ikatlah ilmu dengan menuliskannya"sanitomichie"

Friday, July 27, 2007


Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Menelusuri Makna Pacaran

Cinta Itu Tidak Buta karena tidak bermata dan tidak tuli karena tidak bertelinga.Cinta itu pasif dan akan aktif bergantung cara manusia mengaktifkannya.Jika cinta hinggap dimata manusia yang tidak beriman ,akan merubah mata irtu menjadi mata keranjang ,Jika cinta hinggap dihati manusia yang bersahabat dengan syetan,maka cinta akan menjelma menjadi birahi,karenanya tidak sedikit manusia yang menjadi budak nafsu dan menjadi korban cinta.
Cinta yang hinggap dimanusia durjana akan merubah manusia menjadi medium zina.Akibatnya segala yang dilakukan atas nama cinta menjadi bentuk zina yang terang terangan ,maka berzina,telinga berzina,mata berzina,tangan berzina dan seluruh anggota tubuh lainnya berzina termasuk kemaluannya berzina yang merupakan zina yang paling besar dosanya.Diera modern kini,cinta yang berarti zina ini telah membudaya sehingga menjadi malapetaka yang mengancam eksistensi manusia sebagai mahluk beradab,Rasulullah bersabda."diriwayatkan daripada Abu Hurairoh ra katanya: katanya NabiSAW bersabda : Allah SWT telah mencatat bahwa anak adam cenderung terhadap perbuatan zina,keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi,dimana ia akan melakukan zina mata dalam bnetuk pandangan ,zina mulut dalam bnetuk pertuturan,Zina perasaaan yaitu bercita cita dan berkeinginan mendapatkannya sehingga kemaluan ikut memastikan paerzinaan itu."( HR Bukhari,Muslim,Abu Daud & Ahmad).
Akibat cinta zina ini maka menjamurlah perilaku syetan yang menjadi kebanggaan,Ikhtilat da khalwat menjadi hal yang lumrah,media cetak dan elektronik berlomba memanas manasi agr manusia lebih mencintai nafsunya dibandng akal sehatnya.Dipampanglah paha wanita agar semua orang tahu bahwa disanalah ada cinta. Yang paling klasik adalah muncul budaya pacaran sesungguhnya bukan pacaran melainkan perzinaan yang disebutkan dalam hadits diatas jika pacaran yang asalnya hanya untuk mengenali dan saling mengenal,maka kini berubah menjadi upaya saling melampiaskan hawa nafsu hewani,jadilah manusia itu binatang ,nahkan lebih se sebagai tuhannya,maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami.mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak,bahkan mereka lebih sesat dari pada binatang ternak."( QS Al Furqan: 43-44)




ADA BAND lyrics
By Sanitomichie

Thursday, July 26, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Hidup Ini Ibarat Mimpi
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

AKHIR-AKHIR ini Indonesia dilanda berbagai musibah baik di darat, laut, maupun udara. Media massa dengan gencar memberitakan kecelakaan menimpa kereta api (KA), tenggelamnya kapal laut, dan kecelakaan pesawat udara.

Belum hilang ingatan kita akan bencana-bencana tersebut, wilayah Jakarta dan sekitarnya seperti Bekasi dan Tangerang tergenang banjir. Kehidupan masyarakat dan perekonomian menjadi lumpuh dibuatnya.

Kita semua prihatin dan tentu saja harus mengadakan introspeksi dan evaluasi di balik semua musibah tersebut. Pada Rakernas dan Temu Alumni ke-2 di Bukittingi, Sumatra Barat, belum lama ini, para alumni ESQ mengumpulkan dana sehingga mencapai Rp 65 juta untuk musibah di Sumatra Barat.

Terlepas dari semua itu, kita sepatutnya mengenang kembali makna hidup di dunia ini. Patut disyukuri bahwa hari ini kita masih dapat berjumpa. Sebuah perjumpaan di alam mimpi. Karena, jika kita renungi, sesungguhnya hidup ini adalah mimpi.

Kehidupan saat ini ibarat bayang-bayang, tidak nyata. Hidup ini bagaikan tidur tadi siang, dan ketika terbangun itulah akhirat. Semoga kita senantiasa sadar bahwa sesungguhnya kita dalam impian.

Saya katakan demikian, karena dunia ini adalah tempat kehidupan yang belum ada konsekuensinya secara sempurna. Jadi, apabila kita berbuat baik, kebaikan itu tidak sepenuhnya berbalik jadi kebaikan saat ini. Ketika kita berbuat kemuliaan, kemuliaan itu belum tentu muncul di hadapan kita saat ini.

Begitu pula ketika kita berbuat kejahatan, keburukan, atau kemalasan, dampaknya hanya sebagian yang ditunjukkan saat ini, dan ada yang tersembunyi di belakang.

Oleh karena itu, kita patut bersyukur jika ujian atau hukuman itu datang. Ujian bisa berupa sakit, kehilangan harta benda, atau musibah lainnya. Semua itu dasarnya merupakan keseimbangan yang harus kita terima sebagai akibat logis dari keseimbangan alam semesta.

Dalam hal ini, kita dapat melihat teladan Nabi Muhammad sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Menyadari usianya tak akan lama lagi, Nabi Muhammad bertanya, "Siapa yang dulu aku sakiti, maka berilah aku balasan seperti yang pernah aku lakukan."

Hal ini menyiratkan bahwa Nabi lebih senang mendapatkan balasan di dunia daripada nanti di akhirat. Oleh karena itu, kita tidak usah bersedih jika mendapat masalah, penderitaan, dan kekurangan. Itu semua adalah efek dari apa yang kita lakukan, sedangkan efek sisanya akan lunas di akhirat. Yang berbuat baik bunganya akan didapatkan di akhirat, di hari pembalasan.

Pikiran, kata, dan sikap akan berdampak pada alam. Dampak itu semuanya akan direspons oleh alam. Karena alam memiliki kesadarannya sendiri. Sesungguhnya alam itu adalah energi, yang dalam ilmu fisika disebut Fisika Quantum Vacuum.

Dari manakah semua itu? Siapakah yang menyeimbangkan? Dialah 99 energi, 99 kekuatan Kuantum Vacuum. Sesungguhnya, itu semua adalah energi Asmaul Husna. Kebaikan dibalas dengan kebaikan, keburukan dibalas dengan keburukan, demi menjaga keseimbangan.

OIeh karena itu, selama kita masih hidup di dunia, berlomba-lombalah dalam menciptakan balasan atau konsekuensi, yaitu surga. Berlomba-lombalah untuk menciptakan semua kebaikan yang tidak dilihat oleh manusia ataupun yang terlihat pandangan orang lain.

Sadarlah, kita semua masih mimpi, karena kita semua masih berada dalam bayang-bayang. Kita berada di alam fana, bukan di alam sesungguhnya. Percayalah, suatu hari ketika masuk di alam pembalasan, kita akan mengatakan benar bahwa saya dulu di dunia hanyalah mimpi, dan sekarang adalah nyata.***





PROTONEMA lyrics
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Kembali kepada Tuhan
Oleh ASEP SALAHUDIN

KEMBALI bahasa Arabnya adalah taba. Bentuk kata bendanya taubat. Kata taubat (tobat) sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia.

Tobat merupakan konsep religius dikedepankan, karena manusia adalah makhluk yang sering alpa dan khilap. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan dosa, hanya perbedaannya banyak sedikit, sering, dan tidaknya. Diandaikan dengan tobat mereka dapat kembali ke kediriannya yang fitri. Dengan tobat dosa terampunkan dan diri kembali menemukan asal-usulnya yang fitri.

Menjadi manusia yang fitri (suci), inilah yang menjadi obsesi kaum beriman. Kondisi ini hakikatnya merupakan fitrah manusia. Fitrah suci yang dalam perjalanannya kerap ternodai oleh perilaku manusia yang sering khilaf dan lupa diri itu.

Dalam ajaran Islam, manusia lahir sama sekali tidak dibebani dosa leluhurnya. Dosa ada karena kita yang berbuat. Dosa inilah yang apabila terus menumpuk dan tidak kita tobati tidak menutup kemungkinan akan menutupi hati dan menumpulkan kepekaan jiwa, sehingga cahaya Tuhan yang seharusnya memancar tertutup dedak dosa ini, sebagaimana dalam teori “Hati ibarat cerminnya” al-Ghazali yang terkenal itu.

Maha penerima tobat

Kesadaran diri untuk lekas kembali ini yang selalu diigatkan Alquran. Di titik ini Tuhan menyampaikan garansi untuk menerima setiap tobat hamba-Nya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, malah Dia menahbiskan dirinya sebagai zat yang Maha Penerima tobat. al-Tawwab merupakan salah satu dari nama-nama Allah yang indah. ”Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya” (Q.S. al-Syura: 25). Dalam riwayat Ibnu Abbas dikatakan, Rasul bersabda: “Semua anak cucu Adam itu banyak melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang-orang yang bertobat” (H.R. Tirmidzi).

Allah menyeru kepada kita agar jangan sampai putus asa, karena kesalahan yang telah kita perbuat. Pintu tobat selalu terbuka. Dengan penuh kasih sayang, Dia memanggil kita agar selekas mungkin menggunakan kesempatan untuk bertobat agar kita menjadi orang yang beruntung ”Bertobatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung” (Q.S. al-Nur: 31).

Sejarah merekam bagaimana orang-orang mulia setingkat para nabi, ketika mereka melakukan kesalahan dengan cepat mereka bertobat menjerit memohon ampunan sebagaimana yang dilakukan oleh Adam a.s. (Q.S. Taha: 120-122, al-Baqarah: 37) Ibrahim a.s. dan Musa a.s. (Q.S. al-Baqarah: 128, al-Araf: 143).

Logikanya, nabi saja bertobat dan beristigfar yang padahal tingkat kesalahannya sangat kecil, apalagi kita yang dijamin kesalahannya lebih besar dan sering dari pada para kekasih Allah itu. Adalah satu sikap yang sombong, apabila kita tidak pernah beristigfar dan bertaubat. Namun, justru yang terakhir inilah yang sering terjadi. Tahu banyak dosa, tapi tidak mau bertobat atau bertobat tapi sering kembali lagi melakukan kesalahan yang sama, berulang-ulang jatuh dalam lubang yang tidak jauh berbeda.

Mumpung pintu tobat itu masih terbuka, kita gunakan kesempatan ini. Sebab, setelah ajal di tenggorokan, maka semua penyesalan sudah tidak ada lagi gunanya. Ketika ajal menjemput, Allah pun menutup pintu tobat dan kita pun tinggal dirasuki penyesalan yang sudah sangat terlambat (Q.S. al-Nisa: 18).

Kita pun mafhum, sejatinya yang menjadi penyebab utama merebaknya krisis yang menimpa jagat manusia hakikinya, adalah akibat tindakan tercela yang kita perbuat sendiri dan tidak pernah ditobati. Selalu berulang-ulang dan terus terulang. ”Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri ...” (Q.S. al-Syura: 30).

Kekerasan dan kekejian yang terus berputar dan tidak pernah terbersit rasa sesal untuk kemudian kembali kepada zat Yang Maha Pengampun. Kata Imam Ali, “Jauhilah melakukan dosa, tidak ada bencana, kekurangan rezeki kecuali dengan dosa,” Dalam riwayat lain “Ketahuilah bahwa tidak ada satu bau badan yang keluar, cacat, sakit kepala, dan penyakit yang lain hinggap pada manusia kecuali karena dosa yang dilakukannya”. Imam Ja’far al-Shadiq mengingatkan bahwa, “Orang yang mati karena dosanya adalah lebih banyak dibandingkan orang yang mati karena memang ajalnya sudah tiba.”

Alquran dengan sangat cermat menyodorkan pelajaran berharga dengan mendokumentasikan hikayat masa silam: bagaimana bangsa yang telah mencapai puncak kemakmuran tiba-tiba tersungkur mengenaskan dikepung berbagai bencana, akibat dari dosa-dosa yang terakumulasi dan tidak pernah bertobat bahkan dengan pongah mengolok-olok suara kebenaran yang direfresentasikan para nabi sebagaimana yang dialami kaum Saba (Q.S. Saba: 16-17), kaum Tsamud (al-Naml: 45-53), kaum ‘Ad (Q.S. al-Mu’minun: 41), kaum Luth (Q.S. al-’Ankabut/29: 31), kaum Syuaib (QS. Hud: 94), Fir’aun dan kaumnya (Q.S. al-Qashash/28: 40), dan kaum Sabat (Q.S. al-A’raf: 165).

Dan yang paling mutakhir, jangan jauh-jauh, diakui atau tidak, krisis berkepanjangan yang menimpa kita salah satu jawabannya karena tempo hari (sampai sekarang?) pembangunan yang kita selenggarakan terlampaui kerap mentoleransi tindakan-tindakan dosa. Pengertian Dosa itu dalam kamus kebangsaan kita, bisa bernama korupsi, kolusi, nepotisme, sogok, menipu, dusta, dst. Tatkala ada suara-suara yang mengingatkan kekejian, dengan serta merta suara itu dibungkam dan atau nasibnya hilang tergerus arus budaya massa yang memang sudah korup, belum lagi dosa individual dalam kaitan dengan Sang Kuasa. Masih banyak contoh lain, yang intinya, sekali lagi, meneguhkan satu hubungan antara dosa, petaka, dan keengganan untuk kembali ke jalan waras (benar).

Dalam satu riwayat, suatu hari Imam Ali pernah dimintai nasihat, “Wahai Amirul Mu’minin, mengapa doa-doa kita tidak dikabulkan oleh Allah padahal Dia telah berfirman, ‘hendaklah kalian berdoa kepada-Ku pasti akan Kukabulkan doa kalian?” Imam Ali menjawab, bahwa sesungguhnya hati kalian telah berkhianat dengan delapan sifat.

1. Kalian mengenal Allah namun kalian tidak mengindahkan hak-hak-Nya.
2. Kalian beriman kepada Rasul namun kalian redupkan syariatnya.
3. Kalian membaca kitab suci tapi kalian tidak mengamalkan kandungannya.
4. Kalian mengaku takut neraka tetapi setiap saat akrab dengan perbuatan yang akan mendorong ke arah sana.
5. Kalian mengaku ingin masuk surga namun kalian mengerjakan amal yang justru menjauhkan darinya.
6. Kalian banyak mamakan nikmat Allah, tetapi tidak pernah mensyukurinya.
7. Kalian memusuhi setan, tetapi kalian selalu mengikuti ajakannya tanpa membantah.
8. Kalian begitu cerdas menghitung aib orang lain, namun kalian tidak mempunyai keberanian untuk menghitung aib sendiri.

Demi tekad luhur untuk kembali kepada-Nya dalam keadaan suci, demi meraih kehidupan yang berharkat, maka tidak ada cara lain tatkala kita terjebak dalam kesalahan dan dosa kita selekas mungkin memohon ampunan-Nya dan bertobat dengan sungguh-sungguh, kita canangkan nawaitu yang kokoh untuk tidak jatuh dalam kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Selepas kita tobat, Allah menebarkan ampunan dan menjanjikan hidup yang terbebas dari keresahan dan yang kemudian muncul adalah damai dan lapang sebagaimana diisyaratkan Hadis Nabi saw: “Barangsiapa banyak beristigfar, niscaya Allah akan menghilangkan kesedihannya, memberikan jalan keluar bagi kesempitan (hidupnya) dan memberinya rezeki tanpa diduga-duga. *** "PR bdg"

http://www.3planesoft.com/img/nature_screen01.jpg

Monday, July 23, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Singgah di Taman Surga Dunia
Oleh ADE SUDARYAT

RABI'AH bin Aslam, salah seorang sahabat Nabi saw. dari kelompok ahlu shuffah yang juga menjadi pembantu Nabi saw., pernah ditawari oleh Nabi saw., "Mintalah kamu kepadaku! Apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku hanya menginginkan, kelak di akhirat dapat menyertaimu duduk di surga," kata Rabi'ah. "Ada permintaan yang lainnya?" lanjut Nabi saw. "Hanya itu saja, ya Rasulallah", jawab Rabi'ah.

"Kalau begitu, bantulah aku agar doa atas permintaanmu terkabul", demikian pinta Rasulullah saw. "Dengan apa membantumu ya Rasulallah?"

"Perbanyaklah melaksanakan salat sunat," jawab Rasul saw.

Itulah sebagian keinginan sahabat Rasulullah saw. Mereka begitu mendambakan menjadi ahli surga. Mereka menginginkan sekali mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Untuk mencapainya mereka rela berjuang mengorbankan kesenangan dunia, demi kebahagiaan akhirat. Mereka rela tak memiliki apa-apa di dunia, asalkan mereka memiliki apa-apa di akhirat.

Banyak sekali ayat Alquran maupun Alhadis yang menerangkan tentang keindahan dan kenikmatan surga. Hal itu Allah dan Rasul-Nya terangkan agar kita merasa terdorong untuk berusaha menjadi salah seorang calon penghuninya. Tidaklah mudah untuk menjadi penghuni surga. Banyak rintangan terbentang yang menghadang untuk meraihnya. Lain halnya dengan jalan ke neraka. Hawa nafsu dan setan begitu kuat mendorongnya.

Namun demikian, janganlah putus asa berjuang untuk meraihnya. Kita harus senantiasa meningkatkan kesungguh-sungguhan kita dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Dekatkanlah selalu diri kita terhadap-Nya. Mintalah selalu pertolongan-Nya agar kita senantiasa istiqamah di jalan-Nya. "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Q.S. 29:69).

Kebersihan hati merupakan kunci utama terbukanya pintu surga bagi kita. Hanya orang-orang yang hatinya bersih dari sifat riya, takabur, dendam dan bersih dari prasangka buruk, baik kepada Allah maupun kepada manusia, yang akan menjadi penghuni surga. Sebesar biji sesawi saja terdampar kesombongan di hati kita, pahala dari Allah dan pintu surga tertutup bagi kita. Demikian pula halnya bila sifat riya, dendam dan su'udzon masih terdampar di hati kita.

"Tiga golongan orang yang pertama akan mengisi neraka, ialah ulama, mujahidin dan para dermawan yang semuanya riya dengan amalnya." (Tafsir Ibnu Katsit, Juz I:496).

"Barangsiapa yang riya dalam beramal, tak ada bedanya dengan orang yang menggendong air untuk dipindahkan ke atas gunung. Ia hanya memperoleh rasa lelah dan capek. Amal perbuatannya tertolak sama sekali. Tatkala gunung itu telah menyatu dengan air, sedikit pun gunung itu tidak meleleh" (Imam Al-Ghazali dalam Al-Mawa'idz fil Ahadits Al-Qudsiyah).

Suatu ketika, tatkala Nabi saw. memberi nasihat kepada para sahabat sambil duduk berkeliling, beliau berkata, "Sebentar lagi akan datang melewati kita seorang laki-laki dari golongan ahli surga".

Para sahabat sangat heran dengan perkataan Nabi saw. tersebut. Tak lama kemudian lewatlah seorang laki-laki dengan penampilan yang sangat sederhana. Rasul pun menunjuk kepada orang tersebut, itulah dia dari golongan ahli surga. Abdullah bin Amru ibnu Ash, penasaran dengan perkataan Rasul saw. Beranjaklah ia untuk meneliti perilaku orang tersebut. Ia berpura-pura kemalaman dan memohon menumpang tidur di rumah orang tersebut.

Sampai tiga malam ia meneliti dan mengikuti perilaku dan ibadah orang tersebut. Tak ada yang istimewa dari cara ibadahnya. Persis sama seperti yang dilakukan para sahabat lainnya. Akhirnya Abdullah bin Amru berterus terang tentang kedatangannya di rumah orang tersebut. Ia sampaikan apa yang dikatakan Nabi saw. sambil menanyakan apa keistimewaan dari orang tersebut.

Sang calon penghuni surga menjawab, "Seperti yang kamu lihat, aku tak melakukan apa pun kecuali seperti yang kamu lihat. Namun, aku tidak mendapatkan dalam diriku rasa curang terhadap seseorang dari saudara se-Islam dan juga aku berusaha untuk tidak iri dengki terhadap kebaikan yang Allah berikan kepada saudaraku se-Islam. Juga aku berusaha untuk tidak dendam terhadap orang-orang yang mengkhianatiku. Aku berusaha untuk tidak riya dengan amal-amalku".

Abdullah bin Amru mengambil kesimpulan. Selain kekhusyukan ibadahnya, kebersihan hatinyalah yang mengantarkan orang tersebut menjadi salah seorang dari golongan ahli surga. Subhanallah. "Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan. Dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat. Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, yaitu pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna lagi, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Q.S. 26:84 -89).

Menurut hadis Rasul saw., di dunia yang fana ini terdapat tiga taman surga. Jika kita mendapatkannya, sempatkanlah untuk menyinggahinya walaupun hanya sebentar. Dengan menyinggahinya setidak-tidaknya kita sedang benar-benar mencalonkan diri untuk menjadi penghuninya yang abadi kelak di akhirat. Ketiga taman surga tersebut adalah, pertama, menjenguk saudara se-Islam yang sedang sakit. "Seorang Muslim jika menjenguk saudaranya sesama Muslim yang sedang sakit tetap berada dalam taman surga hingga ia kembali" (H.R. Muslim).

"Tidaklah seorang Muslim yang menjenguk sesama Muslim yang sedang sakit pada pagi hari, melainkan didoakan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga sore hari. Dan jika menjenguknya pada sore hari, didoakan tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi hari dan kelak di akhirat akan mendapat jaminan buah-buahan yang ada di taman surga" (H.R. At-Tirmidzy).

Kedua, majelis zikir. Yang dimaksud zikir di sini tidak saja hanya ingat kepada Allah secara lisan saja. Kebanyakan para ulama berpendapat, membahas halal dan haram, mencari ilmu yang manfaat, memberi nasihat yang baik dan mencegah kemunkaran termasuk zikir kepada Allah SWT.

"Apabila kamu melewati taman-taman surga, maka singgahilah dan nikmatilah sajiannya olehmu. Para sahabat bertanya, "Hai Rasulallah! Apakah taman surga itu?" Rasul menjawab, "Majelis-majelis zikir. Allah memiliki para malaikat yang selalu berkeliling mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka datang ke tempat itu, mereka duduk bersama orang-orang yang berzikir" (H.R. Muslim). Ketiga, salat di Masjid Nabawi. "Antara rumahku dan mimbarku ini merupakan salah satu dari taman-taman surga".

Sungguh berbahagia apabila kelak kita menjadi penghuni surga. Kita akan dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Suatu ke-nikmatan yang belum pernah terdengar, terbayangkan dan belum pernah dirasakan selama kita hidup di dunia. Namun demikian, kita pun menyadari, betapa kotor dan hinanya diri kita. Kemaksiatan dan dosa selalu menghiasi perjalanan hidup kita.

Tapi seperti Allah SWT firmankan, kita tak boleh putus asa dari rahmat dan kasih sayang-Nya. Tobat dan pembersihan jiwa dengan akhlak mulia serta selalu mendekatkan diri kepada-Nya akan membuka peluang bagi kita untuk meraih kenikmatan surga.

Jika kamu memohon kepada Allah SWT, jangan tanggung-tanggung, memohonlah agar diperkenankan menjadi penghuni Surga Firdaus. Demikian sabda Rasul saw. Karenanya, jangan berhenti beramal saleh dan berharap ampunan, keridaan serta surga-Nya.

"Wahai manusia! Andaikan engkau takut pada api neraka sebagaimana engkau takut kepada kemiskinan, niscaya akan kucukupi kebutuhan hidupmu melalui cara-cara yang tak terjangkau oleh otakmu. Seandainya engkau tergila-gila kepada surga sebagaimana engkau tergila-gila kepada dunia, maka Aku akan memberikan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat" (Imam al Ghazali dalam Al-Mawa'idz fil Ahadits Al-Qudsiyah).***

Penulis Ketua DKM Nurul Hidayah Pasar Tengah Cisurupan Garut, anggota Klub Penulisan Hardim Bandung.

http://wiramandiri.files.wordpress.com/2007/05/surga.jpgBy Ikhsan Sanitomichie email-AbuBa_8@yahoo.com/http://istanasurgaku.blogspot.com
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Hijrah dari Musibah
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

WAKTU ibarat pedang, kata pepatah Arab. Waktu tak terasa sama sekali. Siang berganti malam dan malam pun bertukar siang. Rembulan terus mengitari bumi dan bumi senantiasa mengelilingi matahari.

Waktu terus berputar, musim demi musim berganti. Gerbang tahun baru berganti dan bergulir ke tahun baru. Berjuta impian dan harapan berpendar, memacu semangat untuk senantiasa berbuat lebih baik di esok hari.

Ada beberapa catatan kejadian yang lekat membekas dan terpatri sampai saat ini. Peristiwa-peristiwa tersebut seharusnya dapat dijadikan cermin untuk melangkah ke depan. Serangkaian peristiwa muram terjadi, tragedi-tragedi mengenaskan meronai hari-hari di negeri ini. Bencana seolah tidak ada henti.

Dalam beberapa tahun terakhir negeri tercinta ini dilanda banjir, tanah longsor, lumpur di Jawa Timur yang tak kunjung surut. Terakhir, musibah dan berbagai kecelakaan dialami beberapa alat transportasi baik darat, laut, maupun udara. Bahkan, penerbangan Indonesia dilarang mengunjungi negara-negara Eropa sehingga pemerintah Arab Saudi pun mempertanyakan kelaikan "Garuda" untuk mengangkut jemaah haji tahun ini.

Tak dapat dimungkiri, jumlah bencana alam terus mengalami peningkatan. Menurut sebuah sumber, jumlah bencana alam di tahun 1990-an meningkat tiga kali lipat dibandingkan jumlah bencana alam yang terjadi pada tahun 1970-an dan diperkirakan akan terus meningkat pada dekade yang akan datang.

Bandingkan 964 bencana alam di tahun 1970-an, menjadi 2.720 pada 1990-an, dan akan mencapai 4.650 bencana alam di tahun 2000-an. Ditinjau dari segi jumlah korban, setiap kejadian mengakibatkan sekitar 10 kematian dan bahkan lebih, dan setiap kematian akan memengaruhi 100 orang lainnya. Sebuah kenyataan yang tak seorang pun mengharapkannya.

Diakui atau tidak, berbagai bencana itu merupakan bukti bahwa manusia pada masa kini sudah semakin jauh dari garis orbit. Begitu banyak pelanggaran suara hati yang menimbulkan kekacauan di muka bumi ini. Hukum aksi-reaksi berlaku pada alam. Apa pun aksi yang dilakukan manusia pada alam, maka akan menimbulkan reaksi alam pada manusia.

Bencana, apa pun bentuknya, senantiasa menyadarkan kita betapa lemahnya manusia. Bahkan, teknologi canggih yang amat dibanggakan manusia pun kerap tak mampu melawan kehendak alam. Berbagai musibah pada dasarnya adalah sinyal sekaligus pesan. Alam adalah cermin perilaku manusia, sedangkan peristiwa dan berbagai gejala alam adalah bahasa dari Sang Pencipta kepada makhluk-Nya.

Saatnya kita melakukan introspeksi secara serius dan mendalam, atas apa yang telah kita lakukan. Hijrah adalah momen perubahan. Ada banyak pelajaran berharga dari hijrahnya Rasulullah saw yang bisa kita teladani. Hijrah bisa bermakna melangkah kembali ke garis orbit. Hijrah adalah segera kembali mengarah pada pusat orbit yang benar. Kembali ke fitrah.

Beberapa bulan lagi kita akan menjelang bulan suci Ramadan. Sebuah bulan teramat istimewa bagi umat Islam. Ramadan bukan hanya bermakna fisik yakni sebatas berpuasa, melainkan lebih dalam lagi, yaitu menuju ketundukan pada keteraturan dan ketetapan Sang Pencipta alam semesta.

"Demi matahari dan sinarnya di pagi hari. Demi bulan apabila mengiringi. Demi siang apabila menampakkan diri. Demi malam apabila menutupi. Demi langit dan seluruh binaannya. Demi bumi dan semua yang ada di permukaannya. Demi jiwa dan penyempurnaannya. Allah mengilhami sukma kebaikan dan keburukan. Beruntunglah siapa yang menyucikannya. Dan rugilah siapa yang mengotorinya". (Q.S. Asy Syams 1-10).

Wallahu-a'lam.***

http://i.cnn.net/cnn/SPECIALS/2004/tsunami.disaster/images/top.aceh.ap.jpgBy Ikhsan Sanitomichie email AbuBa_8@yahoo.com/http://istanasurgaku.blogspot.com

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.
Muslimah Seharum Melati

Wanita sering digambarkan sebagai sekuntum bunga,indah,cantik,beraneka warna,,membuat idah dimana ia berada,menyenangkan bagi siapa saja yang melihatnya . Tak jarang orang menjadika bunga sebagai hiasan namun juga untuk penggunaan yang lainnya,seperti terapi. Ada kebanggaan tersendiri bagi kaum wanita bila dirinya diidentikan dengan sekuntum bunga. Terasa romantis dan membuat perasaan melambung tinggi ketika mendengarnya. Seperti puisi tempo tempo dulu yang sarat dengan perumpamaan. Dewasa ini mungkin sudah bukan jamannya lagi seorang wanita mudah terbuai ketika dirinya disanjung bagaikan bunga. Kaum wanita semakin kritis pemikirannya ,tidak semua wanita memberi arti keindahan, sejalan dengan pemahaman permukaan bulan itu tidak rata,berbatu batu penuh dengan lekukan seperti kawah ,maka seorang wanita cantik tidak mau diibaratkan bak bulan purnama. Karena berarti wajahnya penuh bopeng bekas jerawat,tidak mulus.
Ada bunga yang tampak indah bentuk namun mengeluarkan bau busuk yang menusuk hidung seperti unga bangkai misalnya. rasanya tidak akan ada wanita yang mau dirinya diibaratkan sekuntum bunga bangkai meskipun mempunyai nama yang indah, Rafflesia Arnoldi ,jadi sekarang mulai pilih pilih ,wanita diibaratkan bunga apa dulu,baru dia merasa senang. Seandainya boleh menawarkan dan memilihkan untuk kaum wanita,pilihlah bunga melati,bukan karena terkenak menjadi lambang kesucian,atau sebagai ciri khas bangsa kita atau karena baunya yang harum mewangi,namun bunga melati ini membumi,dikenal dihampir seluruh pelosok negeri bumi yang da dibumi ini,disenangi wanginya karena tidak ada yang merasa bosan. Harumnya yang khas mempesona manusia yang ada dibumi ini,meskipun sudah berubah wujud namun tetap orang mengenal jati dirinya sebagai bunga melati, Sebotol parfum atau segelas teh rasa melati atau jasmine dengan mudah dikenali karena ada ciri khasnya. bahkan dewasa ini minyak esensial melati dijadikan salah satu bahan terapi. Subhanallah ,seandainya kaum wanita khusunya kaum muslimah seperti bunga melati ini.kehadirannya menyegarkan suasana dengan keharuma yang terpancar dari akhlaknya,bukan dari sekedar tetesan parfum yang menempel ditubuhnya. Walaupun kecil bunga melati mampu memberi arti bagi orang banyak. Kaum muslimah walau dengan keterbatasan gerak,namun mampu menembus peradaban dengan tunduk patuhnya pada aturan Allah. kelemahlembutannya menjadi modal utama untuk mendidik danmembentuk generasi baru yang akan meneruskan peradaban umat manusia,generasi rabbani.keberadaan muslimah mampu menjadi penyejuk ,terap bagi jiwa jiwa yang memerlukan khususnya bagi keluarganya.
Kemajuan jaman dengan segala bentuk teknologi canggih tidak menjadi penghalang bagi muslimah untuk mempertahankan jati dirinya,menundukan pandangan dan hijab yang melindungi diri menjadi ciri khasnya. Dimanapun dsan kemanapun muslimah berada orang akan mudah mengenalnya bukan karena ia keturunan orang penting atau terpandang cantik atau berharta melimpah,namun karena ketawaduan dan kemuliaan akhlaknya sderta kecerdasan akal pikirannya.
Mungkinkah semua itu ...? sesungguhnya segala sesuatu yang Allah ciptakan tidak ada yang sia sia ,sepintas mungilnya bentuk bunga melati tidak begitu berarti ,namun setelah diteliti ternyata kehadirannya mampu mengalahkan bunga bunga lain yang jauh lebih besar dan indah rupanya. Allah sengaja menciptakan demikian agar kita mampu untuk terus menggali ilmu dan hikmah dibalik penciptaan-Nya.
Sudah saatnya kaim wanita ,khususnya muslimah untuk bangkit...! tidak menjadika kerudung lebarnmya sebagai penghambat untuk berkarya atau alasan takut terdedah( terbuka ) hijabnya.Allah menciptakan aturan untuk kebahagiaan hamba-Nya bukan untuk mempersulit.
Dewasa ini muslimah sudah memperlihatkan cirinya dengan kerudung. hampir diberbagai pelosok daerah bahkan diluar negeri,muslimah ada yang tetap istiqomah dengan kerudungnya. Namu semua itu belum cukup,belum semua mampu menebarkan bau harumnya seperti melati.bahkan terkadang ibarat bunga melati plastik,indah rupa namun tidak ada ruhnya,hanya sekedar pajangan dan bila sudah berubah warna karena debu atau kotoran,dibuang begitu saja.
Ilmu dan wawasasn yang mutlak diperluka agar kita tidak terlindas oleh kemajuan zaman dan bertambah kompleksnya masalah,kaum muslimah jangan segan segan untuk menuntut ilmu seluas luasnya selagi ada kesempatan terus berusaha untuk meng upgrade dirinya.mengadakan perubahan perubahan kearah kebaikan,menjadi muslumah shalehah yang diharapkan-Nya.
Kerukuna dan kekompakan antar muslimah akan membawa suasana baru bagi lingkungan sekitar ,kompak bukan dalam hal bergosip ria namun kompak dalam berbagi ilmu dan wawasan.Keharuman bunga melati kurang memberi kalau hanya sekuntum saja.akan kalah terlindas oleh bunga lainnya yang jauh lebih besar dan indah. Begitupun dengan seorang muslimah,akan lebih banyak membawa arti apabila berada dalamsatu kesatuan yang kompak, bukankah melati akan tampak lebih indah bila berada dalam suatu rangkaian...? lebih tampak indah dan anggun ,dan yang pasti lebih semerbak harumnya.***
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/gambar/melati.jpg
By Ikhsan Sanitomichie email-AbuBa_8@yahoo.co.id/http://istanasurgaku.blogspot.com

Sunday, July 22, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Menikah Mengapa Harus Dipersulit

Rumah tangga merupakan anugerah yang diberikan Allah kepada manusia agar dapat hidup berdampingan ( berpasangan ) menuju ridha Allah SWT.Namun pelaminan tidajk hanya identik dengan hanya sebatas mencari pasangan atau calon pendamping. Begitu dengan pembuktian diri dari kedua insan tersebut yang menyatakan perasaan saling menyukai dan merasa sudah dapat saling melengkapi dianatara keduanya.Perjuangan seseorang untuk menuju gerbang pernikahan akan dihadapi dengan duri duri yang siap menghadangnya. Permasalahan yang kerap muncul dalam proses pembentukan rumah tanggga diantaranya..: Pertama....Calon pasangan ( pihak laki laki ) belom memiliki pekerjaan tetap atau belom mempunyai penghasilan yang sesuai .Seorang laki laki yang sudah siap menikah ,kadanga harus menundanya karena banyak pihak khawatir ia tidak mampu memberi nafkah kepada istrinya,jangan kan untuk anak istri iapun masih menumpang kepada orang tuanya. Penundaan sering terjadi dengan waktu yang cukuplama ,pada saat angt bersamaan ,kedua calon mempelei makin akrab,lamanya waktu menunda makin riskan ,hal ini bisa menimbulkan fitnah,dengan maksud ingin mencari kemaslahatan ,penundaan waktu pernikahan tanpa alasan yang sesuai syariat dapat menimbulkan masalah yang lebih besar. Padahal Allah SWT telah memerintahkan kita untuk mempermudah dallam proses pernikahan,Alla SWT berfirman " Dan nikahkanlah orang orang yang masih membujang diantara kamu dan juga orang orang yang layak ( menikah ) dari hamba hamba sahayamu yang laki laki dan perempuan ,jika mereka miskin,Allah akan memberi kemampuan dengan karunia-Nya dan Allah maha luas ( pemberian-Nya)." QS an-Nuur : 32 ). Jika ayat itu diyakini dengan sepenuh hati maka insya Allah akan datang pertolongan Allah untuk kita. Kedua....biaya pernikahan yang begitu sabgat mahal dan tuntutan mahar yang begitu sangat memberatkan bagi mempelai pria.dengan beranggapan bahwa pernikahan adalah suatu pesta besar yang harus diadakan leh keluarga. .Pernikahan adalah suatu hal yang sangat istimewa dalam hidup,sehingga pernikahan itu harus dirayakan semeriah mungkin dengan persyaratan mahar tinggi. Itu mendjadi suatu beban bagi mempelai pria dan keluarganya,sehingga akhirnya pernikahannyapun tak kunjung terlaksana. Islam sesungguhnya tidak memberatkan pihak manapun dalam sutu pernikahan ,yang terpentinmg rukun dalam suatu pernikahan terpenuhi,Jika sudah ada kedua calon mempelei orang tua wali dari pihak wanita,saksi minimal dua orang ( laki laki ) atau empat orang ( wanita ),ijab kabul dan mahar tidak harus sesuatu yang mahal .Apapun yang halal yang pihak kealuarga wanita dapat menerimanya dengan ikhlas kalau syarat rukun itu terpenuhi maka pernikahan itu sah hukumnya. Ketiga tuntutan keluarga yang boleh mendahului kaka yang beluj menikah ,seorang adik tidak boleh menikah sebelum kakanya menikah terlebih dahulu,walaupun adik dah siap menikah dan calonnya sudah ada biasanya dilarang.kakak dan segenap anggta keluarga seharusnya menyikapi masalah ini dengan arif.jangan dianggap adik yang mendahului menikah merupakan suatu tindakan yang tidak terpuji. Padahal kita lahir didunia ini tidak memesan menjadi adik sama halnya dengan rezeki atau kesuksesan .tidak ada sebuah pernyataan bahwa yang sukses atau banyak rezeki itu anak pertama atau anak bungsu,orang sukses pun bisa saja didapatkan oleh anak ke-1 dan adik nya biasa biasa saja.adapula yang biasanya biasa biasa saja dan adiknya yang meraih kesuksesan ,begitu pula mengenai tanggapan bahwa menikah harus berurutan sebagaimana lahir kedunia,kalau gotu kita beranggapan bahwa meninggalpun punakan berurutan,jadi kita lahir ,meninggal, bukan kita yang memesan atau keinginan kita tetapi ketentuan Allah. SWT. Sebenarnya ,biaya menikah tidaklah mahal untuk biaya pengurusan ke KUA ( Kantor Urusan Agama )saja hanya 300 ribu rupiah.bandingkan dengan harga pesawat handphone untuk gaya gayaan yang harganya diatas 500 ribu rupiah,biaya pernikahan menjadi sangat mahal karena kita menganggap pernikahan identik dengan pesta meriah,bila kita ingin mengikutisunnah Rasulullah SAW mempermudah suatu amal pernikahan adalah sebuah amal saleh. Dengan demikian dan keyakinan yang kuat pernikahan merupakan suatu yang sangat mudah,pasti Allah SWT akan memberikan kemudahan kepada umatnya yang akan melaksanakan perintahnya,jadi menikah kenapa harus dipersulit...****

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Belajar Hak Siapa
Bila kita amati,sebagian besar nefgara muslim atau negara yang penduduknya mayoritas muslimmhidup dalam kemiskinan yang dialami negara muslim menyebabkan rakyatnya tidak dapat menikmati pendidikan dengan sebaik baiknya,Ini terjadi karena anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk mendidik rakyatnya sangat kecil,dinegara kita anggaran untuk pendidikan sangat kecil dibandingkan dengan anggaran untuk mensubsidi koruptor BLBI ( Bantua Likuiditas Bank Indonesia ) beberapa tahun lalu.. Padahal pendidikan sangat penting bagi suatu.Kemajuan suatu bangsa berbanding lurus dengan kualitas pendidikan bangsa itu sendiri,makin bermutu pendidika disuatu negara,akan makin maju juga bangsa tersebut. Belajar atau menuntut ilmu adalah suatu kewajiban setiap orang,undang undang dasar dinegara kita telah menegaskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak,negara dalam hal ini pemerintah harus membantu warganya yasng ingin belajar,mereka yang tak memiliki biaya yang tak mampu harus dibiayai fasilitasnya,bahkan bila perlu dibebaskan dari segala pungutan. Selama ini yang menikmati pendidikan hingga perguruan tinggi sebagian besar berasal dari kalangan berduit,orang miskin,mohon maaf tak ada tempat,cukuplah sampai SD atau SMP,meski ada beberapa anak dari keluarga kurang mampu dapat menikmatipendidikan hingga perguruan tinggi,namun jumlahnya sangat sedikit.itupun bagi mereka yang berotak encer.bagi yang kurang cerdas tak ada jatah beasiswa. Ajaran menegaskan bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bahkan dalam sebuah hadistnya Rasulullah SAW menegaskan kita untuk menuntut ilmu meski ilmu itu ada dinegeri cina,meskipun menurut beberapa ulama hadits ini termasuk hadits yang dhoif,namun tidak menjadi masalah bila diamalkan,asalkan dapat memberikan manfaat bagi kita dan kemajuan umat islam. Allah SWT dalam al quran surat al-Alaq ayat 1-5 berfirman..." Bacalah dengan nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,bacdalah,dan Tuhanmulah yang maha Pemurah,yang mengajarkan keoada manusia dengan perantraan kalam,dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya."
Firman Allah itu menjadi sebuah penegas bahwa membaca ( iqra ) wajib hukumnya membaca merupakan satu diantara aktifitas dalam belajar,Bila Allah telah menyuruh kita untuk belajar,maka setiap kita seharusnya dapat melaksanakannya,dan dapat pula membantu orang lain untuk melakukannya.***
http://www.pemkotbatu.go.id/ina/images/galerifoto/36-FS%20Sekolah.jpgby Sanitomichie email -AbuBa_@yahoo.co.id
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Meniti Hari Dengan Ilmu

Hampir dipastikan tidak ada seorangpun yang mengharapkan dirinya terbelakang,baik ilmu ,keahlian,maupun penampilan seiring dengan itu sarana pun turut memenuhinya,kini banya k bermunculan buku buku terbitan baru,menjamurnya tempat kurusus dan pelatihan,juga semaraknya model pakaian,tas,sepatu baru,namun sayang tidak banyak yang menyadari akan pentingnya hal tersebut. itu bisa terjadi karena kesadaran yang kurang akan pentingnya ilmu sehingga lebih tertarik pada penampilan raga, maka tak sedikit yang menganggarkan membeli sepatu dari pada buku,ada empat hal yang harus dilalui agar ilmu menjadi landasan dalam meniti hari. Pertama menelisik diri kenapa harus banyak membaca kenapa harus ikut pelatihan pelatihan.jika bukan untuk menjadikan diri lebih baik,apalagi yang akan diperoleh,dan jika tidak melakukan hal tersebut apa yang akan didapat,dari sana kita akan mendapat kesadaran. Kedua,menindaklanjuti skap sadara pada aplikasi,dengan menyadari bahwa ilmu yang akan menjadikan kita kaya ,tidak terbelakang,bisa bertahan dengan serta merta kita akan mencarinya. Ketiga meyakini bahwa ilmu itu harus dibelli maka selagi ada uang jangan pelit mengeluarkannya. Tung Desem Waringin.seorang penguaha no.1 di Indonesia harus mengeluarfkan milyaran rupiah untuk pelatihan dalam hitungan hari,ditakninya untuk mendapatkan ilmu yang baik maka dapatkan dari orang yang baik pula.walaupun harus mengeluarka uang besar dan jauh tempat yang dituju tak menjadaikannya rugi,karena itu nilaitambah baginya.namun jangan serta merta kita menganggap ilmu hanya bisa dibeli oleh orang yang berduit saja sehingga kita yang diberi rizki pas pasan tidak berhak,banyak hal yang dapat kita lakukan tanpa uang, tapi jangan disalahkan bila hasilnya juga pas asan. Keempat ilmu yang diraih serta dengan berlatih,sangat disayang kan jika seabrek buku harus dibaca,hadir disemiar seminar ,dan berbagai pelatihan digeluti jika tidak ditindak lanjuti dengan latihan. Dengan demikian ,saudaraku ilmu menjadi keniscayaan,awali dengan proses penyadaran akan pentingnya ilmu,tindak lanjuti dengan belajar dan berlatih,dan jangan pelit menganggarkan dana.yakini dengan berbuat lebih ,maka kita pun akan mendapatkan yang lebih,wallahu a'lam.
http://www.pnm.my/new/CIP-webpages/bkt/bground/buku.jpgBy Sanitomichie email- AbuBa_8@yahoo.co.id

Thursday, July 19, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Indahnya Cinta

Tak ada teman yang abadi untuk dibahas selain masalah cinta,tengok saja mulai dari lagu,prosa puisi,novel bahkan film semuanya didominasi dengan tema cinta ,wajar karena cinta adalah perasaan universal,dimana mana diseluruh dunia,orang membutuhkan dan menginginkan cinta.Bagi remaja ,masalah cinta itu ibarat nasi yang membuat orang mati lemas kelau tidak menyantapnya ,sayangnya cinta justru sering ternoda justru oleh mereka yang sedang jatuh cinta. Tidak jarang jatuh cinta malah menjadi ajang pelampiasan hawa nafsu cinta tidak lagi menjadi sesuatu yang suci dan indah,cinta sudah menjadi kubangan, lumpur kemaksiatan,lalu sebenarnya apa hakikat cinta itu...? The Power Of Love........Cinta tak terbatas feeling,tetapi memiliki kekuatan untuk mengubah dan menggugah. Orang yang merasakan cinta bisa mengubah dirinya demi orang yang dicintainya cinta bisa mengubah yang buruk menjadi baik,yang urakan menjadi sopan yang pendiam bisa menjadi periang,cinta juga bisa membuat orang menjadi kreatif,banyak pujangga dan musisi menghasilkan masterpiece,karya karya hebat karena dorongan cinta yang dirasakannya.
Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah dalam bukunya RaudahAl-muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin memberika komentar mengenai pengaruh cinta dalam kehidupan seseorang."Cinta itu bisa menyucikan akal,mengenyahkan kekawatiran,mendorong untuk berpakaian yang rapih,makan yang baik baik memellihara akhlak yang mulia,membangkitkan semangat,mengenakan wewangian ,memperhatikan pergaulan yang baik,serta memelihara adab dan kepribadian ,Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang orang yang shaleh dan cobaan bagi ahli ibadah."ujarnya.
Subhanallah ! Cinta memiliki kekuatan yang luar biasa pantaslah kalua cinta membutuhkan aturan. Tidak lain dan tidak bukan,agar cinta itu tidak berubah menjadi cinta yang membabi buta dapat menjerumuskan manusia pada keidupan hewani dan penuh kenistaan, Bila cinta dijaga kesuciannya,manusia akan selamat.Para pasangan yang saling mencintai tidak hanya akan dapat bertemu dengan kekasih yang dapat memupus kerinduan,tetapi mendapat juga ketenangan ,kasih sayang, cinta dan juga keridhaan dari zat yang menciptakan cinta yaitu Allah SWT.
Allah SWT berfirman,"Dan diantara tanda tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untuk istri isatri dari jenismu sendiri,supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya ,dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang .Sesungguhnya yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanada bagi kaum yang berpikir."( QS ar-Ruum[30]:21)
Antara Cinta Dan Pacaran.
Bagi sebagian besar orang ,cinta sangat identik dengan pacaran,orang orang yang pacaran pasti saling mencintai.dan orang yang saling mencintai pasti pacaran.sebenarnya apakah pacaran itu ..? benarkah pacaran itu wujud atau penjelmaan dari cinta...?
Dalam kamus islam,pasti kita tidak akan menemukan satupun rujukan tentang pacaran,sebab istilah pacaran tidak ada dalam sejarah dan tradisi islam pacaran bukan jalan untuk menuju pernikahan .salah satu cara untuk mengenal adalah khitbah,lalu kepada siapa cinta itu diberikan...?
  • Cintailah Allah SWT......Allah SWT sungguh sangat pencemburu Dia tidak mau cinta hambanya dibagi dengan cinta yang lain.kita sebagai hamba Allah harus benar benar mencintai Allah ,sebagaimana firman-Nya"Da diantara manusia ada orang orang yang menyembah tandingan tandingan selain Allah, mereka mencintainya seakan mencintai Allah,adapun orang orang yang beriman sangat mencintai Allah..."( QS al-Baqarah[2]:165),dalama ayat ini janganlah Allah tidak dicintai,yang mencintai Allah sama denga ,mahluknyapun Allah tidak suka,maka prioritaskan cinta kita yaang pertama dan utama hanya kepada Allah SWT.
  • Mencintai Rasullallah.......Sabda Rasul bagi yang ingin merasakan manisnya iman ( cinta) maka hendaklahia mencintai Allah Rasulallah"ada tiga golongan yang akan merasakan manisnya iman :
  1. mereka yang mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari selain kepada keduanya
  2. orang yang saling cinta karena Allah dan Rasul
  3. seorang yang membenci kepada kekafiran sebagaimana dia benci dilemparkankedalam api neraka"( al-hadits)
  • Cinta kepada orang tua.......setelah Allah dan Rasul-Nya prioritas cinta kita kepada kedua orang tua kita karena merekalah orang yang paling berjasa dalam hidup kita. Kasih sayang kedua orang tua tidak pernah akan lekang oleh jaman,tidak akan hambar oleh waktu,teramat durhaka orang yang mengabaikan cinta kepada kedua orang tua padahala kasih sayang mereka sepanjang masa .firman Allah ( al-Isra 23-24)
  • Cintailah sesama.......manusia memang tidak bisa hidup sendiri ia memang mahluk sosial yang membutuhka orang lain bahkan Rasul menyampaikan bagi mereka yang berharap keridhaan Allah hendaklah ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri( al hadits). Suatu saat Rasulallah didatangi oleh sahabat yang menempatkan." : " Ya Rasulallah saya mencintainya karena Allah ,apakah engkau telah mengabarinya tanya Rasul. belum ya Rasulullah.maka Rasul berkata temuilah dan katakan padanya engkau mencintainya."
  • Cinta alam sekitar.......Kita hidup sebagai manusia memiliki tugas mengemban amanah khalifah( sebagai pemimpi dimuka bumi ) baik atau rusaknya alam ini disebabkan oleh tangan manusia,maka jika ia ingn hidupnya sejahtera,aman dan nyaman harus mencintai lingkungan sekitarnya,sehingga tidak terjadi bencana,polusi dan kerusakan kerusakan lainnya.wallahu a'lam bishshawab,.....

myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

By Sanitomichie

email-AbuBa_8@yahoo.co.id

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Modal Visi & Harapan
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

ANGKA bunuh diri di Indonesia makin memprihatinkan. Hanya gara-gara sepele misalnya alasan ekonomi seseorang nekat bunuh diri seperti alasan seorang ibu rumah tangga yang bunuh diri dengan anak-anaknya.
Padahal, sebagai umat yang diberi akal seharusnya memiliki pikiran dan rancangan jauh ke depan. Harus bersikap visioner, memandang jauh ke depan. Bukankah Allah SWT. memiliki sifat "Al-Akhir" yang menuntut kita untuk berpikir visioner?
Covey, dalam bukunya yang paling anyar pun mengakui bahkan menguatkan keberadaan visi sebagai wujud kecerdasan mental. Sedangkan disiplin dianggap Covey sebagai bentuk kecerdasan fisik, gairah sebagai pengejawantahan dari aspek EQ (Emotional Quotient), dan nurani atau suara hati sebagai hal konkret dari kecerdasan spiritual. Kita akan dibuat terenyak dan seketika menganggukkan kepala (anggukan universal) bahwa ungkapan Covey sebagai cerdas secara spiritual baik nurani maupun suara hati selaras dengan suara Illahiah.
Suara hati sejatinya telah memberi energi pendorong bagi fisik, mental, dan emosional untuk menjalani kehidupan dan menghadapi masa depan. Berpikir dan bertindak dengan menggunakan kerangka Vision Principle, secara otomatis akan mengarahkan jiwa-raga kita untuk terus-menerus memperkokoh diri sebagai abdi Yang Mahakuasa.
Laa ilaaha illallah sebagai kekuatan spiritual yang menjadi motor penggerak setiap jejak langkah kita. Ketika kekuatan "God Spot" mampu mengalir untuk menguatkan suara hati lewat Asmaul Husna, ia akan memberikan arus listriknya pada akal lewat visi, sang tubuh dengan perilaku disiplin, dan sang hati dengan kehangatan semangat penuh kegairahan. Energi positif tersebut akan mengubahnya menjadi tujuh kekuatan gerak yaitu perilaku jujur, tanggung jawab, disiplin, kerja sama, adil, visioner, dan peduli.
Modal inilah yang akan membimbing pribadi-pribadi penggenggamnya untuk menggebrak dunia. Dengan semangat kejujuran dan keadilan, ia hadapi kompetitor dengan fair, berkompetisi secara "menang-menang". Dengan semangat tanggung jawab dan kepedulian, terus-menerus menyadari kompetisi harus dihadapi, dan bukannya melarikan diri. Ia pun berdisiplin untuk mengejar ketinggalan serta terus-menerus kaizen dengan inovasi termasuk dengan bentuk "kerja sama" yang strategis.
Terakhir, ia mampu menjadi sosok pribadi visioner, yang selalu memulai aktivitas diri dan bisnisnya dengan visi dan harapan.
Modal inilah yang dibutuhkan oleh para manusia digital, ia tak sekadar bertindak defensif menghadapi masa depan.
Tak juga pasif takluk pada mata rantai sebab-akibat. Namun sejatinya ia selalu merujuk pada keberanian untuk menyodorkan jawaban yang sophisticated, solusi canggih yang positif.
Kemampuan melihat hambatan permasalahan sebagai challenge bagi terciptanya tataran nilai yang lebih baik itulah solusi yang sesungguhnya. Dengan bermodalkan suara hati, visi, komitmen, dan kerja keras yang penuh kedisiplinan serta semangat kepedulian dan tanggung jawab, ia akan selalu mampu seize the future, menghadapi kemajuan teknologi dunia dengan kemungkinan-kemungkinan bagi diri dan korporasinya untuk melakukan open-sourcing, out-sourcing, supply-chaining, in-sourcing, in-forming, dll.
Kebutuhan "kecepatan" di era 2000, di mana setiap negara telah Using IT to transform a business, tak menjadi kendala bagi pribadi-korporasi bermental unshakable. Selalu memulai aktivitas dengan sebuah doa, memiliki integritas makna yang teramat dalam. Sebab, memulai sesuatu dengan doa, berarti memulai sesuatu dengan otak kanan, yaitu visi dan harapan. Inilah syarat menuju tantangan dan kompetisi menuju Indonesia Emas 2020.***
Yanto SupriadiMerintis Korda ESQ Purwakarta
MEMULAI suatu yang baru terasa berat apalagi dilaksanakan seorang diri. Ini pula yang dialami Ketua Koordinator Daerah (Korda) Forum Komunikasi Alumni (FKA) ESQ Kab. Purwakarta, Yanto Supriadi, yang ditemui di sela-sela ESQ Peduli Pendidikan, baru-baru ini.
"Saya ikut training ESQ Profesional angkatan 10 pada Agustus 2005. Karena saya berasal dari Purwakarta, setahun kemudian mendapat amanah merintis Korda ESQ," katanya memulai kisahnya.
Tanpa dibekali dengan nama-nama alumni ESQ asal Purwakarta, membuat Yanto harus bergerilya ke tiap-tiap instansi pemerintah maupun swasta guna mendata alumni ESQ. "Di ESQ Leadership Centre (LC) Bandung memang ada data alumni ESQ, tapi tidak boleh diakses karena takut disalahgunakan untuk kepentingan pemasaran berantai (MLM/multi level marketing)," katanya.
Ketika meminta data alumni ESQ di tiap instansi, Yanto mendapatkan pengalaman menarik karena tidak semua pejabat mau menerimanya. "Ada yang bersikap terbuka sehingga formulir alumni ESQ bisa terisi, tapi ada juga yang belum apa-apa sudah buang muka," katanya.
Selama sebulan bergerilya mencari data, akhirnya pada September 2006 mendapatkan 60 orang alumni ESQ. "Setelah kami membentuk Korda lalu mengadakan training ESQ yang dimulai pada Desember 2006 sebanyak 123 orang. Biaya training di daerah seperti Purwakarta hanya Rp 770.000,00 dan tak bisa dinaikkan karena daya belinya masih rendah," katanya. (Sarnapi/"PR")***
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Karakter Baik dan Kuat
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

MASALAH karakter adalah masalah inti yang menyebabkan umat Islam banyak tertinggal dalam menjalankan kewajibannya sebagai khalifah di muka bumi.
Karakter yang lemah, seperti sikap minder, kurang percaya diri, tidak mandiri, dan malas, biasanya menyebabkan potensi yang ada tidak tergali dan tidak berkembang. Padahal, itu semua merupakan suatu kekuatan nyata yang akan mengharumkan umat Islam. Begitupun karakter yang buruk, seperti sikap egois, serakah, licik, dan materialistis, akan membuat kekuatan dan kemampuan yang telah ada tidak membawa dampak dan manfaat yang luas bagi kepentingan maupun kemajuan umat.
Sekali lagi, inti dalam persoalan karakter adalah qalbu atau hati nurani. Oleh karena itu, kita perlu manajemen qalbu karena dengan upaya mengelola hati terbukti efektif dapat memenuhi dahaga kesejukan dan ketenteraman hati yang sangat langka dan mahal, menyehatkan dan membersihkan hati-hati yang kotor dan berpenyakit, menerangi hati yang gelap dan bersamaan dengan itu membakar semangat dan menggelorakan hati yang lemah dan lesu. Pada akhirnya perubahan suasana qalbu ini akan sangat berdampak pada perubahan perilaku seseorang.
Karakter itu terdiri dari empat hal. Pertama, ada karakter lemah; misalnya penakut, tidak berani mengambil risiko, pemalas, cepat kalah, belum apa-apa sudah menyerah, dan sebagainya. Kedua, karakter kuat; contohnya tangguh, ulet, mempunyai daya juang yang tinggi, atau pantang menyerah. Ketiga, karakter jelek; misalnya licik, egois, serakah, sombong, pamer, dan sebagainya. Keempat, karakter baik; seperti jujur, terpercaya, rendah hati, dan sebagainya.
Hari ini, yang kita rindukan adalah --meskipun secara lambat laun-- negeri ini akan bangkit kembali. Ini bisa terjadi bila dua karakter, yaitu karakter yang kuat dan baik bersinergi. Misalkan dia tangguh, ulet, tapi tetap rendah hati dan merupakan pekerja keras yang sangat gigih. Dia berprestasi gemilang tapi ikhlas. Inilah yang diharapkan dari setiap pertemuan kita. Yakni, mewujudkan manusia-manusia tangguh, berani, gigih, ulet, jujur, rendah hati, dapat dipercaya, dan sebagainya. Allahu Akbar!
Satu hal yang patut kita sayangkan kemudian adalah, karakter manusia Indonesia khususnya kaum Muslim, tidak terlalu sesuai dengan karakter yang diinginkan di atas. Ternyata, banyak manusia di Indonesia yang mempunyai kebiasaan korupsi, dari yang raksasa sampai yang kecil-kecilan. Hal ini disebabkan kita mempunyai jiwa miskin.
Pernah suatu ketika di Mekah, tepatnya di Masjid Al Haram, di saat buka saum ada beberapa orang pengemis membawa kain yang tampaknya penuh dan isinya terlihat berat. Mereka meminta-minta sampai kain bawaannya semakin banyak. Ternyata, dia melakukan itu karena merasa bahwa belum tentu besok hari akan mendapatkan kesempatan yang sama.
Orang yang miskin jiwa seperti itu terus tumbuh. Orang-orang yang licik, koruptor, yang mengambil harta orang lain tanpa hak, sebetulnya mereka adalah orang-orang miskin. Walaupun jabatannya tinggi, kedudukan, dan hartanya berlimpah, tetapi jiwanya tetap miskin. Dia akan terus mengambil apa saja yang ada di hadapannya meski itu bukan miliknya.
Saat pembagian beras untuk orang miskin (raskin), mereka menjadi orang pertama yang mengambil beras itu. Sebelum sampai kepada yang berhak sudah dimakan lebih dulu oleh oknum-oknum yang miskin jiwa tersebut. Atau kalau tidak, beras itu mereka timbun untuk kemudian dijual.
Orang yang miskin jiwa, bila naik jabatan akan sibuk mencari rampasan. Akibatnya, kewajibannya menjadi terbengkalai. Miskin jiwa, meski kaya harta; dia akan merusak. Oleh karena itu, jangan mencari pasangan yang kaya secara lahiriah. Carilah manusia yang kaya batin dengan penuh kemuliaan.
Kekayaan lahir itu hanyalah topeng. Orang yang hanya mempertontonkan topeng adalah kekanak-kanakan. Harta yang didapat dengan tidak halal tidak akan membuat bahagia. Bahkan akan jadi racun untuk keluarga. Di sinilah kiranya kita perlu melakukan pemetaan karakter agar kita dapat mengetahui tentang aspek positif dan negatif dari karakter-karakter yang cenderung ada dalam diri manusia. Dari kuadran karakter tersebut ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan.
a. Karakter buruk bertemu dengan karakter lemah, ini tidak berbahaya. Karena orang yang berniat jahat, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk melakukannya.
b. Karakter baik bertemu dengan karakter lemah, ini yang banyak ada pada diri kita. Kebanyakan dari kita mempunyai sifat-sifat yang baik, tetapi tidak mempunyai etos yang tinggi untuk mengembangkan diri.
c. Karakter buruk bertemu dengan karakter kuat. Karakter ini yang sangat berbahaya karena dia mempunyai sifat yang buruk dan gigih serta ulet di dalam melakukan kejahatannya.
d. Karakter baik bertemu dengan karakter kuat, ini yang diharapkan akan mengubah negeri kita. Karena karakter ini yang mempunyai sifat baik dan etos yang tinggi untuk berkembang dan mengubah ke arah yang lebih baik.
Sebenarnya membangun karakter pribadi seorang Muslim ini dimulai sejak dini. Dalam hal ini pembangunan karakter pribadi Muslim membutuhkan dukungan berbagai pihak, berbagai aspek. Di atas semua itu adalah apa yang disebut oleh buku ini "sistem yang kondusif". Ini bisa saja bermula dari keluarga, entah itu dari orang tua sendiri, bapak dan ibu, paman dan bibi, dan kakak-kakak atau adik-adik; semuanya secara tidak langsung memberikan kontribusi tersendiri yang berpengaruh terhadap pertumbuhan karakter. Di lingkungan lainnya, yaitu lingkungan luar keluarga, seperti pergaulan teman sebaya, hubungan antartetangga, bahkan organisasi sekalipun pada dasarnya turut menumbuhkembangkan karakter pribadi seorang Muslim.
Oleh karena itu, tepat kiranya riwayat yang mengatakan, "Bergaul dengan tukang minyak wangi akan terciprat bau harumnya. Sementara bergaul dengan tukang pandai besi akan tersengat hawa panasnya." Riwayat ini jelas memperlihatkan kepada kita sejumlah pengaruh yang bisa muncul apabila kita ingin menumbuhkan karakter pribadi kita. Kalau kita ingin karakter pribadi kita tumbuh makin baik, makin sempurna, minimal kita perlu memilih pergaulan yang akan membuat kita terjaga, tentu saja terjaga dari pergaulan yang justru menumbuhkan kepribadian negatif.
Kita berdoa semoga generasi umat ini senantiasa tumbuh menjadi karakter pribadi Muslim yang positif. Positif tidak saja memahami makna-makna ajaran Islam, tetapi juga positif dalam memperlihatkan bagaimana ajaran Islam itu sebenarnya rahmatan lil 'alamin melalui diri kita tentu saja. Wallahualam.***

Tuesday, July 17, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Keunikan Orang Sunda
Oleh IIP D. YAHYA

ORANG Sunda itu unik. Mereka menerima pluralitas dan sangat terbuka. Orang Sunda termasuk masyarakat yang selalu siap menerima perubahan konstruktif. Jika demi kemajuan, tanpa ragu mereka akan melaksanakannya dengan disiplin. Ketika pemerintah Hindia Belanda pada pertengahan abad XIX menetapkan aksara Walanda (Latin) sebagai pengganti huruf Arab, masyarakat menerimanya tanpa protes yang berarti (Mikihiro Moriyama, 2005).

Dengan aksara itulah orang Sunda sekarang mengekspresikan olah pikirnya. Di luar itu komunitas pesantren sampai kini tetap mempertahankan huruf Arab dalam tradisi ngalogat-nya. Sementara upaya menghidupkan kembali aksara kaganga yang dianggap sebagai asli Sunda, melalui perangkat Perda Pemda Jabar, hingga kini justru belum menampakkan hasil memuaskan.

Di masa revolusi, ketika orang Sunda bersepakat untuk mendukung kemerdekaan, mereka paling depan membela nasionalisme Indonesia. Di bawah panji Siliwangi, mereka membakar Kota Bandung dan hijrah ke Yogyakarta, demi mempertahankan harga diri dan eksistensi negara baru Indonesia. Mereka lalu menghentikan upaya kudeta Muso di Madiun dan menaklukkan kegigihan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan.

Ketika Kartosuwiryo mengobarkan perlawanan kepada NKRI, tanpa mendatangkan pasukan bantuan dari luar territorialnya, dengan pagar betis masyarakat, perlawanan DI/TII dapat dipatahkan. Tahun 1955, ketika kondisi masih sangat memprihatinkan, warga Bandung sukses menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika. Itulah sebagian bukti kemampuan untuk berdisiplinan, kegigihan berjuang, dan kepercayaan diri yang sangat kuat dari masyarakat Sunda.

Pada era Orde Lama, orang Sunda banyak yang mendukung PNI. Ketika Orde Baru mereka banyak yang mendukung Golkar bahkan hingga sekarang. Saat reformasi bergulir, wacana partai lokal yang digagas akan dan bisa lebih nyunda, ternyata tinggal sekadar wacana. Jika dilihat dari fenomena partai politik itu, orang Sunda jelas-jelas selalu menolak hal-hal yang bersifat eksklusif.

Satu hal yang menarik dicatat, masyarakat Sunda ternyata tidak begitu memasalahkan dari mana asal pemimpinnya. Mereka menerima Dewawarman yang datang dari India sebagai raja pertama Salakanagara hingga Soekarno sebagai Presiden Indonesia pertama yang kelahiran Blora. Pituin atau bukan pituin Sunda. Asli atau pendatang.

Siapa pun, asal mengerti isi hati dan harapan massa Sunda, ia akan diterima. Nasution atau Kawilarang bisa memimpin Divisi Siliwangi. Soekarno bisa diterima massa 'marhaen'. Kartosuwiryo dapat memukau massa 'Islam'. Begitu pula Daeng Kanduruan Ardiwinata bisa menjadi Hoofd Bestuur Paguyuban Pasundan yang pertama. Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY, masing-masing punya massa fanatiknya di kalangan orang Sunda.

Jadi bukanlah sesuatu yang aneh jika anggota DPRD Jawa Barat berasal dari berbagai etnik, sebab mereka pada realitasnya dianggap lebih mewakili isi hati dan harapan orang Sunda. Lalu mengapa yang terpilih bukan orang Sunda 'asli'? Kalau mau jujur melihat hasil Pemilu, tentu karena yang "asli" itu dianggap tidak atau kurang mewakili isi hati dan harapan orang Sunda sendiri. Siapapun, asal setia pada kepentingan massa Sunda, mereka akan berdisiplin mendukung kepemimpinannya.

Dalam dunia intelektual dan akademik juga berlaku hal seperti itu. Rektor perguruan tinggi di Bandung bisa datang dari etnik mana saja asal mumpuni dan diterima civitas academic-nya. Orang seperti almarhum Doddy Tisna Amidjaja saat menjadi Rektor ITB, pertama-tama karena ia mumpuni. Bahwa ia tokoh Sunda, hal itu menjadi nilai lebihnya. Buktinya, sebagai tanda cintanya kepada Sunda, ia mewakafkan warisan intelektualnya sebagai perpustakaan, salah satu di antara sedikit perpustakaan mengenai kesundaan di Bandung.

Sekarang setelah dunia ilmu sejarah Sunda kehilangan pakar sekelas Edi S. Ekadjati, banyak yang berpaling kepada Mikihiro Moriyama, intelektual dari Jepang. Sampai saat ini, sudah ada dua jurnal ilmiah dari dua perguruan tinggi ternama di Bandung, meminta Moriyama untuk menggantikan posisi almarhum Ekadjati sebagai redaktur ahli. Dan permintaan yang sejenis masih mengantre menunggu persetujuan. Bagi yang mengenal Moriyama, tak syak lagi akan menyebutnya sebagai orang yang sangat nyunda.

Maka kecintaan kepada Sunda itu bisa datang dari mana saja dan tidak mungkin dibendung. Begitu pula kemampuan untuk membuktikan kecintaan itu tak mungkin dihasilkan dari suatu kebohongan dan ketidakjujuran. Dan cinta selalu dibuktikan dengan pengorbanan. Demikianlah kita bisa memahami mengapa masyarakat Sunda begitu memimpikan munculnya kembali sosok Oto Iskandar di Nata (Otista), martir revolusi yang gugur di Mauk itu.

Ketika tampil di panggung volksraad, Otista bukanlah anggota yang ditunjuk Tuan Gubernur Jenderal. Ia anggota yang dipilih oleh dewan-dewan kota untuk mewakili Pasundan. Otista dinilai sebagai tokoh yang mengerti isi hati dan harapan urang Sunda dan kebetulan ia pituin Sunda kelahiran Bojongsoang. Karena itu ia bisa duduk di volksraad selama 10 tahun. Pada zaman pendudukan Jepang ia memimpin koran Tjahaja, satu-satunya koran di Bandung. Pada era kemerdekaan ia menjadi anggota PPKI dan BPUPKI, lalu menteri negara bidang pertahanan. Maka tak salah kalau kecintaan orang Sunda tamplok kepadanya. Ia telah berjuang dan berkorban.

Salah satu pendapat Otista yang sangat menarik ditelaah, diungkapkan oleh Barli Sasmitawinata dalam Nina H. Lubis (2003), "Saya ingin menyarankan (agar orang Sunda) menjadi bangsa yang jembar, luas pandangannya dan besar jasanya. Jangan dibatasi oleh (sekedar) totopong, tetapi (bagian dari) bangsa Indonesia yang bersedia bekerja sama dengan suku bangsa Indonesia lainnya untuk membangun Indonesia damai sejahtera."

Menurut alur pemikiran Otista, benda seperti totopong dan atribut sejenisnya, itu bukan jiwa Sunda melainkan ciri luar saja. Sunda bukanlah klaim atau cap yang sifatnya verbal dan artifisial belaka, melainkan kerja konkret yang dibangun dari wawasan yang luas dan selalu menjaga konsensus nasionalisme Indonesia. Gawe rahayu atau kerja nyata itu tidak berpijak pada atribut luar tetapi pada niat yang kuat dan bersih dari dalam hati.

Maka, kini pertanyaan penting dikembalikan kepada para pemimpin atau yang ingin jadi pemimpin Sunda, juga kepada tokoh atau yang merasa menjadi tokoh Sunda, sudahkah mereka memahami isi hati dan harapan orang Sunda itu? Banyak contoh dari tokoh-tokoh yang menjadi panineungan orang Sunda sepanjang sejarahnya. Dan bukan sesuatu yang nista jika kita bertanya kepada "orang lain", bagaimana sebenarnya cara memahami isi hati dan harapan serta keunikan masyarakat Sunda itu. Mari kita lihat buktinya.***

Penulis, penulis buku Ajengan Cipasung (2006), tinggal di Bandung.

Kujang kas jawa barat/ e-mail-AbuBa_8@yahoo.co.co.id

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Menguak Belenggu Waktu
Oleh ARY GINANJAR AGUSTIAN

WAKTU seakan berlari dengan tempo yang tinggi. Tak terasa, tahun 2006 berlalu dan kini kita melangkahkan kaki di tahun 2007. Semoga di tahun 2007 kita menjadi lebih baik dan lebih mendekat kepada Allah dari tahun-tahun sebelumnya.

Waktu bagaikan "gudang terbatas" yang hanya menyediakan kita 86.400 detik per hari untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Apabila kita gagal dalam menggunakannya, waktu yang telah berlalu itu tidak akan pernah kembali. Ia akan hangus, tanpa sempat termaknai apalagi untuk diinvestasi. Ada baiknya kita meluangkan waktu di tengah ketersempitan itu untuk sekadar sabbatical (isi baterai) sejenak. Mari kita renungkan perjalanan kita sebelumnya. Ke garis orbit manakah selama ini kita melangkah? Akankah kita kuat erat menggenggam orbit spiritual kita nantinya? Atau malah sebaliknya, akankah kita terlempar dan luluh lantak karenanya? Seperti kaum Tsamud yang terempas dari orbit karena menolak aturan ketetapan hukum konvergen milik-Nya.

Samakah kita dengan mereka (kaum Tsamud) yang begitu congkak menolak Grand Unified milik Sang Mahasempurna? Sahabatku, kejarlah cita-cita setinggi-tingginya! Yakinlah, karena Sifat Allah Yang Mahatinggi itu sedikitnya telah ada dalam "God spot" kita. Jangan pernah takut menghadapi kegagalan karena kita telah mengarahkan laras senapan kita ke matahari dengan mission statement berupa syahadat.

Walau tak terjangkau sang matahari, paling tidak peluru kita akan terbang jauh, lebih tinggi dibanding mengarahkan larasnya sejajar dengan bahu kita. Yakinlah, kita bisa melampauinya karena kita adalah pribadi yang transendental dan visioner. Pribadi visioner kita yang menembus dan mengatasi, sedangkan pribadi transendental yang senantiasa mencari dan selalu mendekati Zat Allah. Baik suka maupun tidak suka, sadar maupun tidak, menyadari akan entitas Allah yang sebenarnya ada dalam diri kita.

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari." (Q.S. Ar Ra'du: 15)

Manusia akan selalu mencari nur Allah. Ketika ia mencari rumah nan megah dan taman indah yang luas, sesungguhnya ia lupa bahwa ia tengah mencari sifat Allah Yang Mahaluas. Kala ia begitu haus akan kedudukan yang terhormat, sesungguhnya yang ia inginkan adalah sifat Allah Yang Mahatinggi dan Mahamulia.

Demikian pula saat ia begitu silau dengan berlian dan permata nan gemerlap, sesungguhnya ia terlena akan fatamorgana dunia. Bahwa sifat Allah Yang Maha Bercahaya yang hakiki itulah yang sedang didambakannya.

Sahabatku, di lembar waktu kekinian 2007 ini, alam semesta makro dan mikrokosmos kembali mengajak kita untuk bertawaf. Kita akan memulai sebuah langkah baru, sebuah perjalanan baru. Bertawaf bersama bumi, rembulan, matahari serta triliunan bintang.

Di tengah kegelapan angkasa raya nan mahaluas, kita akan bersama-sama, bergandengan tangan dengan erat agar tak terempas, berjalan menembus ruang dan waktu, menempuh sebuah perjalanan yang panjang. Perjalanan mulia, menjalankan misi Ilahi. Selamat jalan menempuh ruang dan waktu, selamat bertawaf! ***

ilmu adalah investasi tiada henti