ikatlah ilmu dengan menuliskannya"sanitomichie"

Sunday, July 8, 2007

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Indahnya Hidup Dengan Bening Hati


Betapa undah sekiranya Qita memiliki hati yang senantiasa tertata,terpelihara ,dan terpelihara dan terawat dengan sebaik baiknya.Pemiliknya akan senantiasa merasa lapang,tenang,tenteram,,sejuk dalam menukmati indahnya hidup di dunia ini. Semua itu akan tercermin dalam setiap gerak gerik,perilaku,tutur kata,sunggingan senyum,tatapan mata,riak air muka bahkan diamnya sekalipun.
Orang yang hatinya tertata denga rapih dan baik takkan pernah sedikitpun merasa gelisah,bermuram durja,ataupun gundah gulana.Kemanapun pergida dimanapun berada.ia senantiasa mengendalikan hatinya.Dirinya senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan,tenang dan menenangkan,tenteram dan menentramkan,hatinya bagai embun yahng menggelayut didedaunan dipagi hari,jernih bersinar,sejuk dan menyegarkan.Hatinya tertambat bukan pada benda benda yang fana melainkan selalu ingat dan Merindukan zat yang mahaMemberi ketentraman:Allah Azza Wa Jalla. " By.Ikhsan Sanitomichie"
Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.
Memperindah Hati
Sesungguhnya beruntunglah 0rang yang menyucikan jiwa itu.Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya(QS asy syams [91]:9-10)


Setiap manusia tentulah sangat menyukai dan merindukan keindahan.Banyak orang menganggap keindahan adalah pangkal dari puji dan harga.Tidak usah heran kalau banyak orang yang memburunya.Ada orang yang pergi beratus bahkan berkilo meter semata mata untuk mencari pemandangan yang indah.Banyak orang rela membuang waktu untuk berlatih mengolah jasmanai setiap saat kareana sangat ingn memili tubuh yang indah.Tak sedikit juga orang berani membelanjakan uangnya berjuta bahkan bermilyaran rupiah karena sangat rindu memiliki rumah atau kendaraan mewah.

Akan tetapi ,apa yang terjadi...? Tak jarang kita menyaksikan betapa terfhadap orang orang yang memiliki pakaian dan penampilan yang mahal dan indah,yang datang terfnyata buka pengharagaan,melainkan justru penghinaan.Ada juga orang yang memiliki rumah meegah da mewah,tetapi bukannya mendapatkan pujian,melainkan bahkan cibiran dan cacian.Mengapa keindahan yang tadinya disangka akan mengangkat derajat kemuliaan malah sebaliknya ,menggelilncirkan pemiliknya kedalam jurang kehinaan..? jawabnya,karaena sebagian besar orang besar terpesona hanya terhadap keindahan lahir belaka.

Padahal ketahuilah,sesungguhnya ada satu keindahan yang kalau dimiliki meski sesederhana apapun harta yang digenggam dan serendah apapun kedudukan yang diemban,niscaya kita akan menjadi orang orang yang benar benar bermutu,berharga dan terpuji,banayak orang mengurus keindaha lahir,padahal kunci keindahan yang sesungguhnya adalah jika sesunggguhnya adalah jika seseorang merawat serta memperhatikan kecantikan dan keindahan hati.Inilah pangkal kemuliaan yang sesungguhnya.

Rasulallah saw pakaiannya tidak bertabur bintang penghargaan,tanda jasa dan pangkat akan tetapi demi Allah sampai saat ini tidak berkurang kemuliaanya.Rasulallah tidak menggunakan singgasana dari emas yang gemerlap ataupun memiliki rumah yang megah dan indah..Namun demikian sdampai detik ini sama sekali tidak pernah luntur pujian dan penghargaan terhadapnya,bahkan hingga kelak datang akhir jaman,Apakah rahasianya...? ternyata semua itu dikarenakan Rasulallah adalah orang yang sangat menjaga mutu keindahan dan kesucian hatinya.

Rasulallah saw bersabda "ingatlah,dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging,kalau segumpaldaging itu baik maka akan baiklah seluruh tubuhnya.Bila rusak maka akan rusaklah seluruh tubuhnya.segumapal daging itu dnamakan kalbu."( HR Bukhari dan Muslim )

Boleh saja kita memakai segala papun yang indah indah ,namun demikian kalau tidak memiliki hati yang indah demi Alloh tidak akan pernah ada keindahan yang sebenarnya,karaenaya ,hendaknya jangan terpedaya oleh keindahan dunia,lihatlah begitu banyak wanita malang yang tak mengenal moral dan harga diri,mereka pun tidak kalah indah dan molek wajahnya,tubuh ,ataupun penampilannya kendatipun begitu,mereka tetap diberi oleh Allah aneka asesoris duniai yang undah dan melimpah.

Ternyata segala asesories duniawi dan kemewahan itu bukanlah tanda kemuliaan yang sesungguhnya karena oarng orang yang rusak dan durjana sekalipun diberi aneka kemewahan yang melimpah ruah oleh Allah.Kunci bagi orang orang yang ingin sukses yang ingn benar benar merasakan leat dan mulianya hidup,adalah orang orang yang memelihara serta merawat keindahan dan kesucian kalbunya.***

Imam al-Ghazali menggolongkan hati kedalam tiga golongan,yakni hati yang sehat(Qolbun shahih),hati yang sakit (qolbun maridh),dan hati yang mati (qolbun mayyit). Seseorang yang memiliki tubuh yang sehat.Ia aka berfungsi optimal.Ia akan mampu memilh dan memilah setiap rencana atas suatu tindakan,sehngga setiap apa yang aka diperbuatnya benar benar sudah melewati perhitungan yang jitu berdasarkan hati nuraniyang bersih.

Orang yang paling beruntung karena memiliki hati yang sehat adalah orang yang dapat mengenal Allah Azza wa Jalla denga baik. Semakin cemerlang hatinya,maka akan semakin mengenal Dia,penguasa jagat raya alam semesta ini.Ia akan memiliki mutu pribadi yang begitu hebat dan mempesona.Tidak akan pernah menjadi ujub dan takabur ketika mendapatkan sesuatu,namu sebaliknya kan menjadi orang yang bersujud tersungkur bersujud,semakin tinggi pangkatnya,akan semakin membuatnya rendah hati.Kian melimpah hartanya,ia akan kian dermawan,itu dukarenakan ia menyadari,bahwa semua yang ada adalah titipan Allah semata.Tidak dinafkahkan dijalan Allah,pasti Allah akan mengambilnya kembali juka Dia kehendaki.

Semakin bersih hati,hidupnya selalu akan diselimuti rasa syukur,Dikaruniai apa saja ,kendati sedikit ,ia tidak akan habis habisnya meyakini bahwa semua ini adalah titipan Allah semata,sehingga amat jauh dari sikap ujub dan takabur,Persisi seperti ucapan yang terlontar dari lisan nabi Sulaiman'alihissalam tat kala dirinya dianugrahi Allah berbagai kelebihan"Haadzaa min fadhli Rabbi.liyabluwaniia-asyukru amakfuru" ( QS an Naml [27]:40).Ini termasuk karunia tuhanku,untumengujiku apakah aku mampu bersyukur atau malah kufur atas nikmat-Nya.

Suatu saat Allah akan menimpakan ujian dan bala,bagi orang yang hatinya bersih,semua itu tidak kalah terasa nikmatnya,ujian dan persoalan yang menimpa justru benar benar akan membuatnya kian merasakan indahnya hidup ini .karena orang yang mengenal Allah dengan baik berkat hati yang bersih,akan merasa yakin bahwa ujian adalah salah satu perangkat kasih sayang Allah,yang membuat seseorang semakin bermutu.

Dengan persoalan akan menjadaikannya semakin bertambah ilmu.denga persoalan akan bertambah ganjaran.Dengan persoalan pula derajat kemuliaan seseorang hamba Allah akan bertambah naik,sehingga ia tidak akan pernah resah,kecewa dan berkeluh kesah karena menyadari bahwa persoalan merupakan bagian yang harus dinikmati dalam hidup ini.

Oleh karenanya,tidak usah heran orang yang hatinya bersih ditimpa apapun dalam hidup ini,sungguh bagaika air direlung lautan yang dalam.Tidak akan terguncang walaupun ombak badai saling menerjang,ibarat karang yang tegak tegar,dihantam ombak sedasyat mungkin tidak akan roboh terkapar.Tidak ada putus asa hanya kejernihan dan keindahan hati.Ia amat yakin deangan janji Allah" Laa Yukallifullahu nafsan illa wus 'ahaa"" ( QS al-Baqarah[2]:286) Allah tidak akan membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya,Pasti semua yang menimpa sudah diukur oleh-Nya.maha suci Allah dari perbuatan zalim kepada hamba-Nya.

Ia sangat yakin bahwa hujan pasti berhenti.badai pasti berlalu.malam pasti berganti menjadi siang.Tidak adasatupun ujian yang menimpa,kecualipasti akan ada titik akhirnya.Ia tidak berubah bagai intan yang akan tetap kemilau walaupun dihantam dengan apapun.

Memang luar biasa orang yang memiliki hati yang bersih. Nikmat datang tak pernah membuatnya lalai dari bersyukur,sementara sekalipun musibah yang menerjang,sama sekali tidak akan pernah mengurangi keyakinan akan curahan kasih sayang-Nya.Semua itu dukareanakan ia bisa menyelamati sesuatu secara lebih dalam atas musibah yang menimpa dirinya,sehingga tergapailah sang mutiara hikamah.

Subhanallah,sungguh teramat beruntung siapapun yang senantiasa berikhtiar dengan sekuat-kuatnya untuk memperindah kolbunya.***


myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

By Ikhsan sanitomichie

Friday, July 6, 2007

Hidup Proporsional

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Hidup Proporsional
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

SAUDARAKU, salah satu hal yang harus kita waspadai saat ini adalah kegemaran sebagian orang terhadap kemewahan dan menggejalanya pola hidup konsumtif. Memang, tantangan untuk tampil lebih (konsumtif) sangat terbuka di sekitar kita. Tayangan televisi sering membuat standar hidup melampaui kemampuan yang kita miliki. Iklan-iklan tidak semuanya memberikan keinginan primer, tapi juga yang sekunder dan tertier yang tidak terlalu penting.

Lalu, apa kerugian hidup bermewah-mewah? Di zaman sekarang kemewahan bisa membawa bencana. Minimal dicurigai orang lain. Siksaan pertama dari kemewahan adalah ingin pamer, ingin diketahui orang lain. Siksaan kedua dari kemewahan adalah takut ada saingan. Pemuja kemewahan akan mudah iri dengkinya kepada yang punya lebih. Penyakit ketiga cemas, takut rusak, takut dicuri. Makin mahal barang yang dimiliki, kita akan semakin takut kehilangan.

Hidup mewah juga sesungguhnya membuat biaya hidup menjadi tinggi, apalagi orang yang hobi kepada merek karena kita bisa jadi seperti etalase. Bukan tidak boleh memakai barang bermerek, tetapi apa artinya merek bagus jika diri kita murahan. Apalah artinya memakai jam tangan mahal, tetapi untuk sedekah pelitnya luar biasa.

Bukan tidak boleh memakai yang bermerek, tetapi jangan sampai kualitas diri kita malah lebih buruk dari merek yang kita pakai. Apalagi, orang yang korban mode, maka dia akan lelah mengikuti mode karena mode itu tidak pernah berhenti. Persoalan sebenarnya adalah dia kehilangan jati dirinya. Apalagi, barang-barang mewah itu membutuhkan biaya perawatan yang tinggi dan harus dijaga dengan baik sehingga biaya pengamanannya juga tinggi.

Orang yang melihat kita pun bisa menjadi iri dan dengki atau mungkin juga menjadi curiga, terutama bila barang yang kita pakai harganya jauh melampaui penghasilan kita. Jadi hati-hati, karena sikap kita yang ingin kelihatan keren, malah bisa-bisa membuat orang menjadi curiga. Ditambah lagi dengan hisabnya yang amat berat di akhirat karena setiap barang yang kita miliki harus dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Oleh karena itu, sejak sekarang mulailah merujuk kepada teladan kita Nabi Muhammad saw. Nabi Muhammad adalah puncak kemuliaan, puncaknya prestasi yang bagi kita umat Islam sudah tidak ada keraguan lagi ihwal kemuliaannya. Beliau adalah pemimpin sebuah negara, tetapi beliau tetap dikenal sebagai orang yang bersahaja, bahkan sampai sekarang tidak kurang kemuliaannya.

Kalau mau jujur, sebenarnya orang-orang yang bersahaja itu selalu mencuri hati kita. Kalau ada pejabat tinggi yang bersahaja, hati kita akan tercuri. Kalau ada artis kaya dan terkenal, tetapi bersahaja, kita kagum kepadanya.

Memang bersahaja itu membuat seseorang lebih berharga dari apa yang dimilikinya. Mungkin dia mempunyai mobil bagus, tetapi dirinya jauh lebih berharga daripada mobilnya. Hidup bersahaja itu hemat sebab kita tidak perlu merek-merek yang mahal. Orang yang hidup bersahaja tidak pusing dengan mode, yang penting dia berusaha berpenampilan yang disukai oleh Allah dan tidak menyusahkan orang lain sehingga memakai merek apa saja tidak masalah karena yang penting manfaatnya.

Orang yang bersahaja itu hidup tenteram dan tidak jadi bahan iri orang lain. Karena tidak ada yang membuat orang lain jadi iri, tidak membuat orang lain kotor hati, dan juga tidak membuat dirinya kotor hati.

Karena tabiatnya, kalau seseorang mempunyai barang yang bagus, biasanya dia ingin memperlihatkan atau memamerkan barang tersebut. Misalnya, ketika hendak memarkir mobil, dia selalu mencari tempat terdepan dan tempat strategis agar mobilnya terlihat orang lain.

Nah, bagi orang yang hidupnya bersahaja dia akan tenang-tenang saja karena dia tidak merasa perlu diistimewakan, tidak ingin dispesialkan, sehingga melangkah ke mana pun baginya teramat ringan tanpa beban. Seperti halnya Rasulullah SAW naik unta atau naik keledai, bagi beliau sama saja. Bahkan, rumah beliau juga begitu sederhana dan tidak dilengkapi perabotan yang mahal-mahal.

Oleh karena itu, hidup ini harus proporsional.

Lalu, apakah kita harus hidup miskin? Tidak! Namun, setidaknya kalau kita hidup bersahaja, selain hemat dan terhormat, insya Allah juga akan menjadi ladang ibadah bagi kita karena mengikuti sunah Rasulullah SAW dan kita tidak membuat orang lain sakit hati. Dari sana, kita juga bisa bergaul secara nyaman dengan siapa pun. Tidak apa-apa kita berpakaian bagus, yang penting proporsional. Misalnya, ketika pergi ke sebuah resepsi, tampaknya tidak layak jika kita berpakaian kumuh dan lusuh karena ingin dianggap bersahaja. Justru malah sebaliknya, orang akan mual melihat kita. Demikian halnya jika kita berangkat ke resepsi dengan memakai segala macam aksesori, tentu itu juga akan menjadikan kita bahan tontonan.

Di pihak lain, kita juga harus mendefinisikan dulu pengertian mewah agar kita tidak mudah menilai orang lain hidup mewah, sementara kita sendiri tidak mengerti maksudnya. Mewah itu adalah sesuatu yang melampaui keperluan dan melampaui kemampuan. Kalau kita di rumah punya sandal jepit sepuluh pasang, bisa jadi kita termasuk orang yang mewah karena kita tidak memerlukan sandal sebanyak itu.

Rumah besar juga belum tentu tergolong mewah kalau pemiliknya memang meniatkan untuk hal-hal positif, seperti menampung anak yatim atau karena keluarganya memang banyak sehingga memerlukan tempat yang luas. Jadi, dalam menilai sesuatu itu mewah atau tidak adalah dengan melihat apakah sesuai dengan keperluan dan kemampuan atau tidak. Yang paling penting adalah niat di dalam hati. Kalau kita terbiasa hidup bersahaja, hidup kita juga akan tenang dan tidak ada beban. Jadi, mulai sekarang latihlah untuk tidak rindu pujian orang dan tidak tamak dengan penilaian orang lain. Bersyukurlah apabila setiap barang yang kita miliki halal dan sesuai kemampuan. Terserah orang mau menganggap kita miskin, tidak apa-apa, karena kita tidak bisa hidup dengan penilaian orang lain terus-menerus.

Apa artinya kita dipuji orang lain, tetapi kita hidup tertekan. Apa artinya bila kita dipuji orang lain, tetapi kita menderita. Apakah seperti itu hidup yang kita inginkan? Mulai sekarang marilah kita evaluasi diri jika masih berminat untuk hidup bermewah-mewah, bersiaplah dengan segudang penderitaan. Akan tetapi, kalau kita hidup bersahaja, itulah yang akan selalu membuat orang menjadi terhormat.

Tampaknya, pola hidup sederhana harus dibudayakan kembali di masyarakat. Tak terkecuali di keluarga kita. Kalau orang tua memberikan contoh pada anak-anaknya tentang kesederhanaan, anak akan terjaga dari merasa diri lebih dari orang lain, tidak senang dengan kemewahan, dan mampu mengendalikan diri dari hidup bermewah-mewah.

Dalam Islam, kaya itu bukan hal yang hina, bahkan dianjurkan. Perintah zakat bisa dipenuhi kalau kita punya harta, demikian pula perintah haji. Yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan. Dalam Q.S At-Takaatsur, Allah SWT dengan tegas mencela orang yang berlebih-lebihan. Memang kita harus kaya, tapi tidak harus bermegah-megah. Beli apa saja asal perlu, bukan karena ingin. Keinginan itu biasanya tidak ada ujungnya.

Semoga dengan hidup sederhana dan proporsional; tidak berlebihan, kita memiliki anggaran berlebih untuk ibadah untuk meningkatkan kemampuan kita, dan untuk beramal saleh menolong sesama. Amin. Wallahu 'alam bishshawab.***

myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

By.ikhsan

Selalu Menata Hati....

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Dan Jangan lah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya,Sesungguhnya pendengaran,penglihatan,dan hati semuanay itu akan diminta pertanggungjawabannya.


Betapa indahnya sekiranyakita memiliki kolbu yang senantiasa tertata,terpelihara dan terawat dengan sebaik-bauknya.Ibarat taman bunga yang pemiliknya mampu merawatnya dengan penuh kesabaran dan ketelatenan.Alur alur tanamannya tertata rapih.pengelompokan dan jenis bunganya terkombinasi secara artistic.Yang ditanam hanya tanama bunga yang memiliki warna warni yang indah atau bahkan yang menyemerbakkan keharuman yang menyegarkan.

Rerumputan liar yang tumbuh dibawahnya senantiasa disiangi.parasit ataupun hama yang akan merusak batang dan daunnya dimusnahkan,tak lupa setiap hari disiraminya dengan merata dengan air yang bersih tak akan dibiarkan ada dahan yang patah atau ranting yang mengering.

Walhasil.tanahnya senantiasa gembur tanaman bungapun tumbuh subur,dedaunannya sehat menghijau.Subhanallah bila pagi tiba,manakala sang matahari naik sepenggalan,dan saat titik embun yang bergelayutan diujung dedauna menangkap kilatan cahayanya ,bunga bunga itu,dengan aneka warananya,mekar merekah,Wewangian harumnya semerbak keseantero taman,tak hanya tercium oleh pemiliknya,tetapi oleh siapapun juga yang kebetulan berlalu dekat taman.Sungguh alangkah indahnya dan mengesankan.

Begitupun kalbu yang senantiasa tertata rapih ,terpelihara serta terawat dengan sebaik baiknya
.Pemiliknya akan senantiasa merasakan lapang ,tenang ,tenteram,sejuk dan indahnya hidup didunia ini,Semua ini akan tersemburat pula dalam setap gerak geriknya,perilakunya,tutur katanya,sunggingan senyumnya,tatapan matanya,riak air mukanya,bahkan diamnya sekalipun.

Orang orang yang hatinya tertata rapih dengan baik tak pernah merasa resah gelisah,yak pernah bermuram durja,tak pernah gundah gulana.Kemanapun pergi dan dimanapun berada,ia senantiasa mampu mengeandalikan hatinya.dirinya senantiasa berada dalam kondis damai dan mendamaikan ,teang dan memnenangkan,tenteram dan menentramkan.Hatinya sebagai embun yang menggelayut didedaunan dipagi hari,jernih bersinar,sejuk dan menyegarkan.hatinya tertambat bukan pada barang barang yang fana melainkan selain ingat dan merindukan Dzat yang Maha Memberi ketentraman Allah Azza wa Jalla.

Ia yakin dengan keyakinan yang amat sangat bahwa hanya dengan mengingat dan merindukan Allah,hanya dengan menyebut nama nama-Nya setiap saat,meyakini dan mengamalkan ayat ayat-Nya,maka hatinya menjadi tenteram.Tantangan apapun yang dihadapinya,seberat apapun diterimanya dengan ikhlas.Dihadapinya dengan sunggingan senyum dan lapang dada.Baginya tak ada masalah yang tak dapat terselasaikan.Baginya tak ada masalah hanyalah caranya yang salah dalam menyikapi masalah.***

Adalah kebalikannya dengan orang yang brhati semrawut dan kusut masai ia bagaikan kamar mandi yang kumuh dan tak terpelihara,lantainya penuh dengan kotoran.lubang WCnya masih belepotan sisa kotoran,Dindingnya kotor dan kusam.gayungnya bocor kotor dan berlendir pintunya tak berselot,kerannya susah diputardan air un sulit mengalir.Tak ada gantungan .Baunya membuat setiap orang yang menghampirinya menutup hidung.Sudah pasti setiap orang enggan memasukinya,pastilah tak ada pilihan lain dan dalam keadaan yang sangat terdesak.itupun seraya menutup hidungnya dan menghindarkan pandangan sebisa bisanya.

Begitupun keadaanya yang berhati kusam,Ia tampak resah da gelisah,hatinya dikotori dengan buruk sangka dendam kesumat,licik tak mau kompromi,mudah tersinggung,tak senang melihat orang lain berbahagia,kikir dan lain lain,penyakit hati yang terus menerus menumpuk hingga sulit untuk dihilangkan.

sungguh orsang yang berhati busuk seperti itu akan mendapatkan kerugian yang berlipat lipat tidak saja hatinya yang selalu gelisah,namun juga rang lain yang melihatnya pun akan menaruh hormat sedikitpun jua,Ia akan diciibir dan dilecehkan orang,Ia akan tidak disukai,sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan.terlepas siapa orangnya ,adakah ia orang berilmu ,berharta banyak pejabat atau siapapun .kalau berhati busuk,niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yan mengenalnya.Derajatnyapun mungkin akan sama atau bahkan lebih hina daripada apa yang dikeluarkan dari perutnya.

Bagi orang yang demikian,selain derajat kemuliaanya selain jatuh dihadapan manusia,juga dihadapan Allah.ini dikarenakan hari harinya selalu diwarnai dengan aneka perbuatan yang mengundang dosa.Allah tidak akan pernah berlaku aniaya terhadap mahluk mahluknya.Sesungguhnyalah apa yang didapatkan seseorang itu,tidak bisa tidak,merupakan buah dari apa yang diusahakannya.

"Dan bahwasannya manusia tidak akan memperoleh(sesuatu),selain dari apa yang telah diusahakannya.dan bahwasanya kelak akan diperlihatkan(kepadanya),keudian akan diberikan balasan yang paling sempurna"demikian firman Allah Azza wa Jalla dalam quran surat an Najm[53]:39-41

Kebaikan yang ditunaikan da kejahatan yang diperbuatseseorang pastilah akan kembali kepada pelakunya.Jika berbuat kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala sesuai takaran yang telah dijanjikan-Nya.Sebaliknya jika berbuat kejahatan ,niscaya ia akan mendapatkan balasan siksa sesuai dengan kadar kejahatan yang dilakukannya.sedangkan kebaikan dan kejahatan tidaklah bisa berhimpun dalam satu kesatuan.

Orang yang hatinya tertata rapih adalah orang yag telah berhasil merintis jalan kearah kebaikan,Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan duniawi yang tampak menggiurkan.Ia akan melangkah dalam jalan yang lurus dititinya tahapan jalan kebaikan itu hingga mencapai titk puncak.Sementara itu ia akan berusaha sekuat kuatnya untuk memelihara dirinya darisukap riya,ujub,dan perilaku reandah lainnya.

Oleh karenanya,surga sebagai sebaik baik tempat kembali,tentulah telah disediakan bagi kepulangannya ke yaumil akhir kelak,bahkan ketika hidup didunia yang sangat inipun ia akan menikmati buah dari segala amal baiknya.

Denagn demikian ,sungguh betapa beruntungnya orang yang senantiasa bersungguh sungguh manata hatinya karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang aka segera dapat dipetik hasilnyadunia akhirat.Sebaliknya,alangkah malang orang yang selama hidupnya lalai da membiarkan hatinya kusut masai dan kotor jangan kan diakhirat kelak,bahkan ketika hidup diduniapun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmtnya hidup tenteram,nyaman dan lapang.

Marilah kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidaknyamanan didalam hati.Dengan hati yang nyaman,indah dan lapang niscaya akan membuat hidup ini terasa damai karea keseliwerannya aneka masalah sama sekali tidak akan pernah membuat dirinya terjebak dalam kesulitan hidup karena selalu mampu menemukan jalan keluar terbaiknya.dengan ijin Allah.Insya Allah.***


myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

Ikhtiar Merawat Hati

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Seorang ibu yang tengah mengandung ternyata mampu menjalani hari harinya dengan tabah,padahal jelas secara duniawi tidak menguntungkan apapun,yang ada malah berat melangkah,sakit,lelah,mual....walaupun demikian,semua itu toh tidak membuat sang ibu berbuat aniaya terfhadap jabang bayi yang dikandungnya.

Demikianpun ketika sang jabang bayi yangyang terflahir kedunia,bahkan hingga ia tumbuh dewasa.apa yang dapat dirasakan sang ibu.selain beban berat dan tak jarang penderitaan lahir batin...?begitu panjangnya rentang waktu yang harus dijalaninya dalam menanggung segala beban,namun toh tidak membuat ia menagih upah pada anaknya,,,mengapa....? ini dikarenakan sang ibu memiliki hati nurani yang cemerlang,siapapun yang merindukannya,hendaknya senantiasa merawatnya dari debu debu iri,dengki ,riya,takabur dan sebagainya.

myspace codes
Myspace Codes: MyNiceSpace.com

by ican tea

Bila Hati Bercahaya

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang orang mikmin supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka.( QS al Fath [48]:4)

Adakah diantara kita yang merasa mencapai sukses hidup karena telah berhasil meraih segalanya : harta ,gelar,pangkat ,jabatan,dan kedudukan tinggi dan terhormat,atau bahkan telah menggenggam seluruh isi dunia ini?Marilah kita kaji ulang,seberapa besar sebenarnya nilai dari apa apa yang telah kita raih selama ini.

Disebuah harian ibu kota pernah diberitakan tentang penemuan baru berupa teropong yang diberi nama telescope Hubble,dengan teropong ini ternyata berhasil ditemukan sebanyak lima milyar gugusan galaksi,padahal yang telah kita ketahui selama ini adalah suatu gugusan bernama galaksi Bimasakti,yang didalamnya terdapat planet planet yang membuat takjub siapapun yang mencoba bersungguh sungguh mempelajarinya.Matahari saja merupakan salah satu planet yang sangat kecil yang berada dalam gugusan galaksi didalam tatasurya kita,Nah apalagi planet bumi ini yang besarnya hanya satu noktah,sungguh tidak ada apa apanya dibandingkan dengan lima milyar gugusan galaksi tersebut,Alangkah dahsyatnya,,,,,!

Sayangnya ,sering kali orang yang merasa telah merasa berhasil meraih segala apapun yang dirindukannya dibumi ini-dan dengan demikian merasa telah sukses-suka tergelincir hanya mempergauli perkara duniawinya saja.Akibatnya,keberadaanya membuat ia bangga dan pongah,tetapi ketiadaaanya serta merta membuata lahir batinnya sengsara dan tersiksa.Manakala berhasil mencapai apa yang diinginkannya,ia merasa semua itu hasil usaha dan kerja kerasnya semata ,sedangkan ketika gagal mendapatkannya,iapun merasa serta merta merasa diri sial,bahkan tidak jarang kesialannya itu ditimakan atau dicarikan kambing hitamnya pada orang lain.

Orang semacan itu tentu telah lupa bahwa apapun yang diinginkan dan diusahakan oleh manusia sangat tergantung pada izin Allah Azza wa Jalla,mati matian ia mengejar apa apa yang diinginkannya,pasti tidak akan dapat dicapai tanpa ijin-Nya Laa haula walaa quwwata illa billah! begitulah kalau orang hanya bergaul dengan segala asesories duniawi,yang ternyata tidak ada apa apanya ini.

Padahal seharusnya kita bergaul hanya dengan Allah Azza wa Jalla Dzat Yang Maha menguasai jagat raya,sehingga hati kita tidak galau oleh dunia yang kecil mungil ini.La khaufun'alaihim walaa hum yahzanuun!sama sekali tidak ada kecemasan dalam menghadapi urusan apapun didunia ini.Semua itu tidak lain karena hatinya selalu sibuk dengan Dia,Dzat pemilik alam semesta yang begitu hebat dan dahsyat.

Sikap inilah sesungguhnya yang harus senantiasa kita latih dalam mempergauli kehidupan didunia.Tubuh lekat dengan dunia ,tetapi jangan biarkan hati turut lekat dengannya.Ada dan tiadanya sebuah perkara duniawi disisi kita jangan sekali kali membuat hati goyah karena toh sama pahalanya disisi Allah SWT.sekali hati ini lekat dengan perkara duniawi maka adanya akan membuat bangga sedangkan tiadanya akan membuat terluka,ini berarti akan membuat kita sengsara karenanya lantaran ada dan tiada itu akan terus menerus terjadi.

Betapa tidak,tabiat itu senantiasa,dipergilirkan.datang ,tertahan,diambil,mudah,susah,sehat,sakit,dipuji,dicaci,dihormati,direndahkan,semuanya terus terjadi silih berganti .Nah,kalau hati kita hanya akrfab dengan kejadian kejadian seperti itutanpa akrab dengan Dzat penilik kejadiannya,maka akan letih terasa hidup kita,ini karena perubahan perubahan tabiat dunia tersebut akan membuat batin resah dan gelisah.

Lain halnya kalu hati kita selalu bersama Allah.Perubahan apa saja dalam episode kehidupan duniatidak akan ada satupun yang merugikan kita.Artinya kita harus terus menerus meningkatkan mutu pengenalan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

Diantara yang penting diperhatikan sekiranya ingin dicintai Allah adalah bahwa kita harus zuhud terfhadap dunia ini,Rasulallah SAW pernah bersabda"barang siapa yang zuhud terhada dunia,niscaya Allah mncintainya,dan barang siapa yang zuhud terhadap apa yang ada ditangan manusia,niscaya nmanusia mencintainya".

Zuhud terfhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal hal yang bersifat duniawi,melainkan kita lebiih yakin dengan apa yang ada disisi Allah daripada apa yang ada ditangan kita,bagi orang orang yang zuhud terhadap dunia sebanyak apapun yang dimiliki sama sekali tidak akan membuat hati merasa tenteram karena ketentraman itu hanyalah apa-apa yang ada disisiAllah.

Rasulallah SAW bersabda"melakukan zuhud dalam kehidupan didunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukann pula memboroskan kekayaan.Zuhud terhadap kehidupan dunia itu ialah tidak menganggap apa yang ada didirimu lebih past dari apa yang ada pada Allah.Dan hendaknya engkau bergembira memperoleh bahaya musibah yang sedang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu"( HR Ahmad,Mauqufan).

Andai kata merasa lebih tenteram dengan sejumlah tabungan dibank,maka ini berarti kita belum zuhud,seberapa besar pun uang tabungan itu seharusnya kita lebih merasa tenteram dengan jaminan Allah.Ini dikarenakan apapun yang kita miliki belum tentu menjadi rezeki kita kalau tidak ada izin dari Allah.

Sekiranya kita memiliki orang tua ataupun sahabat yang memiliki kedudukan tertentu,hendaknya tidak sampai merasa tenteram dengan jaminan mereka atau siapapun,semua itu tidak akan datang kepada kita kecuali dengan ijin Allah.

Orang yang zuhud terhadap dunia melihat apapu yang dimilikinya tidak menjadi jaminan. Ia lebih suka dengan jaminan Allah karena walaupun tidak tampak dan tidak tertulis tetapi Dia maha tahu akan segala kebutuhan kita.

Ada dan tiadanya segala asesories duniawi disisi kita hendaknya jangan sampai menggoyahkan qolbu,milailah melihat apapun perkara duniawi ini dengan sangat biasa biasa saja,adanya jangan membuat bangga tiadanya jangan meambuat sengsara.

Janga ukur kemuliaan seseorang dengan adanya aneka asesories duniawi didalam genggamannya.Sebaliknya ,jangan pula meremehkan seseorang karena ia tidak memiliki apa apa.Kalau kita menghormati seseorang karena kekayaan dan kedudukannya,lalu meremehkan seseorang karena ia papa dan jelata,maka ini kita sudah mulai cinta dunia,akibatnya akan susah hati ini bercahaya disisi Allah.

Mengapa demikian...? alasannya tiada lain bahwa hati kita akan dihinggapi sifat sombong dan takabur dengan selalu mudah membeda-bedakan teman atau seseorang yang datang kepada kita.padahal siapa tahu Allah mendatangkan seseoarang yang sederhana itu sebaga isyarata bahwa Dia akan menurunkan pertolongan-Nya kepada kita.

Hendaknya dari sekarang mulai diubah sistem kalkulasi kita atas keuntungan keuntunga.Kita hendak membeli suatu barang,misalnya kita tahu harga barang tersebut disupermarket lebih murah ketimbang meambelinya pada seorang ibu tua yang berjualan dengan bakul sederhananya.karenanya kita pun lalu merasa perlu untuk menawarnya dengan harga serendahn mungkin,seja saat itu hendaknya dijauhkan tindakan seperti itu daari diri kita.Mulailah merasa beruntung kalau kita menguntungkan ibu tua itu ketimbangmendapatkan keuntungan darinya,artinya pilihan membeli tentu akan lebih baik jatuh padanya dan dengan haarga yang ditawarkannya daripada membelinya disupermarket.walhasil keuntungan bagi kita justru ketika bisa memberi sesuatukepada orang lain.

Lain halnya dengan keuntungan duniawi.Keuntungan semacan itu baru terasa ketika mendapatkan sesuatu dari oranglain.sedangkan arti keuntungan bagi kita adalah ketika kita bisa memberi lebih daripada yang diberikan orang lain .jelas akan sangat lain nilai kepuasan batinnya juga.

Bagi orang orang yang cinta dunia,tampak sekali bahwa keuntungan bagi dirinya adalah ketika ia dihormati,disegani,dipuji,,dan dimuliakan.Lain halnya bagi orang orang yang sangat merindukan disisi Allah.justru kelezatan menikmati keuntungan itu ketika berhasil dengan ikhlas menhargainya,memuliaka dan menolong orang lain.cukupini saja ,perkara berterima kasih atau tidak,membalas kebaikan atau tidak itu sama sekali bukan urusan kita.dapatnya kita menghargai ,memuliakan dan menolong oarnga lainpun sudah merupakan keberuntungan yang sangat luar biasa.

Sungguh sangat lain bagi ahli dunia,yang segalanya serba kalkulasi,balas membalas serta ada imbalan atau tidak ada imbalan.tidak usah heran kalau para ahli dunia itu akan banyak letih karena hari harinya penuh dengan tumtutan penghargaan,penghormatan ,pujian dan lain sebagainya,dari orang lain,Terkadang untuk mendapatkan itu ia merekayasa perkataan,penampilan dan banyak hal demi untuk meraih penghargaan.

Bagi ahli zuhud tidaklah denikian,yang penting kita buat tatanan kehidupan ini seproporsional mungkin,dengan menghargai,memuliakan,dan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun .inilah keuntungan-keuntungan bagi ahli ahli zuhud.lebih merasa aman dan menyukai apa apa yang terbaik disisi Allah dri pada apa yang didapatkan dari selain Dia.

Walhasil ,siapapun yang merindukan hatinya bercahaya karena senantiasa dicahayai oleh nuur dari sisi Allah.hendaknya dia berjuang sekuat kuatnya untuk mengubah diri,mengubah sikap hidup,menjadi orang yang tidak cinta dunia sehingga jadilah ia ahli zuhud.

Ada kalanya nuur Illahi itu uturuun kepadamu"tulis Syeikh Ibnu Atha'illah dalam kitabnya Al Hikam"tetapi ternyata hatimu penuh dengan keduniaan,sehingga kembalillah nuur itu ketempatnya semula.oleh sebab itu kosongkanlah hatimu dari segala sesuatu selain Allah,niscaya Allah akan memenuhinya dengan ma'rifat dan rahasia rahasia."

Subhanallah,sungguh akan merasakan hakikat kelezatan dunia ini yang sangat luar biasa,siapapun yang hatinya telah dipenuhi denga cahaya dari sisi Allah Azza wa Jalla."Cahaya diatas Cahaya,Allah membimbing (seorang hamba) kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.........( QS an Nuur [24]:35 ) ***

Thursday, July 5, 2007

Ilmu Pembersih Hati

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Ada sebait doa yang pernah diajarkan Rasulullah SAW dan disunahkan untuk dipanjatkan kepada Allah Azza wa jalla sebelum seseorang hendak belajar,doa itu berbunyi Allahumanfa'nii bimaa'allamtanii wa'allimnii maa yanfa'unii wa zidni'ilman maa yanfaa'unii.dengan doa ini seseorang hamba berharap dikaruniai ilmu yang bermanfaat oleh Dia,Dzat maha pemberi ilmu..
Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu...? secara syariat,suatu ilu itu dukatakan bermanfaat apabila mengandung maslahat-memiliki nilai nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam.akan tetapi,manfaat tersebut manjdi kecil artinya bila tidak membuat pemiliknya semakin merasa kedekatan kepada Allah.Dengan ilmuNya,ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya dimata manusia tetapi belum tentu meningkat pula dihadapan-Nya.
Oleh karena itu,dalam kaca mata ma'rifat gambarfan ilu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorfang ahli hikmah"ilmu yang berguna."ungkapnya'ialah yang meluas dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati" seakan memperjelas ungkapanahli hikmah tersebut,Imam Malik bin Anas radhiyallahu'anhu berkata"yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan(sesuatu)melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah kedalam hati manusia,adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhannya dari kesombongan diri."
Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat kalimat Allah Azza wa jalla.Terhadap ilmu_Nya sungguh tak akan pernah ada satupun mahluk dijagat raya ini yang bisa mengujur kemahaluasannya. "Katakanlah,kalu seandainya lautan menjadi tinta untuk "(menuliskan )kalimat kalimat Tuhanku,sungguh habislah lautan itu sebelum habis ( dituliskan) kalimat kalmat tuhanku,meskipun kami datangkan sebanyak itu(pula).'demikian firman-Nya ( QS Al-Kahfi [18] ;109).
Firman_Nya pula"da seandainya pohon pohon dibumi menjadi pena dan laut ( menjadi tinta),ditambahka kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah(kering)nya niscaya tidak akan habis habisnya ditukiskan "kalimat "Allah,sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" ( QS Lukman 31:27). Adapun ilmu yang dititikan kepada manusia mungkin tak lebih dari setitik air ditengah samudera luas.Kendatipun demikian barang siapa yang dikarunia ilmu oleh Allah,yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia Kepada-Nya niscaya Allah akan meninggika orang orang yang beriman diantaramu dan orang orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (QS Al Mujaadilah [58]:51) Sungguh janji Allah itu tidak akan meleset sedikitpun. Akan tetapi,ternyata walaupun hanya "setets" ilmu Allah yang dititikan kepada manusia,namun alangkah banyak ragamnya.Segala macam ilmu baik kita kaji sepanjangbisa membuat kita semakin takut kepada Allah,inilah ilmu yang aling barokah yang harus kita cari,sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas ( benar) nat walaupun caranya,niscaya kita akan m,endapatkan manfaat darinya.
Hal berikutnya yang hendak kita kaji dengan seksama adalah bagaimana agar kita dapat memperoleh ilmu yang sinar cahanyanya dapat meluas dalam dada serta dapat membuka penutup hati..? Imam Syafi'i ketika masih menuntut ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa..?"sang guru menjawab"ilmu itu ibarat cahaya dapat menerangi gelas yag bening dan bersih "artinya Ilmu itu tidak tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.
Karenanya jangan heran kalau kita dapati adaorang yang rajin dimajelis majelis ta'lim dan pengajian,tetapi ahlak dan perilakunya tetap buruk.mengapa demikian..?itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu,laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor,kendati diterangi oleh cahaya sekuat apapun ,sinarnya tidak akan menembus dan menerangi isi gelas.begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus terfhadap segala hal yang berbau duniawi serta gemar berbuat maksiat,maka sang ilmu tidak akan pernah mampu menerangi isi hati. Padahal kalu hati kita bersih,ia ibarat gelas yang bersih diisi oleh air yang bening,setiti cahayapun akan mampu menerangi seisi gelas,walhasil,bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi amal shaleh,maka usahakanlah ketika menimbanya hati kita selalu dalam keadaa bersih.Hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan duniawi dan tidak pernah digunakan untuk menzalimi sesama.
Semakin bersih hati akan semakin dipekakan pula oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari manapun ilmu itu datangnya,disamping itu kitapun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan mendatangkan mudharat. Sebaik baik ilmu adalah yang isa membuat hati kita bercahaya,karenanya kita wajib mencari ilmu sekuat kuatnya yang membuat hati menjadi bersih,sehingga ilmu ilmu yang lain(yang telah ada dalam dada kita)menjadi bermanfaat.
Bila mendapati air yang kita tmban dari sumur tampak keruh,kita akan mencari tawas(kaporit)untuk menjernihkannya,demikianpun dalam mencari ilmu,kita harus bisa mencari ilmu yang bisa menjadi "tawas"-nya supaya kalau hati sudah bening ilmu ilmu yang lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.
Mengapa demikian ...?alasannya adalah dalam mengkaji ilmu apapun,kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh,maka tidak bisa tidak,ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsubelaka,sibuk memngaji ilmu fikih,hanya akan membuat kita ingin menang sendiri,gemar menyalahkan pendapat orang lain sekaligus aniaya dan suka menyakiyi hati sesama demikian pula bila mendalami ilmu ma'rifat,misalnya.sekiranya dalam keadaan hati busuk,jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur,merasa diri paling shaleh,dan menganggaporang lain sesat. OLeh karena itu,tampaknya menjadi fardhu'ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma"rifat,mengenal Allah.datangilah majelis ilmu pengajian yang didalamnya kita dibimbing untuk beriyadhoh berlatih mengenal dan berdekat dekat dengan Allah Azza wa Jalla,kita selalu dibimbing untuk banya k berdzikir mengingat Allah,dan mengenal kebesaran-Nya,sehingga sadare akan betapa teramat kecilnya diri ii dihadapan-Nya.Kita lahir kedunia tidak membawa apa apa dan bila datang saat ajalpun pastilah tidak akan membawa apa apa.Mengapa lalu harus ujub,riya,sum'ah,dan takabur.merasa diri besar sedangkan yang lain kecil,merasa diri lebih pintar sedangkan ayang lain bodoh ,itu hanya sepersekian dari setets ilmu yang kita miliki pada hakekatnya adalah titipa Allah jua,yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengabil kembali dari diri kita..?
Subhanallah,mudah mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk bisa mendapatkan ilmu yang menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih dapat ber-taqarrub kepada-Nya.

Monday, July 2, 2007

Peka terhadap Sesama

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

SIAPA pun yang sekolah pasti akan diuji untuk menaikkan tingkatnya. Lain halnya dengan yang tidak sekolah, mereka tidak akan diuji. Maka beruntunglah orang-orang yang diuji oleh Allah dan mereka mampu melewati ujian tersebut dengan baik.

Bagi orang taat, beragam kesulitan hidup, bencana alam, kelaparan, dan sebagainya adalah ujian untuk menaikkan derajat sekaligus penggugur dosa-dosanya. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, "Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka diujinya ia dengan musibah". Dalam hadis lain disabdakan pula, "Tiada sesuatu yang mengenai seorang Mukmin berupa penderitaan atau kelelahan (penat) atau risau hati dan pikiran, melainkan kesemuanya itu akan menjadi penebus dosanya" (H.R. Bukhari Muslim).

Lain halnya bagi orang taat tetapi berlaku maksiat, musibah adalah peringatan agar ia kembali kepada Allah. Sedangkan bagi ahli maksiat, musibah adalah awal dari bencana yang lebih besar lagi (khususnya di akhirat).

Kita sering menganggap ujian hanya berbentuk kesulitan saja. Padahal, kemudahan dan kelapangan hidup pun hakikatnya adalah ujian. Ujian kesusahan biasanya memudahkan kita kembali kepada Allah. Sebaliknya, ujian kemudahan dan kelapangan tidak jarang malah menjauhkan kita dari Allah. Betapa banyak orang yang celaka dan lupa diri justru saat ia dalam kelapangan. Karena itu, andai kelapangan tidak membuat kita lebih taat dan dekat dengan Allah, maka kita termasuk yang tidak lulus ujian.

Saudaraku, kita harus prihatin dan ikut sedih dengan musibah gempa bumi yang menimpa saudara-saudara kita di Yogyakarta, Bantul, Sleman, dan sekitarnya. Namun, kita harus lebih prihatin dengan gempa yang mengguncang iman kita. Saudaraku, menurunnya kualitas ibadah adalah musibah. Tertinggal salat berjamaah di masjid, berlalunya malam tanpa tahajud, jarang sedekah, atau malas membaca Alquran adalah musibah.

Hilangnya kesempatan beramal adalah musibah. Apalagi bila kita sudah tahu ilmunya, namun tidak mau beramal, benar-benar satu musibah. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan." (Q.S Ash Shaff [61]: 2-3).

Karena itu, berhati-hatilah saat kita diberi nikmat, kelapangan atau kemudahan, tetapi semua itu tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah. Boleh jadi nikmat tersebut adalah istidjraj, di mana Allah menghinakan kita dengan segala nikmat-Nya.

Bisa saja kita memandang prihatin saudara-saudara kita yang terkena bencana alam. Padahal, diri kita sendiri yang paling layak dikasihani, seandainya kelapangan dan kemudahan itu tidak kita syukuri. Sedangkan mereka di tengah kesusahan hidup, kalau sabar, Allah pasti memuliakan dan mengangkat derajat mereka.

Sahabat, mungkin sesungguhnya ada satu penderitaan, satu kehinaan, satu bencana yang lebih besar daripada apa yang dialami saudara kita itu, yaitu hilangnya kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Kita prihatin, sebagian orang masih senang tertawa terbahak-bahak, berhura-hura, di kala sebagian saudara kita benar-benar dalam keadaan sengsara dan nestapa. Kita masih melihat orang yang makan berlebihan, bermegah, bermewah, dan melimpah ruah, pada saat saudara kita untuk sekadar mencari sesuap nasi saja begitu sulit.

Kita saksikan juga orang masih gemar menampilkan kemegahan dan kemewahan, untuk sekadar bergaya. Sementara, di sisi lain sebagian saudara kita justru sedang dirundung papa dan kemalangan, karena tiada punya sesuatu apa pun jua. Saudara-saudaraku, bencana kurang peka terhadap penderitan orang lain itulah bencana matinya nurani. Na'udzubillahimindzalik.

Semoga kita termasuk ke dalam kategori orang-orang yang memiliki kepekaan. Karena, andaikata kita kehilangan kepekaan, maka yang akan kita hadapi adalah sejumlah kesulitan-kesulitan. Ibarat memegang sesuatu yang panas, tetapi tangan kita tidak peka, maka dapat dibayangkan, tangan kita akan melepuh tanpa kita sadari.

Musibah yang menimpa saudara-saudara kita seharusnya membuat kita semakin tawadu, semakin rendah hati, karena setiap orang tidaklah bisa menolak musibah yang Allah timpakan kepadanya.

Lalu apa hikmahnya untuk kita? Kita yang merasa aman tidak ditimpa bencana, sesungguhnya ini merupakan ujian, sepatutnya kita peka untuk berbuat sesuatu, segenggam beras bagi kita mungkin tidak berharga dibandingkan satu karung, tetapi segenggam beras bisa menjadi sarat dengan makna bagi orang yang teramat lapar dan dahaga. Pakaian bekas mungkin bagi kita tidak berarti, tetapi akan sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang kedinginan berhari-hari. Tidak punya penghangat sedikit pun jua.

Saudaraku sekalian, Allah Maha Menyaksikan apa yang kita lakukan, marilah kita singsingkan lengan baju kita, lakukan apa saja yang membuat saudara-saudara kita merasakan manfaat dari kehadiran kita di dunia ini. Insya Allah tidak ada sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan, kecuali kembali kepada pembuatnya. Mudah-mudahan kepekaan kita terhadap penderitaan orang itulah yang membuat kita tertolak dari penderitaan yang harus kita pikul. Mudah-mudahan keinginan kita meringankan kesulitan orang itulah yang akan membuat tercegahnya diri kita ditimpa bala dan bencana. Yang pasti, ujian ini tidak hanya kena kepada saudara kita yang ditimpa bencana, tetapi juga ujian bagi kita. Peka atau tidak diri kita atas derita dan nestapa orang-orang lain. Mudah-mudahan Allah memberi kemampuan bagi kita berbuat sesuatu.

Saudaraku, tiadalah menimpa suatu musibah melainkan dengan izin Allah. "Allah tiada membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya... (Q.S. al-Baqarah: 286). Allah pun menjanjikan, "Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan," (Q.S. al-Insyiraah: 5-6). Karena itu, kita jangan pernah takut dan panik menghadapi segawat apa pun kehidupan ini.

Semua ujian yang menimpa sudah diukur oleh Allah dan Ia tidak mungkin menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya yang beriman. Rasulullah saw mengatakan bahwa orang yang beriman itu tidak akan pernah rugi. Diberi nikmat dia bersyukur dan syukur adalah kebaikan bagi dirinya. Diberi ujian dia bersabar, dan sabar adalah kebaikan bagi dirinya. Kita tidak akan hancur oleh siapa pun juga, satu-satunya yang akan menghancurkan kita adalah perilaku kita sendiri. Oleh karena itu, tetaplah bersemangat mengarungi hidup ini hingga Allah melimpahkan kepada kita rahmat dan kasih-Nya. Wallahualam.***

Sunday, July 1, 2007

Tawakal..............................

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Tawakal
Oleh K.H. ABDULLAH GYMNASTIAR

"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya" (Q.S. Ali-Imran [3]: 159).

SEMOGA Allah, Zat Pemilik Ismullaahi al-A'zham (nama-nama yang agung) membentengi dengan benteng yang kokoh siapa pun yang mengamalkan sikap tawakal dari ketergelinciran berputus asa dari rahmat Allah. Tawakal (at-Tawakul) artinya berserah diri secara total kepada Allah. Tawakal berhubungan dengan nilai kesempurnaan iman seseorang karena ia menyadari bahwa Allah SWT bertindak sesuai dengan kehendak-Nya.

Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus seorang mukmin yang memiliki keimanan mendalam dan mampu melihat kekuasaan Allah serta dekat dengan-Nya. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan diri dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah.

Tawakal adalah sikap seorang Muslim yang benar-benar menyerah diri kepada keagungan dan kekuasaan Allah Yang Maha Esa. Secara umumnya, sikap tawakal akan menjuruskan seorang mukmin kepada menghayati fitrah kejadiannya sebagai makhluk ciptaan Allah yang sentiasa mempunyai kelemahan dan kekurangan. Ia dapat mengelakkan kita daripada bersikap sombong dan ego dalam tindak-tanduk dalam kehidupan.

Tawakal harus didasarkan kepada tauhid bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sebab dan berkuasa untuk berbuat apa pun menurut kehendak-Nya. Tawakal merupakan ungkapan tentang penyandaran hati kepada Allah. Jadi, tawakal tidak menjadi sempurna kecuali dengan disertai kekuatan hati dan kekuatan keyakinan secara menyeluruh.

Orang-orang yang bertawakal meyakini bahwa takdir yang ditentukan Allah adalah yang terbaik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka selalu digunakan untuk berserah diri kepada-Nya. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah menciptakan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiah dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh-Nya. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka.

Orang-orang yang menghadapi semuanya ini dengan sabar dan bertawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam Alquran surat Ali Imran ayat 159 tadi bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Memang tidak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekali pun di dunia ini, yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memiliki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah.

Sesungguhnya segenap kekuasaan itu ada di tangan Allah Azza wa Jalla dan berada dalam kewenangan-Nya. Dia bisa menghamparkan dan menggenggam, memberi dan menahan, merendahkan dan meninggikan, menghidupkan dan mematikan, serta memuliakan dan menghinakan. Tidak ada yang bisa menolak takdir-Nya dan mustahil pula ada yang merintangi kebijaksanaan-Nya.

Barangsiapa yang mengetahui Allah sebagai Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Mendengar, Maha Mengetahui, Mahahidup, Maha Berdiri sendiri, Mahakaya, Maha Terpuji, Maha Melihat, Maha Berkuasa, Maha Pemberi Rezeki, Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah, bisa berbuat apa pun yang Dia inginkan dan kehendaki di masa lalu ataupun yang akan datang, dia tentu merasa terdorong untuk bersandar dan bertawakal kepada-Nya.

Apabila pengetahuan seseorang tentang Rabb-nya semakin kuat, nama dan sifat-sifat-Nya dia pahami, penyandarannya kepada Allah pun akan semakin kuat pula. Dia akan merasakan bahwa Allah-lah sebaik-baik penolong dan pelindung bagi dirinya.

Oleh karena itu, memahami sikap tawakal yang berkaitan dengan nama-nama-Nya yang agung adalah ikhtiar yang sangat dianjurkan agar kita mengetahui ilmunya sehingga terhindar dari salah niat dan salah cara.

Diiringi ikhtiar

Sebagian manusia, ada yang beranggapan bahwa makna tawakal adalah tidak perlu berusaha secara fisik, tidak perlu mempertimbangkan dengan hati, dan cukup pasrah begitu saja. Tentu saja ini merupakan anggapan yang salah. Tawakal bukan berarti berharap datangnya keajaiban tanpa usaha, melainkan ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang kita harapkan. Oleh karena itu, menyempurnakan ikhtiar adalah kewajiban kita.

Satu kelemahan kita yaitu tidak seimbangnya antara keinginan dengan kesungguhan untuk menyempurnakan ikhtiar. Hal ini harus kita perhatikan sungguh-sungguh. Jadi, bagi siapa pun yang ingin betul-betul amalnya maksimal, kita harus menikmati dan menyempurnakan sekecil apa pun yang kita lakukan. Artinya, bukanlah harus menjadi sempurna, tetapi adanya keinginan kita untuk menyempurnakannya, di situlah bedanya.

Sesungguhnya, pengaruh tawakal akan tampak dalam gerakan seorang hamba dan usahanya untuk menggapai tujuan. Usaha hamba itu bisa berupa mendatangkan manfaat yang belum didapat seperti mencari penghidupan ataupun menjaga apa yang sudah ada. Usaha itu juga dalam bentuk mengantisipasi bahaya yang datang, seperti menghindari serangan atau bisa juga menyingkirkan bahaya yang sudah datang, misalnya berobat ketika sakit.

Seseorang yang memahami konsep tawakal tidak akan mudah berputus asa andainya menemui kesukaran dalam kehidupan. Mereka malah menganggapnya sebagai satu proses dalam mencari keridaan Allah. Seterusnya, akan menerbitkan rasa syukur jika usaha yang dilakukan itu berjaya. Sebaliknya, menerima dengan penuh sabar andainya usahanya itu menemui kegagalan.

Adanya kemampuan untuk ikhtiar merupakan nikmat besar yang telah Allah berikan. Sesungguhnya, Allah telah menetapkan ketentuan untuk segalanya. Allah tidak akan menguji seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Salah satu tanda kemuliaan seseorang adalah adanya keikhlasan dalam melakukan sesuatu dan disempurnakan dengan ikhtiar. Selanjutnya, ia menyerahkan segala usaha dan urusannya kepada Allah. Itulah tawakal yang sebenarnya. Wallahua'lam.***

Ingin Sukses dunia Akhirat...?

  • Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.

Setiap kita pasti ingin menjadi orang yang sukses didunia dan di akhirat.Tapi tahukah anda jalan yang mana yang amana yang harus ditempuh munuju kesuksesan itu..?bagi anda yang ingin segera meraih kesuksesan tersebut,tak ada salahnya melakukan satu resep sederhana ini Tahajjud.
inilah beberapa keutamaan tahajudyang bisa membantu anda meraih kesuksesan itu:.......................
  • Menjauhkan diri dari kelalaian hati.........Sebagaimana sabdaRaullullah SAW"Barang siapa mengerjakan salat malam hari dengan membaca seratrus ayat maka ia tidak akan dicatatsebagai orang lalai ,dan apabila membaca dua ratus ayat ,maka sungguh ia akan dicatat sebagai orang yang selalu taat dan ikhlas."(Al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak0
  • Dibanggakan Allah dihadapan para malaikat.:.........Al-Hasan Al-Bashry RAhimahullah mengatakan :Apabila seseorfang hamba tidur lalu bangun untu bersujud,Allah akan mengiasi mereka dengan malaikat,Dia Berfirman : Lihatlah pda hamba-Ku ini ia beribadah kepada-Ku,merasa senang disisiKu dan dia melakukan sujud."(Imam Ahmad,Az-zuhud)
  • HAti menjadi lapang dan bahagia........?Atha-Al-Khurasani Rahimahullah mengatakan "apabila seseorang melakukan qiyamummulail,maka pada waktu paginya kan merasa bahagia,Pabila tidak mengerjakan nya,maka diwaktu paginya akan menyesal dan hatinya gelisah(Al-Maqrizi,Mukhtasar,Qiyaam Al-lail).
  • Menyebabkan Kemenangan Dalam Jihad Melawan musuh..........Ketika Pasukan Romawi kalah melawan umat islam,Hieraclius bertanya kepada pasukannya"menurut kalian apa yang menyebabkan kalian kalah.........?"Seorang tua dari pembesar romawi menjawab...."karena mereka mengerjakan sholat pada malam hari dan mengerjakan puasa pada siang hari."( Ibnu Al-Qoyyim bin Asakir,tarikhDimasyq,1 : 143)
  • Meneyebabkan masuk surga..............Allah SWT berfirman : "Sesungguhny orang orang yang bertakwa berada ditaman taman ( surga ) dan dimata mata air,sambil menngambil apa yang diberikan kepada mereka oleh tuhan mereka,sebelimnya mereka sebelum itu didunia adalah orang orang yang berbuat baik.mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan diakhir akhir malam mereka memohon ampunan(kepada Allah )."(QS.Adz-Dzariyaat 15-18).
  • Meringankan lamanya berdiri pada hari kiamat.............Ibnu Abbas ra berkata,"barang siapa yang senang bila lamanya berdiri dihari kiamat diringankan oleh Allah,maka hendaklah ia memperlihatkan dirinya kepada Allah dimalam hari dengan sujud da berdiri mengingat hari akhir."( Ibnu Jariri Ath-Thabari,Tafsir Ibnu Jarir,XXIII:20)
  • menghapus kejahatan dan perbuatan dosa............Diriwayatkan oleh Abu Umamah Al-Bahlii ra.ia mengatakan "Rosullullah bersabda : hendaklah kalian mengerjakan Qiyammulail ,sesungguhnya ia adalah kebiasaan orang- orang sholeh sebelum kalian,mendekati diri kepada Allah Ta'ala,mencegah perbuatan dosa,menghapus kejahatan dan menangkal penyakit dari badan."( Diriwayatkan Oleh At-Turmudzi,Al-Hakim)
  • Menyebabkan doa terkabul.............Diriwayatkan oleh Amru bin Abasah ra.bahwa rosulullah SAW pernah bersabda : paling dekatnya tuhan kepada hamba-Nya adalah pada sepertiga malam yang terakhir .Bila engkau mampu menjadi orang yang berdzikir ( mengingatkepada Allah pada waktu itu ,lakukanlah."(diriwayatkan oleh At-Tirmidzi )
  • Mendatangkan kecintaan Allah.............Diriwayatkan dari Abibarda ra,ia mengatakan rosulullah bersabda : Ada tiga macam manusia ,Allah mencintai mereka tersenyum kepada mereka dan merasa senang dengan mereka ,yaitu adalah salah satunya memiliki istri cantik serta tempat tidur lembut dan bagus,kemudian ia bangun malam (untuk sholat),lalu Allah berkata :Ia meninggalka kesenangannya dan mengingat Aku,seandainya ia berkehendak,maka ia akan tidur."(riwayat Ath-Thabrani)
  • Menyebabkan muka berkilau dan bercahaya.............Ada orang yang bertanya kepada Hasan Al-Basri ra,"mengapa oranng orang yang bertahajud diwaktu malam memiliki muka yang bagus...?"Ia menjawab.." karena mereka menyendiri bersama Tuhannya pada malam hari,kemudian Allah memberikan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya."(Al- Maqrizi,Mukhtasar Qiyaam-Allail)
  • Menangkal penyakit fisik.................Abu utsman Al-Khurasan Rahimmahullah mengatakan"Qiyaamullail merupakan kehidupan bagi tubuh,cahaya bagi hati,sinar pada penglihatan,dan kekuatan pada anggota tubuh." ( Al-Maqrizi,Mukhtasar Qiyaam-Allail)
Selain sebelas poin diatas,sholat tahajud juga ddapat membersihkan jiwa,mendidik jiwa selalu bergantung kepada Allah,menyebabkan kita mendapatkan taufiq,pertolongan dan Rahmat-Nya,,menjadi penolong dihari kiamat,meringankan beban dan kesulitan besar,serta sejuta keutamaan lainnya. "sumber : Bersujud di Keheningan Malam Karya Muhammad Salih Ali Abdillah Ishaq."


Sholat Corner

Tips & Trik Menuju Sholat khusyu.

Sholat kusyuk bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan,mesetipelaksanaanya tidak semudah yang diucapkan.Hal yang terpenting adalah bagaimana kita berusaha sekuat tenaga memperbaiki kwalitas sholat sehingga kita bisa meraih karunia Allah,Berikut beberapa persiapan sebelum sholat yang biasa kita lakukan untu mendapatkan sholat khusyuk.

  • Persiapan fisik ............Siapkan fisik sebaik mungkin .misalnya...tidak dalam keadaan lapar dan mengantuk.Lapar dapart mengangganggu konsentrasi seseorang ketika sholat.Rosullullah SAW dalam hadits riwayat Malik ,Abu Daud dan Tirmidzi menegfaskan bahwa orang yang sholat dalamkeadaan mengantuk tentu tidak menyadarai apa yang dibacanya.Upaya juga untuk menahan kentut,kencing ataupunbuang air besar,sebagaimana dikatakan Aisyah ra,yang diriwayatkan oleh Imam Muslim"Rosulullah SAW bersabda,tidak ada sholat (khusyuk)ketika makanan terhidang dan tidak ada sholat khusuk ketika terganggu oleh dua orang yang kotor (maksudnya manahan sesuatu yag akan keluar dari dua pembuagan tersebut )."
  • Persiapan Akal dan Qolbu........................Pelajari dan pahami bacaan bacaan sholat dengan mentadaburinya (meresapi kedalam hati sehigga melahirkan konsentrasi serta pemahaman yang dalam) ,Kekusyuan suit terjadi bila kita tidak memahai arti dari bacaan bacaan tersebut.
  • Persiapan tempat ...............Siapkan tempat sholat yag bersih dari kotoran kotoran dan najis,dan gambar gambar,upayakan pula agar tempat sholat tidak panas dan berisik sebab hal hal seperti ini akan mempengaruhi konsentrasi kita ketika sholat,situasi yang ramai masih bisa diatasi apabila kita melakuka sholat dengan penuh konsentrasi (memusatkan perhatian semaksimal mingkin kepada bacaan sholat sehingga pengulangan bacaaan tidakperlu terjadi ). Selain itu ,uayakan agar tidak tergesa gesadalam membaca bacaan shoat sebagaimana sabda Rosululah SAW ."Adalah beliau ( Rosulullah SAW ) biasa membaca ayat ayat-Nya sepengggal sepenggal : Bismillahir-rahmaanir-rohiim."(berhenti),Ar-rahmaanir-rahiim(berhenti)Maaliki yaumid-diin(berhenti),dan seterusnya."( HR.Daru Quthni)
  • Dinukil dari buletin Tahajud Call Indonesia "Al Fajr"

Thursday, June 28, 2007

Karyawan Masjid

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.


Karyawan Masjid
Oleh RUSLI H. FADLI

KEBETULAN penulis tinggal di dekat salah satu kompleks masjid di Bandung. Dalam kompleks tersebut selain tersedia aula, pertokoan, perkantoran, juga terdapat sarana pendidikan untuk anak-anak. Kita biasa menyebutnya taman kanak-kanak (TK).

Sebagaimana umumnya TK, keseharian di lembaga pendidikan itu pun ramai dipenuhi jeritan, canda, tawa, terkadang tangis dari anak-anak peserta didik. Walau secara kuantitas jumlah peserta didik dalam lembaga ini masih tergolong kecil, tetapi kehangatan akan kehadiran anak-anak itu sangat dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.

Sebagai orang yang tak asing dengan anak-anak tersebut, karena penulis tinggal bersebelahan dengan ruang belajar mereka, anak-anak tak canggung berbicara, bercerita tentang segala hal kepada penulis, bahkan tak jarang mereka memanggil penulis dengan sapaan "Bapak Guru".

Dalam satu percakapan, penulis melontarkan pertanyaan kepada salah seorang anak, "hai nak, siapa orang yang paling baik di sini?" dalam hati penulis menebak, sepertinya orang yang akan disebut oleh anak itu adalah gurunya. Karena, sering kita dapatkan bagi anak-anak yang berusia 4-5 tahun, guru lebih di utamakan dari yang lainnya, termasuk orang tuanya sendiri. Penulis tersentak, ternyata nama yang disebutkan oleh si anak jauh dari perkiraan penulis. Sang anak malah menyebut nama seorang karyawan (cleaning service) di lingkungan masjid tersebut. Sebut saja nama orang tersebut si "Pulan", yang baru saja lewat dengan membawa meja tambahan bagi kelas si anak.

Dalam ketertegunan itu, penulis lalu teringat ucapan bijak dari orang tua penulis dahulu bahwa anak kecil tak pandai menyembunyikan sesuatu, ia biasa berkata jujur, tulus, apa adanya. Kemudian muncullah kekhawatiran dalam diri penulis, jangan-jangan apa yang dikatakan sang anak tadi merupakan petunjuk yang datang dari Yang Maha Bijaksana melalui lisan si anak?

Bukankah dalam studi keagamaan (Islam), selain kita mengenal ayat-ayat qowliyah kita juga mengenal ayat-ayat kauniyah? Yaitu petunjuk tentang kearifan dan kebenaran yang diajarkan alam beserta isinya kepada manusia. Jumlahnya tidak terbatas seperti ayat dalam kategori pertama (qowliyah).

Dalam belitan pertanyaan yang belum terjawab, penulis mulai penasaran untuk mengamati perilaku yang dilakukan oleh si Pulan. Dalam tataran aktivitas ibadah, tidak ada sesuatu yang istimewa yang dilakukan olehnya. Kelebihannya, mungkin hanya sesekali mengumandangkan azan ketika masuk waktu salat. Selebihnya tidak ada. Dalam aktivitas sosial, langkahnya agak terbatas oleh pekerjaannya sebagai karyawan masjid. Mungkin untuk aktivitas ini, penulis menilai diri penulis sendiri lebih baik dari dirinya, karena menjadi salah satu pengurus salah satu organisasi kemasyarakatan. Lalu di mana kelebihan si Pulan tadi?

Akhirnya, pertanyaan yang selama ini terus membayangi terungkap juga. Suatu waktu menjelang subuh, penulis tak sengaja pergi ke dapur masjid untuk mengambil air. Tak disangka ternyata si Pulan telah terjaga dan telah melakukan aktivitas di sana. Membersihkan lantai, memasak air panas untuk jemaah masjid, membersihkan peralatan minum, dan lain sebagainya telah dilakukannya di pagi yang buta itu. Inilah mungkin jawaban dari misteri si Pulan yang disebutkan oleh sang anak di atas, yang belum tentu si anak mengetahui aktivitas si Pulan itu.

Sebagai karyawan di salah satu institusi keagamaan, tentu aturan kerja yang diterapkan berbeda dengan kebanyakan karyawan di lingkungan perusahaan umumnya. Si pulan tidak mendapatkan bayaran sebesar yang diterima karyawan biasa. Ini sangatlah wajar, mengingat pendapatan masjid tidak diorientasikan kepada gaji karyawan. Akan tetapi, ada nilai yang selama ini ditunjukkan oleh si Pulan, yaitu etos kerja dengan penuh tanggung jawab, (dalam bahasa Alquran dikenal dengan amanah) dan pengorbanan hak pribadi demi hak orang banyak (ikhlas).

Siapa pun dan apa pun profesi yang digeluti oleh seseorang ketika dua semangat tadi ada dalam diri seseorang, maka ia akan menampilkan karya terbaiknya di setiap aktivitas. Dibayar ataupun tanpa dibayar, diperhatikan orang ataupun tidak, dipinta ataupun tidak, amanah dan keikhlasan merupakan bingkai indah dari setiap amal seseorang (Muslim).

Diceritakan dalam satu riwayat, ketika hendak menghadapi perang Uhud, Nabi Muhammad terlihat sedih dan murung. Salah seorang sahabat bertanya, "ya Rasulullah, kenapa baginda bersedih, apa yang baginda khawatirkan, padahal jumlah bala tentara kita jauh lebih besar dari pada saat kita menghadapi perang Badar? Rasulullah menjawab, "memang saat ini jumlah tentara Muslim lebih banyak, tetapi yang betul-betul ikhlas berjuang di jalan Allah sangat sedikit aku temukan".

Agaknya tak berlebihan ketika kita mengatakan bahwa apa yang dilakukan si Pulan di atas, lebih utama daripada tokoh-tokoh agama yang lebih banyak menghabiskan pikirannya untuk memproduksi "tafsir justifikasi" bagi kebijakan pemerintah yang tidak memihak kepada kepentingan umat. Seruan "kesabaran" dan "ketabahan" terhadap lilitan kemiskinan yang diucapkan para ulama, walau dibalut dengan teks-teks agama, agaknya tidak lebih utama daripada percikan air yang dituangkan si Pulan dengan ikhlas dalam membersihkan lantai masjid, menyajikan air hangat kepada jemaah subuh, dan bentuk pembelaan lainnya terhadap agama ini.

Semoga perumpamaan Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 265 tentang perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti kebun yang terletak didataran tinggi kemudian disiram dengan hujan yang lebat, maka kebun itu menghasilkan buah yang lebat, menjadi milik si Pulan akibat keihlasannya dalam menjaga agama ini. Amin. Wallahu 'alam bishowab.

Penulis, Ketua Umum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Barat

Saturday, June 23, 2007

Berhusnuzonlah..kepada Allah

Melangkah dalam satu tujuan menuju ridho illahi.



Saat kita merasa Allah terlalu ga peduli karena Allah belum juga menjawab doa kita, itu bukan berarti Allah tidak menyayangi kita.
Justru Allah sangat sayang kepada kita, Ia sangat senang melihat hambaNya yang terus merintih, menangis di hadapanNya dan ingin tetap melihat hambaNya seperti tiu. Bukan Ia tak sayang, tapi karena Ia tahu kita akan berhenti menangis jika doa kita dikabulkanNya. Dan Ia tak lagi melihat kita menangis, bahkan kemudian Ia terlupakan.
Mungkin juga karena ada yang menghalangi doa kita...dosa. Mungkin banyak sekali dosa yang kita perbuat, mungkin banyak hak Allah yang kita abaikan, bukankah tak ada dosa kecil jika berulang? Maka perbanyaklah beristighfar, bertaubat dan memohon ampunanNya. Semoga Ia mengampuni dan dan menghapus dosa kita. Beristighfarlah sebanyak-banyaknya, kapanpun dan dimanapun, karena kita tak thu kapan ampunan dan pertolongan Allah akan turun.

La tahzan dinukil dari tahajud call comunity

Dalam hidup kita ada Allah

Seorang ulama kontemporer dan guru besar al-Azhar Mesir, syekh Mutawalli al-Sya'rawi, beliau menulis dalam tafsirnya, tentang khawash (keindahan dan keistimewaan) lafazh Allah, menurut beliau "Allah selalu ada dalam diri manusia walaupun mengingkari wujud-Nya lewat ucapan dan tindakan perbuatan. Kata ni selalu menunjuk kepada-Nya itu.
Perhatikanlah lafazh Allah. Bila huruf pertamnya dihapus, maka ia akan terbaca "Lillaah"
Bila huruf berikutnya dihapus, akan terbaca "Lahu",yang berarti milik-Nya/untuk-Nya
Hapus lagi huruf berikutnya, akan terbaca "HU", yang berarti Dia
Jadi setiap orang yang mengeluh, selalu berkata "uh", "ih","ah",dsb, tersirat bahwa setipa orang sadar atau tidak,menyebut Allah, paling tidak keluhannya tertuju mengeluh pada-Nya.


khizr


Allah, Maha Melihat

Allah selalu melihat dan menyaksikan apa yang kita perbuat, karena Dia, Al-'Alim, al-Bashor
Seorang kiai ketika memberi ujian kepada santri-santrinya tentang aqidah, ia menyediakan 20 ekor merpati dan 20 ekor pisau yang tajam. Beliau memerintahkan pada 20 santrinya untuk menyembelih merpati tsb pada suatu tempat yang tidak ada seorangpun yang dapat melihatnya.
Setelah perintah tsb diberikan, pergilah mereka masing-masing ke tempat yang mereka anggap tidak ada yang dapat melihat dan menyaksikannya.
Kemudian, setelah masing-masing menyembelih merpati yang mereka dapatkan, hanya ada satu orang anak yang tidak menyembelih merpatinya.
Sang kiai bertanya, mengapa anak tersebut tidak menyembelih merpatinya, anak itu mengatakan, "Saya tidak menemukan satu tempatpun yang tidak dapat dilihat dan disaksikan oleh siapapun..."
Sang kiai kemudian bertanya lagi, "Mengapa tidak kau temukan, anakku?"
"Karena selalu ada yang melihat dan menyaksikan"
"Siapa?"
Anak itu menjawab dengan tulus, "Allah"

--Khizr--




Semua Hanya karena Allah

Oleh: Zainuddin Tolehah

Tak ada satupun di dunia ini yang terjadi san berjalan kecuali hanya karena Allah semata. Semua berjalan karena kehendaknya. Artinya, setiap manusia hanya bisa merencanakan segala sesuatunya dengan berbagai upaya, usaha, ikhtiar, dan sebagai makhluk kita wajib menyertainya dengan doa, sementara urusan hasil hanya kepunyaan Allah.
Dalam salah satu hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah pernah berwasiat kepada Ibnu Abbas, yang ketika itu usianya masih belasan : "Ya ghulam, aku ajarkan engkau beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu; Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya bersamamu; Jika engkau meminta, mintalah pada Allah; Jika engkau minta tolong, minta tolonglah pada Allah. Ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberi manfaat padamu, mereka pasti tidak dapat melakukannya kecuali suatu manfaat itu telah Allah tetapkan untukmu. Jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran lembaran telah kering.?

Indah sekali untaian kalimat kalimat itu. Betapa segala sesuatunya memang terjadi atas kehendak Allah. Tidak ada yang luput dari padanya.

Jadi, betapapun gelombang dan badai menerpa dan menghantam kita, jangan takut, Allah akan selalu bersama kita. Dan apapun yang terjadi, itu memang sudah garisan takdir yang harus kita terima. Yang penting dan harus selalu kita sadari, kita jangan melenceng dari ketentuan Allah. Harus selalu di jalan ketaatan kepada Allah.

Dalam konteks tersebut dapat kita simpulkan, bahwa sejak kecil anak-anak harus diberikan pelajaran dan pemahaman betapa kita harus selalu tergantung pada dan emngingat Allah dan hanya Dia pulalah yang akan memberi bantuan dan pertolongan. Betapa kalau kita selalu taat pada jalan Allah, la pun sebaliknya akan memberikan jalan kemudahan dan kebaikan kepada kita.

Proses itu harus selatu berjalan terus menerus, tanpa henti sampai maut memisahkan kita, bahwa semua itu merupakan proses pembelajaran yang berkelanjutan. Selalu berusaha untuk memperbaiki di setiap kesempatan. Sebagai manusia, kita memang tidak pernah luput dari dosa dan kesalahan. Tetapi itu semua merupakan proses untuk memperbaiki diri, sehingga kita selalu diingatkan untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Dalam salah satu hadits riwayat Tabrani disebutkan, ?Jadikanlah anak anakmu hanya takut kepada Allah,? demikian sabda Rasulullah. Itu semua melengkapi pernyataan di atas. Bahwa sejak awal, sejak anak anak, kita harus mengenalkan Allah kepada anak anak kita dan hanya kepada-Nya lah kita takut dan berserah diri. Tetapi hanya kepada Dia pulalah kita beriman dan bertaqwa, tidak kepada selain Dia. Hanya kepada Allah kepada Allah kita meminta dan memohon pertolongan. Sesungguhnya tidak ada yang memberi dan meminta pertolongan selain hanya kepada Allah.

IKHLAS
Apabila, semua yang kita lakukan hanya semata mata karena Allah, itu merupakan salah satu tanda ikhlas.

Jadi pengertian ikhlas itu adalah kita melepaskan semua beban apapun juga semata mata dan tiada lain karena hanya untuk Allah.

Kalau sudah demikian, maka langkahpun menjadi mudah, beban menjadi ringan, jalan menjadi mulus, karena kita meniadakan prasangka jelek, menghilangkan kecurigaan, dan selalu positif thinking.

Pada titik ini baik dalam hubungan kita dengan sesame manusia maupun kepada Allah, tidak ada kecurigaan atau syak wasangka. Berpikir kitapun menjadi jernih, cara pandang kitapun tidak hanya pada salah satu sudut, tetapi semua sudut yang memungkinkan harus kita lihat dan perhatikan.

Pada akhirnya, dalam menilai sesuatu kita tidak bisa langsung menyalahkan atau memvonis bahwa hal itu salah, tetapi kita juga harus melihat dari sudut pandang lain kenapa hal itu terjadi, ada satu konklusi dan hubungan sebab akibat antara satu dengan yang lainnya. Kalau kita sudah bisa berpikir dan menilai sesuatu dari segala sudut pandang secara utuh, maka tentunya Insya Al?lah keputusan yang akan kita ambil tidak akan menyakitkan tetapi sebaliknya akan memberikan kesejukan kepada semua pihak.

SUJUD
Kata kunci dari semua itu adalah hilangkan kesombongan, mari kita bersujud kepada Allah. Sujud adalah simbol ketundukan, ketaatan, dan kepasrahan kita kepada Allah SWT. Sujud adalah refleksi dan tanda hancur leburnya semua benih kesombongan yang ada dalam diri kita di hadapan Allah SWT.

Sujud adalah tanda bahwa kita benar-?benar merasakan kelemahan dan mengakui kekerdilan di hadapan kekuatan dan kebesaran Allah. Karena dalam sujud kita meletakkan kepala, di atas tanah yang selalu kita injak. Karena saat sujud, kita menempelkan hidung di atas bumi yang selama ini ada di bawah. Sebab itulah, hamba hamba Allah yang kafir, hamba hamba Allah yang takabbur dan sombong, menolak sujud.

Maka, sujud dan mintalah kepada Al?lah, apa saja kebaikan yang kita inginkan. Karena, ketika sujud, kita berada di titik terakhir yang paling dekat dengan Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasullullah, ?Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam posisi sujud.? (HR. Muslim)

Untuk itu marilah kita selalu berseujud sebagai wujud penyerahan hanya kepada Allah. Wallahualam Bisawab.*** (Zen)


Resep Dokter Jiwa

Seorang Badui datang kepada seorang dokter,Orang Badui itu bertanya, “Apakah dokter punya resep obat untuk menyemuhkan penyakit dosa?”

Dokter menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir. Lalu ia menjawab, “dengarkan resep ini. Jika kamu kerjakan maka kamu akan mendapat penyembuhan dari ALLAH Subhanahu wa Ta'ala.”

Ambillah akar akar kemelaratanmu dan jiwa kesabaran. Lalu campurkan dengan bubuk pikiran, dan dicampur (kadarnya sama dengan rendah hati dan kekhusyu'an, kemudian ditumbuk semua dalam lumbung taubat dan dibasahi dengan air mata, lalu ditempatkan dalam tempat rendah diri kepada Allah dan dimasak dengan api tawakkal kepada Nya.

Setelah diaduk dengan sendok istighfar sehingga tampak taufik dan kehormatan diri. Kemudian, pindahkan ke mangkok cinta dan dinginkan dengan udara kasih sayang. Sesudah disaring dengan saringan kesusahan dan ditambah dengan hakikat iman serta campurkan dengan takut kepada Allah.

Teruskan minum obat itu selama hidupmu dan hatimu akan sembuh dari segala keluhan dan akan hilang rasa sakit dosa.

Artikel tersebut diambil dari hikmah dalam humor kisah dan pepatah , A. AZIZ SALIM BASYARAHIL


Si Fakir Yang Dermawan

Pada zaman dahulu, ada seorang lelaki yang beriman tinggal bersama dengan isteri dan anak-anaknya. Mereka tinggal dalam sebuah gubuk sederhana. Meskipun mereka jauh dari kilauan dan gemerlap materi, hati mereka dipenuhi dengan kasih sayang.

Pada suatu hari lelaki beriman itu berada dalam kesulitan, sampai-sampai isterinya berkata kepada lelaki itu, “Kini simpanan kita tinggal satu dirham saja.” Lelaki itu mengambil satu dirham tersebut dan pergi ke pasar. Dengan uang itu dia akan membeli sedikit makanan. Dalam keadaan bertawakal kepada Tuhan, dia tiba di pasar. Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba-tiba terdenagar suara gaduh. Seseorang berkata dengan marah, “Engkau harus membayar utangmu. Jika tidak, aku tidak akan membiarkan engkau pergi.”

Lelaki yang berdiri di hadapan orang itu menundukkan kepalanya karena malu. Sang lelaki yang beriman itu mendekati kedua orang yang berselisih itu dan dengan suara yang lembut bertanya, “Baiklah, katakanlah apa yang menyebabkan kalian berselisih paham.”

Lelaki yang berhutang berkata, “Lelaki ini telah menjatuhkan harga diriku hanya karena uang satu dirham padahal saat ini aku tidak mampu untuk melunasi utang tersebut.”

Lelaki beriman itu berfikir sebentar dan kemudian, uang satu dirham yang dimilikinya itu diberikannya kepada si penghutang. Akhirnya, terjalinlah persahabatan antara orang itu tadi. Lelaki yang berutang itu mendoakan keselamatan buat lelaki yang beriman itu serta mengucapkan kesyukurannya.

Hati lelaki beriman itu dipenuhi rasa gembira karena berhasil menolong orang lain. Lalu diapun pulang ke rumahnya. Di pertengahan jalan dia terpikir, “Sekarang, bagaimana aku harus memberi jawaban kepada isteri ku? Jika dia memprotes, aku akan membiarkannya karena itu haknya.”

Sesampainya di rumah, dia menceritakan apa yang telah terajdi. Isterinya adalah juga seorang perempuan yang baik dan beriman. Dia tidak memprotes suaminya, malah berkata, “Engkau telah melakukan sesuatu yang baik hari ini dan engkau telah memelihara harga diri lelaki itu. Allah pasti akan memberi balasan kepadamu. Ambillah tali yang ada di rumah kita ini dan juallah di pasar. Mudah-mudahan, uang tersebut bisa engkau gunakan untuk membeli makanan.

Lelaki beriman itu merasa sungguh gembira dengan sikap isterinya tersebut. Dia kemudian mengambil tali itu dan membawanya ke pasar. Namun, betapapun dia berusaha keras untuk menjual tali itu, tidak ada seorang pun yang ingin membelinya. Dengan rasa putus asa, dia pulang ke rumahnya. Di pertengahan jalan pulang, dia bertemu dengan nelayan penjual ikan yang juga gagal menjual ikannya. Lelaki beriman itu menghampirinya dan berkata, “Tidak ada orang yang ingin membeli ikanmu dan tidak juga taliku. Bagaimana menurutmu bila kita berdua saling menukar barang ini?”

Si nelayan berpikir dan kemudian berkata, “Aku tidak mempunyai tempat untuk menyimpan ikan ini di rumah. Lebih baik engkau ambillah ikan ini dan sebagai gantinya aku akan menjadi pemilik talimu yang mungkin di satu hari nanti berguna buatku.”

Akhirnya, lelaki beriman itu membawa pulang ikan ke rumahnya. Isterinya dengan gembira segera memasak ikan tersebut. Ketika perut ikan dibelah, dengan penuh takjub dia menemukan sebuah mutiara yang berharga di dalamnya. Ya, suami istri mukmin dan baik hati itu memperoleh harta yang banyak.

Lelaki itu membawa mutiara ke toko emas untuk dijual dan mutiara itu terjual dengan harga seratus dirham. Lelaki itu dan isterinya bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan mereka kekayaan. Mereka pun tidak lupa untuk tetap berbuat baik dengan membagi-bagikan sebagian uang mereka kepada orang-orang miskin lainnya. Lelaki beriman itu berkata kepada isterinya: Tuhan telah mengaruniakan kepada kita nikmat, kesenangan dan kemewahan. Kini sebagai tanda kesyukuran atas nikmat ini marilah kita membagikan kekayaan yang ada kepada mereka yang memerlukan. Siapakah yang lebih layak dari sang nelayan yang telah bersusah payah menangkap ikan di laut itu?”

Lelaki beriman itu pergi ke pasar dan mencari si nelayan itu. Setelah berusaha keras, akhirnya dia bertemu dengan sang nelayan dan dia pun menceritakan pengalamannya. Dia berkata, “Aku ingin memberi sebagian dari uang ini kepadamu.” Meskipun miskin, nelayan itu adalah seorang lelaki yang baik hati. Dia berkata, “Wahai teman, apa yang engkau dapatkan di dalam perut ikan itu disebabkan karena kebaikanmu dan aku tidak bersedia mengambil apa-apa darimu.”

Lelaki beriman itu menjawab, ”Allah telah memberi ilham kepadamu sehinggakan dengan niat baik engkau telah menukar ikan milikmu dengan taliku agar aku dapat mengenyangkan perut isteri dan anak-anakku. Ketahuilah, apa yang ingin aku berikan kepadamu ini adalah hadiah bagi niat baikmu itu.Allah menginginkan agar engkaupun menikmati nikmat yang Dia berikan.”

Akhirnya, nelayan tersebut menerima uang itu dan mengucapkan syukur kepada Allah atas kebaikan dan karunia Allah. Dengan cara ini, Allah telah memberi kemuliaan kepada lelaki beriman dan isterinya itu lewat ujian-Nya. Dalam ketiadaan harta, mereka tetap bersabar dan dalam keadaan berkecukupan, mereka mengucapkan bersyukur kepada Allah dan membagi nikmat itu dengan orang la


r

Air Mata Kerinduan Uwais AlQarani Kepada Rasul saw

Di negeri Yaman, hiduplah seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarani yang berasal dari kabilah Qaran. Uwais Al-Qarani mempunyai jiwa yang bersih dan mulia. Dia seorang yang pintar dan selalu melakukan pencarian makna hidup. Meskipun saat itu dia masih belum mengenal ajaran Islam yang mulia, dia sangat menghormati nilai-nilai mulia kemanusiaan. Di antara sikap dan perilaku Uwais yang paling menonjol sekali ialah penghormatan yang besar terhadap ibunya. Dia bersikap amat lemah-lembut kepada ibunya yang sudah tua dan dia amat mengerti tanggung jawabnya sebagai anak. Dia dapat merasakan kesulitan seorang ibu dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Oleh karena itu, dia melayani ibunya seperti seorang pelayan yang taat dan patuh. Uwais sama sekali tidak melupakan jerih payah ibunya.

Suatu saat, Uwais Al-Qarani mendengar kabar bahwa ada seorang nabi yang berhijrah dari kota Mekah ke Madinah dan sebagian dari masyarakat mengikuti ajaran nabi tersebut. Uwais dengan perenungannya, sampai kepada kesimpulan bahwa Muhammad adalah seorang nabi yang benar-benar diutus oleh Tuhan karena perintah dan ajaran yang disampaikan beliau berlandaskan kepada akal dan sesuai dengan nilai-nilai tinggi insani. Uwais mempercayai kenabian Muhammad saaw dan dia ingin sekali bertemu dengan beliau. Dia ingin melakukan perjalanan ke Madinah dan melihat sendiri keindahan hati Muhammad dari dekat. Tetapi, kondisi ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan membuatnya mengurungkan niatnya itu. Berbulan-bulan lamanya Uwais memendam harapan dan impiannya tersebut. Sampai suatu hari, dia mengambil keputusan untuk menceritakan keinginannya itu kepada ibunya.

Uwais dengan sopan duduk di hadapan ibunya dan berkata, “Wahai ibu, aku tidak dapat menahan hati untuk bertemu dengan seorang lelaki yang telah diutus sebagai nabi. Engkau pun tahu bahwa anakmu ini tidak pernah berfikir tentang hal-hal selain dari kebaikan dan kebenaran. Jika ibu mengizinkan, aku ingin sekali pergi menemui Rasul Tuhan itu dari dekat.”



Ibu Uwais yang amat terkesan melihat kesungguhan dan gelora keinginan anaknya untuk bertemu dengan Nabi, berkata, “Wahai anakku, aku izinkan engkau untuk pergi ke Madinah, tetapi aku minta supaya setelah engkau bertemu dengan Nabi segeralah engkau pulang ke Yaman dan janganlah engkau berlama-lama di sana.”

Dengan penuh gembira, Uwais menerima permintaan ibunya itu dan dia pun melakukan perjalanan untuk pergi ke Madinah. Meskipun perjalanan begitu jauh dan menyulitkan, namun semangat dan keinginannya yang besar untuk bertemu Nabi menyebabkan dia merasa begitu gembira hingga tidak merasa lelah dalam perjalanan. Siang dan malam dia tempuh perjalanan tanpa menghiraukan kesulitan dan kelelahan yang menderanya.

Akhirnya, sampailah Uwais Al-Qarani ke kota Madinah. Dengan tidak sabar lagi, dia bertanya ke sana kemari untuk mencari Nabi Muhammad. Tetapi, berita yang didapatkannya amat mengecewakan. Orang-orang Madinah memberi tahu Uwais bahwa Nabi sedang keluar dari kota untuk beberapa hari. Begitu Uwais mendengar berita ini, dia mengeluh panjang dan terduduk di atas tanah. Segala kelelahan terasa menimpa seluruh tubuhnya. Sedemikian besar rasa kecewa yang menyelubunginya sehingga dia menangis sejadi-jadinya. Orang-orang membujuknya dengan mengatakan bahwa dia bisa tetap tinggal di Madinah dan menjadi tamu mereka sampai Rasulullah kembali dari perjalanannya. Tetapi Uwais berkata bahwa dia mempunyai seorang ibu tua yang sedang menanti kepulangannya.

Uwais mengambil keputusan untuk segera pulang ke Yaman meskipun dia belum berhasil menemui Nabi, demi melaksanakan janjinya kepada sang ibu. Dia berkata kepada para sahabat dan keluarga Nabi, “Aku terpaksa pulang ke Yaman. Aku minta pada kalian, jika Rasulullah pulang, sampaikanlah salamku kepadanya.”

Beberapa hari kemudian Rasulullah saw pulang ke Madinah. Ketika beliau mendengar kisah Uwais, beliau memujinya dan berkata, “Uwais telah pergi, namun cahayanya tetap tinggal di rumah kami. Angin sepoi dan aroma wewangian syurga bertiup ke arah Yaman. Wahai Uwais! Aku juga ingin sekali menemuimu. Sahabat ku, siapapun di antara kalian yang bertemu dengan Uwais, sampaikanlah salamku kepadanya.” Dalam sejarah dikatakan bahwa memang Uwais tidak pernah dapat bertemu dengan Rasulullah. Tetapi, karena pengorbanan yang telah dilakukannya buat ibunya, namanya tercatat abadi dalam sejarah.
















































ilmu adalah investasi tiada henti