh mahluk mahluk Allah lainnya dijagat raya alam semesta ini. Allah tahu persis bahwa sebagai mahluk cipataan-Nya yang paling sempurna,manusia akan mampu menjadai khalifah dibumi ini.karenanya Dia mengkaruniakan segumpal daging barnama hati( Qolb),yang deangan itu manusia bisa menjadi terangkat daerajat kemuliaanya disisi Allah lebih tinggi dari pada malaikat,tetapi bisa juga menjadi jatuh sejatuh jatuhnya.

Orang orang yang aka diangkat derajat kemuliaanya ( bahkan ) melebihi malaikat,subhanallah,meraka adalah ynag berhasil memelihara,.merawat dan memperindah hatinya sehingga menjadi sehat.Sungguh teramat beruntung siapa saja yang memiliki Qolbunsahih ini,Sedangkan orang orang yang akan tergelincir jatuh derajat kemuliaannya kedalam jurang kehinaan sdalam dalamnya,meraekalah yang membiarkan hatinya kotor membusuk tak terawat,mereka adalah orang orang yang memiliki Qolbun Maridh,bahkan Qolbun Mayyit. Sungguh celaka siapapun yang memiliki hati semacam ini. Na'udzibillaahi mindzaalik.

Barangsiapa memiliki hati yang sehat,pada dasarnya ia memiliki hati yang selamat. Barang siapa yang memiliki hati yag selamat ,tidak bisa tidaka ia akan diselamatkan oleh Allah baik didunia maupun diakhirat kelak,Allah akan meolongnya dari dahsyatnya hari kiamat justru pada saat tak ada satupun yangn mampu memberikan pertolongan "Yauma Laa Yanfa'umaalun wa laa banuun,illa man atallaaha bi qalbin saliim"(QS asy-Syu'ara[26]:88-89) Pada hari ketika harta dan anak anak tidak bermanfaat,kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.

QalbunSaliim ( hati yang selamat) adalah hati yang terbebas dari jeratan memperturutrkan hawa nafsu untu menyalahi perinyah Allah. Pemiliknya akan terselamatkan dari segala bentu keraguan yang dapat menggelincirkannya dari kebenaran,sehingga akan selamat pula dari menghamba kepada selain-Nya ( Syirik).Ia pun akan terbebas dari perbuatan menjadikan hakim selain Rasulallah saw,sehingga ,tidak bisa tidak,ia akan menjadi hamba Allah yang diridhai-Nya.

Siapapun yang Allah takdirkan memiliki hati yang selamat akan merasakan seakan akan telah meninggalkan dunia ini menuju alam akhirat. Disana tinggal menetap.adapun keberadaanya didunia ini tak lebih sebagai seorang asing yang singgah sejenak atau seorang pengembara yang duduk berteduh dibawah pohon rindang,menikmati keteduhan,semilir angin pelepas rasa penat,dan mengambil kebutuhan sekedarnya ntu kemudian kembali meneruska perjalanan pulang ke kampung halaman.Demikianlah perumpamaannya hidup didunia ini.***

Diantara ciri orang yang hatinya selamat adalah hidupnya diselimuti mahabbah( kecintaan) dan tawakal kepada Allah.Tidak usah heran manakala ia mncintai sesuatu kareana Allah.sehingga ia tidak akan berlebihan dalam menecintai sesama mahluk ,Demikian pula jika ia membenci sesuatau maka iapun akan membencinya karena Allah semata,sehingga perbuatannya itu tidak akan tergelincir kedalam perbuatan dosa dan aniaya.sebaliknya malah menjadi ladang pahala.

Dalam hal beribadah,orang yang hatinya selamat segenap cita cita dan perhatiannya hanya tertuju kepada satu hal,yakni harusa menjadi ladang ibadah dan amal shaleh,kareananya,umurnya dipelihara seefektif mungkin karena takut jangan jangan waktu yang ia miliki hilang dengan sia sia sedaghkan modal manusia adalah umur,dan waktu pastilah tidak akan pernah kembali.

Tat kala datang waktu sholat,ia segera bergegas segera meninggalkan segenap urusan duniawi dan mengosongkan hati dan pikirannya dari segala kekawatiran terhadap kemungkinan berkurangnya apa yang sedang dan akan dimilikinya.toh ia yakin dengan janji Allah,bahwa..Barang siapa yang bertakwa kepada Allah,niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan membeereinya rezeki dari arah yang tak disangka sangka.Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah,niscaya Allah akan mencukupkan(keperluan)nya"" (QS ath-Thalaaq[65]:6-7).

Dengan demikian ,tatkala mengucapkan takbiratul ihram,hilanglah dari pemikirannya dari segala tetek bengek urusan duniawi,Yang ia temui dalam sholatnya adalah kekhusyukan ,kedeamaian dan nikmatnya ibadah serta mengingay Allah Azza wa Jalla,Sekali kali hati dan pemikirannya tidakakan pernah lalai dari dzikrullah(mengingat Allah) Ia akan merasaan sedih gelisah dan kecewa jika tak sepat atau tertinggal dalam melakukan suatu ibadah. Pendek kata,ia akan teramat rindu untuk senantiasa dapat berkhidmat dan mengabdi kepada Allah,sebagaimana rindu dan penuh harapnya seseorang yang tengah ditimpa kelaparan akan sesuap nasi dan seteguk air.

Demikian pun dalam hal berikhtiar mencari kelebihan dari karunia Allah.Orang orang yang memiliki hati yang bersih dan selamat akan bersungguh sungguh merasakan lezatnya bersimbah peluh berkuah keringat dalam ikhtiarnya,Ia yakin bahwa ikhtiar dzahir dan kerja keras adalah ladang amal saleh juga sebagaimana halnya ikhtiar bathin bearupa dzikrullah dan beribadah sesuai yang diperintahkan-Nya.

Otak diputar seratus persen dan tubuh digerakan seratus persen ,namun subhanallah hatinya tidak pernah menderita sedikitpun karaena telah yakin akan jaminan Allah .Sekalikalitidaj akan pernah tertukar apa yang tela ditetapkan allah atas hamba-hamba-Nya. Kendatipun bergabung jin dan manusia akan mencelakakannya ,namun ma ashaaban minmushiibatin illa bi idznillaah. tidak pernah menimpa suatu musibah itu,tanpa ijin Allah,.

Oleh karena itu,orang yang memiliki hati yang selamat har harinya akan dihiasi sengan ikhtiar yang penuh semangat,tetapi hatinya tidak akan pernah sengsara oleh ikhtiarnya,semua itu ia yakin bahwa Allah tidak akan pernah lalai mengurus hamba hamba-Nya.Tubuh seratus persen ikhtiar,hati seratus persen tawakal,akal pikiran seratus persen diasah agar senantiasa beramal sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya,kesibukan deangan urusa duniawi tidak membuat hatinya resah.keyakinannya kepada Allah tidak pernah menghambat ikhtiarnya.

Tidak ada tidakmjujur,tidak ada licik,tidak ada jahat,tidak ada dzalim,karena orang orang yang mengenal Allah yakin bahwa cara apapun yang dipakai.toh tetaplah Allah juga yang memberi rezeki.Jadi,untu apa mencari rezeki...dengan cara yang tidak benar ..?adahal satu satunya pemberi rezeki adalah Allah yang maha kaya,yang tidak akan pernah berkurang kekayaannya.Semua perilaku tida benar dalam berikhtiar dimuka bumi ini hanyalah milik orang orang yang hatinya mati,Qalbun Mayyit...!
Subhanallah!Wahai Dzat Maha Pembolak balik hati,tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan ketaatan atas segala perintah-Mu......***

myspace codesBy.ikhsan sanitomichie
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

Monday, July 9, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Menghidupkan Hati Nurani


Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang tunduk patuh (kepada Allah),(yaitu)orang orang yang apabila disebut nama Allah,gemetarlah hati mereka,...(QS al-Hajj[22]:34-35)

Kalau adaa satu keberuntungn bagi manusia dibandingka dengan hewan,maka itu adalah bahwa manusia memilik kesempatan untuk ma'rifat(kesanggupan mengenal Allah).Kesanggupan ini dikaruniakan Allah karena manusia memiliki akal dan -terutama -sekalihati nurani.Ini adalah karunia Allah yang sangat besar bagi manusia.

Orang orang yang hatinya berfungsi akan berhasil mengenali dirinya dan pada akhirnya juga akan berhasil mengenali tuhannya.,Tidak adakenyataan terfmahal dalam hidup ini,kecuali keberhasilan mengenali diri Tuhannya. Karenanya ,siapapun yang tidak bersungguh sungguh menghdupkan hati nuranunya,ia akan jahil,akan bodoh,baik dalam mengenali dirinya sendiri.Lebih lebih dalam mengenali Allah Azza Wa Jalla,zat yan telah mnyempurnakan kejadiannya dan pla mengurus tubuhnya, lebih dari apa yang bisa ia lakuka terhadapa dirinya sendiri.

Orang orang yang sepanjang hidupnya tidak pernah mampu mengenal dirinya dengan baik,tidak tahu harus bagaimana menyikapi hidup ini,apalagi menyikapi indahnya hidup,apalagi merasakan indahnya hidup.. Demikian pun karena tridak mengenal Tuhannya,maka hampir dapat dipastikan kalau yang dikenalnya hanyalah dunia ini saja,dan itupun hanya sebagian kecil belaka.

Akibatnya,semua kalklasi perbuatannya,tidak bisa tidak,hanya diukur ileh aksesoris keduniaan belaka.Dia menghargai orang orang semata mata orang tersebut tingi pangfkat,jabatan dan keddudukannya ataupun banyak hartanya. Demikian pula dirinya sendiri merasa berharga dimata orang lain,itu karena ia merasa memiliki kelebiha duniawi dibandingkan dengan orang lain.Adapun dalam perkara harta,gelar ,pangkat ,dan kedudukan itu sendiri,ia tidak akan memperdulikan dari mana datangnya dan kemana perginya karena yang penting baginya ada dan tiadanya.***

Sebagian besar orang orang ternyata tidak mempuyai cukup waktu dan kesungguhan untuk bisa mengenali hati nuraninya sendiri.Akibatnya ,menjadi tidak sadar apa yang harus dilakukan dalam hidupnya didunia yang serba singkat ini.Sayang sekali,hati nuran itu-berbeda dengan dunia- tidak bisa dsiihat dan diraba.Kenadtipun demikian ,kita hendaknya sadar bahwa hatilah pusat segala kesejukan dan keindahan dalam hidup ini.

Seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari harinya dengan sabar.padahala jelas secara duniawi tidak menguntungkan apapun.yang ada malah berat melangkah,sakit,lelah,dan mual,walaupaun demikian,senua itu tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terhadap jabang bayi yang dikandungnya.

Datang saatnya melahirkan,apa yang bisa dirasakan oleh seorang ibu,selain rasa sakit yang tak terperikan,tubuh terluka dareah bersimbahbahkan tak jarang berjuang diujung maut ketika jabang bayi berhasil terlahir kedunia,subhanallah sang ibu malah tersenyum penuh bahagia. Sang bayi yang masih merah itupun dimomong siang dan malam dengan penuh kasih sayang.Padahal tangisnya ditengah malam buta membuat sang ibu kurang jatah istirahatnya.Siang malam ia dengan sabar mengganti popok yang sebentar sebentar basah dan sebentar sebentar belepotan e'e' baynya. Cucianpun malah menggunung karena tak jarang pakaian sang ibu harus sering diganti kareana terkena pipis sijantung hati.Akan tetapi masya Allah semua beban 'deriat' itu tih tidak membuat ia berlaku kasar atau mencampakan sang bayi.

Ketika tiba saatnya sibuah hati belajar berjalan,ibupun dengan sejksama membimbing dan menjaganya hatinya selalu cemas jangan jangan simungil yang kian lucu itu terjatuh atau menginjak duri.Saatnya sianak harus masuk sekolah ,tak berkurang menjadi beban orang tua.Demikian pula ketika memasuki dunia remaja,mulai tampak kenakalannya,milai sering membuat kesal orang tua ,sungguh menjadi beban btin yang tidak ringan.

Pendek kata,sewaktu kecil menjadi beban sudah besar pun tak berkurang kurang menyusahkan.Begitupun rentang waktu yang harus dijalani orang tua dalam menanggung segala beban,namun begitu sedkit balas jasa anak.Bahkan tak jarang sang anak malah membuat durhaka,menelantarkan dan mencampakan kedua orang tuanya begitu saja manakala saatnya mereka tua renata.

Mengapa orang tua bisa demikian than untuk terus menerus berkorban bagi anak anaknya...? karena,keduanya mempunyai hati nurani,yang dari dalam terpancar kasih sayang yang tulus dan suci..Walaupun tidak ada imbalan langsung dari anak anaknya,namun nurani yang memiliki kasih sayang inilah yang membuat tahan terhadap segala kesulitan dan penderitaan.Bahkan sesuatu yang menyengsarakan pun terasa tidak menjadi beban.

Oleh karena itu,beruntunglah orang yang ditakdirkan memiliki kekayaan berupa harta yang banyak,Akan tetapi yang harus kita jaga dan merawat sesungguhnya adalah kekayaan batin kita berupa hat nurani ini,Hati nurani yang penuh cahaya kebenaran akan membuat pemiliknya merasakan indah dan lezatnya hidup ini karena akan selalu merasakan kedekatan dengan Allah Azza wa Jalla,sebaliknya waspadalaha bila hati cahaya hati nurani menjadi redup.kareana tidak bisa tidak,akan membuat pemiliknya selalu merasaka kesengsaraan lahir batin lantaran senantiasa merasa terjauhkan dari rahmat dan pertolongan-Nya.

Allah maha tahu akan segala lintasan hati,dia menciptakan dunia beserta segala isinya ini dariunsur tanah.dan itu berarti senyawa dengan tubuh kita karen sama sama rterbuat dari unsur tanah.Karenanya,untuk memenuhi kebutuhan kita tidaklah cukup denga berpikir tetapi harus dipenuhi dengan aneka erangkat dan makanan yang ternyata sumbrnya dari tanah pula.

Bila perut terasa lapar,maka kita santap aneka makanan yang ternyata sumbernya dari tanah.Bila tubuh kedingina kitapun mengenakan pakaian,yang bila ditelusuri unsur unsur nya terbuat dari tanah,da demikian pula bila suat ketika tubuh kita menderiata sakit,maka dicarilah obat obatan yang juga diolah dari komponen komponenyang berasal dari tanah pula,Pendek kata untuk segala kebutuhan tubuh kita mencari semua jawabannya dari tanah.

Akan tetapi ,kalau ini ternyata tidak senyawa dengan unsur unsur tanah,sehingga ia hanya akan terpuaskan lapar,dahaga,sakit serta kebersihannya semata mata dengan mengingat Allah."Alla bi dzikrillahi tathmainul quluub"(QS ar-Ra'd[13]:28) camkan hatimu hanya akan tenteram jukalau engkau hanya ingat kepada Allah.

Kita aka mempunyai banyak kebutuhan untuk fisik kita,tetapi kita pun memiliki kebutuhan untuk kolbu kita.Karenanya marilah kita mengarungi dunia ini sambil memenuhi kebutuhan fisik dengan unsur duniawi,tetapi kolbu atau hati nurani tetap tertambat kepada Dzat pemilik dunia .Dengan kata lain tubuh sibuk dengan urusan duniawi tetapi harus sibuk dengan Allah yang memiliki dunia inilah sebenarnya yang harus kita lakukan.

Sekali kita salah dalam mengolah hati-tubuh da hati sama sama sibuk dengan urusan dunia-kitapu akan strees jadinya.Hari haripun sdenantiasa akan dipenuhi dengan kecemasan.kita kan takut ada yang menghalangi,takut tidak kebagian ,takut terjegal dan seterusnya.Ini semua disebabkan oleh sibuknya seluruh jasmani dan ruhani kita dengan urusan dunia semata.

Inilah sebenarnya yang sangat potensial membuat redupnya hat nurani,kita sangat perlu meningkatkan kewaspadaan agar jangan sampai menaglami musibah semacam ini.***
Bagaimana caranya agar kita mampu senantiasa membuat hati nurani ini tetap bercahaya...?Secara umum solusinya adalah bagaimaa yang telah diugkapkan diatas,kita harus senantiasa berjuang sekuat kuatnya agar hati ini janga sampai terlalaikan dari mengingat Allah.Mulailah dengan mengenali apa yang ada pada diri kita ,sehingga mudah mudahan ikhtiar ini manjadai jalan bagi kita untuk dapat mengenal Allah,Dzat yang telah menciptakan dan mengurus kita.

Dialah satu satunya Dzat maha pembolak balik hati,yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk membalikan hati yang redup dan kusam menjadi terang bendearang dengan cahaya-Nya,Wallahu a'lam.***



myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

By Ikhsan sanitomichie

ilmu adalah investasi tiada henti